Oleh: Kyan | 30/10/2013

Hayatu Muhammad, Husain Haikal

HAYATU MUHAMMAD

 

Sami Yusuf

Sami Yusuf

Ya Rasul, ingin aku menangis di hadapanmu.

Ingin engkau mengelus ubun-ubun kepalaku untuk membasuh hatiku yang gersang dan memberikan kegembiraan. Ketika engkau berkata, “Wahai manusia, barang siapa punggungnya pernah kucambuk, ini punggungku, balaslah! Barang siapa kehormatannya pernah kucela, ini kehormatanku, balaslah! Dan barang siapa hartanya pernah kuambil, ini hartaku, ambillah! Lalu tiba-tiba muncul seorang sahabat meminta maksudnya yang telah membuat Umar geram. Tapi sahabat itu bukan ingin meminta balasan, tapi ingin merasakan harumnya tubuhmu dan yang seperti kata Abu Bakar “Alangkah harumnya Engkau di waktu hidup, alangkah harumnya pula Engkau sesudah meninggal. Ingin semerbak wangi ruhanimu tercerap untukku sebagai pemuda akhir zaman.

Dulu sekali ya Rasul, saat sekolah Diniyah dengan decak kegembiraan silsilah keluargamu kami hafalkan, mengirama nadoman dengan ketukan kencang pada bangku-bangku penuh kegaduhan, menunggu ustadz datang yang akan memberi ujian hafalan. Atau di kala malam Jum’at kami baca kitab Barjanzi sangat penuh ceria kami bersenandung pujian padamu. Atau ketika SD bapak guru PAI menceritakan pada kami sekelumit kisahmu bahwa di abad lalu pernah ada manusia dari segala manusia.

Sekarang, ingin aku mengenalmu dengan penuh sungguh untuk mengatasi problemku yang sedikit-sedikit cepat galau dan alay, yang gampang tertumpah di situs jejaring sosial. Aku masih belum pandai mengendalikan dan malah terhanyutkan menjadi binatang lajang, menjadi parasit jalang. Lupa sekali pada hafalan syair senandung puji untuk mengobati kerinduan padamu di tanah perantauan ini. Rindu pada sabda bijakmu, pada ketegaran pribadimu, pada kehalusan budimu sebagai ayah duni muslim. Lalu dimanakah kucari belai kasih dari ibunda muslim, Ummul Mukminin yang meretas pada cinta kasih perempuan yang kukenal.

Saat remaja menuju  dewasa, atau sesudah kami pandai mengeja kata, kucari dan kubaca buku-buku biografimu: Sirah Nabawiyah Al-Mubarakfury, Sirah Ibnu Hisyam—Ibnu Ishaq, Muhammad-nya Martin Lings, dan baru hari ini kutamatkan Hayatu Muhammad-nya Husain Haikal. Dan ingin kubaca lagi perikehidupanmu dari buku-buku lain atau mengulangi membaca dari buku yang sudah kupunya.

Ya Rasul, di zaman serba instan ini, aku tahan membaca buku biografimu yang besar dan tebal itu. Bayangkan saja buku yang ditulis Muhammad Husain Haikal sangat tebal; ada 726 + cxvii halaman yang entah berapa bulan sampai tibanya hari ini kutamatkan. Secara perlahan kubaca dari sisa waktu sehari-hariku. Ya, dari sisa waktu dan sempit itu untuk belajar, lantas bagaimana bisa mendapatkan gambaran seutuhnya kehidupanmu. Lebih banyak waktuku untuk ‘mammonisme’, mencari harta dan kedudukan untuk kami persembahkan.

Karena kepiawaian Sastrawan Pujangga Baru, Ali Audah mengalih bahasa ke Bahasa Indonesia, membacanya seperti membaca karya sastra, seperti baca novel yang penuh detail yang menganasir visualisasi. Ingin disini aku merangkum pikiran dan perasaan sesudah aku tamat membacanya. Tapi karena bukunya tebal, terlalu banyak pikiran yang harus kurumuskan dan perasaan yang ingin kuungkapkan.

Ya Rasul, inilah kesungguhanku untuk bisa mengenalmu, mencari teladan sikap dan perbuatan. Sebaik-baik teladan hanya engkau satu. Ingin kutahu dari berbagai sisi bagaimana sikapmu dalam menyikapi segala persoalan di zamanmu yang tentu meski berbeda zaman dari hari ini, tapi segala zaman pasti memiliki kesamaan prinsip dasar. Berdasarkan orang-orang yang mengkaji dan menuliskan kisah pribadimu ingin aku memvisualisasi tentangmu lebih detil untuk kudapatkan metodologi. Tapi engkau yang hidup seribu empat ratus tahun lalu, buku-buku tentangmu meski ditulis dengan sangat hati-hati dengan berdasarkan kefalidan sumber matan dan sanad, semua biografi itu tidak akan mampu menampung cerita hidupmu yang begitu agung.

Ya Rasul, bagaimanakah persisnya solusi bagi kegalauan kami ini sebagai muda remaja—misalnya karena perempuan, tak ada uang, tak ada kasih sayang, tak bisa jalan-jalan—sedangkan sahabatmu yang hidup di zamanmu bisa langsung mengadukan segala persoalan, sehingga membuat mereka tentram. Sedangkan kami, hanya berdasarkan cerita orang saja dan bapak-bapak kami tidak mampu memvisualkan dengan konteks kekinian. Bahkan ada celoteh di “Life Of Pi”,  seandainya Nabi Muhammad menjadi pemain bisbol, atau menjadi penyanyi, atau jadi artis terkenal yang setiap hari muncul di layar TV, pasti anak-anak muda akan banyak menggemarimu, mengumpulkan segala pernak-perniknya tentangmu sebagai artis idola yang banyak mengoleksi Award.

Tapi hidup ketika kecendrungan hewani yang menjadi pendulum. Dengan sikut-menyikut, untuk sebisa-bisa kudu bisa pasti bisa saling mendahului, untuk mengumpulkan pundi-pundi harta dan kepatutan kami hilangkan persaudaraan. Apakah memang kurikulum sekolah kami mendidik kami untuk jadi ‘mammonisme’, penyembahan kepada harta dan kedudukan. Kenapa tidak menjadikan rohani sebagai pijakan dasar sikap dan perbuatan. Kenapa tidak juga menyadari bahwa kami adalah sebagian dari alam, bagaimana hubungan dengan alam, bahkan kami sombong mengeksploitasi alam sosial, sampai pula memuja-muja berhala baru yang soal ini pun orang-orang Wahabi masih juga diam.

Apakah dengan banyak membaca tentangmu, sudah sia-sia perbuatan? Katanya saat sedang lapar masih saja terus membaca-baca. “Aku tak butuh cerita, tapi aku butuh makan”. Bahwa kami harus terus berbuat, berbuat, bergerak, bergerak, berinisiatif, berinisiatif, berusaha, berusaha, berkemauan, berkemauan… Tidak fatalisme dan enyahkan jabariyah Zeno dari Stoa. Meskipun politik kebudayaan kami ini dimiskinkan, dibekukan, ditakpedulikan…

Ya Rasul, lantas apa yang harus kulakukan sekarang?

Hari ini dunia penuh oleh hiruk pikuk. Entah kami rela atau terpaksa menerima menjadi sekrup-sekrup industri, tapi kami muak oleh perdebatan politik di tayangan TV, dan resesi ekonomi yang menjadi berita hari ini. Tapi aku tak ingin sumpah serapah sebagai tanda keputusasaan menghadapi badai negeri.

Ya Rasul, andai saja Engkau hadir berkunjung ke zaman kami, untuk menjelaskan duduk perkara tafsir dan tamsil dua pedoman yang engkau tinggalkan. Melihat gonjang-ganjing perdebatan saling adu kebenaran, bukan persaudaraan sebagaimana yang Engkau wasiatkan yang menjadi ikatan sosial. Tak hadirnya Engkau pada kami, tak sekalipun kami pernah melihat sosokmu, bagaimana kami tidak menangis melihat semua itu. Bahkan Umar pun marah dan berkata, “Barang siapa mengatakan Rasul meninggal akan kupotong tangan dan kakinya”. Tapi Abu Bakar menyahut, “Sabarlah Umar! Saudara-saudara, barang siapa menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barang siapa mau menyembah Allah, Allah hidup selamanya, tak pernah mati.”

Ya Rasul. Engkau telah tinggalkan kami dalam kegamangan dan buta membaca dua pedoman. Katamu, “Selama kalian berpegang pada Alquran dan Hadits, kalian tidak akan tersesat selamanya.” Tapi nyatanya sangat bising oleh perdebatan tanpa hikmah dan persaudaraan. Apakah benar kami ini sok pemangku kebenaran? Mungkin itulah pencarian dan dinamika kehidupan untuk menjadi Habil ataukah Kabil, sebagai penyerang atau terkorban, menjadi penyiksa atau menderita, menjadi pendendam atau dipenggal.

Ya Rasul, ulurkan sorbanmu untuk kami pegang. Inilah upaya kami sebagai cara mencintaimu, agar tak lepas seperti layang-layang putus. Tapi bila kami seperti balon yang diapungkan dalam semarak festival binal dan jalang, janganlah biarkan kami tak diakui sebagai pengikutmu yang sungguh benar.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori