Oleh: Kyan | 19/08/2013

Miracle Gadis Kerudung Biru

Selasa, 19 Agustus 2013

Miracle Gadis Kerudung Biru

**

Mekar Bunga Sukabumi

Mekar Bunga Sukabumi

Seperti halnya jodoh, demikian pula cinta. Ia bagian dari misteri hidup manusia dan dapat terbaca hanya di zona supra. Ia bekerja tdk linier, seperti karena engkau cantik maka aku tertarik. Tapi satu peristiwa telah membawa perubahan besar dan kenangan bagiku. Tepatnya Senin 19 Agustus 2013 jam 15.00 WIB adalah awal pertemuan keajaiban.

Bagi anak-anak sekolah dan karyawan, hari itu adalah hari dimulainya membuka halaman pertama pelajaran baru dan pekerjaan baru selepas liburan Ramadhan, tapi aku sejak saat itu dan selanjutnya hatiku senantiasa terpaut pada kubah samudera biru. Dialah Gadis kerudung biru.

Sebab adalah perjalanan yang membawaku menatap wajahnya. Meski kutatap hanya dari balik kamera. Dialah bunga Sukabumi. Sepanjang perjalanan Sukabumi Bandung pikiranku, perasaanku, penglihatanku tak dapat lepas dari menatap wajahnya.

Awal pertemuannya saat kami bercengkrama bertiga menunggu bis di pertigaan Rumah Makan Punut Sukabumi, tiba-tiba muncul pesona dari seberang. Mungkin dia datang dari arah Selabintana. Begitu aku menatapnya, aduhai… Ia menenteng buku Yusuf Mansur, yang kuketahui kemudian berjudul “The Miracle of Giving”. Rupanya dia pun naik bis AC MGI sama dengan kami.

Selama perjalanan Sukabumi Bandung, kucari-cari cara bagaimana aku dapat kenal dengannya. Kucoba mendengarkan syukurmatic digitalprayers, lalu menyembullah ide bagaimana memulai kenalan. Kuberanikan kupinjam saja buku yang ia bawa. Sepanjang perjalanan Sukabumi Bandung kubaca-baca bukunya dan kuharap di bukunya tertulis namanya. Tapi nihil kuperoleh namanya.

Dan sampai pula kami di Bandung. Ketika kami turun di Pasirkoja, ia masih duduk khusyu yang entah bagaimana pikiran dan perasaannya. Hanya sesekali kupergoki dia balik menatapku, dan akupun mengalihkan pandang. Setelah kupinjam buku “The Miracle of Giving”-nya Yusuf Mansur tak berani lebih aku bertingkah. Bagaimana kutanyakan nama dan tempat tinggalnya luput kuperoleh ide bagaimana caranya.

Tadinya aku ingin mengikuti sampai dimana dia turun, yang pasti sampai Leuwipanjang, tapi temanku ingin kami turun di Pasirkoja. Besar kemungkinan dia turun di terminal Leuwipanjang karena bis hanya sampai terminal. Begitu aku mengiyakan ajakan teman turun di Pasirkoja, akhirnya pupuslah harapanku untuk dapat mengenalnya. Ya sekedar dan tempat tinggalnya, kecuali tersisa bidikan sebuah foto. Aku berdoa semoga ada yang membantuku untuk memperkenalkan aku padanya. Tak ingin sebelum aku mati tak lagi berjumpa dengannya setelah pertemuan ini.

Gadis kerudung biru, aku sungguh bersyukur dalam hidupku sudah bertemu kamu. Terima kasih engkau telah meminjamkan padaku buku The Miracle of Giving-nya Yusuf Mansur selama perjalanan itu. Pertemuan denganmu adalah Miracle bagiku. Setelah pertemuan pertama itu, tidak ada pertemuan kedua. Karena sejak saat itu hatimu telah mengisi ruang rinduku yang kemanapun engkau pergi, aku selalu ada disitu. Tak ada lagi perpisahan, tak ada lagi kesendirian. Bersamamu aku selalu ada dan mengada.

Dalam kaidah atau tata nilai manusia ada namanya “kasmaran”. Tapi bagaimana bisa terjadi hanya dalam rentang momen tiga jam. Bagiku ini adalah kerinduan. Kerinduan bukan karena keterpisahan, tapi karena kegilaan yang merindukan kenormalan. Rihlah perjalanan menuju angin pagi palabuhan ratu dalam pesona senja pantai karanghawu adalah pendakian menaiki kubah langit biru. Menyelami samudera birunya hati ini, menjelma engkau gadis kerudung biru. Engkau adalah titisan Dewi Sakuntala yang berselendang awan gunung mahameru.

Begitulah satu perjalanan dalam cinta. Mencari jelaga antara Shafa dan Marwa yang menghantarkan zumi-zumi yang memberikan kepuasan dahaga manusia. Maka nanti ketika berjalan-jalan berpelesiran lebih baik naik kendaraan umum, untuk dapat bertemu gadis kerudung biru atau mungkin juga unggu. Niscaya akan banyak menemukan nuansa yang beraroma dimana tertinggal di hati ini paras wajahnya yang mengharu beludru.

Gadis kerudung biru, engkau membuat semangat hidupku tetap bertalu. Aku ingin hidup seribu tahun lagi untuk dapat bertemu kamu. Semoga suatu ketika berjumpa lagi dan dipertemukan dalam satu purnama.[]

Sukabumi Bandung

Sukabumi Bandung

 

**


Responses

  1. Hihihi ada yang jatuh cinta


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori