Oleh: Kyan | 28/10/2013

Surat Untuk Ellen (1)

Surat Untuk Ellen (1)

#

Assalam’alaikum Ellen?

Ellen

Ellen

Di saat Ellen sangat lelah sepulang kuliah, tidak tahu kenapa selalu saja aku ingin mengganggumu—tidak setiap hari kan? Maafkan aku yang sudah mengganggumu. Karena aku tidak tahu umurku sampai kapan dan akan sangat menyesal bila tidak menuliskan sebuah catatan untukmu hari ini, detik ini. Puji syukur pada Allah SWT yang menakdirkan aku bisa mengenal sebuah nama, seorang perempuan 21 tahun bernama Fadlun Ellen Jufri.

Terima kasih Tuhan, Engkau telah merekayasa perkenalan di balik layar, yang entah apakah Ellen itu ada di bumi ini, ataukah hanya halusinasi. Empirisme, aku tidak akan percaya engkau ada sebelum aku bisa membuktikan bahwa memang ada sosoknya berdiri di hadapanku, yang biasanya berkegiatan Senin-Jum’at kuliah di STIEMBI jurusan Ekonomi Akuntansi dan Sabtu kerja magang di Sohib Metal dan Minggu mungkin seharian saja di rumah Pharmindo City Cijerah Cimahi.

Betapa banyak perempuan baik dan cantik di muka bumi ini. Termasuk Ellen. Disaat aku ingin menyapa perempuan dan memang betapa sepi hidup tanpa perempuan, aku menyapa siapa saja semua perempuan. Dan ternyata Ellen baik, mau membalas pesanku. Sampai detik ini pikiranku terus tertuju padamu. Tapi bagi Ellen, mungkin sifat baikmu saja pada setiap orang memberikan jawaban sapaan yang tak berlebihan dan penuh kehormatan.

Aku sedang tidak berbicara cinta, karena meski aku mengharap cinta, aku harus tahu diri usiaku sudah sembilan tahun lebih tua darimu. Cukuplah aku ingin mengenalmu saja dan jangan berlebihan seperti pesanmu padaku. Bukankah seribu teman tak akan cukup, tapi satu musuh rasanya seribu.

Sudahlah. Aku sangat senang, bahagia bisa mengenalmu meski itu masih setitik dari kedirianmu. Sampai hari ini bahkan mungkin sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa memahami jiwa perempuan, kecuali dari yang tampak saja dan isyarat-isyaratnya. Aku saking bodohnya tak sedikit pun mengerti anasir-anasir perasaannya, yang akhirnya harus rela dan berat hati menerima penolakan yang berulang kali—aku tidak bermaksud mengharap simpati kok. Sekarang aku tidak ingin mengatakan, atau mengumbar cinta lagi, karena sangat sakit bila tidak siap menerima penolakan cinta yang kesekian.

Siapapun perempuan tak akan bisa percaya, kecuali sebatas ungkapan rayuan gombal laki-laki yang tak serius padamu. Toh belum saling kenal, belum bertemu perasaan dan pikiran, apalagi tatap muka ini sudah bicara cinta. Bukankah cinta perempuan itu seperti kuku, yang pelan-pelan memanjang, dan lelaki harus sabar menunggu sampai ia percaya dan menerima. Dan bila sudah panjang, akan sangat menyakitkan bila dipotong secara paksa. Tapi cinta lelaki ibarat gunung, yang dalam sekejap bisa meletus, dan mungkin itulah gambaranku ketika saat ini mengenal satu perempuan yang baik, cantik, dan responsip tentu kehadirannya akan mengusik hari-hariku.

Tapi bagi Ellen, aku hanyalah lelaki yang tak dikenal, satu dari ratusan atau ribuan yang terus mengganggumu, ingin menarik perhatianmu, untuk mengecup kerlingan matamu, dan menyingkap kerudungmu di satu mahkota pernikahan suatu ketika. Mungkin Ellen sudah menemukan dan mengambil keputusan, meski dalam keraguan lelaki itu. Siapapun itu semoga ia lelaki terbaik dari yang terbaik yang mampu menjaga kehormatanmu.

Tidaklah jelas maksud tulisanku ini. Tapi kumohon padamu kenangkan aku sebagai orang baik yang pernah menyapamu dengan penuh simpati. Lelaki yang sudah tahu diri menempatkan eksistensi. Bila percakapan diantara kita masih diteruskan, itu sangat membahagiakanku. Bila Ellen tak bersedia lagi bicara, menjadi temanku, boleh kan kalau sesekali saja saling sapa untuk mengobati kesuntukan yang mendera. Tapi bila tak mau sekalipun, dengan lapang dada aku harus bisa menerima. Sangat tidak ingin aku mengganggu kenyamananmu di jagad maya, apalagi di nirmaya.

Semoga hari-harimu menyenangkan selalu. Doaku selalu menyertaimu. Kayak mau kemana aza ya.. Tidak tahu kenapa pula aku menulis kegalauan sendiri, yang hanya menampakkan bahwa aku lelaki yang belum matang. Bagaimana bisa melindungi satu perempuan, kalau diri sendiri saja belum atau tidak tampan, mapan, dan matang.

Segala konsekuensi dari tulisan ini, kumohonkan ampuan dan pertolongan Allah SWT yang membolak-balikan hatiku dan hatimu. Sungguh Allah Maha Menyakiskan pertemuan perasaan dan pikiran. Maksudnya apa ya aku menulis ini. Aku tak ngerti. Tapi semoga saja Ellen mengerti. Salam.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori