Oleh: Kyan | 26/07/2011

Membaca Ayu Utami dan Tariq Ali

Membaca Ayu Utami dan Tariq Ali

by: Pyan Sopyan Solehudin

**

Berbicara Ayu Utami dan Tariq Ali dalam satu tulisan, sebab ada relevansi antar keduanya. Dalam novelnya—Ayu Utami: Saman, Larung, Bilangan Fu, dan Manjali dan Cakrabirawa dan novel Tariq Ali: Bayang-bayang Pohon Delima, Kitab Salahuddin, Seorang Sultan Dari Palermo, dan Perempuan Batu—keduanya sama-sama menceritakan sejarah dengan penuh sensualitas. Pun terdapat unsur cerita yang dapat dikategorikan menjurus pornografi atau setidaknya semipornografi, begitu kata Helvi Tiana Rossa dalam buku esei Segenggam Gumam-nya mengomentari novel Larung-nya Ayu Utami.

Begitulah Ayu Utami sebagai peraih anugerah Sastra Asia Tenggara 2008, mengalahkan kandidat Habiburrahman El-Shirazy dengan fenomenal Ayat-ayat Cinta-nya, yang oleh sebagian kalangan mempertanyakan kemenangan Ayu Utami, kenapa bukan Kang Abik—panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy.

Secara kasat mata keduanya saling bertolak belakang. Ayu Utami sangat wangi dengan unsur seksualitas perempuan, sedangkan Kang Abik bermaksud konsisten (dakwah) lewat penulisan. Sastra-nya kumpulan FLP: nafas Islami. Meskipun memang dalam AAC ada unsur seksualitas, tapi berusaha dibungkus (packaging) oleh bahasa santun atau puitis alias tidak vulgar.

Ayu Utami mengantongi piala karena ia dianggap telah memperluas batas cakrawala sastra Indonesia. Dalam karya-karyanya berusaha untuk memenuhi hasil pertemuan Asosiasi Sastra Indonesia (ASI) bahwa arah sastra Indonesia ke depan harus banyak mengetengahkan unsur-unsur nasionalisme. Era globalisasi sisi lain membawa semangat humanisme baru, sebaliknya bisa melunturkan nilai-nilai kebangsaan.

Saya tidak tahu apakah Ayu bermaksud demikian atau hanya dugaan saya saja. Hanya pembacaanku pada novel Ayu, yang ia angkat adalah otoriternya rezim militerisme, kisah hitam Indonesia G 30 S, dan budaya patriarkal. Dalam Saman dan Larung sangat kental unsur seksualitasnya, tapi tentang nasib perempuan (individu) dalam budaya patriarkal dan nasib kelas (sosial) di tangan kekuasaan militer memiliki akibatnya sendiri.

Tapi saya menemukan suasana berbeda yang berdaya magis dalam Bilangan Fu dan Manjali dan Cakrabirawa. Tidak begitu terasa seksualitasnya yang vulgar. Memang dua novel ini dan selanjutnya dikatakan akan mencoba mengangkat tema spiritualitas yang kritis Meskipun dalam penggalan ceritanya tetap ada adegan-adegan yang menjurus cabul. Mungkin itu sebagai bumbu cerita atau sudah menjadi karakter karya-karyanya.

Ayu Utami sang aktivis perempuan—pernah jadi redaktur Jurnal Perempuan—begitupun tokoh kita satu lagi, Tariq Ali. Ia seorang aktivis berkebangsaan Inggris kelahiran Pakistan penentang kekuasaan rezim militer Pakistan, Ziaul Haq. Meskipun ia mengaku dirinya atheis, tapi pengayaan pada sejarah peradaban Islam begitu fasih. Novel tetralogi-nya—pengakuan dalam tulisannya sendiri, ia akan menulis Islam Quintet, lima sekuel—semuanya merekam imajinasi peristiwa penting dalam jejak peradaban Islam.

Bayang-bayang Pohon Delima (Shadow of The Pomegranate Tree) mengambil latar kejatuhan Granada, kota penting Andalusia masa keemasan Islam Spanyol. Kitab Salahuddin (The Book of Saladin) adalah novel biografi Shalahuddin Al-Ayyubi dalam merebut kembali kota Yerussalem dari tangan Kristen Romawi. Perempuan Batu (The Stone Women) mengisahkan saat kejatuhan Dinasti Turki Utsmaniyah menuju Turki Modern. Dan Seorang Sultan di Palermo (A Sultan in Palermo) mengangkat kota Sisilia abad keduabelas, pulau yang penghuninya maoritas muslim tapi rajanya seorang kristen, Raja Roger II (Sultan Rujari) dengan tokoh sentral Muhammad al-Idrisi, yang lebih kita kenal sebagai ilmuwan Islam pembuat globe pertama.

Berbicara novel keempat yang mengambil latar kota Sisilia, ini sama halnya dengan kota Kashmir, wilayah yang sampai sekarang masih jadi biang konflik India-Pakistan. Saat belum pecahnya menjadi India-Pakistan-Bangladesh, Kashmir juga mayoritas berpenduduk muslim, tapi diperintah oleh raja Hindu. Kashmir yang menjadi tempat leluhurnya Iqbal dan Nehru apakah menjadi novel kelima Tariq Ali, atau setidaknya latar negara Pakistan yang menjadi tempat berseminya ‘Islam Fundamentalis’ dan Taliban.

Hanya sedikit bocoran dari catatan kaki buku esei-nya “Benturan Antar Peradaban (The Clash of Fundamentalism) bahwa novel kelima berjudul: The Night of Golden Butterfly. Novel kelima sudah digarap sejak 05 september 2001, enam hari sebelum Tragedi WTC di Amerika.

Tariq Ali terlahir dari keluarga komunis Pakistan—ayah ibunya aktivis komunis Pakistan—karena menentang rezim militer,  akhirnya ia dicabut kewarganegaraannya—seperti nasib Fazlur Rahman—sebagai warga Pakistan. Konstalasi politik saat India-Pakistan itu, seperti halnya Indonesia dan negara-negara Asia lainnya, ketika berakhirnya era kolonialisme dalam menuju negara bangsa (nation state), terjadi pertarungan idiologi dalam kekuasaan. Terutama komunisme dan militerisme, juga agama.

Begitupun Ayu dalam novel-novelnya membawa ‘semangat’ bahwa komunis Indonesia itu sebagai korban, bukan pelaku, apalagi anti agama. Tapi rupanya sejarah Indonesia berhasil mendoktrin generasi sesudahnya bahwa komunis itu anti Tuhan. Bukan haluan komunis sebagai bentuk baru SI—Syarikat Islam—Merah, yang yang dibawah Samaun berani mengangkat parang kepada kompeni Belanda jauh hari sebelum Indonesia merdeka, yang mampu mencetak kadernya setekad baja Haji Misbach.

Terjadi pengkebirian komunis yang menjadi tumbal keris Empu Gandring, kudeta Letkol Untung dalam Cakrabirawa merupakan sejarah kelam bangsa ini. Tidak mencoba menguak sejarah apakah ‘kup’ itu masalah intern TNI atau CIA yang hendak menggulingkan Soekarno Panglima Besar Revolusi. Sinisme Ayu pada militerisme tergambar jelas dalam keempat novelnya. Begitupun Tariq Ali dalam sepak terjangnya sebagai aktivis menentang kekuasaan militer Pakistan.

Tapi bersyukur Orang Indonesia (OI), Pramoedya Ananta Toer yang berusaha dibela oleh Tariq Ali, bisa menghirup nafas kebebasan menyambut ‘khusnul khatimah’-nya—begitu doa para sastrawan Indonesia—mengalami bergulirnya masa transisi reformasi Indonesia, dimana kita bangkit untuk kembali memperhatikan agama, setidaknya etika kemanusiaan sebagai pendulum pembangunan karakter sebuah bangsa. Ayu Utami dan Tariq Ali, saya kira menghendaki itu. …[]

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori