Oleh: Kyan | 01/04/2013

Berpikir Terbalik Kainda

Senin, 01 April 2013

Berpikir Terbalik Kainda

**

Selamat pagi Kainda Az-Zahra, selamat pagi dunia? Kainda, waktu SD pernah dengar lagu ini gak? “Bungaku yang kucinta, pujaan hatiku. Tempat ayah dan bunda dan handai taulanku. Tak mungkin kulupakan, tak mungkin terlerai. Bungaku yang damai.

Zahra, kupanggil nama Zahra saja ya. Kalau Bunga atau Kainda pasti sudah banyak mereka yang memanggilmu dengan panggilan nama itu. Belum lagi “M” Farda, nama panjangnya apa itu? Tapi memang sebuah nama Kainda sangat terdengar manis . Mau Zahra atau Kainda tetap saja tak berkurang atau berlebihan aroma manisnya.

Lalu ajarin aku berpikir terbalik donk! Misalnya bila saya tidak mendapatkan Kainda, pasti bakal ada Kainda yang lebih baik, begitu maksudnya? Berperasaan positif kalau hatinya suci. Kalau hatinya kotor bagaimana?

Ingin dipanggil Kainda saja. Intinya tetap positif thinking, meskipun mendapatkan hal yang tidak diinginkan. Ya bukan begitu juga. Maksudnya hal-hal buruk yang dirasakan dan hal-hal yang dipaksakan bila mendapatkan Kainda, tidak akan terjadi atau yang dirasakan saat tidak mendapatkannya. Untuk lebih jelasnya baca dan fahami status berpikir terbalik. Ya, kalau hatinya kotor itu urusan masing-masing.

Cerdas sekali dirimu. Makannya apa sih? Entar deh statusmu yang berpikir terbalik mau kupajang di dinding kamarku. Mungkin intinya ikhlas ya? Saya ikhlas kok tatapan mataku terus tertuju padamu. Hembusan nafasku terus menyebut namamu. Memori otakku penuh ingatan padamu.

Bukan, justru sebaliknya. Berpikir terbalik itu jalan supaya ikhlas. Terkadang perlu alasan untuk ikhlas. Nah, alasan tersebut bisa didapat dengan berpikir terbalik. Dan tidak salah jalan menuju ikhlas memakai berbagai cara.

Keikhlasan ibarat hidayah yang memerlukan ikhtiar untuk mendapatkannya. Jadi boleh ditempuh dengan cara se-ihsan mungkin. Dan memang benar bahwa ikhlas itu perasaan. Jadi tidak salahnya memanipulasi perasaan dan pikiran. Karena bagi manusia dengan tingkat keimanan yang rendah dan kemanjuan cara berpikir logis, mencapai ikhlas dengan memanipulasi perasaan lewat pikiran dapat menjadi opsi.

Halah, memanipulasi? Jadi berbohong itu dibolehkan ya bila untuk kebaikan? Bukankah satu kebohongan akan berusaha ditutupi dengan kebohongan lainnya? Tak adakah opsi untuk jujur pada diri dengan mengakui kelemahan diri. Sehingga merasa tak berdaya, lalu dibangunlah kekuatan dan kelenturan pribadi untuk menghadapi semuanya.

Tapi saya mau Kainda saja deh. Sudah kutebak pasti pertanyaan baliknya begitu. Tidak Kainda, engkau perempuan yang begitu terhormat nan cerdas. Nilainya tak bisa diukur dengan luasnya langit dan bumi.

Engkau berbeda diantara perempuan yang kutemui selama ini. Sudah malam, makasih ya atas ilmu yang dishare hari ini. Maaf kalau bercandaku tidak etis atau keterlaluan. Terima kasih dan selamat malam. Haturnuhun tos dikasih kesempatan ngobrol dan berbagi ilmu. Di lain kesempatan boleh kan kita berbincang lagi tentang segala hal. Doakan aku untuk dapat memahamimu!

Begitulah satu penggalan percakapan antara Kiyan dan Kainda di awal-awal pertemuan pikirannya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori