Oleh: Kyan | 21/11/2013

Lagi-Lagi Uang, Lagi-Lagi Kehidupan

Rabu, 20 November 2013

Lagi-Lagi Uang, Lagi-Lagi Kehidupan

##

uang-lucu-model-cantikCatatan ini kutulis ketika lama lampu padam sejak pagi sekitar jam delapan, sekarang sudah jam lima sore ketika kumulai menulis catatan ini lampu belum jua menyala. Memang, tahun ini adalah masa-masanya PLN sering bertingkah genit bak perawan yang ingin jadi pusat perhatian. Selepas salat asar tiba-tiba muncul pikiran soal uang. Uang lagi-lagi uang, seperti Abiem Ngesti feat Erie Suzan yang berdendang Ini Jaman Uang.

Saya tidak tahu apakah di zaman Rasul, zaman Khulafa, masa Umar ibn Abdul Aziz, dan Harun Ar-Rasyid umat muslim otaknya banyak dipenuhi dengan pikiran uang, membicarakan soal uang dan keuntungan. Apakah rakyat daulah khilafah mengisi otaknya hanya mengisinya dengan pikiran uang dan uang seperti dialami oleh umat zaman kini? Setidaknya aku merasakan begitu saat ini.

Ya, setidaknya kenapa setiap hari selalu khawatir soal uang, ingin punya uang banyak. Karena secara dangkal pikiran pun kalau kupunya uang banyak bisa melakukan banyak hal: bisa membantu orang-orang, memberi adik uang buat biaya sekolahnya, membeli pusaka yang sudah terlanjur dijual pada orang lain dan seharusnya dibeli kembali, ingin merenovasi rumah nenekku untuk tempat kepulanganku dan berkumpulnya sanak famili di saat lebaran dan hajatan, untuk punya rumah di Batam untuk ibuku supaya tak lagi ngontrak terus bertahun-tahun, bisa memberangkatkan ibu umrah dan haji, dan terutama aku bisa kawin segera.

Memang, andaikan saja sekarang ada uang hibah dari seseorang buat biaya saya nikah, bisakah secepatnya saya akan menikah? Kalau ada orang yang memberiku modal untuk membangun usaha, apakah dalam beberapa masa akan kembali modal dan bertambah?

Tetapi kupikir uang bila kupunya uang banyak itu bisa mengukuhkan rasa percaya diriku untuk mendekati wanita yang benar-benar ingin aku nikahi. Bukankah seperti kata teman, katanya kalau belum tahu nih soal perempuan bahwa ia ingin praktis-praktis saja. Tidak tertarik dengan konsepsi-konsepsi hidup, ungkapan-ungkapan puitis gombal, dan cerita picisan lainnya. Memang pada awalnya, sebagai pendahuluan saja hal itu menarik, tapi setelahnya untuk tetap hidup bisa berjalan, untuk tetap bisa jalan-jalan, makan-makan saat bermalam mingguan, atau buat traktir kawan, itu tidak cukup dengan kata cinta dan sayang. Kamu punya duit gak sih….???

Bagaimana lagi ketika menikah resepsinya butuh biaya sewa gedung, membeli aneka jenis masakan dan makanan, memberi mahar sebaik-baiknya sebagai harga kehormatan perempuan, membikin hajatan sebagai gaung syukur yang kalau tak diramaikan apalagi diam-diam menikahnya sering kualat tidak berumur panjang. Pemberitaan atau penyambutan pesta pernikahan bahwa dua sejoli, sang pengantin sudah mengakhiri masa lajangnya dan sudah memiliki dan dimiliki. Apalagi setelah menikah sebagaimana dalam biodata taarufku, suka atau tidak suka, begitu selesai akad nikah, hidup kami harus terpisah dari orang tua dan mertua. Biarkan kami menjalani hidup baru dengan lika-likunya untuk bisa ngontrak tempat tinggal berdua, atau membeli rumah RSSS…

Tidakkah itu butuh uang?

Aku bersyukur hari ini, aku bisa makan dan uang di dompet masih ada beberapa lembar. Begitupun merintis bisnis brand merek ASI7 harus tetap berjalan meski masih negative spread. ASI7 adalah nafas hidupku, sebagai eksistensi pribadiku, sebagai kebanggaanku harus tetap berjalan, bertahan dan mengupayakan mengembang mekar. Tapi aku tidak bisa terus-terusan diam, karena konsumen masih jarang, meski promosi sudah kujalankan dengan membuka panepage dan blogsite ASI7, sudah saatnya kucari pekerjaan lagi. Keuanganku sudah menipis. Bukankah orang lain menilai harga diri kalau ia sudah punya pekerjaan, punya kegiatan yang jelas.

Memang sering tiba-tiba muncul saja sms ada yang pesan buku. Entah mereka mengetahui ASI7 dari panepage fb atau dari blogsite. Tapi itu tidak setiap hari, bahkan dalam sebulan mungkin hanya seberapa jumlahnya. Untuk mengambil porsi untung sekian persen pun rasanya aku sungkan. Padahal kupikir konsumen pasti akan mau saja. Karena buku yang dipesan buku langka, sudah tak ada di pasaran, makanya kudagangkan fotokopinya. Tapi tidak selalu pembajakan karena sering kucari-cari dulu di Palasari yang barangkali stok masih tersedia. Tapi kalau sekiranya sudah tak ada, apalagi konsumen bilang sudah mencari ke toko online hasilnya nihil, maka jalan terakhir adalah pembajakan. Ya, aku bisnis pembajakan.

Aku jadi ingat dulu pernah juga bisnis backup CD/VCD itu adalah pembajakan. Ya, tapi aku juga jualan sprei, pernak-pernik Akasi, gantungan kunci, gantungan handphone, kopi jahe Asy-Syifaa, dan Tugu Salam, tapi permintaan konsumen lebih banyak pada fotokopi buku.

Mungkin karena konsenku sejak dulu hanya pada buku, menyediakan makanan dan lainnya hanya sebagai pengembangan dari kafetaria yang dulu kubuka, yang sekarang tersisa etalasenya dan kaleng-kaleng makanan.

Inti bisnisku ingin menyediakan dua kebutuhan pokok manusia, yaitu makanan jasmani dan makanan rohani. Cukup itu saja gagasannya. Bila tak jua berkembang sejak buka tahun 2004 apakah gagasannya tidak cukup gila atau aku belum bisa mengejawantahkan pada hal praksis. Sebenarnya apa varian yang dibutuhkan manusia itu. Makanan jasmani sudah tentu soal pangan, soal sandang ingin aku punya bisnis kain atau pakaian atau busana muslim dengan bidikan khusus perempuan. Soal baju ialah khas perempuan. Makanya ingin aku menikah nanti istriku bisa berbisnis busana rumahan. Tapi akh, seandainya saja aku diberi pilihan, satu pun belum ada dan jelas mau padaku. Aku ingin punya istri yang dapat mengelola bisnis keluarga. Dan pelajaran dari pengalaman teman SMP, berjibaku istri harus diberikan hak sepenuhnya pada istri untuk mengelola dan mengambil keputusan-keputusan bisnisnya. Atau silakan saja menjalankan bisnis apapun inginnya, tetap aku harus mendukungnya.

Tapi ada yang mau padaku saja aku sudah bersyukur. Aku tidak yakin saja apakah ada perempuan yang mau menerimaku apa-adanya? Karena perjalanan hidupku penuh liku, tapi memang perempuan yang didamba sudah kutuliskan di biodata taaruf yang sampai sekarang berkasnya belum pernah kuberikan pada seorang pun. Entah sudah berapa orang baca karena filenya sudah kupajang di blogsite ASI7. Tapi sudahlah tak perlu banyak bicara lagi soal mencari pendamping. Sekarang harus kupikirkan raihan nasibku. Aku harus memulai lagi kehidupan baru, semua serba awal, aku sebaga pemula untuk menyiasati hidupku.

Seperti Steve Jobs ketika usia 30 tahun didemplang dari perusahaan yang didirikannya. Kehidupan masa kecil beliau mungkin menyakitkan, seperti juga diriku. Sepertinya aku akan mencari kerja lagi, apapun saja yang maunya nanti aku bisa menduplikasi bisnis dan pengembangannya. Kupikir akan percuma aku bekerja di perusahaan bonafit dan aku hanya sebagai kacung karyawan, apalagi seperti kemarin bilapun bekerja puluhan tahun tak ada uang pesangon untuk pensiun. Ini fakta temanku yang sudah bertahun-tahun bekerja, kupikir akan diberikan uang pesangon, tapi tak sepeserpun.

Sekarang sedang kucari pekerjaan yang nanti aku bisa belajar manajemen bisnisnya secara keseluruhan. Sebab misalnya jadi PNS pun tak menjamin dapat memenuhi hasratku itu. Apakah nanti menjadi PNS bisa mendirikan sebuah negara untuk ribuan pelamar yang ingin jadi PNS untuk berbakti pada negara? Bagi hidupku adalah duplikasi, aku sudah dipekerjakan dan saatnya nanti memperkerjakan orang-orang. Bagiku itulah konsep berkah. Bagaimana aku yang mulanya senoktah mani yang dibuahi ovum, kehadiranku di dunia harus menjadi berkah bagi semua, bagi manusia, bagi hewan, tumbuhan, alam atau bahkan syetan sekalipun.

#

Uang 1000 GayusEntahlah tulisan ini apakah isinya terlalu pribadi sehingga katanya tak pantas dipublikasi di situs jejaring sosial. Sejak tahun 2004 aku suka coret-coretan tangan, telah ratusan lembar kutuliskan anasir perasaan dan rumusan pikiran. Tapi entahlah aku hanya ingin apresiasi sejak dini, ingin orang-orang tahu apa yang jadi pikiran dan perasaanku. Sebuah karya bagiku intinya adalah apresiasi yang ketika di jejaring sosial ketika kita bikin status orang lain yang membaca, sudah memberi jempol, apalagi komentar, itu sangat membuat senang. Setidaknya itu perasaanku. Tapi kalau kamu itu urusanmu…

Jawaban kenapa dipajang di situs jejaring sosial kenapa tidak cukup sendiri saja atau lebih baik dimunajatkan pada Tuhan di sepenggalan malam. Tapi bagiku sudahlah tentu Tuhan Maha Mendengar sejak bisikan-bisikan, bahkan munculnya segala pikiran perasaan itupun karena kudrat iradah-Nya. Tapi kata adalah tonggak pencapaian kebudayaan manusia dalam laku sosial, bagaimana mengungkapkan maksud dari hati ke hati, dari jiwa ke jiwa, disepakatilah simbol-simbol dan metafor antara manusia dengan manusia. Muncul pahatan dan ukiran di dinding gua bagi manusia purba, diciptakan huruf Pallawa, Sansekerta, Hioreglif, atau lukisan, kurasi patung, sampai sastra, sampai fotografi, video dan film, sampai film animasi semua merupakan media ungkapan dan komunikasi sosial.

Tak terdengar azan magrib ketika sudah waktunya. Hari sudah gelap, tanpa penerangan, harus kusudahi tulisan ini. Maksudku menulis catan ini, hanya mengisi kesuntukan saja sudah seharian mati lampu. Setelah salat asar kuraih pulpen dan kertas tak terpakai, aka jadilah tulisan ini yang belum dikembangkan. Maksudku, dalam kondisi bagaimanapun adalah bonus, saat mati lampu tak membuat diam dari melanjutkan kegiatan yang disuka, untuk bisa berkarya untuk semua.[]

NOTE : gambar lucu copas dari searching google.com

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori