Oleh: Kyan | 01/12/2013

Menuju Perilaku Seks Beresiko

Minggu, 01 Desember 2013

Menuju Perilaku Seks Beresiko

##

Tepat di hari pertama Desember sebagai Hari AIDS sedunia, menginjak mau jalan enam bulan aku sebagai pengangguran. Meskipun aku berargumen setiap hari sibuk “tutulisan”—mengedit catatan harian menjadi novel—tapi itu tidak atau katakanlah belum memberikan penghasilan, tetap saja akan dianggap sebagai pengangguran.

Dan kosakata yang sebelumnya dikenal seks bebas, sekarang dipositifkan menjadi seks beresiko. Dan kaitannya denganku sebagai pengangguran, tak bisa lepas di sela-sela kesuntukan sebagai bujangan, atau saat kemandegan mencengkramku tidak menemukan ide pengembangan tulisan, ditambah kantuk yang sudah kejang-kejang, biasanya untuk me-refresh-otak, ya dengan menonton adegan-adegan hot. Ya sesekali sebagai lelaki normal, meski tahu itu berbahaya.

Tapi sebelumnya aku ingin jujur mengatakan dengan prilaku menyimpang ini. Sudah bosan aku mengunduh, menontonnya dicepat-cepatkan, lalu dihapus, ketagihan lagi, mencari-cari lagi, mengumpulkan lagi, menonton lagi, dihapus lagi, dikembalikan lagi, dan terus lagi yang mungkin selama aku masih bujangan akan berperilaku demikian. Ingin kuhentikan ini dengan menikah segera dan segera dengan alasan apalagi aku menunda.

Akhirnya karena mengunduh itu menguras waktu dan uang, sekarang kubiarkan saja video porn durasi panjang kualitas HD 1080 mengendon di folder komputerku. Belum taubat untuk membuangnya segera yang keberapa kali itu.

Seperti dilansir sebuah survei di Kanada, bahwa urutan pengakses porno terbesar di dunia, kalau tidak salah urutannya adalah: Amerika, Kanada, Jepang, Indonesia, Spanyol, Turki, dan China. Amerika dikatakan wajar menempati urutan pertama, karena produsen utama film-film porno, begitu pula Jepang dan China.

Lalu Indonesia, yang aku tidak tahu apakah ada perusahaan resmi atau hindi yang memproduksi film adegan cabul, selain kabar terbaru telah beredar video porno yang dilakukan anak SMPN 1 Malangbong Garut, sudah diketahui pelakunya yang dilihat dari jam tangan yang dikenakan perempuannya, dan tato laki-lakinya, dan selanjutnya lagi orang tua siswa sudah mengundurkan surat pindah sekolah. Sudah malu orang tua, tentu pelaku akan kena cibiran dan hinaan, yang bagi saya sebenarnya mereka bukan pelaku, tapi korban. Korban budaya zaman kini yang kenapa anak-anak kita tidak dicerdaskan oleh didikan orang tua, agama, dan negara.

Tapi perlu dijadikan perhatian, China sebagai produsen ketiga film porno, tapi penduduknya menempati urutan kesekian, yang padahal ia adalah penduduk terbesar dunia. Karena masyarakatnya tidak banyak ongkang-ongkang sehingga membuncah libido seksual. Meskipun sebenarnya seks juga untuk mengobati kesuntukan stress kerja. Seiring kemajuan ekonomi dan produksi China yang membombardir negara-negara lain, warga negaranya sibuk bekerja, sehingga tak sempat waktu atau semakin jarang atau berkurang orang-orangnya mengakses video porno.

Tapi Indonesia dan Turki, dua negara muslim tapi menempati urutan atas. Bahkan dikatakan di Turki orang-orangnya sudah berani men-share video atau laman porno di situs jejaring sosialnya. Saya mengaku muslim Indonesia, adalah salah satu pelakunya yang suka mengunduh video porno.  Kalau kata orang, kalau hanya sewaktu-waktu saja sih wajar-wajar saya, seperti halnya onani atau masturbasi yang kalau terus-terusan itu sangat berbahaya. Meskipun alasan sisi lain dikatakan itu demi metabolisme tubuh dan memang seks adalah obat mujarab stress, kata teman saya.

Tapi karena efek rangsangan dari adegan cabul, jangka pendeknya onani dan jangka panjangnya onani dan masturbasi berkali-kali, dan menuju perilaku menyimpang lainya. Kalau ada kesempatan ia akan menghamili pacarnya, atau bisa langsung pergi ke pelacur. Berbahaya onani dan masturbasi, tidak hanya memaksa keluar air mani, tapi banyak mengeluarkan cairan-cairan semacam testosteon dan hormon lainnya yang berdampak pada meningkatnya gejala stress.

Stress, karena tidak ada penyaluran libido.

AIDS Day

AIDS Day

Sampai kapan aku berperilaku berbahaya, atau menuju berbahaya, atau menuju mencicipi pelacuran, atau mencari-cari punya pacar yang bisa diajak ML, dan karena ketagihan enaknya mencicipi hidangan daging segar, akhirnya mau lagi dan lagi yang kalau pasangan sebelumnya tak mau, mencari pasangan lain, dan menjadilah orang yang berperilaku seks bebas atau seks beresiko.

Kenapa sih manusia harus dihadapkan pada masalah ini. Kenapa manusia memiliki gejolak sahwat dan membuat kalang kabut kalau tidak disalurkan. Sudah tentu agama melarangnya, tapi cukupkah dewan fatwa hanya melarang-larang saja. Aku pun tidak mengerti kenapa tidak mampu mengekang untuk mengakses video porno. Kayak tidak punya pekerjaan penting saja dan buang-buang waktu saja. Padahal dari puluhan bahkan ratusan video porno, bentuk payudara wanita dan vagina sedetil-detilnya dari video HD 1080, sama-sama saja tak ada perbedaan antara satu wanita dengan wanita lain.

Hanya daging yang membikin sensasi dan fantasi karena belum pernah memegangnya dan ingin mencoba sekali saja mencicipinya. Mata yang melihat, tertangkap sinyal yang oleh syaraf motoris dan sensoris diteruskan sampai ke otak, membuncah bangkitnya hormon seksual, sehingga menjadi dorongan pada tangan untuk bermain-main dengan kelamin. Dan karena itu terekam di memori adegan demi adegannya yang memberikan kenikmatan tersendiri, ketika muncul kesempatan suatu ketika, tanpa landasan iman yang kokoh, tanpa rasa malu yang besar, akhirnya menggunakan kesempatan untuk berperilaku amoral: pencabulan, pemerkosaan, dan penghamilan.

Kenapa berani menuliskan pengakuan ini, karena ini bukan masalah pribadiku sendiri, tapi masalah masyarakat secara keseluruhan, masalah bangsa dan umat Islam yang secara sabda Islam sangat melarang dan fatwa agama sudah tak begitu mempan. Ketika para pemuda terus-terusan dibombardir informasi esek-esek, langsung atau tidak langsung, akhirnya mereka yang tidak mendapatkan saluran membuat ia kalang-kabut mencari-cari, dan kalau tak menemukan akhirnya stress sendiri.

Pemuda/pemudi zaman sekarang adalah pemuda/pemuda yang paling sengsara di dunia. Setiap hari dihadapkan pada informasi yang mengarah pencabulan, tapi dikekang untuk tidak segera kawin yang katanya demi alasan karir dan masa depan. Kebutuhan seks seperti kebutuhan makan. Tidak bisa ditahan-tahan kalau sudah lapar atau diganti dengan lain-lain. Sampai kapan berpuasa terus-terusan menahan kebutuhan yang paling krusial ini. Ini normal sebagai laki-laki dan perempuan diberi hawa nafsu untuk berkembang biak meneruskan kehidupan.

Bukankah cerita Adam dan Hawa adalah cerita seksual yang tertera di Alquran dan Alkitab? Untuk tidak mengatakannya porno, tapi bisa saja kita menyebutnya cerita porno tapi dikemas secara elegan dan kemanusiaan maksudnya Tuhan. Bahwa manusia begitulah adanya: memiliki hawa nafsu yang harus dibersihkan dari lendir-lendirnya, harus digosok dari gumpalan-gumpalan chaos kemanusiaan, untuk bisa bersih sebersih-bersihnya, hati menjadi suci sesuci-sucinya, menuju nafs muthmainnah, di mana ia akan memperoleh ketenangan hanya dan tidak bisa di tempat lain kecuali di sisi Tuhan.

Bagi siapa yang menemukan tulisan ini mungkin akan miris membacanya. Engkau akan mengucap istighfar berkali-kali.. Astaghfirullah.. astaghfirullah.. Tapi bagi sahabat dan teman, tidaklah cukup mengatakan “stop” berperilaku merusak diri sendiri, membiarkan diri menjadi bara api neraka dunia dan akhirat nanti. Dari sahabat dan teman dibutuhkan penguatan, bukan pelemahan. Semestinya dengan kasih persahabatan dan pertemanan, untuk membantu yang tidak hanya mengatakan itu dosa dan ini dosa, tapi bagaimana membantunya untuk sampai pada jalan keluar. Memberi rekomendasi calon pendamping misalnya. Kalau berkomentar hanya bisa menyakitkan, lebih baik diam. Karena siapapun tahu bahwa ini dosa dan itu dosa. Tapi bukan sekedar itu masalahnya.

Mungkin kalian kalau dihadapkan pada jalan berliku hidup seperti yang kualami, dari kecil sampai besar, apakah akan tahan untuk tidak mati bunuh diri. Lalu kenapa sampai menginjak usia tiga puluh belum juga kawin-kawin. Masalahnya karena aku belum kawin-kawin, sehingga muncul ide menuliskan catatan ini. Kalau curhat di situs jejaring sosial hanya menjadi bualan-bualan saja, komentar yang bukan menguatkan tapi melemahkan. Dan terlalu beresiko kalau cerita terlalu pribadi, terlalu sensitif, mengumbar cerita dosa sendiri, yang padahal dosa biarlah Tuhan dan pribadi sendiri yang tahu. Jangan disebarluaskan kalau tidak menjadi bahan permenungan.

Waktu akhirnya habis untuk hal-hal yang amoral. Tidak mencoba membangkitkan potensi jiwa-jiwa luhur untuk bisa sampai pada Tuhan. Tapi terjerumus ke dalam lumpur kenistaan sebagai lelaki bujangan yang rentan. Kepada siapa aku berkata dan bagaimana lagi aku berkata.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori