Oleh: Kyan | 05/11/2013

Perjalanan Karir Abiem Ngesti

Album-Album Abiem Ngesti

Album Kompilasi Abiem Ngesti

Abiemanyu Ngesti dilahirkan di kota ukir Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 30 Oktober 1978. Semenjak masih belia ia sudah pandai menghibur orang banyak. Usia mudanya banyak dilewatkan di panggung-panggung di kota-kota Jawa di Tengah bahkan sampai ke seluruh Indonesia.

Hanya sembilan tahun ia menyanyi, tapi cukup banyak sukses yang diraihnya. Konon pada usia lima tahun ia sudah bisa menciptakan lagu. Pada tahun 1990, ia mulai menggebrak dunia musik Indonesia dengan lagu yang khusus diciptakan untuk menggambarkan si kecil cabe rawit ini.

Suara kanak-kanaknya yang masih bening, dengan lantang melantunkan nada demi nada, baris demi baris, lagu Pangeran Dangdut yang ternyata mengangkat namanya di belantika musik Dangdut dengan meraih HDX Award. Waktu itu umurnya baru 13 tahun.

Pada tahun berikutnya, ia masuk nominasi BASF Award 1992. Tetapi bukan hanya lagu-lagu Dangdut, Pop, dan Slow Rock, bahkan RAP dibawakannya dengan menyakinkan. Walaupun memang melalui Dangdutlah ia mulai mengokohkan namanya. Seperti yang setiap kali dengan bangga dikumandangkannya.

Abiemanyu Ngesti dilahirkan di kota ukir Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 30 Oktober 1978. Semenjak masih belia ia sudah pandai menghibur orang banyak. Usia mudanya banyak dilewatkan di panggung-panggung di kota-kota di Jawa Tengah, bahkan sampai ke seluruh Indonesia.

Sudah barang tentu cita-citanya melambung tinggi, melebihi apa yang sudah dicapainya. Bahkan melampaui batas cakrawala Nusantara. Rupanya ia menyimpan suatu impian bahwa pada suatu saat kelak ia akan menggenggam dunia.

Jodoh, rezeki, ajal adalah kuasa Allah semata. Tiada sesuatu pun dapat mengubahnya. Seperti halilintar yang menggelegar di tengah hari. Datanglah berita tentang tewasnya seorang penyanyi muda berbakat dalam suatu kecelakaan lalu lintas. Rasanya tak percaya Abiem Ngesti yang belum genap tujuhbelas tahun di kabarkan telah tiada. Seperti pohon yang baru bertunas yang mulai berkembang subur di bawah siraman sinar matahari, tiba-tiba terenggut oleh getaran gempa yang menggoncang bumi tempatnya tumbuh.

Semenjak masih kecil, pada saat anak-anak sebayanya masih asyik bermain dan bergantung pada orang tua, Abiem sudah mempunyai penghasilan yang amat memadai. Bayangkanlah berapa besar penghasilannya, kalau begitu sering ia naik panggung. Sepuluh album sudah pula diselesaikannya dan disambut baik masyarakat. Tak heran kalau dalam usia yang amat belia sekalipun ia sudah memahami nilai-nilai yang pada zaman kini dianut banyak orang. Dengarlah betapa dengan keluguan seorang anak, ia menggambarkannya.

Dalam pembuatan video klip, untuk mempromosikan album terakhir Abiem yang berjudul Dahsyat, Akurama Record memunculkan seorang gadis model sebagai pendamping Abiem. Pandang bertemu pandang, hati pun rasa bergoncang, cinta pun lalu berkembang. Tak pelak lagi cinta lokasi yang konon kabarnya sering bersemi di antara para artis semasa syuting, juga menghinggapi kedua remaja itu.

Agaknya orang tua si gadis cukup memaklumi gejolak hati kedua anak muda itu. Dan tidak menghalangi Abiem mendekati puterinya. Namun keduanya harus berpisah, karena masing-masing tinggal di kota yang berlainan. Seperti remaja lain seusianya untuk pertama kalinya hati Abiem Ngesti terpercik api asmara.

Abiem pun kembali ke kota Kudus Jawa Tengah untuk kembali melepas rindu di pangkuan ibunya dan kedua adiknya yang selama beberapa hari ini ditinggalkannya. Tetapi wajah manis si gadis model dan tutur katanya yang menawan senantiasa mengharu biru pikirannya.

Beberapa hari selepas syuting untuk album Dahsyat itu, Abiem datang kembali ke Jakarta dan singgah di kantor Akurama Record untuk menanyakan nomor telepon sang dara pujaannya. Apa yang kemudian mereka bicarakan melalui telepon dan bagaimana kelanjutan cinta yang baru bertunas itu adalah rahasia mereka berdua.

Syuting untuk video klip album Dahsyat itu mengambil lokasi di Karang Hawu Palabuhan Ratu. Seperti yang kemudian kita saksikan di layar kaca, hasil syutingnya benar-benar dahsyat. Karena Abiem habis-habisan mengerahkan kemampuannya berakting. Tanpa takut ia berdiri dengan gagah di atas karang yang terjal, dihempas gelombang pasang, diguyur hujan yang deras.

Dengan penuh penghayatan Abiem beraksi menyanyikan lagunya tanpa menghiraukan bahaya yang mengancamnya. Bukan rahasia lagi betapa ganas alun gelombang laut selatan yang dengan sekali sapuan dapat menggulung korban hingga hilang lenyap dalam sekejap di telan lautan. Setelah pengambilan gambar selesai dilaksanakan, ketika ditanya mengapa ia begitu nekat, Abiem mengaku tidak sadar karena begitu tenggelam dalam penghayatan lagunya.  

Sementara itu, di studio Akurama Record Jakarta, ayahnya, Wiwien Ngesti sibuk mempersiapkan musik dasar bagi album Abiem berikutnya. Abiem dihubungi di Kudus dan dipesan untuk datang ke Jakarta sekaligus menghadiri pesta pernikahan seorang kerabatnya. Seorang kerabat Abiem, Benni yang biasa mendampingi Abiem ke Jakarta tiba-tiba memutuskan untuk tidak ikut serta. Tentu saja Abiem kecewa. “Kalau Mas Benni tidak ikut dan semuanya tidur, dan saya menyetir sendirian sama saja dengan bawa ambulans,” katanya.

Kata-kata Abiem itu ternyata ucapan terakhir yang mengandung firasat. Barangkali tanpa ia sadar ia mengucapkannya. Tapi menjadi realita. Memang dengan ambulans ia dilarikan ke rumah sakit Bayukarta dalam keadaan luka parah.

Ada lagi pertanda lain, menjelang keberangkatannya ke Jakarta, Abiem duduk memetik gitarnya dan mendendangkan lagu berjudul “Sanggupkah” dari album Andy Liany, penyanyi muda yang belum lama berselang telah berpulang ke Rahmatullah karena mengalami kecelakaan di Karawang. Tentulah tanpa sadar ia memilih lagu yang dinyanyikan rekannya yang telah mendahuluinya itu. Siapa nyana Abiem kemudian menyusulnya dengan sebab yang sama, yaitu tabrakan maut di jalan raya dan juga di daerah Karawang.

Banyak yang menunggu kedatangan Abiem waktu itu. Tita, si gadis model dengan penuh pengharapan menantikan dering telepon dari Abiem. Sedianya mereka akan bertemu di suatu tempat pada pukul sepuluh pagi sesampai Abiem di Jakarta. Tetapi yang dinanti-nanti ternyata telah pergi dan tak akan pernah kembali. Ayah Abiem pun dengan harap-harap cemas menunggu kedatangan anak istrinya semalaman. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang, malah berita duka yang diterima.

Bersamaan ibunya, Yuni Ismiwati?—Yuli Ismawati—Abiem menghembuskan nafasnya yang terakhir meninggalkan dunia yang fana ini menuju gerbang alam barzakh. Demikian pula adiknya Shakti, paman, dan seorang sepupunya. Lima dari delapan orang penumpang kendaraan yang naas itu, yang selamat hanyalah adiknya Maharani, serta istri dan anak pamannya.

Dalam pelukan ibunda ia datang ke dunia, dan bersama ibunda pula ia meninggalkannya. Abiem Ngesti, harus melepas nyawa dan cita-citanya dalam usia muda. Belum sempat ia menggenggam dunia, belum pula dirasakannya manisnya cinta belia, kini ia telah tiada. Hanya pusara menjadi tanda kehadirannya di dunia. Dan lagu-lagunya sebagai bukti jejak langkahnya di jalur musik Indonesia.

Sungguh pendek jangka waktunya, tetapi cukup bergaung gema suaranya. Semoga tenanglah ia kini di haribaan Allah Swt yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Allah Maha Rahman dan Maha Rahim.[]

Terima kasih dan persembahan ini untuk Maharani Ngesti, sang adik Almarhum Abiem Ngesti. Narasi ini dibacakan oleh Anita Rachman, diproduksi oleh Akurama Record. Terima kasih kepada semua atas selesainya catatan ini. Dan inilah audio narasinya. klik


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori