Oleh: Kyan | 07/11/2013

Surga Bumi Al-Jufri

Surga Bumi Al-Jufri

#

Ellen

Matanya lurus ke depan, pada bentangan biru samudera. Tatapannya melayang-layang antara cakrawala dan samudera, atau pada buih putih ombak yang dihalau angin sedang menuju daratan untuk memberi kabar pasang. Tapi di balik gemuruhnya mendesis suara seperti sedang membisiki sesuatu padanya. Seperti gadis sedang membuka rahasia pribadinya. Tapi belum ia mengerti juga apa maksudnya.

Masih ditatapnya titik terjauh lepas pantai laut semenanjung itu. Membayangkannya seperti hamparan sajadah biru sebagai selendang untuk rukuk dan sujud. Pikirannya sibuk dengan imaji-imaji untuk menguak ada apa di balik bentangan garis sebagai batas antara samudera dan cakrawala. Tidak terlihat apa-apa bukan berarti tidak ada ada sesuatu di balik sana. Karena ini perjalanan pertama menjadi bagian dari ekspedisi bahari gubernur Yaman atas perintah yang mulia Khalifah Utsman Ibn Affan.

Ia masih mematung, membiarkan sepatunya basah oleh buih ombak. Menunggu keberangkatan ekspedisi bahari menuju Timur Jauh. Bertanya pada bisikan kecipak-kecipak ombak kecil, berapa jauhnya pulau emas itu. Mendengar dari orang-orang Janz yang singgah di Hadramaut, bahwa negerinya adalah sebuah kepulauan. Pamannya bilang seperti gambaran surga dalam Alquran. Terdiri atas gugusan pulau besar dan kecil. “Swarnadwipa, Jawadwipa, Celebes..”

Pamannya bercerita bahwa sudah banyak orang arab menetap di sana. Rempah-rempah yang menjadi kegemaran orang-orang dari negeri Rum, terutama lada dan kapur barus sudah menjadi komoditi laris di jalur perdagangan sutera. Meski masih ada gejolak tapi tekad kuat untuk berpetualang ke negeri seberang, untuk mengumpulkan kekayaan telah menguatkan hatinya untuk pergi dengan sang paman.

Kapal akan segera dilepaskan sauhnya yang sudah dua hari merapat di pelabuhan semenanjung Yaman. Ingat pada nasihat ibunya, “Ibrahim, kalau sudah sampai, empat bulan nanti, beri kabar Ummu. Jangan sampai nanti bulan Haji suratmu tak sampai ke tangan Aba. Kirimi Ummu kembang lada. Ummu ingin coba masak pakai lada yang kata orang tumbuh subur disana.”

#

Cipratan ombak menerpa mata Ibrahim yang menitik pelan. Ingin memberi kabar pada ayahnya untuk datang di hari pernikahannya. Merasa tidak lengkap pernikahan tanpa dihadiri ayah dan ibunya. Perjodohan dengan kerabat, dengan anak paman sendiri sampai pula di pelaminan.

Pernikahannya telah berlalu bertahun-tahun silam di tanah perantauan. Di bumi Nusantara ia sudah beranak cucu sehingga menjadi sebuah keluarga besar: TRAH AL-JUFRI. Nama yang disematkan pada anak cucu untuk menjaga tradisi, untuk tidak lupa pada leluhurnya, supaya tidak luntur rasa persaudaraan dan sepenanggungan di tanah perantauan.

Di suatu ketika lahir seorang cucu yang menjadi pemuda kebanggaan trah Al-Jufri: Ibrahim Muhammad Al-Jufri, mengambil nama leluhurnya, yang sukses menjadi pedagang handal dan luas pergaulan.

Bagai dua sisi mata uang, sebagai seorang pedagang sukses sudah otomatis akan luasnya pergaulan. Mendengar dari kaum pribumi tentang seorang mursyid tarikat Sattariyah, Syeikh Yusuf Makassar pernah tinggal di Hadramaut mengingatkan ia pada leluhurnya. Merasa dekatlah ia dengan pribumi. Orang-orang ramai datang ke Lampung. Lampung menjadi pusat keramaian. Mereka datang dari Palembang, Minang, Banten, Bugis menjadi penambang-penambang emas. Tempat berkumpulnya orang-orang menjadi magnet untuk para pedagang datang.

Ibrahim menyimak pembicaraan dalam tawar-menawar harga. Tidak mengerti pula bicara mereka kalau antar sesama suku. Tapi dalam transaksi, atau pembicaraan di antara suku-suku pribumi, meskipun berasal dari lain-lain wilayah kepulauan sudah dipersatukan dalam satu bahasa “lingua franca”. Begitupun kaum kerabat Al-Jufri sudah saling membantu dalam meluaskan jaringan perdagangan, saling merekatkan diri melalui ikatan pernikahan, dan mencari pengaruh pada kekuasaan.

Meluaskan jaringan dagangnya melalui cara bersekutu dengan pihak penguasa, termasuk menjalin kekerabatan dengan para bangsawannya. Tidak apa-apa menikah tidak dengan luar marga Arab, asalkan tidak dengan rakyat jelata.

Sampai pula mereka tersebar di sepanjang pulau Sumatera. Mulai dari Aceh, Minang, Lampung, Jambi, Palembang sampai bisa menembus menjadi pejabat istana. Dan di Jambi pulau Sumatera, telah lahir seorang peranakan Arab bermarga Al-Jufri, telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang dikenal dengan nama: Ibrahim Abdurrahman Al-Jufri.

#

Gubernemen melakukan peralihan kadipaten dari Cianjur ke Bandung, telah menjadikan Bandung sebagai Parijs van Java, sebagai destinasi wisata noni-noni Belanda. Semakin ramai pula dengan kedatangan orang-orang dari berbagai suku dan sudah tentu menjadi peluasan dagang bagi orang-orang Cina, Arab, dan Eropa. Termasuk keluarga besar Al-Jufri.

“Disini aku lahir,” bisiknya.

Di malam sunyi matanya masih lekat pada buku-buku. Ia buka lembaran kitab Bustan as-Salatin-nya Nuruddin Ar-Raniri. Membaca kisah keturunan Arab yang jadi sultan dari di kerajaan Aceh. Membaca kisah Ratu Sarifa yang bersekutu dengan VOC dan kalah oleh Kiai Tapa. Sampai kerajaan yang dulu terkuat di wilayah Barat Pulau Jawa, akhirnya hancur lebur diserbu VOC.

“Aku pemuda Arab. Aku orang Indonesia,” tekadnya. “Ini adalah tanah air, tempat aku lahir. Enyahkan rasa bangga sebagai kelas dua. Merasa unggul atas pribumi sebagai kelas tiga. Kita ada sama, kecuali ketakwaannya. Feodalisme harus dienyahkan..” kata-katanya berapi-api di atas mimbar, di hadapan perkumpulan Jong Arab.

Para pemuda dari marga Al-Habsyi, Shihab, Al-Alatas, dan Al-Jufri, Baswedan, dan lain-lain bersatu padu menyentakkan semangat: “Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.  “Mari kita bersatu padu dengan Jong Sunda, Jong Java, Jong Celebes untuk melaksanakan cita-cita Sumpah Pemuda… Kita adalah Pemuda Indonesia..”

Indonesia Merdeka. Penuh sorak sorai dan penyambutan di mana-mana. Dupuluh tahun kemudian terjadi tragedi hitam peristiwa September, tapi sesudahnya ada semburat bahagia bagi keluarga Al-Jufri. Karena telah lahir dengan selamat bayi perempuan bernama: Sofiah Muahmmad Al-Jufri.

#

Soekarno dimakzulkan, beralih ke zaman orde baru. Tidak hanya mahasiswa yang penjadi penggerak utama pemindahan kekuasaan, tapi Amerika menyambut selamat datang bagi trilogi pembangunan. Era Soeharto dalam kejayaannya, bidang ekonomi mengalami kemajuan yang belum tertandingi oleh masa sebelumnya. Begitupun bidang militer yang utama Angkatan Darat sangat begitu berkuasa. Tapi politik sedang menunggu saatnya banjir bandang menuju tsunami perubahan. Tapi tidak selamanya burung garuda—Demokrasi Pancasila—bisa terbang lepas dan tinggi, tapi lihatlah sedang mengendap-ngendap pemburu kuasa sedang mengincar kejatuhannya.

Dalam kejayaan dan “sejahtera” rakyatnya, tepatlah Sabtu kedua Februari 1992, telah lahir jabang bayi perempuan di sebuah ruang—entah di kamar sebuah rumah di Pharmindo atau di rumah sakit—yang dalam tangisan pertamanya penuh gurat pesona bagai jelita Sakuntala. Ayahnya penuh decak berkaca-kaca oleh semburat bahagia. Terutama ibunya yang selamat melewati masa persalinan, menumpahkan kasih sayang pada anak bungsunya. Empat kakaknya penuh senyum ceria menyambut adiknya yang nanti bisa disuruh-suruh kalau sudah besar. (Haha..)

Tiba saatnya gadis bungsu ini masuk sekolah TK. Ada teman cowok mengatakan cinta padanya?—Ih mengajak pacaran?—cinta monyet. Tapi cinta pertama sangat berjuta rasa menjadi pelangi di saat tumbuh remaja menuju dewasa: SD Melong 1—SMPN 9 Bandung (Padjajaran)—SMA Amanah Tasikmalaya—STIEMB Karapitan Bandung.

Dan di hari Idul Qurban 1434 H. dimulailah perkenalan dengannya di laman maya. Setelah tiga bulan tak membuka situs jejaring sosial, begitu dibuka lagi ada pesan masuk darinya, oh alangkah senangnya. Muncul semburat bahagia memasuki dunianya. Selalu ingin aku bertanya-tanya siapakah dia. Tapi rupanya dia sudah sangat terganggu dengan ragam pertanyaanku. “Bertanya adalah kunci ilmu” mungkin tidak cocok untuk merayu seorang wanita.

Akh, aku mungkin berlebihan, terlalu sentimentil. Tapi bagiku dia adalah sempurna. Aku adalah kelana yang haus di gurun sahara, menunggu di simpang jalan, bertanya pada sapa perempuan sudah tak dipedulikan, lebih baik aku mati saja bila aku tak bertemu dengannya. Siapa yang tidak terpesona dengan anggun kepribadiannya dan manis ronanya. Salahmu sendiri masih terus bertanya. Bertanya pada tidak tempatnya.

Duhai wanita, aku hanya ingin tahu bagaimana engkau seutuhnya. Begini kureka cerita tentang apa yang engkau cerap semenjak bayi hingga saat ini sampai pada pertemuan terakhirnya. Ingin kukenali engkau asal-usulmu yang diwariskan dalam struktur kejiwaanmu dan gen kepribadianmu. Tapi rupanya aku sudah menyinggungmu. Tapi bukankah sang anak adalah anak kehidupan, sebagai sebuah potret dari lingkungan yang membesarkannya: Rumahnya, Masyarakatnya, Bangsanya, Leluhurnya, dan lain-lain hal.

Ingin kukenali engkau seutuhnya. Itu saja mauku dan inilah permulaannya. Bila tidak, ya sudah-sudah saja, sebesar maaf yang kuhaturkan![]

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori