Oleh: Kyan | 04/11/2013

Menghitung Kekurangan Diri

Senin, 04 November 2013

Menghitung Kekurangan Diri

#

Semakin kenal dengan banyak perempuan, aku jadi banyak tahu kekuranganku. Oleh perempuan pertama dikatakan aku egois. Ya, benar aku memang egois. Egois untuk tidak mencintai diri sendiri. Bagaimana aku egois, sementara aku cinta banget padamu, aku sangat peduli padamu. Tapi itulah caraku dalam mencintaimu.

Oleh perempuan kedua, aku dikatakan bawel. Hai perempuan, begitulah aku yang sangat sayang padamu, ingin memberi perhatian padamu, lalu aku dikatakan bawel? Aku emang bawel kalau sudah sayang sama orang. Aku juga dikatakan kepo, masih saja terus bertanya. Ketahuilah sayang, dulu aku ingin jadi wartawan tapi tidak kesampaian.

Tidak jelas apa yang kulakukan sekarang. Belum pernah sebelumnya aku mengalami perasaan begini. Mungkin aku ini sudah putus asa. Tidak jelasnya kegiatan: menulis novel tidak diteruskan, melamar pekerjaan masih ogah-ogahan. Lantas sebenarnya aku ingin apa? Ingin punya kekasih, ingin kawin?

Kemarin sudah begitu dekat dengan perempuan, tapi lagi-lagi melakukan kesalahan yang sama. Aku terlalu agresif, terlalu ingin banyak tahu. Kenapa semua kulakukan ini, kenapa aku tidak pernah belajar dari pengalaman? Inilah keadaan yang membuat depresi ketika mengalami jalan buntu apa yang harus dilakukan dalam menghadapi berbagai kemungkinan.

Sekarang sedang diam, kudiamkan dia tak lagi aku bertanya-tanya. Sebenarnya bagaimanakah perasaan dia. Aku sudah meminta maaf, apakah perlu kulakukan lagi meminta maaf. Katanya perempuan perlu pengulangan, tapi apakah ia akan bosan yang terus mendengar kata maaf. Bosan bagi laki-laki, tapi bagi perempuan bisa saja itu pertanda bukti perhatian.

Apakah harus kukatakan bahwa aku benar-benar suka padanya. Kalau tidak suka pasti benci. Tapi bisakah aku memaafkan. Bukan soal aku memaafkan, sekarang persoalannya bisakah dia memaafkanku. Sampai kapan kudiamkan dia, atau menunggu dia memberi sapa. Tapi setiap BBM dia selalu membacanya. E-mail yang kukirimkan sudah dia lihat. Bukankah dia masih peduli padaku. Apakah harus kukatakan padanya, “Ellen, aku benar-benar minta maaf. Aku mau ngelakuin apapun asalkan Ellen mau memaafkan. Kita masih teman kan?”

Pantaskah pernyataan tersebut kusampaikan padanya, atau harus menunggu momen. Tapi saatnya yang tepat itu kapan. Bukan setiap waktu ada kesempatan. Bagaimana kalau umurku tidak panjang dan tidak sempat mengatakan. Memang harus sabar menghadapi hati perempuan.

Akupun sudah obral obrolan pada kawan bahwa aku sudah ini dan itu. kenapa tidak bisa kupendam biarlah dulu aku sendiri yang tahu. Kalau sudah jelas baru memberitahu teman. Aku seorang pengangguran dibilang-bilang. Aku sedang dekat perempuan, padahal sekarang aku sudah membuat dia kesal. Mau menulis tak bisa konsentrasi yang akhirnya acak-acakan. Aku benar-benar depresi, lupa pada sikap syukur yang seharusnya aku gumamkan pada keadaan yang bagaimanapun.

Mungkin aku harus mandi biar segar pikiran dan langsung salat duha. Untuk puasa senin aku sudah minum dan makan. Tidak apa-apa yang penting sekarang aku harus sabar, sadar, dan bisa mengendalikan. Memang akupun sering dibikin rempong oleh perempuan. begitupun perlakuanku pada perempuan, bahwa aku ini terlalu banyak ingin tahu. Mungkin benar “bertanya adalah kunci ilmu” tidak bisa diterapkan ketika mendekati perempuan.

Aku tidak boleh mengatakan biarin saja toh masih banyak perempuan. Enjoy saja masih banyak kok mereka yang bisa kudekati. Cari saja wanita lain yang lebih bisa menerima apa-adanya. Tapi bagiku setiap perempuan adalah sangat berharga. Bagaimana aku bisa mengalihkan orientasi, dengan perempuan yang sedang kudekati belajarku belum selesai. Dasarnya perempuan sama saja, bila aku tak bisa mengenalnya, pada perempuan macam manapun aku tidak akan bisa menemukan dan memahaminya ia sebagai perempuan.

Kenapa aku selalu membikinya ribet sih. Katakan saja aku minta maaf dan bila ada sahutan pemaafan berarti dia mau menerima atau tidak pun tidak apa-apa. Sudah terdengar lagi bunyi tuit tuit tanda listrik pulsa sudah habis. Tak cukup uang untuk membeli pulsa, dan kakakku sudah menghambur-hamburkan lampu. Aku ingin pergi dari tempat ini. Tapi kemana dan dimana. Nanti kalau aku sudah kerja lagi aku mau kosan saja di tengah-tengah kota. Karena disini aku tak bisa kemana-mana. Aku makin depresi saja menghadapi semuanya.

Lantas apa sekarang yang bisa menjadi bahan bahwa aku masih layak untuk bersyukur, sekecil apapun itu: aku bersyukur masih bisa menyeduh susu jahe, aku sungguh-sungguh bersyukur uang di dompet masih ada seratus ribu, aku bersyukur masih ada kuota internet, aku bersyukur masih punya beras, aku bersyukur masih bisa kudengarkan musik digitalprayers, aku bersyukur masih ada uang di ATM, aku bersyukur punya banyak waktu luang, aku bersyukur masih kubaca koran dan ada banyak lowongan di sekitar Batujajar.

Masih ada orang yang butuh padaku, sekarang aku sedang menunggu kiriman kaset perjalanan karir Abiem Ngesti yang nanti akan kurekam jadi mp3. Pasti itu ditunggu-tunggu hasilnya oleh semua anggota Abiem Ngesti Fans Club (ANFC). Sudah tentu ibuku sangat bahagia masih hidup sehat anak-anaknya. Kupikir masih ada banyak teman yang bisa membikin ia ceria. Aku belum menjadi orang tak berguna. Aku masih berguna. Aku masih berguna. Aku masih berguna.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori