Oleh: Kyan | 29/06/2013

Bahagia Dalam Kerumunan

Sabtu, 29 Juni 2013

Bahagia Dalam Kerumunan

**

Banyak orang mencari-cari kebahagiaan dalam kerumunan. Lalu aku ingin mencari kebahagiaan diluar kerumunan. Bagaimanakah bisa kutemukan kebahagiaan kecuali sadar diri dan menyandarkan diri bahwa aku adalah bagian dari kerumunan itu. Kerumunan di tempat-tempat nyata ataupun maya.

Kerumunan di berlalu-lalangnya orang-orang di jalan-jalan besar, jalan-jalan desa, atau bahkan gang sempit untuk segera sampai di tempat harapan. Menumpahkan segala kekesalan di kermunan situs jejaring sosial dan berharap kerumunan peduli pada status atau tagline. Hanya pada statusnya. Bukan pada aku-nya sendiri. Sebab yang dapat memahami dan memenuhi maunya aku adalah aku. Sendiri.

Bagaimanapun aku bersyukur masih diberikan kesempatan hidup sampai detik ini. Aku telah dibangunkan dari tidurku. Tidur sejenak untuk melepas lelah atau beristirahat sementara dari menjalani kehidupan melewati ketakutan demi ketakutan sebagaimana prasangka orang. Andaikan begitu pagi dimana orang-orang bangun, aku ditidurkan seterusnya akankah bagaimana? Bahagiakah akhirnya dengan menemui kematian?

Takdir masih memberiku hidup. Ketakutan demi ketakutan harus kujalani dan kulewati. Pada akhirnya hidupku dapat kujalani dan ketakutan dapat kulewati. Takut tidak menemukan jalan rezekiku dan jodohku. Sudah aku memutuskan pengunduran diri dari pekerjaan sekarang yang kata banyak orang sangat tanggung dan segerakah mendapat gantinya?

Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri orang-orang sangat mengharapkan uang THR, sementara aku malah memutuskan mengundurkan diri sebelum mendapatkan itu. Padahal aku sudah bekerja mau hampir tiga tahun di tempat yang tinggal beberapa hari lagi aku bekerja disana. Kata mereka sangat disayangkan mengundurkan diri sebelum mendapatkan uang pesangon.

Bagiku itu pikiran biasa orang-orang. Lalu aku ingin berpikir berbeda. Adanya sebuah kasus bagiku ini berkah. Aku menemukan momentum untuk mengajukan pengunduran diri.  Sudah berbulan-bulan bahkan mungkin setahun lebih aku sudah dihinggapi rasa bosan dan penat. Aku ingin ada kemungkinan-kemungkinan baru. Ingin ada harapan baru dimana aku dapat menatap masa depan. Tidak buntu hanya melakukan itu-itu saja hati demi hari.

Aku lelah. Aku penat. Aku bosan. Berdasarkan kalender usiaku kini menginjak tigapuluh. Berdasarkan usia Nabi sudah aku sepatuh menjalani dan melewati kehidupan di dunia ini. Dalam sepatuh hidupku ini telah memperoleh apa dan memberikan apa pada kehidupan ini. Sudahkah kutemukan jalan menuju bahagia itu. Sudahkah kuperoleh pemahaman bagaimana hukum kehidupan ini.

Dan sudahkah aku memberi pada kehidupan tanpa mengharap imbalan. Melakukan sesuatu semata-mata demi cinta pada kehidupan. Setidaknya aku tidak menjadi beban bagi orang-orang bila selama ini aku belum memberi. Tapi ketika sekarang memutuskan mengundurkan diri dati pekerjaan yang selanjutnya belum ada kepastian meraih penghasilan bukankah itu berpeluang aku menjadi beban orang lain lagi?

Aku berpikir setidaknya dengan menghirup kebebasan aku dapat menemukan satu dan beberapa peluang. Memang fokusku selama ini bagaimana aku bisa keluar dari jerat-jerat yang mengungkungku. Dari pikiran sempitku untuk dapat menuju pikiran terbuka dan menatap cakrawala bahwa langit itu tak sesempit lingkaran sumur.

Dengan segala keputusanku, aku berpikir jodohku kian dekat. Ada banyak suara-suara atau isyarat-isyarat yang dapat memberiku petunjuk. Tinggal aku memiliki kepekaan bagaimana suara alam itu memberi sebuah tanda. Semoga aku dapat menangkap anasir-anasir Tuhan melalui tanda-tanda alam dan hilir-mudiknya kerumunan.[]


Responses

  1. sekilas baca, sepertinya kehidupanmu memang rumit. tapi begitulah jika kita memandang orang lain. dan orang pun juga memandang hal yang sama..

    tidak ada ukuran yang pasti kepuasan itu seperti apa, pastinya setiap orang akan merasakan kepuasan jika mampu mengambil tindakan berdasarkan pikiran dan keputusan yang sudah ia pikirkan matang-matang..

    jika saat ini kamu belum memiliki pekerjaan, hanya sebagai saran dari saya; utamakanlah agama, terutama waktu shalat, lebih bagus lagi jika kita bisa memegang komitmen shalat berjamaah, insya Allah yang lain akan ada kemudahan..

    oia, bagaimana dengan menulis buku, apakah sudah langkah memulai?


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori