Oleh: Kyan | 01/11/2013

Surat Untuk Ellen (3)

Surat Untuk Ellen (3)

#

Ellen… Ellen.. Ellen…

Memang cuaca sekarang tak menentu. Kadang siang begitu terang, tapi saat sore hujan mengguyur hingga basah kuyup mereka yang pulang. Sudah basah badan, harus pula melewati genangan air di sana-sini. Hujan terus-terusan sudah meluberkan selokan ke tengah jalan dan terpaksa kita harus terbiasa dengan bau busuk sampah.

Tapi engkau masih bisa pulang kan? Engkau masih mau membaca tulisan ini kan?

Ellen, cuaca boleh berubah, sedangkan harapanku padamu tidak pernah berubah dan tak ingin kuubah. Ingin aku mengenalmu dan engkau pun mengenal aku. Meski memang itu memerlukan waktu yang perlahan-lahan sampai tiba mewujud “kita”. Kita sebagai teman atau apapun jenis perhubungan sebagai hamba Tuhan untuk kita saling mengenal.

Saat pagi baru menyembul matahari, hawa sangat segar untuk permulaan hari. Aku bersyukur sehabis malam kualami masa gelap, ternyata Allah masih memberiku waktu untuk melihat lagi matahari. Matahari yang kutatap pagi tadi, sinarnya begitu menawan di kanvas perjalananku. Saat dibasuh sinar ketentraman yang kau pendarkan bagaimana aku tidak senang. Ketahuilah engkau bagai matahari yang ditunggu-tunggu para kafilah untuk memulai perjalanan baru. Sapamu begitu menyejuk kalbu.

Ellen, ketika hari beranjak siang, matahari akan sampai tegak lurus di atas kepalaku seolah-olah melenyapkan bayanganku. Ia memberitahu aku tidak boleh terlena dengan bayanganku sendiri, tapi aku harus lurus menatap pada sumber cahaya, bukan pada bayangan yang gelap itu. Meski hawa begitu menggerahkan, tapi aku harus berani beradu pandang untuk mengungkap satu perasaan.

Lalu tiba saatnya kutunggu kabar dari gugusan galaksi. Apakah awan yang tebal muram ataukah kerlip bintang. Apakah membawa kabar hujan atau sumur-sumur kian kerontang.

Mengusir kelabu hanya dengan tetap bertumpu pada yang Satu. Hati rela dengan waspada bahwa jodoh tak akan kemana. Sebab aku yakin dalam segala cuaca, aku percaya padamu. Aku percaya pada jiwamu yang madunya tak akan pernah kering bilapun disuling oleh ragam kesibukan. Aku percaya di dekatmu banyak orang yang sangat perhatian padamu. Dan aku tak bermaksud mencuri kerianganmu dari keluargamu dan teman-temanmu, tapi kerelaanmu mau berbagi denganku, itu akan menjadi pelengkap utuhnya dirimu.

Beranjak sore aku pun menengadah dan di langit berarak riak kekeruhan—untuk tidak mengatakan gelap. Bertanya kemanakah matahari atau tidak cukupkah pendar cahaya menerangi. Matahari sedang diselimuti sedangkan bulan masih tersembunyi menunggu malam.

Tapi, pekat bukankah tandanya segera hujan bukan? Bukankah kata Allah, “Aku sesuai persangkaan hambaku”. Dan benar saja datang hujan tak ketulungan.

Dan engkau kehujanan?

Mengingat wajahmu kupandangi rinai hujan, tetes demi tetes yang menjadi tirai dinding dua ruang: aku dan kamu. Menjadi penghalang untuk menatap pesonamu. Padahal tirai itu sangat tipis. Berapa meter sih antara Cijerah dan Batujajar. Tapi setiap kali tetes menghunjam bumi, beriak-riak pertanyaan: Engkau sedang dimana dan sedang melakukan apa. Engkau sedang berdiam penuh kesibukan? Sedang di rumah, di kampus, ataukah di perjalanan dan kehujanan?

#

Ellen, masih mau mendengarku?

Berapa jam sih atau berapa menit atau bahkan detik aku yang tidak ingat padamu. Setiap denting jam langkahmu ingin aku tahu, bagaimana kabarmu, apa yang kamu lakukan, bagaimana aktivitas apa di mayapada dan nirnyatamu. Atau memang kamu sedang menunggu. Tapi sering sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak mengganggumu, meski sering tak dapat pula aku mengendalikan. Setiap kali buka situs jejaring sosial, ketika kebetulan kamu sedang OL, sering muncul pertanyaan apakah sapaanku akan mengganggumu?

Kupikir kamu sedang fokus mengerjakan sesuatu, sedang fokus berbincang dengan temanmu, atau mungkin dengan kekasihmu, atau apapun saja kesibukanmu yang tak ingin diganggu. Dan kalau kumulai sapaan takut Ellen jadi gak nyaman karena takut berlebihan. “Ah biasa aja,” mungkin begitu katamu. Tapi sampai kapan kuperhatikan kamu dari tempat jauh yang hanya sebatas dialog layar. Tidak nyata sebagai pengalaman bersama bahwa kita adalah teman.

Setiap hari selalu ingin kutuliskan namamu, menuliskan tentangmu dan ingin bertemu di suatu ketika. Aku pun menyadari cinta lelaki itu visual, karena engkau baik dan cantik, maka akupun tertarik. Tapi aku tidak ingin sebatas itu memandang sosok perempuan.

Dan hari ini tiba-tiba saja muncul imaji yang merangkai cerita tentangmu untuk bisa mengenalmu. Meski Ellen belum bercerita apa-apa, tapi dengan pedoman imajinasi semoga saja aku bisa sedikit merekayasa tentangmu. Tentang cinta perempuan yang katanya itu bersumber dari pendengaran yang senang mendengar rancak nada sebagai bukti ada yang memberi perhatian. Ya karena antenanya adalah gendang telinga, maka katanya perempuan suka digombal. Tapi apa dengan kata-kata ini aku bermaksud menggombal?

Bilapun benar, apa bisa kata-kata dapat menjadi suara? Kalau aku bertemu—pedenya aku Ellen mau diajak ketemu, haha—mungkin aku tak akan berani berkata sebebas ini. Tapi kalau lewat kata-kata kupikir segala maksud akan terumuskan. Coba kalau tatap muka langsung pasti malunya aku minta ampun.

Tapi jujur ingin aku mengenalmu bukan semata rona wajahmu yang dipadu kerudung biru, tapi ingin aku tahu bagaimana nuansa psikologis jiwamu, bagaimana bangunan pikiranmu dan cakrawala perasaanmu ketika menjalani hari-harimu. Masihkah terus mengatakan “Ingin cepat lulus, ingin cepat lulus…”

Lewat kabut senja kukirimkan salam santun untuk disampaikan padamu. Kuarak mereka supaya segera sampai di langit yang menaungi rumahmu di semesta hatimu. Terpesona cakrawala yang mengarak harap dan menggumpal rindu. Menjadi rintik seribu tanya melesap hawa. Lewat kamera CCTV kuperhatikan tanganmu membisik-bisik. Engkau melenguh panjang dan bergumam. Entah gumam apa: senang atau tak suka, senang atau tak nyaman.

Tapi bagaimanapun responmu, aku senyum-senyum saja saat kamu menelan kue kristal itu, sampai-sampai tepungnya belepotan di rona bibirmu. Juntaian kerudung birumu terkibas-kibaskan angin menjadi selendang jalan bagi hati yang gamang untuk sampai di pintu gerbang.

Mimpi itu layak diperjuangkan, dan disini aku menunggu alunan nada-nada yang kau tembangkan. Engkau pandai bernyanyi kan?

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori