Oleh: Kyan | 16/06/2013

Jerman-nya Habibie dan Perdebatan Dua Ilmuwan

Ahad, 16 Juni 2013

Jerman-nya Habibie dan Perdebatan Dua Ilmuwan

**

Sudah lama film Ainun Habibie tersimpan di file komputer saya. Tapi baru malam ini sempat saya tonton. Barulah saya menangkap pesan moralnya dan terpenuhilah penasaran saya, karena tidak biasanya iklan filmnya tayang di TV politik negeri kita. Film yang diangkat dari kisah nyata dari sebagian cuplikan perjalanan kehidupan Pak Habibie dan Bu Ainun di Indonesia dan Jerman.

Bicara Jerman membawa saya ingin lebih menguak lagi bagaimana itu Jerman. Jerman yang telah mencetak Habibie menjadi seorang insinyur pesawat.  Jerman dengan Nazi Hitler-nya, dengan Einstein, Nietzsche, dan Heideger, dan sekumpulan saintis dunia lainnya kelahiran Jerman. Dan berangkat dari inilah menyoal kurikulum pendidikan kita sebaiknya kita berkaca pada Jerman.

Alasannya bukan semata Jerman telah banyak menghasilkan ilmuwan kelas dunia, tetapi sistem pendidikan formal modern di negeri manapun pasti telah  meminjam konsepsi kemajuan-kemajuan Eropa yang disesuaikan. Maka selayaknya kita bercermin pada mereka sebagai perbandingan untuk menciptakan iklim kultural yang diharapkan.

Dalam suatu masa menjelang Perang Dunia I di Jerman pernah terjadi perdebatan dua ilmuwan, yaitu Ernst Mach dan Max Planck. Dua orang ini berdebat tentang bagaimana selayaknya tujuan pendidikan. Perdebatannya apakah kebijakan pendidikan sebaiknya diarahkan bagi demokratisasi pendidikan ataukah ke pendidikan spesialis untuk menghasilkan profesional.

Mereka sepakat IPA perlu diajarkan kepada siswa, untuk keseimbangan ilmu-ilmu humaniora yang saat itu sedang gencar. Hanya tujuan dan bagaimana bentuknya mereka belum sepakat. Mach berjuang keras melawan nasionalisme fanatis—seperti Nazi Hitler?—dan ingin masyarakat jangan gampang terpengaruh manipulasi pengetahuan semu.

Mach menolak tafsiran bahwa teori punya makna semantik. Ilmu pengetahuan adalah saran untuk menghadapi simpang siur gejara agar manusia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, dalam kerangka evolusi untuk mencapai kehidupan lebih manusiawi. Mach memperkenalkan konsepsi ilmu pengetahuan sebagai “ekonomi pikiran”.

Positivisme-kritis yang ia rumuskan sebagai teori tentang bagaimana kegiatan ilmiah bisa berjalan secara ekonomis, dan bukan sebuah doktrin filsafat sebagaimana positivisme Comte yang rentan terhadap politisasi sains dan filsafat dalam dunia sehari-hari. Karena sering para politisi memelintir konsep-konsep ilmiah untuk kepentingan maksud politiknya.

Para filsuf analitik berpendapat bahwa kesetiaan pada fakta (empirisisme) dapat menjaga orang tidak terseret untuk bersekutu dengan totaliarianisme. Sedangkan kejernihan berbahasa (lewat logika) membantu orang untuk bisa membedakan fakta sejati dari fakta rekaan sehingga tidak mudah jatuh ke fanatisme moral.

Dengan peritimbangan sains sebagai sarana, Mach mengajukan program pendidikannya yaitu pemberdayaan publik dan bagi sekolah-sekolah umum cukuplah guru mengajarkan siswa bagaimana sains berguna bagi kehidupan sehari-hari melalui penataan atas relasi gejala. Sedangkan kepada calon ilmuwan, Mach mengusulkan pendekatan sejarah kritis terhadap sains dan perkembangannya. Melalui pendekatan ini ilmuwan dapat tetap setia menelusuri ilmu pengetahuan sebagaimana sudah dan sedang dijalankan, kemudian mengkritik metode, asumsi, dan teori-teorinya. Pendekatan ini juga untuk membongkar sikap komunitas ilmiah yang tidak jarang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan karena orientasi teoretis yang seragam dalam riset dan dalam pengajaran.

Sedangkan Planck yang lebih giat dalam asosiasi ilmuwan sebagai anggota kelompok profesional, ia dikenal sebagai tokoh publik terkemuka karena kegiatan ilmiahnya. Planck ingin memperkenalkan kepada para siswa cara pandang dan cara kerja ilmuwan agar siswa mengerti kontribusi khas ilmu pengetahuan pada kebudayaan modern. Kesamaannya dengan Mach, Planck bahwa ilmu pengetahuan dapat memberikan penjelasan bagi gejala dan percaya bahwa sasaran akhir kegiatan ilmiah adalah de-antropomorfisme segala bentuk pengetahuan. Planck menuntut ilmuwan agar punya komitmen terhadap rasionalisme dan realisme sehingga kebal terhadap pengaruh komunitas ilmiah.

Namun perbedaanya terletak ketika fenomenalisme Mach hanya menekankan sebatas gejala indrawi yang itu akan menjerumuskan ilmu pengetahuan kembali ke antropomorfisme. Proses intelektual yang dicita-citakan Planck membutuhkan pokok-pokok yang dala perspektif Mach justru adalah habatan bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Planck menolak pendekatan sejarah kritis karena akan mengguncang komunitas ilmiah beserta program dan agenda risetnya.

Bagi Mach keguncangan komunitas ilmiah tak perlu dikhawatirkan karena itu akan membawa pada demokratisasi ilmu pengetahuan. Masyarakat menjadi terbiasa sehingga bentuk-bentuk lain pengetahuan dapat mengemuka. Bagi Mach, usulan Planck mirip dengan indoktrinasi yang akan mengarahkan ilmu pengetahuan membangun ideologinya sendiri dan menciptakan golongan elit ilmuwan.

Tapi kelemahan Mach ketika ia memandang ilmu pengetahuan hanya hanya sebagai alat untuk menata gejala, Mach menyokong konsep ilmu pengetahuan yang bebas nilai. Tapi justru karena netralitas ilmu yang ia perjuangkan supaya temuan-temuan ilmuwan tidak disalahgunakan, malah mengakibatkan sebaliknya. Sebab Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sarana, melalui proses trial an error-nya malah benar menghasilkan sarana penghancur massal. Netralitas sarana itulah yang dikhawatirkan Planck yang ingin kebenaran objektif non-antroposentris terwujudkan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori