Oleh: Kyan | 22/06/2013

Kita Direpotkan dan Merepotkan

Rabu, 28 Juni 2006

Kita Direpotkan dan Merepotkan

**

Mau mengerjakan tugas BKS tak jadi. Setelah membereskan bahan-bahan UAS, Neng Titin datang ke kosan. Katanya mau mengajar anak-anak tak jadi. Makanya ia ingin main ke kosanku. Tak lama kemudian datang Deri dan Hilman, lalu datang Sani dan Dudi. Orang berdua terakhir mereka bilang habis nonton film “Heart” di Astor dan ke kosanku.

Mereka datang ke kosanku mau main sekalian mau menagih gaji bazar buku. Mereka sudah tak tahan ingin menerima gaji hasil keringat sendiri. Supaya proporsional dalam membagikannya harus bagaimana, apa parameternya? Mengandalkan data absen, tak lengkap. Mungkin selain menggunakan data dan pancaindra. Juga dengan intuisi.

Ketika ada suara hati muncul, aku harus segera memenuhinya. Misalkan pantaskah menyamakan kerja mereka di acara bazar buku? Seperti Hilman, dia yang cuma datang, gak ikut angkat-angkat barang. Tapi aku harus menghargai dia, tapi dengan cara bagaimana? Meskipun ia jarang menunggu stand. Aku harus memberi kebijakan seadil mungkin. Meskipun mungkin tak akan pernah benar-benar adil menurut mereka.

Ingin sekali aku berbuat adil dalam memberikan pandangan. Bila datanya lengkap dan akurat, aku bisa memberikan pembagian jatah dengan adil. Manusia cuma bisa berusaha untuk seadil mungkin berdasarkan data yang ia dapatkan. Hanya Allah yang bisa adil secara mutlak seadil-adilnya. Kita menggapnya adil belum tentu dikatakan adil oleh orang lain. Dipastikan akan muncul komentar jelek dari berbagai pihak. Harus yakin dengan kebijakanku dan sesuai dengan hati nuraniku.

Kuliah terakhir semester empat. Sebelum UAS aku menampilkan wajah ceria pada teman-teman. Aku semakin ceria ketika memandang adikku tersayang. Aku terasa dibuat mesra ketika bercengkrama dan bercanda bersamanya. Aku ingin memanjakannya. Perempuan ingin selalu dimanja. Memberi pengharapan dan kata-kata manis untuknya bisa membuat dunia tersenyum ceria. Aku ingin selalu memberikan pujian.

Namun kadang terasa berat untuk mengungkapkannya. Aku harus berani mengucapkan pujian dan kata-kata indah padanya dan pada siapapun. Jika setiap orang diberikan penghargaan, niscaya persaudaraan semakin terasa dalam keseharian kita. Tak akan muncul iri dengki dalam hati sanubari.

Pulang kuliah inginnya fitness, tapi segera kantuk muncul dan leherku masih sakit akibat salah posisi tidur. Bila yang tidur di kosanku banyak, aku tak bisa tidur enak. Kasurnya harus dibagi-bagi. Yang dikasurin cuma badan doang. Sementara kakinya kedinginan.

Sudah hari Rabu lagi, sementara persiapan UAS belum kulakukan. Aku belum membaca materi perkuliahan yang sejak awal ditunda, karena banyak kegiatan atau agenda yang harus kulakukan. Dan sekarang mengerjakan tugasnya belum selesai yang ditambah job orang lain belum kelar. Membaca materi perkuliahan serasa waktuku tak cukup.

Dalam waktu 24 jam orang mampu menangani negara, sementara aku masa tidak mampu menangani tugasku dan job yang tak seberapa. Ini semua karena belum mampu manajemen waktuku. Bila kesalahannya melibatkan orang lain, karena sering banyak temen-temen yang datang kekosanku, yang akhirnya membuyarkan konsentrasi mengerjakan agendaku.

Tapi mereka yang datang cuma ingin datang saja. Tidak bermaksud akan menggangguku. Mungkin aku saja yang merasa terganggu pikirannya. Tapi kupandang mereka tidak benar-benar penting datang ke kosanku. Mereka cuma menonton TV atau ikut mengetik. Jika keseringan kadang aku dibuatnya kesel. Seperti gak ada agenda lagi yang lebih bermanfaat. Mereka ikut nonton, tidur-tiduran, mengobrol ngalor-ngidul, minum kopi yang menghabiskan air galonku dan gelasnya pun tak pernah dicuci lagi. Sekali dua kali tak apa, tapi ini tiap hari bagaimana gak enek.

Bener Nenk Titin bilang, “semah” artinya “ngahesekeun nu boga imah”. Berkunjung adalah bersilaturahim memang bagus dan sangat dianjurkan. Tapi silaturahim kalau keseringan ya akhirnya silaturahim tak bermakna apa-apa. Bukan tipeku jadi orang yang menyusahkan orang lain. Tak ingin aku menyusahkan atau disusahkan orang lain. Segalanya biasa kukerjakan sendiri, dan bila tak mampu ya sudah. Sudah terbiasa aku hidup sendirian. Meminta tolong ke orang bawaannya suka sungkan.

Yang akhirnya karena merasa tak ada siapapun yang membantu, makanya selalu sendirian saja. Marah hanya marah pada sendiriku saja. Tak ingin aku disusahkan orang. Ingin ketika orang meminta tolong, aku mengulurkan pertolongan itu jika aku mau tanpa dipaksa-paksa. Tapi berdasarkan keikhlasan yang muncul dari kedalamanku, bahwa aku memahami, bahwa aku harus mengulurkan pertolongan. Sebaliknya bila aku malas, jangan paksa aku untuk mengulurkan bantuan.

Bukan apa-apa tapi kalau keseringan akan sangat memusingkanku. Aku jadi tak bisa menuntaskan agendaku. Bila pekerjaanku tak kelar, aku sendiri yang tanggung jawab. Mereka tak peduli dengan bekalku apakah sudah habis atau belum, hari ini makan atau tidak, air minum habis tak ada yang peduli. Mereka cuma enaknya saja menggunakan fasilitasku.

Aku harus tegas bahwa ini adalah kosanku, ruang pribadiku, tak ada yang bisa menantang peraturanku. Bukan kenapa-kenapa tapi selain aku ada teman kamarku, Amy. Ia sering terlihat merasa keganggu dengan seringnya kedatangan teman-temanku. Semoga Amy tidak merasa risih dengan selalu ramainya kosanku. Akupun harus sabar menerimanya. Semoga jadi ladang amal bagiku.

Aku manusia biasa yang sangat jauh dari kesempurnaan. Jauh dari yang diharapkan. Tak ingin aku jadi benalu. Selalu aku berusaha untuk menjadi mandiri, tak jadi benalu bagi pihak manapun. Tapi jika kupikir-pikir lagi, orang-orang yang pernah bertemu denganku, ia akan mengenangku bila aku telah memberikan kesan yang baik, telah memberi pertolongan yang tulus yang terpancar dari wajahnya yang tidak lesu.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori