Oleh: Kyan | 26/10/2013

Semua Seni Itu Hiburan

SEMUA SENI ITU HIBURAN

 

Materpiece Emha Ainun Nadji

**

Untuk mencari kambing hitam dari “implikasi negatif yang disebabkan oleh suatu pemunculan kesenian, orang sering lalu melakukan pengategorian: ini seni jenis hiburan, dan itu seni ‘serius’ itu jenis nonhiburan. Ketika film-film kita pada umumnya telah sampai pada tingkat amat mencolok dalam membuntutkan impikasi kultural (umpamanya: moral) segera yang disalahkan ialah jenisnya sebagai seni hiburan. Kebanyakan film Indonesia, ‘seni penjual mimpi rakyat’ itu, diletakkan dalam kotak bingkai yang berbeda umumnya dengan sebuah puisi. Orang lantas juga ‘memaafkan’-nya karena film itu komoditas, barang jualan. Film itu kentutnya produser yang harganya beratus juga rupiah. Ia nonhiburan. Bahkan sama sekali bukan seni.

Perdebatan tak selesai perihal novel pop dan novel sastra juga merupakan proyeksi dari pengategorian itu. identitas novel pop disimpulkan tidak hanya pada sifat bentuk dan kadar mutunya, tetapi juga karena ciri itu merupakan konseksuensi dari selera ‘banyak’ yang mesti dipenuhi. Harus diakui memang bahwa novel-novel semacam itu cenderung tak berbuat lain kecuali menjejalkan makanan yang paling dimaui orang. Pengarangnya semacam koki saja, yang kurang memikirkan aspek lain kecuali nilai komodtias masakannya. Konteksnya di sini bukan pada soal kemurnian proses cipta atau pada tanggung jawab (kultural edukatif) mendidik selera rakyat, melainkan bahwa kecendrungan itu, seperti juga mayoritas film nasional kita, otomatis meletakkan dirinya sebagai karya yang paling kelihatan menghibur. Apalagi dengan jumlah konsumen yang lebih banyak, yang mencarinya.

Oleh karena itu, antara Cowok Komersil-nya Eddy D. Iskandar dengan Khotbah Di Atas Bukit-nya Kuntowijoyo, atau antara film ‘Si Genit Poppy’ dengan sajak Bulan Ruwah-nya Subagio Satrowardoyo—yang berdiri berseberangan—ditangkap sebagai berbeda figur: yang ini menghibur, yang itu tidak.

Kita menyebut seni jenis hiburan untuk Ludruk Srimulat atas Ketoprak dan Lenong, dan tidak untuk drama Nol-nya Putu Wijaya. Jika pada ketoprak cs itu tidak terjumpai implikasi seperti yang diakibatkan oleh film-film ranjang umpamanya, maka segera kita nyatakan bahwa faktornya adalah akar tradisional yang melatarinya. Tetapi konfigurasi seni-hiburan dan seni-serius tetap sering dijadikan kerangka dasar setiap pemikiran dan penilaian kesenian. Institusi formal kesenian seperti TIM tidak menunjukkkan ‘sikap berpihak’ kepada salah satunya sehingga kesemrawuran kategorisasi itu tidak begitu berpengaruh terhadap mekanisme kegiatannya. Tetapi akibatnya juga, pembenahan ketepatan penalarannya kurang bertumbuh sebagai satu urgensi dalam lingkungan tata nilai kesenian, yang berada dalam tubuh dan alam-anggapan masyarakat.

Berbeda dengan itu, di Yogya ada gejala lain. Untuk merencanakan bekas Benteng Vredenburg bakalan untuk apa, antara lain ditawarkan kemungkinan: untuk pusat pengembangan seni budaya (dari tari, teater, seni rupa, sastra, dst): atau untuk jenis-jenis hiburan (dari film, biliar, steambath, kasino, diskotek, sampai bowling). Segera muncul reaksi: seni budaya dan hiburan harus dipisahkan.

Persoalannya ialah, apabila memang harus dipisahkan mestinya ditemukan dulu ukuran dan batasan yang setepat mungkin. Yang penting lagi bagi pembicaraan tulisan ini ialah, refleksi dari ide pemisahan tersebut—adanya hiburan dan nonhiburan—bisa menganalog ke bentuk-bentuk kesenian. Jika karya seni memang sama sekali tak bersangkut paut dengan daya hibur, dan jika ini punya logika baik bahwa setiap yang menghibur adalah bukan seni-serius (apalagi dianggap destruksi secara kultural), maka keadaanya tentu bakal mengasyikan. Oleh karenanya, kalau memang untuk setiap eksistensi kesenian diperlukan landasan cara berpikir yang mendasar dan proporsional, tentunya kotak-kotak kategorisasi ini mesti dipertanyakan kembali. Terutama karena kesemrawutan ini bisa sama berpengaruhnya terhadap kebijaksanaan suatu institusi kesenian, maupun terhadap opini yang hidup di benak masyarakat.

Sudah barang tentu kita juga anggap ini secara simpel saja. Bahwa itu kan cuma teknis peristilahan saja. Seperti ada term ‘seni budaya dan olahraga’—ini kan absurd, sebab olahraga itu sebenarnya juga termasuk kegiatan budaya manusia. Kita bisa sepakati, dan tetap ‘berdamai’. Tetapi bagi saya sesuatu yang improporsional bisa menyesatkan, apalagi ia menyangkut proses alam berpikir orang banyak, bahkan amat turut berbicara dalam pembentukaan tata-tata nilai.

#

Hiburan merupakan manifesti dari hasrat memenuhi suatu pengalaman kejiwaan yang paling didambakan oleh batin manusia. hiburan yang prima adalah rasa bahagia.

Rasa terhibur dengan sendirinya adalah hasil dari komunikasi antara maksud atau hasrat tersebut dengan aktivitas jiwa manusia. Daya hibur memiliki tingkatan-tingkatan. Puncaknya tentu saja keberhasilan mendatangkan kebahagiaan. Sementara itu, tingkatan-tingkatan hiburan ini, di samping berbeda kadarnya, ternyata tak jarang ia melahirkan sesuatu yang semu dalam hubungannya dengan kemurnian fungsionalnya terhadap proses psikologis manusia yang mendasar. Hiburan yang minimal ialah yang picisan; tetapi anak tangga di awahnya bisa merupakan tipuan kamuflase, belaian-belaian yang semu.

Jual beli impian antara tidak sedikit film-film dengan batin masyarakat, misalnya. Mereka merasa terhibur, ini realitas. Tetapi untuk konteks yang lebih dalam untuk jiwa-individunya, dan yang lebih luas untuk proses peradabannya, bisa jadi film itu menyodorkan ke-semua-an, dan karenanya menjerumuskan. Mereka membayarkan uang karcis bisokop dan riuh rendah memperbincangkan pinggul Yetty Octavia sambil menelan air liur anugerah potret kemewahan. Tidak buat suatu gerak rekreatif, melainkan dibuat ninabobo. Ini bisa jadi bumerang bagi batin sebuah kebudayaan manusia. Dalam hal ini masyarakat baru kita di kota-kota, terutama anak-anak mudanya, memberikan contoh naif bagaimana naluri mistis mereka, mereka tumpahkan kepada figur yang tak jelas apa arti positifnya bagi kehidupan mereka. Roy Marten si bintang pop itu adalah idola.

Pada gejala psikologis sehari-hari dalam diri orang-seorang, amat sering juga kita jumpai bagaimana kita suka berkompromi dan menyerah kepada hiburan-hiburan ‘pseudo’. Kita memberi pernafasan yang longgar kepada diri sendiri, mencari-cari apologi atau rasionalitas artifisial untuk kekeliruan gerak pribadi. Perlahan terseret oleh arus konsumerisme umpamanya, yang urgensinya bagi diri kita sesungguhnya tak cukup kuat. Kita tidak cukup kejam terhadap diri sendiri, maksud saya tidak cukup punya ketahanan untuk lebih mencari yang lebih riil lagi dari konsumsi hidup ini. Stamina kreativitas kita rendah. Artinya semangat gerak dan tenaga untuk mencari dan terus-menerus mencari yang paling riil dari hiburan. Dalam yang paling riil itulah kebenaran diri ditemukan, hal yang tak bisa ditemukan dari hiburan-hiburan semu.

Ternyata saya dengan pembicaraan ini sampai pada suatu gambaran bahwa soal hiburan ini tak cukup simpel. Ternyata ia memang berurusan dengan kebahagiaan terdalam manusia, dan dengan wajar sebuah peradaban.

Lihat tetangga menuding: “Hei kamu para Melayu! Nafsumu besar, tapi tenaga dan usahamu tak tegar. Pemalas yang ingin kaya dan bahagia. Kamu hidup di abad yang sangat menantang ini dengan sikap seperti ayam yang dikasih butiran-butiran jagung. Bahkan, ayam pun punya instink untuk memilih mana makanan yang sungguh-sungguh menyegarkan hidup, maka yang memualkan perut, mana racun yang perlahan-lahan membikin semaput!”

Memilih hiburan tidak selalu segampang memutuskan nonton Bruce Lee saja atau Robert De Niro, pergi ke konsert klasik atau ke panggung rock’n roll, ke klub biliar atau lokalisasi. Tak sederhana itu. Karena yang pertama-pertama memilihkan dan membikinkan hiburan kita adalah para pengendali kebudayaan. Pengendali ini entah dengan panglima politik, ekonomi, atau apa. Yang bikin nite club, kasino, steambath adalah rapat policy kebudayaan. Yang memperbanyak ‘stock pelacur’ di lokalisasi raksasa dalam Kota Surabaya itu bukan sekedar permintaan konsumen, tetapi juga gabungan antara keinginan cepat hidup enak kaya dengan sempitnya lapangan kerja, antara kebutuhan duit sebanyak-banyaknya dengan menurunnya kadar tata moral agama. Dalam keseluruhannya era materialisme abad ini adalah perwujudan dari hasrat tinggi akan hiburan. Kita tinggal pilih, dan itu ternyata tak segampang yang kita duga. Mungkin materialisme dengan segala anak-ekornya adalah hiburan yang tepat dan didamba-dambakan oleh jiwa murni kita. Tetapi, jangan-jangan pada gilirannya kelak akan ternyata bahwa itu adalah percontohan universal dan kekeliruan manusia dalam menentukan pola-pola hiburannya. Hiburan ternyata bukan monopoli dari satu sisi eksklusif di antara kebulatan hidup peradaban manusia. Tetapi, ia adalah esensi yang meminta kecermatan dan ketepatan memilih, secara individu maupun secara kebudayaan, dalam arah mana hidup kebersamaan manusia ikut ditentukan olehnya.

Aku berdiri menatap lampu gemerlap nite club itu. Aku bergumam ‘Alhamdulillah!’. Tapi aku juga bergumam ‘Astaghfirullah’ Pak Pendeta, siapakah aku? Di Mynee, siapakah aku?

#

Berbagai tingkat dan sifat hiburan di atas mencerminkan perbedaan-perbedaan antara hiburan-jiwa-permukaan dengan hiburan-jiwa-dalam.

Pengertian tentang hiburan selama ini mengaksentuasi ke jenis yang pertama, dan kita menyangka yang lainnya bukanlah hiburan. Ludruk Putra Bhiwara adalah hiburan, dan bukan teater-kamar di Gedung Senisono. Puisi Goenawan Mohammad bukanlah hiburan seperti pamflet-pamfletnya WS Rendra yang menampung dan merelease dalam perasaan kita.

Jika kita berpikir bahwa penentuan hiburan punya relevansi posesif dengan realitas terdalam dari jiwa manusia serta gerak kreativitas murni sebuah kebudayaan, maka hiburan tertinggi sebenarnya adalah kreativitas. Hanya kreativitas yang mengajak dan mengantarkan manusia ke realitas yang tak semu. Dan realitas semacam ini yang sungguh-sungguh menawarkan kebahagiaan puncak hiburan itu. Hanya kreatifitas yang mengajak dan mengantarkan manusia ke realitas yang tak semu. Dan realitas semacam ini yang sungguh-sungguh menawarkan kebahagiaan puncak hiburan itu.

Pada kondisi yang tidak atau kurang kreatif, hiburan-jiwa-permukaan memperoleh banyak peluang. Pada kondisi yang kreatif, hiburan-jiwa-dalam lebih dimungkinkan. Karena itu jabarannya dalam kebudayaan manusia, bersifat piramidal, di mana titik puncak piramida itu mengandung jiwa-dalam. Di bagian piramida yang lebih ke bawah, tersedia perluang-peluang bagi jiwa-permukaan.

Masing-masing orang memiliki kedua potensi itu sekaligus. Masing-masing orang juga memiliki keadaan khusus, irama atau intensitas pribadi sendiri-sendiri yang bergelombang-gelombang; dan ini meletakkannya mungkin secara bergeser-geser di wilayah piramida tersebut.

Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa nite club atau steambath umpamanya adalah jenis hiburan-jiwa-permukaan, jenis hiburan semu. Persoalannya tidak hanya obyektif, meskipun setiap objek hiburan memang memiliki daya dan batas-batas tertentu pada fungsi menghiburnya. Tetapi masalah ini bersifat subjektif. Artinya seseorang tidak ‘dilarang’ untuk mandi uap dan pijat di tempat yang menyediakan fasilitas itu, karena ia mungkin memiliki kreativitas yang menentukan arti hiburannya itu bagi dirinya sendiri. Karena itu hiburan paling riil adalah kreativitas. Sedangkan yang kita lihat dalam kebudayaan masyarakat kita dewasa ini, pergaulan dengan jenis-jenis hiburan itu lebih bersifat konsumtif belaka daripada kreatif.

Maka, bisa kita pahami kenapa ada dikotomi seni hiburan dan seni nonhiburan. Ini disebabkan karena seni ‘nonhiburan’ itu membutuhkan kreativitas yang cukup untuk bisa ditangkap kadar hiburannya. Jika secara keseluruhan kebutuhan kreativitas itu tak bisa dipenuhi, maka ia tidak ‘menghibur’ lagi. Kita sebutlah ia nonhiburan.

Ini tidak benar.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori