Oleh: Kyan | 09/01/2013

Menjadi Petani Kota

Rabu, 09 Januari 2013

Menjadi Petani Kota

**

Hidup terlalu singkat bila dijalani menjadi orang lain. Hidup terlalu sempit bila terus mengikuti maunya orang lain. Apakah ungkapan ini sebuah propaganda kebebasan? Hidup semau gue? Kata yang lain bukankah kita hidup dalam ruang dengan sekat-sekat pembatasan orang lain? Cak Nun bilang, hidup adalah pembatasan.

Tapi memang kita terlalu sering mematuhi apa kata orang. Kita bahkan sakit karena terlalu transparan apa yang dikatakan orang lain mengenai kita. Kita hidup dalam sosial budaya tertentu, maka ukuran-ukuran mengenai sesuatu akan merasa malu dan tak lazim bila lepas dari pandangan umum mereka. Terlepas sesuatu itu secara an sich apakah baik atau tidak. Secara akal sehat itu diterima atau tidak.

Namun ungkapan tadi bila dilihat dari sisi lain dapat mengandung kebenaran juga. Ngapain kita hidup harus seperti apa kata buku-buku pelajaran, diktat-diktat kuliah, atau bahkan petuah-petuah orang tua yang bila memang itu sudah ketinggalan jaman. Kadang cara pandang orang tua dengan anak muda memiliki titik pandang berbeda.

Hiduplah menjadi aku sendiri. Bila kenyataan aku anak petani katakan bahwa aku ini anak petani. Meskipun ayah ibuku sudah meninggalkan profesi petani, ayahku sudah melanglangbuana di belantara kota yang entah jadi apa dan ibuku menjadi pembantu rumah tangga, aku secara nyata terlahir dari lingkup sosial petani. Dan jiwaku adalah petani.

Saat remaja pernah aku mengalami, seperti aku tak menerima latar belakangku dan darimana muasalku. Tapi sekarang aku bangga mengakui bahwa aku adalah petani. Karena kebanggaan harga diri bukanlah pada jenis pekerjaan yang satu orang hanya duduk di belakang meja sementara orang lain blusukan, kotor, dan harus tersengat matahari. Tapi kebanggan ada pada diri sendiri.

Dulu aku membanggakan bahwa orang yang duduk di belakang meja itu pekerjaan berharga. Tapi dari yang kupelajari bahwa dalam prioritas manajemen, pekerjaan pemasaran adalah ujung tombak perusahaan. Maka sebenarnya aku ingin terjun di bidang pemasaran. Karena aku ingin menjadi tombak, menjadi martir sebagai keutamaan.

Meskipun tidaklah tahu apakah secara fisik mampukah aku menjalani pekerjaan lapangan. Apalagi dengan cuaca sekarang yang tak menentu mampukah aku menghadapi. Sekarang sejak pagi hujan sudah mengguyur dan membanjiri. Ketika sekarang pekerjaan semi di jalan raya, jadinya aku terserang flu dan batuk. Karena setiap hari hampir selalu basah kuyup. Hilir mudik Cihampelas—Sumbersari—Kopo.

Meski cuaca sedang tak bersahabat padanya, pak tani harus pergi mencangkul nasib di jalan raya. Jadilah itu status facebook-ku.[]

**


Responses

  1. lahir di lingkup sosial petani maupun nelayan akan membentuk pribadi yang kuat dan cekatan.. hanya saja kadang perpindahan tempat, berpindah pula lah jiwa, dengan dalih menikmati hidup. karena terlalu dimanjakan zaman dan tekhnologi. namun ada pada saatnya, ia akan tetap tangguh, karena pada hakikatnya, ia masih memiliki jiwa petani, tangguh, peka sosial, dan memiliki jiwa berkorban..Allahu a’lam


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori