Oleh: Kyan | 17/11/2013

Kubunuh Saja Dia

Minggu, 17 November 2013

Kubunuh Saja Dia

#

kujang karatuan

kujang karatuan

Benarlah kata adalah senjata, dan barang siapa berkata-kata akan menjadi mangsa. Ketika pusing tak pula kutemukan cara install ulang windows 7 netbook keponakan, sudah tiga hari terus-terusan hanya dipotong tidur dan makan, tiba-tiba sore kemarin muncul kata yang menusuk dada. Ya, kemarin munculnya kata tapi hari ini runcingnya masih menusuk-nusuk kulitku, dan inilah caraku untuk menyembuhkan luka dari tusukannya.

Bisa saja saya ambil golok untuk menggorok lehernya, untuk kutebas lengannya karena dia sudah sangat menyakitkanku. Siapa sih orang yang belagu banget padaku. Tapi bagaimana pun dialah kakak kandungku sendiri. Dia sebagai kakak pertama terhadap tiga adiknya pernah bertengkar, yang bukan semata kesalahan adik-adiknya tapi dia yang emang belagu, sok sebagai kakak. Ini hanya puncaknya saja sehingga aku ingin berterus terang dan ingin sekali aku membunuhnya. Bahkan kalau dia mati itu yang kuingini. Teganya aku mengharapkan kakak sendiri mati, padahal dia belum kawin lagi dan punya keturunan, padahal usianya sudah empatpuluh tahunan.

Mungkin secara sekejap saja penilaian, bahwa saya adalah orang baik-baik yang kenapa tega sampai mau membunuh. Ya karena dia sudah sangat keterlaluan menyakitkan. Karena kejadiannya bukan pada sekarang ini, tapi ini adalah puncaknya yang sejak semula sudah sangat menyakitkan. Dia sudah membunuh karakterku, dan pembunuhannya tidak mungkin bisa saya lupakan seumur hidupku.

Masih membekas ingatannya ketika dia marah-marah padaku berulang kali: saat SMP kelas satu karena saya membeli jam sendiri, karena saya ingin punya jam seperti teman-teman. Lalu saat mau masuk SMA—saya hanya menerima saja ketika diajak sekolah SMA di Cimahi, yang andaikan saja dulu saya mengikuti ajakan kepala sekolah untuk sekolah di Tasik, mungkin kejadian dan nasibnya akan lain. Tapi sudahlah—dia memarahiku karena sudah menghambur-hamburkan uang dari ibu, katanya. Tidak jelas buktinya kebenaran tuduhannya itu. Apakah karena saya tak pandai menabung?

Bukankah ada uang di tabungan Batara dulu di kantor pos Cikatomas, yang saat mau berangkat ke Cimahi diambil semuanya untuk biaya sekolahku masuk SMA? Saya tidak meminta dia untuk bersusah payah agar saya terus sekolah, tapi karena saya adalah adiknya harus hormat dan mengikuti kemauan saudaranya. Ya kalau dia melakukan semua itu karena merasa punya tanggung jawab sebagai kakak pertamanya, saya ucapkan terima kasih. Tapi karena dia telah membawa saya sekolah di Cimahi telah membuat saya stress karena shok, ini orang kampung, yang udik banget, yang rumah dan sekolahnya meskipun negeri tapi baru berdiri tiga tahun, tiba-tiba saya harus bersaing dengan orang kota yang sudah berkecukupan juga pintar.

Bagiku dia sudah menjerumuskan aku pada lumpur kemurungan. Saya tidak mampu bertahan yang akhirnya terpinggirkan. Tidak tahu apa sebenarnya yang kudapatkan dari sekolah di Cimahi, selain keminderan yang menjadi-jadi. Bahkan dari penuturan dia pada seorang temannya, dia merasa menyesal sudah menyekolahkan aku di Cimahi. Katanya, alasannya saya terlalu boros. Boros mungkin karena uang dari ibuku sudah dibelikan pada tiga celana jeans yang memang bermerek dan sudah pasti harganya mahal.

Saat SMA kemarahan pertama: saat dia memasang lampu di kamar kontrakan baru, dia menyuruhku memegang lampu tapi tiba-tiba lampu neonnya jatuh dan pecah. Masih jelas tergambar di benakku matanya dia yang melotot. Marah kedua, ketika uang dari usaha kakak perempuan yang disuruh jualan baju anak-anak, dengan diberi modal dari kakak pertama, yang tentu uangnya pun kupikir itu dari uang ibuku. Ya karena aku sedang tak punya uang buat makan, hasilnya kupakai saja.

Mungkin saat dia ke Garut untuk menagih laba bagiannya, kakak perempuan bilang hasilnya udah diberikan padaku. Setelah tahu begitu tentu marahlah dia padaku. Dan marah ketiga, dan ini sudah membunuh karakterku, “tong meli buku teu perlu-perlu teuing mah…..” Memang, mungkin benar nasihatnya. Tapi ketika saya punya kegairahan pada membaca, lantas itu dilarang-larang. Aku sedang mencoba pencarian. Sama saja dia telah melarang semua bahwa saya tak boleh membeli buku dan melakukan ini dan itu.

Bagi yang sekedar membaca catatan ini, tanpa tahu kronologi dan bagaimana perasaanku sejak kecil yang terus diam ketika dimarah-marahi, dimarahi tidak hanya oleh kakak sendiri, tapi oleh paman, oleh ibuku sendiri, bagaimana sebab-akibat di sekitara kata yang dituliskan kakakku itu mungkin sikapnya biasa saja. Tanpa tahu sisi emosi apa sejak mulanya sampai aku dengan diberi kata-kata lewat pesan itu seperti ditusuk sembilu. Memang hanya begini smsnya:

“vyan omat omat 1000x mun kotor sapukeun, jaga kebersihan da lain kandang domba. Terakhir mere kasadaran teh.. Pertimbangkeun.. Da kara motor oge laporan malik nyakitkeun. Kudu dipikir. Kade jugutna mun bala sing rajin bersihan.”

Ya, begitu saja kata-katanya, tanpa saya kurangi sedikit pun.

Jangankan pada saya sebagai adiknya, pada ibunya sendiri sering memberi kata-kata yang menyakitkan. Itu penuturan ibu saya sendiri. Kalau pada ibunya sendiri begitu, apalagi pada adiknya pasti akan lebih berani, tanpa dipikir bahwa kata-katanya itu akan menyakitkan. Apalagi pada orang lain ketika tawar menawar ongkos sering dia ego banget tak ingin mengalah. Filosofis hidupnya hanya meminta, bukan memberi pada semesta. Karena di otak pikirannya selalu kurang dan kurang, takut tidak cukup uang, akhirnya marah-marah pada sopir ingin ongkos murah.

Pada adik bungsunya, pada adiknya yang kedua laki-laki dan ketiga perempuan, ia pernah berantem saling mengumbar kata-kata tanpa pengendalian. Sikapnya dia pada semua saudaranya, pada ibunya penuh kemarahan sampai bertahun-tahun. Cara berpikirnya tak dapat kucontoh, bahkan kata bibiku, jangan jadi contoh kakak seperti itu.

Sebenarnya setelah dikirim pesan itu, saya ingin jawab, “arek ditemalan”. Tapi dipikir-pikir akankah baik jadinya nanti, apakah nanti masalahnya akan panjang dan runyam. Ingat, pada ibunya sendiri suka marah-marah, apalagi pada orang lain. Ingat, bibiku bilang jangan jadi contoh orang seperti itu, “tong diturutan lanceuk jiga kitu”.

Memang, saya dapat memahami kenapa dia memiliki sikap atau mungkin sudah karakternya dia begitu. Dia adalah korban pertama keluarga broken home. Tapi kalau dibandingkan seharusnya aku yang jadi korban paling menggenaskan. Dia pernah menikmati kasih sayang saat ibu dan bapak berkeluarga, dia menikmati ketika usaha bapak lumayan maju di bidang perkreditan dulu di Karawang. Tapi saya sebagai bungsu, tak ingat dan tak pernah merasakan bahkan ragu apakah benar ibu dan bapak, mereka pernah kawin dan melahirkanku.

Tapi mungkin benar juga, lebih baik tak ingat sekalipun. Karena mengingatnya adalah siksa. Mungkin dulu dia merasakan manisnya kasih sayang ibu dan bapak, tapi tiba-tiba hilang semuanya dan di saat besar ingin memenuhi segala keinginan, ingin kawin tapi tak ada dorongan dan dukungan yang akhirnya merindukan kemana kasih sayang yang pernah didapatkannya itu selama kecil.

Tapi saya benar-benar tak merasakan ada harmoni keluarga. Jadi sejak semula, sejak kecil bukannya cakrawala pikiran dan anasir perasaan kian besar, tapi ini kedirianku mengecil dan kian minder saja dari hari ke hari dari tahun ke tahun.

Makanya sekarang aku sedang sibuk untuk memperbaiki hidupku sendiri. Aku sedang fokus mencari kemungkinan nasib, dengan mencoba membuat cerita novel. Namanya menulis harus berdarah-darah menyusunnya. Harus fokus pada gagasan yang ingin dikemukakan. Saking ingin fokusnya aku sampai lupa pada makan dan mandi. Itu untuk kebaikanku sendiri, sampai lupa makan. Bagaimana buat kegiatan lain seperti menyapu dan mengepel.

Dia seribu kali meminta untuk bersih-bersih rumah. Mungkin itu saja permintaannya, atau mungkin sebenarnya karena marah aku sudah melaporkan begini-begitu akibat motorku rusak dipakai dia. Rumah besar yang kutinggali sendirian, dan aku sedang konsentrasi penuh pada tulisan dari pagi sampai malam, sampai lupa makan, dan ini ada orang lain menyuruh kegiatan lain yang siapapun akan ogah-ogahan dengan rumahnya yang luas dan tak betah sebenarnya tinggal di rumah seperti ini.

Sekarang harus kudapatkan kerja lagi dan nanti aku akan kost. Tidak ingin aku tinggal disini lagi. makanya sangat mendambakan aku menikah dan nanti hidup di dekat rumah mertua. Tak kutemukan kedamaian di lingkungan rumah sendiri. Keluarga bukannya mendukung ini bisanya marah-marah.Suatu saat akan kubunuh dan atau terbunuh sendiri karena karakternya. Aku akan melawannya. Tunggu saja saat-saat di titik kulminasinya.[]

NOTE : untuk gambar copas dari http://galuhkiwari.wordpress.com


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori