Oleh: Kyan | 18/04/2013

Neo-Muktazilah, Ibnu Khaldun, dan Karen Armstrong

Rabu, 17 April 2013

Neo-Muktazilah, Ibnu Khaldun, dan Karen Armstrong

**

   Bila hari ini ada jenis-jenis pemikiran yang berkembang seperti sekulerisme, kapitalisme, sosialisme, komunisme, taoisme, dan berbagai-bagai isme lainnya sebagai turunannya, dalam tradisi masyarakat Islam pun terdapat pemikiran yang berkembang. Satu diantaranya adalah Muktazilah, sebagai tema tulisan ini.

Meski faham Mu’tazilah sudah tidak berkembang lagi—untuk tidak menyebutnya mati beneran—sehebat zaman Khalifah Al-Makmun, tapi dengan begitu seringnya dicela dalam buku-buku terbitan sekarang, membuat anak muda Islam bertanya bagaimanakah sih Muktazilah itu. Justru karena sering disebut-sebut malah memperkuat eksistensinya yang bisa jadi akan melahirkan Neo-Muktazilah.

Jenis-jenis pemikiran yang dibendung untuk tidak diketahui membuat semangat kaum muda menjadi-jadi memburunya. Sebab pada dasarnya yang muda menyukai tantangan dan ingin menang sendiri. Begitu hari ini pluralisme, sekulerisme, mistisme, komunisme yang oleh negara dan ulama dilarang-larang melalui fatwa dan penjara justru mengundang simpati para musafir kelana..

Menelisik awal kemunculannya, lahirnya Muktazilah bermula ketika diantara para ulama mazhab terdapat perbedaan pendapat dalam mengambil sebuah dalil untuk menentukan sebuah hukum syariat. Setelah Rasul dan sahabatnya satu per satu mangkat, pengambilan keputusan hukum tidak lagi dapat langsung bertanya kepada Rasul, melainkan mencari nash-nya dari Alquran dan Sunnah.

Karena semakin tumbuhnya masyarakat Islam, begitupun ilmu, hukum-hukum dan orang-orang yang ahli syariat kian diperlukan. Untuk melahirkan pakar-pakar syariat untuk kebutuhan masyarakat, dan demi kepentingan transformasi ilmu dari generasi ke generasi, ulama salaf mencoba mencari metodologi yang pas sebagaimana yang diajarkan Rasul dan sahabatnya atau yang dikehendaki Islam.

Untuk mendapatkan kepastian hukum, para ulama mencari dalil-dalilnya dari Alquran dan Sunnah. Tapi ketika permasalahan semakin kompleks, sementara dalil-dalil yang ada dianggap tidak cukup memberi penjelasan, maka diperlukan sebuahn metodologi yang bahan dasarnya kedua sumber tersebut.

Selanjutnya muncul perbedaan, setelah Alquran dan Sunnah apalagi yang dapat menjadi pijakan hukum. Mazhab Hanafi dan Syafii setelah Alquran dan Sunnah, mereka menambahkan qiyas sebagai metodologi pengambilan hukum (Ushul Fiqih). Sementara Mazhab Maliki menambahkan tradisi sahabat di Madinah (Urf) untuk menjadi pijakan mengambil kesimpulan.

Bagi Maliki, tradisi yang mengakar sudah tentu dimulakan Nabi sebagai pembawa pertama risalah Islam, maka keputusan hukum diambil dari tradisi yang hidup di Madinah. Sementara qiyas adalah menyimpulkan sebuah hukum dengan mengumpamakan ada sebuah kasus yang sudah jelas dalilnya, untuk sebuah kasus yang jenis dan karakternya sama dengan kasus pertama.

Masalah kemudian, disamping Alquran banyak mengandung ayat Muhkamat (ayat yang jelas maknanya), didalamnya terdapat ayat Mutasyabihat (ayat-ayat yang samar maknanya). Dengan keilmuan yang sudah melembaga, membuat sebagian ulama memiliki kecendrungan untuk meraba-raba makna ayat-ayat Mutasyabihat. Meski Alquran sendiri menyatakan itu berbahaya.

Karena sudah menjadi konstalasi pemikiran, mereka mencoba menggunakan qiyas untuk meraih penjelasan. Akibat dari konstalasi ini lahirlah sebuah golongan bernama Mutazilah. Bagi Muktazilah membedakan Dzat dengan sifat Allah membuat Allah menjadi terbilang. Allah harus bersih dari perbuatan manusia yang penuh cela. Katanya tidak mungkin kejahatan datang dari Allah. Termasuk Alquran itu qadim, atau makhluk. Mushaf yang dipegang dan dibaca sudah jadi makhluk, sesuatu yang di luar Allah.

Dikatakan banyak pemikiran Muktazilah penuh kerancuan, kemudian dari rahimnya lahirlah seorang tokoh bernama Abul Hasan al-Asyari. Mulanya beliau belajar dan menjadi tokoh Muktazilah, tapi selanjutnya balik menyerang faham golongannya sendiri. Beliau dan pengkutnya yang menamakan dirinya golongan Asyariyah mencoba mematahkan argumen-argumen Muktazilah.

Timbangan jawabanku, karena Abul Hasan al-Asyari pun awalnya tokoh Muktazilah sehingga ia mampu menangkal faham-faham berbahaya Muktazilah. Seperti Al-Ghazali bertahun-tahun belajar filsafat yang akhirnya menentang filsafat sebagaimana dalam bukunya al-Tahafu al-Falasifah.

Seperti kata Umar ibn Khathab, pelajarilah kejahiliahan untuk dapat menghindarinya. Pelajarilah ilmu mencuri dan korupsi untuk dapat menghindari dan tersesat karenanya. Bagiku keputusan Harun Nasution baik adanya demi atmosfir intelektual Indonesia. Beliau rela dicaci dan dihujat pada awalnya, tapi pada akhirnya penentangnya sadar bahwa itu keputusan tepat.

Bagi Ibnu Khaldun, ilmu kalam atau teologi spekulatif sudah tak penting masa kini, karena kefahamannya sudah KO oleh al-Asyariyah. Tapi yang perlu menjadi bahan pemikiran sekarang adalah tentang usaha menyucikan Tuhan pencipta dari banyak keraguan dan pemutlakannya.

Pandangan Ibnu Khaldun rupanya sampai kini masih relevan dan belum terselesaikan dengan segala efek-efek dunianya bagi perikehidupan zaman sekarang. Penyakit orang modern dan postmodern adalah banyaknya manusia-manusia Atheis, yaitu golongan yang meragukan dan meniadakan Tuhan, dan kaum Fundamentalis, yaitu golongan yang memutlakan Tuhan. Dua hal yang diwanti-wanti Ibnu Khaldun, yaitu yang meragukan dan memutlakan Tuhan.

Karen Armstrong dalam bukunya Masa Depan Tuhan baru permulaannya. Ia sudah menguraikan apa dan bagaimana masa depan agama dan penganutnya. Tentang mengapa sampai lahir orang Atheis dan Fundamentalis sebagai dua sisi berseberangan. Baginya agama harus kembali ke khittah-nya, kembali menjadi seperti fungsi seni.

Tantangan sarjana sekarang dan masa depan ialah untuk terus mencboa menguraikan dan mensintesiskan sebagaimana pemikiran Ibnu Khaldun berabad-abad silam sampai tuntas. Tuntas memberangus penyakit Atheis dan Fundamentalis sebagaimana dulu kaum al-Asyariah membuat mati kutu Muktazilah. []

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori