Oleh: Kyan | 25/04/2013

Masih Menjadi Lelaki Bukan Pilihan

Kamis, 25 April 2013

Masih Menjadi Lelaki Bukan Pilihan

**

Kemudaan yang terenggut, tanpa pernah dikecup. Kesia-siaan jadi belukar, dan nestapa kian menjalar. O, dimanakah hati?

~

Sungguh aku ingin mengetahui kenapa dia tak memilihku. Aku hanya ingin tahu untuk dapat kubangun kepantasan untukmu. Memang aku bukanlah tipe lelaki yang kamu cari selama ini. Tapi mengapa Tuhan mempertemukan aku denganmu bila ini akan sangat menyakitkan buatku. Apakah Tuhan tidak suka dengan bahagiaku? Mungkin yang harus kuingat bahwa dibalik kepahitan, ada madu.

Bagaimana aku tidak menangis dengan luka ini. Termaktub dalam Alquran tentang kisah percintaan Adam dan Hawa, juga Yusuf dan Zulaikha sebagai spirit yang membuat kita ada. Begitupun Marxisme bilang bahwa bercinta adalah penggerak sebuah revolusi. Bagi Freud ia adalah yang dicari-cari sejak dini.

Bila aku tak punya, tak memiliki dan dimilki cinta, kepada siapa aku mengiba? Tadinya kumaksud ingin memberi ruang pada kata, lantas kenapa setiap goresan kata seolah menjadi mantra. Dalam permulaan cerita bertemu denganya, aku sudah tidak yakin dia akan respek padaku, bahwa dia menolak dipautkan hatinya padaku. Dan ternyata ini menjadi fakta, sebagai kebenaran yang tak dapat digugat.

Dulu pun sekali pernah kutulis, “dia yang pergi, lalu datang, dan pergi lagi” untuk perempuan yang menjadikan aku bukan pilihan. Lalu selanjutnya dia pun tak jadi pilihan dan datang kembali padaku. Masih tetap kuterima, tapi pada akhirnya diapun pergi lagi tanpa menyisakan rasa bersalah diri.

Lalu ada yang berkata, kau meratap diri situs jejaring sosial, merataplah di sujud-sujud panjangmu memohon ampun pada Tuhan. Dijawabnya dia itu telah mempersempit semesta Tuhan. Kau persempit rahasia Tuhan hanya dalam ibadah-ibadah mahdah, sementara di kehidupan lain seolah engkau mengabaikan bahwa Tuhan Maha Mendengar. Bahwa setiap ufuk langit Timur dan Barat adalah kepunyaan-Nya.

Sekarang aku ingin berkata dan menyadari mungkin benar mencinta janganlah besar. Mencinta haruslah pelan-pelan bila tak ingin kecewa besar. Meski cinta yang besar adalah sebagai bentuk kesungguhan, tapi disitulah diperlukan sikap mengendalikan.

Bagaimanapun dengan yang terjadi, aku memilki bahagia. Tuhan memberiku takdir dapat mengenalnya. Sekedar mengetahui namanya sudah cukup dan membuatku bahagia. Dia memang pantas menerima cinta yang besar dari lelaki manapun yang mengenalnya. Bukan aku yang tak tak berkaca.

Benarlah ada ungkapan bahwa hati itu tidak memilih, tetapi dipilih. Temanku bilang cinta datang tanpa permisi, bisa masuk begitu saja lewat celah pintu dan jendela relung hati. Saat dia pergi cinta kesulitan untuk lepas dan keluar di ruang hati. Karena ia begitu membahagiakan.

Setelah cinta, aku tak dapat berkata apa-apa, selain menyisakan perih dan pedih. Ada benarnya bahwa cinta itu luka. Tapi apakah luka ini lebih sakit dibanding enam bulan lalu? dua tahun silam? enam tahun silam? sepuluh tahun silam? sebelas tahun silam? tigabelas tahun silam?

Telah terbiasa menjadi lelaki bukan pilihan. Tapi haruskah berpuluh-puluh tahun lagi menjadi lelaki bukan pilihan? Sebelum akhirnya kutemukan cinta yang mampu menghapus luka? Kapan saatnya aku menjadi lelaki pilihan?

Aku harus pandai-pandai mengambil perspektif. Seperti dalam legenda kisah Romeo dan Juliet. Sebelum Romeo jatuh cinta pada Juliet, sebelumnya Romeo telah dicampakkan oleh Rosaline. Pun bila aku hari ini dihilangkan harapan oleh seorang perempuan, yakinlah akan ada bunga yang lebih mekar dan berwarna ceritanya nanti yang akan datang.

Seperti aku sudah mati. Tapi sebelum aku mati ingin segera kutulis cerita tentang penolakan. Tentang dia dan dia yang menolak kesungguhan. Kesungguhan dalam arti bukan sungguh secara objektif tapi sangatlah relatif. Meski aku menyebutnya kesungguhan padahal mungkin saja bagi dia dan dia adalah lelucon dan ketakpantasan.

Ingin aku bertanya dan meminta maaf kalau ini engkau tak suka karena ini soal pribadi. Dulu hanya sekali saya pernah mengirim pesan pada ayahmu dan tahunya dibalas. Beliau hanya bertanya mengenal Kainda dimana? Itu saja. Jadi gak usah ada yang perlu dirisaukan dan semoga hari-harimu menyenangkan.

Dan selamat ya akhirnya engkau sudah menemukan seorang penjaga hati yang semoga dia dapat menjagamu seperti ayahmu menjagamu. Selamat dan terima kasih atas percakapan sekilas selama ini.

Tapi sebelum kuakhiri semuanya, sekali saja saja hendak bertanya. Sungguh-sungguhkan engkau sudah bertunangan? Apakah itu bukan rekayasa? Lalu jawabmu, “Itu yang saya pilih”. Yakin itu jodohmu? Jawabmu hanya Allah dan ijab kabul yang bisa menjawab jodoh atau tidaknya.

Baguslah segera mengambil keputusan, jadi tak ada lagi lelaki yang menaruh harap padamu. Jawabmu, sejak dua hari kemarin sudah diputuskan dan lagi pula yang menaruh harap setelah saya tolak sudah bukan tanggung jawab saya.

Sungguh cerdas sekali jawabanmu. Iyya, lagian siapa yang ingin kamu bertanggungjawab atas semua ini. Allah Maha membolak-balikkan hati siapa saja yang dikehendaki-Nya. Kuharap semoga itu bukan keputusan yang gegabah dan hanya pada Allah saya bertawakkal.

Tercatatlah kini aku menempuh jalan cerita dimana perempuan yang bernama Bunga Kainda telah menolak harapanku. Ini telah tertulis yang selalu menjadi ingatan. Bahwa di hari Kamis, 25 April 2013 dia telah menolak dan berkata tidak padaku. Baiklah kalau begitu.

Tapi boleh kan saya masih menulis disini? Sampai saya akhirnya merasa bosan karenanya? Meski sudah menutup pintu buatku, tapi masih boleh kan kita berteman? Kamu tak akan menghapus akun BB dan Fb-ku?

Harap diketahui saja saya tidak kecewa, sedih, geram, apalagi menangis ketika dilanda duka. Saya sudah terbiasa diperlakukan seperti ini. Ini hanyalah pengulangan bahwa sebelumnya saya pernah diperlakukan seperti ini. Dan sampai saat ini saya masih hidup sehat, yang berarti saya bisa mengatasi bila engkau telah berkata tidak padaku.

Sayapun berkaca memang saya tak punya kepantasan untukmu. Tapi kuharap engkau berdoa untukku supaya saya bisa mendapatkan sosok sepertimu, atau bahkan lebih baik darimu. Engkau perempuan paling khas dari perempuan yang kukenal selama ini. Dan semoga aku dapat bertemu lagi perempuan yang lebih khas lagi.

Setelah dia yang menolak harapanku hari ini, ingatanku menyemburat pada kisah kala SMA. Tentang dia yang sebelum kepindahan sekolahnya ke Jogja. Karena kupikir dia sering ketahuan sedang mencuri pandang padaku, dan dikuatkan ia meminta sebuah foto padaku.

Tapi ketika dia mengutarakan hendak pindah sekolah, aku pun mengutarakan bahwa aku menyukainya. Setelah beberapa hari kemudian, setelah dia berpikir panjang, saat bertemu di kala siang di terang ruang ia menjelaskan yang kesimpulannya dia tak cinta padaku.

Kecewa tapi tak begitu kurasa. Aku hanya ingin berterima kasih kepada satu dan dua dan tiga perempuan gita di SMA yang telah mengajarkan satu sikap ketegaran. Meski betapa pahitnya sebuah penolakan, semoga itu membuat pikiran dewasa dan pengalaman yang sangat berharga. Semoga itu jadi kenangan yang tak akan dilupa.

Lalu terkisah cerita seorang yang bernama Kartika. Dia yang pandai menyanyi dan sering mengikuti kontes model, dia yang memulai menyapa berbagi cerita. Bahwa dia melihatku karena sering jalan-jalan ke Gramedia.

Setelah waktu berselang, dan pernah jalan berduaan. Setelah beberapa hari kemudian, ketika kuutarakan cinta, dia malah terdiam. Dari temannya aku mengetahui bahwa dia sudah punya kekasih sejak sebelumnya. Entah kenapa dia bertukar sapa denganku yang padahal aku akan segera pulang ke Bandung.

Sering aku bertanya mengapa dan mengapa. Mengapa aku sering jatuh cinta pada perempuan yang sudah dimiliki. Mengapa aku menaruh harap pada dia yang sudah jelas-jelas tak dia suka. Mungkin benarlah kata orang yang bilang bahwa aku ini buta warna.

Ketika ada perempuan memberi lampu hijau, aku masih diam saja tidak antusias menyambutnya. Tapi ketika ada lampu merah, bahwa dia secara jelas-jelas sebentar lagi melangsungkan pernikahan aku masih terus mengejarnya. Maka pantas saja aku ditilang jadinya. Dengan sakit-sakit yang menyesakkan.

Sekarang rasa sesak itu terulang lagi. Sungguh malang bila terus jadi ingatan akan cerita penolakan ini.[]

**


Responses

  1. penolakan bukan berarti menandakan nila negatif. menolak bisa saja karena ada alasan yang tidak memungkinkan untuk menerimanya.

    ini pun mengingatkan saya pada remaja dulu. saya tak bisa menerima, padahal hati saya sakit menolaknya. saya juga pernah mengusili orang yang cuek, begitu dia jatuh, ternyata saya tak bisa menyambutnya. dan berbagai kejadian sampai akhirnya saya menikah dengan orang yang tak pernah terlintas dalam saya..

    pada hakekatnya dia memang bukan jodoh kita, dan adapun berbagai rasa yang telah kita lewati, hanyalah sebuah warna yang pada dasarnya itu juga anugerah hingga suatu saat terjadi pembentukan hadirnya pelangi dalam kehidupan kita..

  2. semoga ini cerita tak menyisakan traumatik bagiku. bila terus-menerus selalu saja menjadi orang-orang kalah, suatu saat aku akan jadi pemenang. bila semua ingin jadi pemenang, bukanlah permainan namanya.

    aku jadi ingat, bahkan bagi Rasul saat muda pun katanya pernah ditolak menikah dengan anak pamannya. Karena saat itu Rasul muda belumlah mapan. orang selevel makhluk pilihan pernah mendapat kecewa, apalagi aku yang masih tak tahu warna-warna pelangi.

    soalnya kata temanku, aku ini belum pandai membedakan warna. ada lampu hijau, aku masih diam saja. tapi ketika sudah jelas lampu merah aku masih saja nyelonong mengejar-ngejar cintanya. pantas saja ditilang akhirnya harus bayar denda nyeri dada.


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori