Oleh: Kyan | 03/06/2013

Berita Acara Kronologis Kasus Faktur

Berita Acara Kronologis Kasus Faktur

**
Kepada Yth.
OM/Logistic/Ekspedisi PT. TMW Bandung
di Tempat
 

Dengan ini saya menyatakan bahwa kasus Faktur 19 April 2013 (Jum’at), dimana kiriman barang sampai di MR Cililin adalah sudah pagi, 20 April 2013 (Sabtu). Karena pada bulan sebelumnya kiriman barang Presell adalah malam hari.

Saya sebagai ext. Koordinator MR Cililin mengetahui bahwa Faktur 19 April 2013 terdapat Faktur Gantung setelah diberitahu Debitur pada hari Kamis, 30 Mei 2013. Setelah saya cek data “Laporan Serah Terima Faktur”-nya memang benar ternyata ada Double Faktur SR Jajang dan Jaelani. Saya mengatakan Dobule Faktur, karena secara quantity dan item barang adalah sama. Hanya nilainya berbeda sedikit antara dua Faktur tersebut.

Dengan demikian, melihat data yang tertera di Laporan Serah Terima, bahwa jumlah Faktur ada 10 (sepuluh) berikut fisik barang pun seharusnya senilai sepuluh faktur.  Tapi setelah mengintrogasi Loader, pengakuannya bahwa fisik barang yang diterima dari Ekspedisi hanya senilai 8 (delapan) Faktur. Karena Jumlah Faktur Tercetak yang Loader terima berjumlah 8 (delapan).

Kami menyadari telah melewati SOP, yaitu tidak mengecek terlebih dahulu jumlah fisik barang berdasarkan DO Ekspedisi. Tapi biasanya begitu barang diterima, kami langsung memecah fisik barang berdasarkan masing-masing Faktur tercetak. Bila ada lebih atau kurang barang, kami selalu mengecek ulang dan menelusurinya dan melakukan konfirmasi dengan pihak-pihak terkait.

Jika terdapat lebih atau kurang barang Loader melakukan konfirmasi pada Koordinator. Seperti kejadian 08 Maret 2013 soal ada Faktur yang tidak tercetak dan 18 Maret 2013 ada kelebihan barang PLB 30 strip, Loader selalu konfirmasi dan Koordinator langsung meneruskannya ke Gudang Cipacing.

Soal kenapa tidak mengecek terlebih dahulu fisik barang berdasarkan DO Ekspedisi? Karena Ekpedisi sering tidak mau menunggu dan terburu-buru yang katanya harus segera menyelesaikan kiriman lainnya. Kenapa Koordinator tidak tahu bahwa faktur yang tertera di DO adalah sepuluh, bukan delapan sebagaimana yang diterima? Kesalahan Koodinator jelas sudah melewati prosedur SOP.

Hanya kejadiannya 19 April 2013 adalah Sabtu, dimana jam kerja Koordinator mulai jam 08.00 dan pekerjaan hari Sabtu adalah menginput Ekspense, Uang Ekstra, dan pengeluaran lainnya serta membagikan uangnya. Setelah itu diburu-buru harus segera pergi ke Kopo untuk menyerahkan setoran pada Kasir dan Debitur. Hanya saya selalu bertanya pada Loader tentang ada tidaknya masalah.

Menimbang kasus Faktur 19 April ini, dengan melihat bukti data “Laporan Serah Terima” yang sudah ditandantangani Loader, MR Cililin pun tidak bisa menapikan keabsahannya. Bahwa MR Cililin dianggap sudah menerima barang dari Ekspedisi senilai 10 (sepuluh) Faktur, meskipun faktur tercetak yang diterimanya 8 (delapan) Faktur. Sehingga dipastikan seharusnya akan ada barang lebih.

Tapi bagi saya, memvonis sebuah kesalahan hanya berdasarkan “kertas” semata,  tanpa mencermati berbagai kemungkinan lain dengan melihat kronologis kejadian dari hulu ke hilir, dimana disana ada beberapa divisi yang terlibat. Seperti baru saya ketahui ternyata ketika peralihan barang dari divisi Gudang ke Ekspedisi itu katanya hanya berdasarkan data dari Gudang. Bagi saya tidak terjamin akurasi pengecekan oleh Ekspedisi adalah benar fisik barang dari Gudang sesuai DO-nya. Lalu jarak perjalanan dari Gudang Cipacing sampai ke MR Cililin  bisa saja kemungkinan lain terjadi.

Harapan saya penyelesaian kasus ini tidak langsung memvonis bahwa masalah ini murni kesalahan MR Cililin. Harapan saya Manajemen memfasilitasi dahulu penyelesaian masalah ini dengan melibatkan semua divisi terkait. Tapi apa yang saya tangkap dari datangnya orang Logistik ke MR Cililin dan pembicaraan di Kopo, bahwa MR Cililin “dipaksa” harus membayar untuk melunasi dua Faktur Gantung tersebut.

Secara prinsip saya sebagai pekerja, saya tidak akan mengakui kesalahan yang bukan total kesalahan saya—hanya terlewati SOP—dan apalagi kesalahan tersebut dimaterikan berupa uang yang harus dibayar dengan jumlah besar. Sementara porsi kesalahan bukan semata MR Cililin. Bila tetap “keukeuh” kami “dipaksa” harus membayar, kami meminta tenggat waktu sampai 1 Juli 2013 untuk dapat melunasinya. Dengan catatan “Mengganti bukan berarti mengakui”. Sebagai konsekuensi ketidaksetujuan ini, saya lebih baik mengundurkan diri dari PT. TMW Bandung.

Sekian berita acara ini saya buat, dengan penuh kesadaran sebagai pembelaan.

Bandung Barat, 03 Juni 2013

Sofyan Solehudin


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori