Oleh: Kyan | 15/04/2013

Gereget Cintaku Pada-Mu

Senin, 15 April 2013

Gereget Cintaku Pada-Mu

**

Seberapa kuat engkau menolakku, sekuat itulah aku mengejarmu, dan semakin kuat aku terpaut hati padamu. Inilah Hukum Newton +1, atau hukum kausalitas plus Tuhan. Kenapa aku terus mengganggumu, salah sendiri kau berwajah manis dan punya sikap yang begitu manis. Tuhan memberiku takdir mengenal namamu yang menjelaga jiwa di pelupuk hatiku.

Tentang siapakah diriku, engkau tidak pernah bertanya. Sudah sebulan ini aku mengenal namamu, arus qudusku dan kamu berjalan semakin tak berimbang. Aku yang sudah banyak berkata-kata padamu sementara engkau masih bisu dan hanya menjawabku seperlunya saja.

Aku tahu engkau tak respek padaku. Alasannya seperti yang engkau katakan karena aku tak memiliki dunia atau kemampuan yang bisa memasuki dunia yang berbeda-beda. Tapi kuharap engkau tahu dimensiku hanya satu, yaitu kuingin kamu.

Aku adalah lelaki biasa yang ingin memberi cinta luar biasa padamu. Meski aku tidaklah seperti Bung Karno yang punya kharisma sehingga bisa memikat gadis SMA, atau seperti Syeh Puji yang dengan kekayaannya bisa meminang gadis belia. Dan akupun tidaklah seperti kakekku sendiri, Nurwahim bin Dipawedana yang mewariskan delapan belas garis keturunan dari empat istrinya.

Tapi aku adalah aku.

Aku yang tak ingin seperti Aceng Fikri yang karena wanita sampai kehilangan jabatannya, atau seperti Aa Gym gara-gara menikah lagi menurunkan pamor bisnisnya, atau seperti Eyang Subur yang hendak dijerat pengadilan karena penodaan ajaran agama dan banyak wanitanya.

Hanya aku bertanya dan ini adalah keyakinanku. Bila mereka bisa kenapa aku tidak bisa. Tidakkah boleh aku mengecup cinta untuk kupenuhi kefitrahanku sebagai manusia, sebagai lelaki utuh yang disampingnya ada wanita.

Apakah aku tak pantas dimiliki kamu? Engkau tidak percaya bahwa aku bukan orang terpercaya? Ketahuilah bila engkau menyimpan senoktah kerinduan untukku, sekuat tenaga aku akan menjaganya. Aku berjanji tidak sekerjappun lengah melampaui batas kesadaran. Apalagi melakukan pengkhianatan cinta diantara kita.

Bila alasannya itu, dan akupun sudah tahu. Aku dilarang jatuh cinta padamu karena jauhnya perbedaan status dan usia diantara kita. Mungkin aku terlalu tua untukmu yang masih belia. Meski segi pemikiran engkau melampaui usiamu. Engkau begitu dewasa dan jelita. Engkau memang pantas meraih cinta kemudaan seperti kemudaan dan semangatmu. Dan biarlah kemudaanku terenggut karena terlalu lama menunggu sosok sepertimu.

Engkau yang membahana di etalase dunia. Kuharap gangguanku tak begitu mengganggu. Bila dirasa mengganggu, marahilah aku seperti yang engkau mau. Aku bersedia menemuimu untuk engkau memarahiku. Jikapun aku harus ke kotamu, aku bersedia datang ke Tasikmalaya. Kuharap setelah marahmu, engkaupun tenang menerimanya.

Dan aku memang lalat pengganggu. Tidak hanya kata Aristoteles, katamu juga aku ini lalat pengganggu. Di sela-sela gangguanku, semoga cepat terselesaikan segala apa yang mesti segera diselesaikan. Dan jaga kesehatan! Jangan sampai kesehatan menjadi korban demi semangat yang melampaui batas. Sungguh fantastik melakukan sesuatu diluar kewajaran, tapi akan selamat bagi yang melakukannya secara seimbang.

Suatu saat izinkan aku untuk datang ke Rumah Cerdas Go Change. Jangan salah sangka dulu! Aku hanya ingin main ke Go Change, bukan ingin bertemu denganmu. Hanya kuingin merasakan aroma dan nuansa bertafakur dan bertasyakur disana. Ingin kujangkau titik pencerah yang membuatku berubah, dimana hatiku dipenuhi cinta para pujangga, para nabi dan aulia.

Meski aku tidak begitu mengenalmu karena diammu, tentangmu sudah merasuk mencuri mimpi-mimpiku. Sesudah bertemu dalam mimpi, kuingin memanifestasi di alam nyata. Memang mimpi hanyalah bunga tidur. Tapi aku percaya dan dapat kuraba tafsirnya. Meski perkenalan kita belum berbuah kepercayaan, tapi terlanjur cerita kita sudah dimulai. Aku bersedia menerima segala resiko dan semoga engkau menerima!

Tuhan, Engkau maha membolak-balikkan hati siapa saja yang Engkau kehendaki. Bukakanlah pintu hatinya untuk aku dapat bertamu. Buatkanlah lubang di hatinya agar hembus nafasku mengisi vibrasi cerita yang memenuhi semesta cinta.

Tuhan, jika dia bukan jodohku, jadikanlah dia jodohku. Mudah bagi-Mu mengubah takdirnya untukku. Mungkin kata-Mu, “Engkau ini memaksa dan Aku tahu apa yang terbaik bagimu”. Ketahuilah Tuhanku, ini sebentuk kesungguhan untuk memberi cinta terbaik untuknya. Kuingin bersanding dengannya dan menghabiskan sisa hidupku bersamanya.[]

**


Responses

  1. duhai betapa kata-katanya menembus relung hati. sekeras apa pun dia, akan mencuri perhatiannya, walaupun tak bisa seutuhnya…

    hanya saja saja yang jadi pertanyaanku; “bagaimana jika dia membaca tulisan ini? karena tidak semua wanita suka di publikasikan tulisan seperti ini.. apalagi blog jaringannya sangat luas..siapa pun bisa membacanya.. jangan-jangan nanti dia malah malu dan itu akan menjadi bomerang buat kamu..

    tidak salahnya kamu cari tau itu, kalau bukan tipe dia, sebaiknya kamu kunci tulisan yang senada, agar tidak mengurangi kretifitas kamu…

    semoga Allah membukakan hatinya untukmu..

    jadi ingat sebuah pesan; bersyukur kepada Allah yang telah membukakan hatinya untukmu, padahal berapa banyak disana orang lain yang juga mengharapkannya..

  2. Amin Amin Amin… Terima kasih sekali Mbak El sudah mendoakanku. Memang pada awalnya aku mempunyai kekhawatiran bahkan ketakutan seperti itu. Bagaimana kalau dia bukan jodohku sebenarnya. Bagaimana bila tulisan ini nanti dibaca istriku atau anak-anakku tersayang, bahwa suami atau ayahnya pernah memiliki rasa cinta yang begitu dalam pada seseorang yang bukan istrinya.

    Tadinya ingin kupakai inisial saja atau simbol imajinatif lainnya. Tapi kupikir lagi, sesungguhnya aku selalu memiliki kesungguhan pada titik dimana saat itu aku berada. Ketika aku menuliskan ini, situasi pikiran dan perasaannya hanya pada saat itu saja, bahwa begitu sangat aku menginginkan dia.

    Aku ingin berterus terang saja tentang kesungguhanku padanya. Bila kupakai inisial takut nanti orang lain salah menafsirkannya, atau menyangka menyembunyikan seseorang atas orang lain. Bilapun disebutnya pengkhianatan, dengan secara gamblang memang itu pengkhiantan. Inginku hanya kejujuran, bukan kepolosan.

    Bila pun tak kuperoleh kemenangan mendapatkan dia, sehari, seminggu, sebulan, setahun, sewindu, seabad kemudian segala pikiran dan perasaan ketika aku mencurah gagasan ini, tulisan ini sudah menjadi masa lalu. Dan yang tersisa hanyalah kenangan tentangku, tentang dia, dan tentang semuanya.

    Seperti kata orang tenar, sesudah membubuhkan titik pada baris akhir paragraf sebuah tulisan, sudahlah itu tulisan menjadi dirinya sendiri, yang bisa terlepas dari penulisnya itu sendiri. Biarlah tulisan tersebut bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Mana bisa…Dengan begitu aku siap menerima resikonya.


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori