Oleh: Kyan | 23/10/2013

Lelaki Ke-1.000 di Ranjangku

LELAKI KE-1000 DI RANJANGKU

Masterpiece Cerpen : Emha Ainun Nadjib

#

Emha - BH

Emha – BH

Lelaki pertama yang meniduriku adalah suami sendiri dan lelaki yang mencampakanku ke lelaki kedua adalah suamiku sendiri dan untuk perempuan yang begini busuk dan hampir tak mampu lagi melihat hal-hal yang baik dalam hidup ini, maka lelaki kedua hanyalah saluran menuju lelaki ketiga, keempat, kesepuluh, keempat puluh, keseratus, ketujuh ratus …

Kututup pintu kamarku keras, keras, kukunci dan—pergi kau lelaki! Cuci mulut dan tubuhmu baik-baik sebab istrimu di rumah cukup dungu untuk kau kelabaui.

Bayangkan lelaki itu masih bisa berkata: “Kau jangan murung dan menderita. Yesus dulu disalib untuk sesuatu yang lebih bernilai bagi umat manusia…”

“Aku tak punya Yesus! Aku pintar ngaji!” aku memotong.

Ia tersenyum, dan memandangku dengan mripat burung hantu. “Kau putus asa, Nia…”

“Aku memang putus asa. Bukan kau. Jadi, pergilah!”

“Kau bukan perempuan yang tepat untuk berputus asa. Percayalah bahwa kehidupan ini sangat kaya. Dan, aku ini laki-laki. Laki-laki setia yang memang pantas dan ia yakini untuk diucapkan. Keinginanku untuk mengambilmu dari neraka ini dan mengawinimu…”

“Cukup Ron! Jangan ucapkan apa-apa dan pergi!”

“Nia!…

Kudorong ia keluar. Pintu tertutup.

“Jangan ganggu. Kini aku mau tidur. Sama sekali tidur. Jangan ada mimpi dan jangan ada apa pun juga. Semua buruk dan durhaka.

“Kuempaskan tubuhku yang gembur, tenagaku yang terbengkalai, dan jiwaku yang arang keranjang.

Tengah malam sudah lewat. Kulemparkan handuk kecil basah ke kamar mandi mini di pojok. Di luar, musik sudah surut. Tinggal gemeremang suara beberapa lelaki, sesekali teriakan mabuk. Tapi Simon, lulusan Nusakambangan itu, pasti bisa membereskan segala kemungkinan.

Kupasrahkan segala kesendirianku di kasur. Tubuhku tergolek dan semuanya lemas. Kuembuskan napas panjang. Tapi, tak cukup panjang. Dadaku selalu sesak. Sahabatku dinding, atap, almari, kalender porno, handuk-handuk—sebenarnya ini semua kehidupan macam apa? Seorang perempuan, dari hari ke hari, dari jam ke jam, harus mengangkang …

Kumatikan lampu. Sudahlah! Aku mau tidur. Sebenar-benarnya tidur. Tuhan, kenapa jarang ada tidur yang tanpa bangun kembali? Alangkah gampangnya itu bagi-Mu. Namun baiklah. Asal sekarang ini jangan ada yang menggangguku. Kalau ada yang mengetuk pintu, akan kuteriaki. Kalau ia mengetuk lagi, teriakanku akan lebih keras. Kalau ia ulang lagi, akan kubuka pintu sedikit dan kuludahi mukanya. Dan, kalau ia masih mencoba merayu juga, akan kubunuh.

Datanglah besok, pada jam kerja, semaumu. Nikmati tubuh dan senyumanku, kapan saja kau bernafsu. Tapi, jangan ganggu saat sendiriku. Sebab tak bisa lagi aku tersenyum. Aku tak boleh tersenyum untuk diriku sendiri. Aku bisa kehabisan, sebab ratusan bahkan ribuan lelaki sudah menunggu untuk membeli dan karena itu mereka merasa berhak sepenuhnya untuk memiliki keramahanku.

Padahal, aku sesungguhnya tak punya keramahan lagi. Coba, siapa yang lebih bijak dari pelacur? Tersenyum terus-menerus kepada setiap lelaki, meladeninya seperti seorang permaisuri yang terbaik atau setidaknya seorang istri teladan, melakukan segala kemauannya tanpa boleh menolaknya kecuali aku kehilangan kemungkinan di hari-hari berikutnya. Aku harus ramah, supel, senyum, dalam keadaan apa pun. Jadi hitunglah berapa kekuatan jiwa yang kubuthkan untuk melakukan itu tanpa ada hentinya. Sedang pak kiai di desaku sudah sukar tersenyum. Meladeni sekian ratus atau sekian ribu orang tiap hari, dan ia menjadi patung yang mengulurkan tangannya. Tetapi, ia dipercaya seperti Tuhan, dan aku, hanya bergantung pada dagingku.

Ah, kenapa mengeluh! Pelacur yang baik tak pernah mengeluh. Sekarang: tidur, tidur…

Apa lagi? Aku sudah hampir menyelesaikan salah satu kesempurnaan hidupku di muka bumi ini. Kini aku telah sampai pada lelaki ke-993. Bukan rekor yang cukup hebat, tapi ini ambang pintu kesempurnaan tersendiri bagiku. Tiga belas bulan sudah aku menekuni karierku ini, dengan berusaha sebaik-baiknya memenuhi segala aturan dan sopan santunnya. Terhadap hampir semua lelaki, moral dan solidaritasku tinggi. Karena itu, sebagai primadona di salah satu wisma Pasar Daging ini, rata-rata aku menerima 8 lelaki. Dalam sebulan, kira-kira libur seminggu. Dan, selama ini aku ambil cuti hampir dua bulan. Cobalah hitung sendiri. Rekorku pasti lebih tinggi kalau saja tidak cukup banyak lelaki yang mengulangi hasratnya atasku beberapa kali.

Dan besok, kukira aku akan berpesta diam-diam dalam diriku, buat lelakiku yang keseribu. Tak tahu bagaimana, ini semua tak ada yang baik bagiku, tetapi ada hal yang menarik. Apa yang bisa menghiburku di dunia ini? Delapan lelaki setiap hari adalah hiburan yang berlebihan sehingga kehilangan daya hiburnya dan berubah menjadi kebosanan, kejenuhan dan rasa perih lahir batin. Minum? Sudah tak terhitung lagi, jiwaku sudah kebal. Nonton? Tamasya? Main kartu? Semua sudah hampa. Jangan pula sebut tentang kata-kata manis dari mulut lelaki!

Aku sudah mengecap segala yang manis dari laki-laki. Tetapi, manis hanyalah manis dan kenyataan hidup adalah bab yang lain lagi. Suamiku dulu kurang apa? Anak muda yang manis, pengusaha swasta yang berhasil, caranya berjalan seperti pendekar dan mulutnya seperti pujangga. Segala mimpi dan bayangan tentang hari depan ada dalam genggamannya. Namun, alasan terkuat sehingga aku menjadi istrinya adalah karena aku mencintainya, tanpa aku pernah mencintai lelaki mana pun sebelumnya. Apa yang kurang? Orangtuaku melarang kehendakku karena pertimbangkan latar belakang lelaki itu: perbedaan agama, lingkungan pergaulan, serta, kata ibu: cahaya matanya.

Akan tetapi, kata orang: Ini zaman perubahan, anak dan orang tua tak akan bisa dipertemukan. Maka, akhirnya kutempuhlah riwayat paling buruk dengan orang tuaku. Kami lari. Aku berbahagia sebentar, sampai akhirnya perlahan-lahan tiba saat kehidupan ini menunjukkan kuku-kukunya yang asli. Suamiku napasnya pendek. Keramahannya terhadapku singkat umurnya dan makin surut. Dan, sederhana saja, belakangan kuyakini bahwa ia mulai main dengan sekian perempuan lagi, dan ia tampak bergembira karena itu.

Teranglah sudah. Tak bisa kukuasai lukaku, tak bisa kurumuskan semua itu dengan pikiranku, dan untuk kembali ke orangtuaku aku amat sangat merasa dosa dan malu. Dan, untuk terperosok ke karirku yang baru ini, adalah kejadian yang sesepele orang beli rokok, meskipun untuk itu aku kemudian hijrah ke kota yang jauh dari kelahiranku. Dan, orang tuaku bukan keluarga yang cukup. Dengan kukirimi uang rutin, mulut mereka terkatup, meskipun ingatan tentang mereka merupakan siksa sendiri bagiku. Janganlah persoalkan hal-hal sepele seperti itu. Bahkan di sini banyak kawan-kawanku yang memang sengaja dijual oleh suaminya, serta banyak contoh lain di antara puluhan ribu sahabat-sahabatku di kota ini.

“Kenapa kau bisa sampai di sini, Nia?” banyak sekali lelaki menanyakan seperti ini. Dan, jawabanku sudah kufotokopi ratusan lembar. Sebab aku tahu tak ada pertanyaan lelaki yang mendalam. Mereka hanya mesin dari nafsunya, dan untuk hal-hal yang berbau cinta, kulayani mereka cukup dengan kertas-kertas loakan. Cinta itu tak ada. Karena itu, ia terlalu banyak dibicarakan.

“Kau pantas jadi bintang film!” ratusan lelaki memujiku. Dan, mendengar itu selalu aku ingin berak.

“Mau jadi istriku?” rayunya.

“Kau yang jadi istriku, aku suamimu!” jawabku.

“Aku tidak mengerti…”

“Lelaki tak pernah mengerti!”

“Tidak semua, Nia.”

“Ya. Tidak semua. Jika lelaki ialah perempuan, maka ia bisa mengerti?”

“Aduh. Perempuan selalu membingungkan…”

“Lelaki selalu membunuh perlahan-lahan.”

Kalau sudah begitu mereka biasanya lantas putus asa dan cepat-cepat saja menggulatiku seperti monyet makan mangga. Tak ada bedanya. Semua yang mendatangiku adalah monyet-monyet. Baik ia sopir, guru, pengusaha, mahasiswa, seniman, gali, penjudi, dosen, makelar, peternak, tuan tanah, pelayan, lurah, camat, jagal, pegawai, bandar, germo, botoh maupun bupati. Beberapa di antara mereka yang putus asa hidupnya, agak sedikit lebih baik. Yang lainnya menumpahkan segala dosa dan kehinaan di wajahku.

Jadi, buat apa kupikirkan monyet-monyet?

Sekarang: tidur-tidur….

Tidur lebih baik dari segala sesuatu. Kalau saja ada tidur yang terbebas dari kenyang dan lapar. Kalau saja ada kamar, sekecil apa pun, yang memberiku tidur yang sekekal-kekalnya..

Aku tersentak tiba-tiba oleh suara adzan yang keras. Masjid hanya seratus meter dari tempatku ini. Jadi, ini sudah pagi? Dan, aku belum tidur sekejap pun? Kuraih pil tidur di meja dan kutelan. Suara azan terus mengalun dan mengejekku. Dalam warna warni yang malang melintang di mataku, akhirnya aku lenyap ke dalam mimpi butuk. Mimpi sebutuk-buruknya, yang bahkan tak pernah dialami oleh setan maupun malaikat.

Tetapi, tak lama. Setidaknya begitu kurasakan. Dalam remang sakit batinku terdengar ketukan di pintu. “Nia! Nia! Bangun! Ada tamu!” Aku tergerap dan meloncat dari ranjang. Itu suara Oom Jiman, germo bosku, lelaki yang paling beruntung di dunia, tuan tanah yang kaya-raya dan berkuasa penuh atas sawah-sawahnya yang menyediakan sawah-sawah itu untuk disingkal, disingkal, disingkal, kapan saja ia mau.

Kubuka pintu dan tersenyum. Lihat, aku tersenyum—inilah kemampuan dahsyat yang membuatku laris. Kulirik jam: 8.35 WIB. Gusti Allah, siapa gerangan lelaki yang pagi buta begini sudah hendak sarapan? Kupandang tamuku itu: lelaki setengah tua gendut rapi dan berwajah pemabuk. Tak ada yang menarik. Tapi, kuladeni juga seperti Ken Dedes meladeni Ken Arok. Masih sangat ngantuk dan tidur masih kuat menjadi bagian dari diriku. Tapi, kuladeni. Juga lelaki berikutnya dan berikutnya lagi. Mas-mas yang budiman, kenapa tak berbagi hasrat kepada sahabat-sahabat di kamar lain, sesekali, meskipun sebagai sawah mereka kurang indah. Kurang liat dan kenyal? Aku sesungguhnya bukanlah perampas ekonomi mereka.

Namun, hari ini memang hari besar bagiku. Di sore hari, dalam tubuh dan jiwa lungkrahku, sampailah aku di pelukan lelaki ke-1000 di ranjangku. Anak muda yang menarik, pakai jeans dan bawa tustel. Kelihatannya ini pegawai surat kabar.

“Mau memfoto aku bugil, kan?” kucoba melangkahi maksudnya.

Ia menggeleng dan tersenyum. “Kau tak menghendaki itu, kan?”

Aku hampir menunduk. Tapi, kutahankan. Tapi, segala sikap dan perkataannya kepadaku sungguh lain. Aku agak gugup. Dan, ini yang penting: ia tak menyetubuhiku! Aku makin gugup.

Demikianlah, kami hanya bersetubuh batin. Begitu singkat, tapi segala yang kupertahankan di batinku, ambrol. Tak tahu apa yang terjadi, tapi malam itu aku nangis… ini mimpi yang lain sama sekali. Tak tahu apa.

Ternyata karierku menanjak. Dan, inilah yang sebenarnya ingin kukemukakan kepadamu. Dua hari kemudian Oom Jiman pagi-pagi menyodorkan padaku sebuah koran. Di halaman pertama pojok bawah, terpancang fotoku serta segala cerita tentang diriku: korban lelaki binal, kini meladeni 8 orang tiap hari…

Dan, sebelum sempat kuselesaikan membacanya, datang dua lelaki membawa koran yang sama. Memandangku dengan aneh, satunya tersenyum. Kemudian datang lagi dan lagi, lelaki dengan koran di tangannya. Tingkah lakunya macam-macam, pendekatannya kepadaku beraneka ragam. Mereka antre di depan pintu. Kawan-kawanku sibuk menggunjingkanku. Ada yang senang, nelangsa, marah. Bagaimanapun, aku yang memang cantik ini memang saingan mereka. Si Minah merampas koran dari salah seorang lelaki dan merobek-robeknya kemudian menangis sekeras-kerasnya. Aku bingung. Ayo, berapa lelaki merangkak di ranjangku dalam sehari? Sepuluh? Dua belas? Lima belas? Atau lima orang sekaligus mau jadi babi mabuk di sekitar tubuhku? Semoga aku mati sebelum hancur sama sekali. Semoga ada yang menulari herpes ke tubuhku supaya kusebarkan ke seluruh lelaki yang datang dan meluas ke seantero kota dan seluruh negeri. Aku toh bisa menikamkan pisau ke perutku sendiri sewaktu-waktu….[]

 

Emha Ainun Nadjib


Responses

  1. bagus banget cerpennya. . .🙂

    makasih udah di share. .


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori