Oleh: Kyan | 11/08/2013

HAULAN BANI NURWAHIM

HAULAN BANI NURWAHIM

by: Vyan Sovyan Solehudin

**

Logo Bani Nurwahim Revisi

Logo Bani Nurwahim Revisi

NURWAHIM bin Dipawedana, bin Azisam, bin Jaya Manggala. Nurwahim muda yang konon ia keturunan suku BUGIS berkelana ke pegunugan PAKIDULAN—selatan Sukapura atau Tasikmalaya sekarang—yang leluhurnya adalah bekas pasukan kerajaan Bugis atau tentara bayaran kerajaan Mataram.

Terkenal sebagai bajak laut, orang suku Bugis, sampai di pegunungan selatan pulau Jawa bagian barat memang masuk akal. Berdasarkan data sejarah bahwa suku Bugis, atau suku Janz sampai pula penjelajahan baharinya di Zimbabwe dan pesisir timur benua Afrika. Maka lahirlah Nurwahim diantara lalulalang moyang bahari suku Janz/Bugis dari Sulawesi, Jawadwipa, dan Swarnadwipa.

Nurwahim muda menikmati hamparan Pakidulan yang belum banyak terjamah orang, bercengkrama dengan penduduk yang sudah lebih dulu tinggal. Nurwahim terpikat dengan gadis desa CIRANCA bernama JAMARI yang dari pernikahannya dikaruniakan empat orang anak: IYAH, IJAH, dan EMEK, dan EPEK.

Selang beberapa tahun kemudian, dia memutuskan menikah lagi dengan ATMAH, masih seorang gadis setempat. Dikabarkan menikah lagi karena dari pernikahan sebelumnya hanya empat anak perempuan. Dalam pernikahan kedua terkabulah doa mereka, terlahir anak laki-laki pertama dan satu-satunya dari pernikahan kedua bernama: ABDUL MAJID.

Rupanya dia pun menikah lagi dengan gadis bernama LINTEM. Dikaruniai enam orang anak: M. SUJA’I, EMPOK, MAIL, IWIK, SUJATMA, dan bungsu bernama ILI. Tapi karena menginjak masa puber kedua, Nurwahim terpikat lagi dengan gadis CIKARET, bernama INTEM—yang ini jadi leluhur saya, Bao saya (redaksi).

Dari pernikahan terakhirnya, Nurwahim-Intem, dikaruniai tujuh orang anak, yaitu: H. AHMAD, MURTEM, IKUNG (Ciranca), H. JAJULI (Sekung), WIKATMA, NONO (Cikaret, buyut saya, red), dan Haerudin sebagai keturunan bungsu dari Nurwahim. Tak lama kemudian Nurwahim meninggal tahun 1933.

Dengan demikian, dari empat pernikahannya Nurwahim dengan Jamari, Atmah, Lintem, dan Intem mempunyai keturunan 18 (delapan belas) orang anak. Dari 18 anak, lahirlah keturunan cucu dan cicit sampai beberapa generasi. Penulis adalah generasi keempat dari trah BANI NURWAHIM melalui garis ibuku Imas Nurjana, beribu Nenek Adah, beribu Buyut Nono, dan beribu Bao Intem.

Ditengah deras globalisasi dan modernisasi manusia yang semakin individual, kehidupan telah mengalami degradasi identitas. Terbentuknya World Village (desa dunia) berkat kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi, dimana perangkat-perangkatnya kian melenyapkan sekat desa dan kota, kecuali hanya perbedaan denah geografisnya.

Begitupun dengan bumi kampung desa kami, tidak lepas dari pengaruh peradaban kota yang Eropa. Masyarakat dan terutama generasi mudanya mengalami kelunturan identitas. Diantara sanak saudara semakin tidak kenal, entah karena perebutan harta warisan, kepentingan, kesibukan, atau urbanisasi masyarakat desa ke kota yang kadang tidak setiap tahun lebaran bisa pulang kampung.

Maka beberapa tahun ke belakang, munculah gagasan dari sekumpulan elit  Nurwahim untuk mengadakan HAULAN (Sunda: Haolan). Dengan adanya sebuah kumpulan atau pengajian, diharapkan dapat melekatkan kembali identitas keluarga, dimana selama ini antara saudara dengan saudara lainnya semakin tidak kenal dan jikapun kenal hanya remang-remang. Maka yang sebelumnya tidak kenal menjadi kenal, yang sebelumnya hanya mengenal muka, kini mengenal nama.

Dan sukseslah Haulan pertama diadakan di desa Tawang, dekat makam Nurwahim bin Dipawedana dan tempat berkumpulnya keturunan dari pernikahan pertama beliau. Selanjutnya Haulan kedua, diadakan di desa Mekarsari. Sungguh antusias para generasi menyambut acara perhelatan ini. Haulan diadakan dan akan terus diadakan setiap tahun, selepas perayaan lebaran Idul Fitri dimana tempatnya akan bergilir diantara keluarga Desa Tawang, Tawangsari, dan Mekarsari.

Semoga dengan penguatan identias ini, semakin mengukuhkan tali persaudaraan sedarah. Kami bukan bermaksud ingin mengunggulkan semangat keningratan, neo-feodalisme. Tapi bagi kami ini adalah hal positif untuk merekatkan tali ukhuwah dalam ajaran Islam. Kami meyakini sepenuhnya bahwa manusia yang paling tinggi derajatnya adalah manusia yang bertaqwa di mata Allah SWT. Wallahu a’lam.[]

Logo Bani Nurwahim Revisi Hitam Putih

Logo Bani Nurwahim Revisi Hitam Putih

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori