Oleh: Kyan | 03/09/2013

Mengapa Paulo Coelho

Mengapa Paulo Coelho

##

Paulo Coelho - Sungai Piedra

Paulo Coelho – Sungai Piedra

Paulo Coelho - Sang Alkemis

Paulo Coelho – Sang Alkemis

Di Paris selama Pesta Buku, saya menyaksikan langsung fenomena sastra dan penerbitan di zaman kita. Paulo Coelho meraih penghargaan dan taraf popularitas internasional yang belum ada presedennya dalam kehidupan budaya Brazil.

Ada banyak orang yang melihatnya dengan sebelah mata; bukan hanya karena kesuksesannya, namun karena mereka menganggap karyanya sebagai sesuatu yang sepele, picisan, dan jelas-jelas subliterer.

Bukan begitu cara saya memandangnya. Saya bukan teman pribadi sang penulis, kami saling bersikap sopan bahkan hangat, tapi tak pernah bertukar lebih dari lima puluh kata saat bertemu. Namun setelah sekian lama, saya kini punya penjelasan atas kesuksesannya. Ini dia.

Abad yang tengah berakhir ini dimulai dengan dua utopia yang sepertinya hendak menuntaskan segala persoalan jiwa-raga. Marx dan Frued, masing-masing di bidang keilmuannya, menetapkan pakem-pakem yang mempengaruhi jutaan manusia, yang peduli entah pada keadilan sosial ataupun keadilan pada diri mereka sendiri, dengan melalui psikoanalisa.

Namun nyatanya abad ini berakhir dan kedua totem raksasa yang digdaya itu ambruk: kaki mereka terbuat dari lempung. Marx tidak bisa meramalkan kegagalan rezim-rezim yang didirikan atas namanya, sekalipun sosialisme itu sendiri tetap menjadi impian masuk akal yang diidam-idamkan umat manusia. Freud bahkan semasa hidupnya sudah mendapat tantangan, terpecah-pecah, para pengikutnya memproklamirkan skisma dan pemberontakan terbuka. Karya-karya orsinalnya bersitahan sebagai karya sastra, namun nilai ilmiahnya terus menurun.

Dari rubuhnya kedua utopia ini timbul kekosongan dalam jiwa manusia pada akhir abad. Dan sebagaimana sering terjadi, panggilan pada mistisme, bahkan klenik, akan menjadi tak terelakan. Dan di situlah masuk “orang pintar” kita ini, dengan kesahajaannya, kadang menyerupai santo-santo dari segala zaman dan semua agama, menuturkan kata-kata yang diperlukan, kata yang ingin didengar semua orang, karena pada saat tertentu, mereka sudah ada dalam jiwa kita masing-masing.

Paulo Coelho mendapati kata-kata tersebut dalam kitab-kitab sakral dan profan, dalam legenda-legenda Timur dan epik-epik Barat; ia gubah ramuan jenial dari Injil, kitab-kitab sihir Abad Pertengahan, puisi Timur yang memukau namun tak banyak dikenal. Dan ia temukan kesederhanaan seseorang yang tidak ingin memaksakan apa pun, membiarkan apa yang dipikirkan dan dirasakannya mengalir.

Banyak yang telah mencoba dan masih terus mencoba berbuat hal yang sama, namun tak menyamai kesuksesannya. Saya sendiri, dalam kehidupan profesional dan personal, cenderung mengarah pada pesimisme yang keras, visi yang negatif dan kejam atas eksistensi manusia, dan dengan demikian berada persis di ujung seberang neraca ini. Namun saya terharu dan merasa perlu menyelamati mereka semua yang, seperti Paulo Coelho, mencoba dengan cara mereka menjadikan umat manusia lebih baik dan membuat hidup jadi lebih tertanggungkan.[]

Juan Arias_Paulo Coelho

Juan Arias_Paulo Coelho


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori