Oleh: Kyan | 29/01/2013

Rhonda Byrne Dalam Sudut Pandang Objektifikasi Ilmu

Selasa, 29 Januari 2012

Rhonda Byrne Dalam Sudut Pandang Objektifikasi Ilmu

**

“Islamisasi Ilmu” yang diusung Naquib Al-Attas dari Malaysia dengan “Pengilmuan Islam”-nya Kuntowijoyo dari Indonesia sepertinya lebih bergaung yang pertama. Padahal yang lebih realistis bagiku adalah yang kedua. Bahkan Naquib Al-Attas sudah mendirikan kampus sendiri sebagai tempat dan riset atas kajiannya. Apakah yang pertama karena ada dukungan dana dan penguasa?

Malaysia—bila dibandingkan Indonesia—tingkat kesejahteraan rakyatnya sudah cukup sejahtera secara merata. Sementara Indonesia masih mengalami disparitas penghasilan, dimana 80 persen kekayaannya dikuasai oleh 20 persen penduduk Indonesia. Sedangkan 20 persen kekayaan diperebutkan oleh 80 persen penduduknya.

Dengan sokongan dana dan kesejahteraan rakyatnya, Malaysia lebih mendapat peluang untuk pengembangan keilmuan dan sejarah peradaban Nusantara. Tapi kembali pada pesan Rhonda Byrne, satu kata yang mampu mengubah segalanya, yaitu syukur.

Paradigma Islam    The Secret

Pengilmuan Islam yang digagas Kuntowijoyo semestinya mendapat peluang yang sama untuk diujicobakan dan dikembangkan. Islamisasi ilmu bermula dari sudut pandang bahwa ilmu yang ada sekarang, terutama karena pengaruh Barat, ilmu sudah tersekulerkan. Lompatan kemajuan yang dipimpin peradaban Barat sisi lain telah membawa perubahan yang amat baik, tapi tak sedikit sebenarnya telah membawa manusia hampir menuju jurang kehancuran. Dehumanisasi dan segala persoalan lingkungan kini sedang terjadi menerpa bumi.

Mulanya Islam yang monis, lalu ada kategorisasi, lalu ada pembedaan, selanjutnya pemisahan, dan akhirnya penghilangan unsur-unsur ruhani dalam kehidupan. Betul bahwa yang ada di alam ini ada untuk keperluan manusia, tapi karena penggunaannya sudah melampaui batas akhirnya terganggu keseimbangan dan kesinambungan alam. Begitu perjalanan keilmuan Barat sampai yang ada sekarang ini sampai muncul kesadaran baru untuk melihat kembali pandangan-pandangan yang sudah mapan dan mentradisi.

Naquib Al-Attas dalam gagasan Islamisasi Ilmunya, sebagai permulaannya adalah paradigma atau cara berpikir atau cara memandang sesuatu. Cara pandang salah pada diri, pada manusia dan alam akhirnya menimbulkan kekisruhan dan persoalan. Maka bukan Tarbiyah, tapi Ta’dib untuk konsepsi pendidikan Islam. Dalam Ta’dib bagaimana cara memandang segala sesuatu berdasarkan paradigma Islam.

Begitupun dengan Kuntowijoyo yang menggagas Pengilmuan Islam atau objektifikasi Ilmu. Dalam bukunya “Paradigma Islam” dan “Islam Sebagai Ilmu” bahwa pengilmuan Islam adalah lanjutan dari Islamisasi Ilmu. Baginya Islamisasi Ilmu cenderung reaksioner, tapi pengilmuan Islam tak bermaksud menapikan atau menghilangkan temuan-temuan keilmuan yang sudah berkembang dan mapan di Barat, tapi ini adalah kelanjutannya setelah keilmuan Barat mentok tak mampu lagi memberi solusi pada persoalan manusia dan bumi.

Dalam kategori Kuntowijoyo bahwa tahapan sudut pandang manusia mulanya adalah mitos, lalu ideologi, selanjutnya ilmu. Semua agama atau kepercayaan, atau kearifan lokal yang tersebar di belahan dunia pasti memiliki nilai-nilai khusus bagi penganutnya dan nilai-nilai umum atau universal yang secara rasio dapat diterima oleh non-penganutnya dengan akal sehat.

Bule bisa memanfaatkan atau menteknologisasi bekam Nabi tanpa harus menjadi Muslim. Amerika boleh menggunakan sistem Ekonomi Syariah meskipun pelakunya bukan Muslim. Orang diluar penganut Kong Hu Chu boleh menikmati pijatan Akupunktur. Siapapun bisa melakukan Yoga tanpa harus mempercayai ajaran Budha atau Hindu. Itulah salah salah satu tradisi-tradisi agama setelah diobjektifikasi cara pandangnya.

Demikian ajaran Islam yang bagi penganutnya Islam diturunkan untuk seluruh alam, maka untuk memberi kontribusi pada dunia selekasnya diobjektifikasi ajaran-ajarannya. Kebenaran-kebenaran yang termaktub dalam Alquran dan Hadis, terutama yang bermuatan universal menjadi prioritas utama dakwah dan sebaran kepada non-Islam. Sehingga teroris yang selalu diidentikan pada Islam dapat terbantahkan bahwa Islam sangat mengutuk kekerasan dalam bentuk apapun.

Begitupun tulisan-tulisan Rhonda Byrne dalam ketiga bukunya, The Secret, The Power, dan The Magic banyak mengutif khazanah keislaman. Banyak ajaran-ajaran Islam dan agama lainnya memberi manfaat untuk terapi dan pengobatan. Karya-karya yang demikianlah yang perlu diperbanyak untuk kesatuan agama-agama dan perdamaian di dunia.

Setiap ajaran agama pasti memiliki kekhasan masing-masing dan biarlah itu menjadi milik dan pemahaman penganutnya masing-masing—yang mungkin dalam timbangan Kuntowijoyo ini tahapan Ideologi—tapi alangkah lebih baiknya semua ajaran Islam diobjektifikasi, sehingga benarlah bahwa yang benar itu benar. Sehingga tampaklah secara nyata bahwa kebenaran Islam hadir di ufuk Timur dan Barat bagi mereka yang diberi hidayah.

Wallahu a’lam.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori