Oleh: Kyan | 03/11/2013

Kembali Pada Proyek Cita-Cita

Jum’at, 03 November 2013

Kembali Pada Proyek Cita-Cita

#

Bukankah sudah cukup tidurnya? Sampai kapan tidur melulu dan menyerah tak menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Catatan-catatan yang berserakan kenapa tidak dilanjutkan untuk dipadukan menjadi sebuah novel perjalanan. Kenapa aku menyerah. Kenapa aku jadi ogah. Seperti setiap hari ingin menghindari untuk menoleh kembali. Sehingga tak jelas apa kegiatan hari ini.

Apa karena tak ada cinta. Kenapa harus ada perhatian. Kenapa cinta seseorang adalah segalanya. Katamu karena hatimu kering, bukankah orang lain pun merasa kering. Kenapa hatimu tidak mendengar, kenapa kau tidak selalu mendengar. Kenapa selalu mata, bukan telinga. kenapa mata yang melihat dan itupun tidak terlalu awas.

Setiap hari lebih banyak mata yang kupergunakan dan sangat kurang mengoptimalkan fungsi telinga. Mulai dari mengutak-atik komputer, membuka layar hape, BBM, sampai menoleh ke samping ke orang-orang yang sedang berjalan semua dengan pancaindra mata. Tapi yang terakhir pun sudah sangat-sangat jarang. Dan ini masalahnya. Mungkinkah aku tak punya kepekaan sosial? Padahal dalam Alquran lebih dulu disebutkan fungsi telinga, lalu mata. Tapi sekarang aku lebih banyak bersentuhan dengan perangkat teknologi yang mana itu tidak memberi kepuasan sendiri. Aku sudah tak banyak mendengar. Bukankah intinya adalah apresiasi bahwa kita adalah peduli?

Dan berapa lama kufungsikan pancaindra telinga, selain pagi dan sore yang ini pun akhir-akhir ini sudah jarang kudengarkan lagi syukurmatic dari Erbe Sentanu. Sudah jarang lagi kudengarkan musik digitalprayers yang sudah kupunya duabelas CD. Dan enam musik digitalprayers dari MP3. Bukankah sudah kupunya tujuhbelas musik digitalprayers itu tidak memuaskan dan tidak memberi jalan?

Masalahku sekarang sangat ingin kulanjutkan kembali proyek novel perjalanan. Tapi kenapa betapa sulitnya kumulai kembali. Apakah memang aku sendiri yang ogah-ogahan dan tak sadar dengan kehendak pribadi? Free will akan dipertanggungjawabkan untuk apa di hadapan Tuhan. Sudah berjalan lima bulan aku keluar dari pekerjaan dan entah apa yang sudah kudapatkan selama lima bulan ini.

Karena aku putus asa? Orang lain pun sama mengalami putus asa, tapi bedanya mereka bisa mengatasinya. Setiap orang memiliki masalahnya sendiri-sendiri dan lagi-lagi itu kembali pada sikap sendiri. Aku harus bisa mengatasinya dan aku mampu mengatasinya. Janganlah khawatir dengan setiap hari tidak dapat makan. Yakinlah Allah akan selalu memberi jalan rezeki. Enyahkanlah itu sikap khawatir tidak dapat makan. Tapi saat ini pun aku sedang lapar. Tapi bukankah saat ini sedang masak nasi dan telor masih ada. Bukankah saat ini sedang menunggu makan dan mengisinya dengan menuliskan catatan harian?

Apakah karena merasa sudah tak punya harga diri. Dengan tidak punya pekerjaan itu merontokkan harga diri. Bahwa hidupku, makanku kembali bergantung pada ibuku. Bukankah itu dari dulu selalu ingin kuhindari. Mungkin hanya berpikir saja tapi tidak pernah sampai pada tindakan. Kalau soal keinginan, siapapun ingin hidupnya tidak bergantung pada orang lain. Tapi kenyataan kadang sulit untuk dinegosiasikan.

Belum menikah dan tidak punya pacar dan benar-benar tidak ada perempuan yang memberi perhatian, mungkin pula ini masalah utamanya. Hidup serasa sepi menjalani hari-hari. Bagaimana aku mencintai dan dicintai, aku harus memulai. Penolakan itu biasa karena masih belum percaya pada ketulusannya. Percaya diri saja ketika menghadapi perempuan dan perbaiki pula sikap yang membuat ia merasa risih dengan banyak pertanyaan yang tak perlu dan katanya itu memusingkan. Terlalu agresif, terlalu banyak ingin tahu urusan orang lain, terlalu banyak hal yang berlebihan, jadinya disematkan padaku kumpulan kamus gaul: alay, galau, kepo, rempong, dst…

Memang aku harus terus belajar bagaimana cara yang benar dalam mendekati perempuan. Bagaimanapun perempuan adalah makhluk berbeda dariku. Meskipun sama-sama manusia yang punya perasaan dan pikiran bermuatan sayang dan perhatian. Semua orang ingin berbuat baik dan menjadi pribadi solutif. Semua orang mencari kebahagiaan dengan berupaya untuk banyak memberikan pertolongan pada siapapun. Hanya untuk terbukanya ia kembali pada diriku bagaimana cara meraih simpati inilah pikiranku. Merasa pusing kalau dipikirkan, tapi lebih baik jadilah diri-sendiri. Setiap orang punya khas-nya sendiri.

Kuatkanlah kesabaran bilapun hari ini tak dapat perhatian dari perempuan. Setidaknya ada perhatian dari teman dan pasti semua teman sangat memberi perhatian. Meski memang dengan caranya sendiri-sendiri. Mereka diam bukan berarti tidak peduli, tidak memberi perhatian, tapi itulah cara mereka untuk peduli dan memperhatikan. Karena nasihat atau kata-kata hanya malah sering menyakitkan, menambah runyam persoalan, sehingga bukan membantu menyelesaikan tapi malah menambah kawan menjadi lawan. Benar orang lain hanya butuh didengarkan dan tidak selalu meminta lidahku untuk berkata-kata. Orang lain meminta “fungsi telinga” untuk mendengar keluh-kesahnya, bukan “mulut dan lidah” untuk berkhutbah dan serapah.

Tapi benar kata Bang Dudi Abdul, kalaupun hidupku serasa tak berguna, pekerjaan tak ada, motor hancur dirusak si kakak, uang tak cukup punya, pacar tak punya, merayu wanita tak mempan juga, dan bertanya dimanakah cinta… tapi aku masih punya Allah, punya Rasulullah, punya buku-buku, Abiem Ngesti, dan Film India. Mencoba lagi setiap pagi menghitung karunia untuk hati tetap waspada dan terjaga bersyukur pada-Nya. Dan kamu pembaca jangan ketawa-ketawa melihat orang yang sedang menderita.

Sekarang aku harus kembali sadar pada proyek yang sudah kumulai. Bukankah begitu keluar dari pekerjaan karena keinginan kuat untuk mencoba hal baru untuk menulis novel. Selama empat bulan tidak pernah sekalipun mengirimkan lamaran pekerjaan dan baru dua minggu ini mulai inten mengirim surat lamaran karena ingin fokus pada proyek pribadi. Sekarang di samping tetap mencari sana-sini lowongan pekerjaan, tetap melanjutkan menulis cerita sendiri, proyek pribadi. Dan terpenting hindari dan buanglah kegiatan yang sia-sia dan tak berhubungan dengan cita-cita.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori