Oleh: Kyan | 14/06/2013

Aku Berpikir, Maka Aku Ada

Jum’at, 14 Juni 2013

 Aku Berpikir, Maka Aku Ada

**

Di tengah kehidupan pragmatis, saya sering dihadapkan pada pertanyaan apa yang dihasilkan dari terus-terusan berteori, bersusah-payah menelaah buku-buku wacana dan filsafat sementara finansial belum kunjung mapan. Mengapa harus repot-repot memikirkan segala sesuatu yang “wah” sementara diri dan masa depannya masih diambang tak menentu.

Menanggapinya saya pun bingung harus menjawab apa. Saya tidak terlahir dari keluarga intelektual tapi kenapa ada kesukaan pada kecendrungan mengurung diri untuk membolak-balik halaman buku. Dulu ketika memutuskan kuliah pun saya bertujuan untuk semata-mata mengejar ilmu pengetahuan. Meski tak dipungkiri terdapat juga alasan lain aku ingin seperti mereka yang mencerap pengetahuan di bangku kuliah yang saat itu sepertinya mustahil kutempuh.

Memilih jurusan Manjemen Keuangan Syariah (MKS) pun dulu tidak terpikir semata-mata karena uang, dan mengambil diploma karena ingin cepat kerja. Saya mengambil diploma, karena saya yang lulusan SMA yang notabene sekolah sekuler, maka kuliah pun akan masuk akal menempuh bidang yang sedikitnya ada unsur sekuler-nya. Kebetulan jurusan MKS stratanya diploma tiga.

Inilah saya anak zaman ketika arus besar orang menempuh pendidikan lebih memilih bidang-bidang teknis dan praktis, yang dapat dikuasai dengan agak cepat dan relatif menawarkan jaminan kehidupan nyaman. Misalnya agar segera memperoleh pekerjaan atau prasyarat naik jabatan.

Saya lahir dari keluarga petani dimana orang modern menyebutnya kami ini tradisional. Disamping konotasi negatif mengenai tradisional justru disitulah adanya atau masih terpeliharanya “kemurnian” kita sebagai manusia. Orang tua kami berupaya memberikan pendidikan sebaik-baiknya sebagaimana terumuskan dalam pikiran orang tua kami. “Nak, belajarlah yang rajin. Jadilah orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.” Begitulah kira-kira nasihatnya yang saat remaja sering kami kutif dalam membuat pesan dan kesan dalam menulis kenang-kenangan dalam Diary teman-teman.

Dan bagi William C. Chittick, semangat itulah yang kini seolah hilang dari pikiran yang sudah mengalami modernisasi. Tak sedikit orang tua memberikan “cetakan” pada anaknya bahwa sang anak harus bersekolah disana dan les tambahan macam-macam untuk nanti menjadi ini dan ahli pekerjaan itu. Mereka lebih suka “mengarsiteki” anaknya tanpa sadar bahwa setiap anak pasti memiliki bakat dan minat yang tak selalu terdeteksi sejak dini oleh orang tuanya.

Karena hidup saya sangat berhasrat pada ilmu, laku keseharian adalah demi dan untuk menempuh perjalanan menuju cahaya ilmu. Tentang mengapa bersusah-payah berpikir karena orang harus berpikir dan orang pasti berpikir. Tidaklah disebut manusia jika tidak berpikir. Disuruh tidak berpikir itupun perintah berpikir. Maka tidak ada pilihan lain kecuali berpikir, karena Allah telah memberi mereka akal dan pikiran. Apalagi kalau mengambil pijakan Alquran banyak ayat-ayat memerintahkan untuk berpikir dan menggunakan akal pikiran.

Maka untuk berpikir dengan benar, seseorang harus benar-benar berpikir. Tidak bisa laku hidup hanya dijalani saja tanpa semangat dan kehendak. Tanpa mimpi dan harapan. Dan setiap orang akan memiliki mimpi dan harapan berbeda-beda dari jalan hidup yang ditempuhnya. Kesimpulan-kesimpulan harus dicapai dengan perjuangan intelektualnya sendiri, bukan melalui orang lain.

Meski tidak setiap orang memiliki peluang yang sama dalam memasuki telaah dan refleksi pada bidang ilmu-ilmu intelektual, janganlah larang bila ada orang yang memiliki kecendrungan demikian. Setiap orang mempunya bakat, kapasitas, dan keadaan yang diperlukan untuk menjadi ini atau menjadi itu. Terpenting gagasan dasarnya adalah kewajiban moral dan agama menekankan untuk menggunakan pikiran yang telah diberikan Tuhan kepada manusia.

Kata mereka lebih baik menjalani rutinitas sehari-hari, beribadah mahdah dengan rajin yang pokok utamanya menjalankan syariat secara kaffah. Tapi bagi saya itu bukan argumen bagi siapa yang memiliki kemampuan berpikir. Siapapun yang memiliki kemampuan dan bakat untuk merenungkan Tuhan, alam semesta dan jiwa manusia, ia diberi mandat untuk melakukan olah pikiran dan peremenungan. Tidak melakukannya adalah mengkhianati wataknya sendiri dan tidak menaati perintah-perintah Allah untuk merenungkan tanda-tanda.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori