Oleh: Kyan | 02/12/2013

Jalan-Jalan Panggilan Tes Kerja

Senin, 02 Desember 2013

Jalan-Jalan Panggilan Tes Kerja

##

Duduk menunggu Zuhur di pojok mushala Gramedia Jl. Merdeka. Setelah sekitar satu jam mengitari area buku-buku diskon dan beranda pajangan buku-buku baru. Sendirian. Karena tiba saatnya azan Duhur masih empat puluh menit lagi. Maksudku untuk menghimpun energi, menenangkan hati dalam hening sendirian.

Jangankan di mushala, di area pajangan barang jualan pun suasananya agak sepi. Mungkin karena Senin, ditambah masih pagi, orang-orang masih sibuk di rumahnya, di jalan, atau sudah di kantor. BEC saja masih belum buka, sehingga di depannya sudah berkumpul beberapa yang entah karyawan konter-konternya, atau pengunjung yang hendak mencari-cari sesuatu.

Memang wajar suasananya sepi. Orang-orang datang kesini kemarin, saat libur menikmati akhir pekan dengan jalan-jalan. Sedangkan aku baru sekarang yang maksudnya pun bukan hendak jalan-jalan. Tapi mungkin saja beberapa menit lagi, atau beberapa jam lagi suasananya akan lain. tapi untungnya masih sepi begini, mau kubaca buku yang terpajang, yang sudah tak ada sampul plastiknya, aku tidak akan sebebas dan puasnya membaca. Tidak saling rebutan dengan yang lain.

GO The King

GO The King

Seperti tadi sudah kubaca buku “99 Cahaya di Langit Eropa” yang sudah diangkat ke layar lebar dengan tayang perdana 05 Desember di bioskop. Meskipun buku ini sudah kupunya, tapi terbitan baru ada sisipan perjalanan scene film-nya. Dikatakan filmnya akan dibikin dua, seperti KCB dan Perahu Kertas, yang sama-sama pula adaptasi dari buku novel. Sebagaimana cerita buku, syuting film benar-benar dilakukan di lokasi sesungguhnya: di Kahlenberg Wina, Museum Wina, Paris, Galeri Sully, Museum Louvre, Cordoba, Granada, Hagia Sophia dan Masjid Biru. Aku benar-benar ingin menonton filmnya.

Sebentar ke area Majalah, kubaca esei dari Gatra tentang Jilbab Polwan. Bersyukurlah Indonesia, tidak atau jangan sampai seperti Turki yang melarang-larang perempuan tidak boleh pakai kerudung, dan pula jangan seperti Arab Saudi dan Taliban, yang mewajib-wajibkan perempuan memakai kerudung dan burqa. Tapi Indonesia adalah negara Pancasila, yang berke-Tuhanan yang Maha Esa. Tidak boleh lembaga negara melarang individu masyarakatnya menjalankan ibadah dan keyakinannya masing-masing. Meskipun ada sebagian kecil mengatakan bahwa kerudung itu budaya arab, tapi memakai kerudung adalah kewajiban agama, itulah mayoritasnya. Indonesia sekarang bukan Indonesia dulu yang kalau melihat ada yang pakai kerudung disangkanya udik, tapi sekarang Indonesia adalah lautan jilbab. Hijab sudah jadi pembeda, sudah trend setter, dan menjadi industri tersendiri.

Tapi petinggi Polri yang mengirim telegram supaya ditunda aturan jilbab polwan, ia adalah didikan orde baru, yang otaknya sudah dicuci bahwa keseragaman adalah kepatuhan dan keberwarnaan adalah bibit-bibit perpecahan. Dikatakan karena tak sedap dipandang kalau jilbab-jilbab yang dikenakan polwan beraneka, yang dikhawatirkan melambangkan partai-partai tertentu.

Logika berpikir yang perlu diluruskan. Apakah baju kenegaraan pun dianggap warna partai? Apakah warna baju yang kukenakan menandakan anutan sebuah partai? Apakah memang partai itu mulutnya besar, menganga lebar sehingga memakan semuanya. Partai hanya bagian kecil dari kegiatan politik, yang bukan berarti orang tidak masuk partai ia tidak berpolitik. Tapi memang kebesaran partai sudah menjadi dewa, sudah menjadi kereta panjang pengangkut petualang-petualang bisnis dan kekuasaan, sudah jadi momok menakutkan, bahwa ia seolah raksasa tiga perempat penghuni Indonesia.

Sudah cukup update cakrawala, lalu kembali ke area buku-buku diskon. Tertarik dengan buku profesi Akunting dan Penulis Skenario, dua ragam profesi dari buku-buku yang diperuntukkan buat SMK. Disebutkan isinya memperkenalkan seluk-beluk profesi mulai dari gaji sampai jenjang karirnya. Kulihat buku profesi perawat stok bukunya tinggal beberapa. Mungkin sudah ada yang borong, atau memang laris, karena sekolah kesehatan bertebaran dimana-mana. Lalu ke area novel-novel, tidak banyak buku menarik dibaca, ditambah aku harus persiapan jam 12.30 WIB mengikuti tes panggilan kerja.

Ya, duduk menyendiri menunggu saatnya jadwal tes Staff Akuntansi Internal di Ganesha Operation. Panggilan tes pertama sejak seminggu lalu mengirimkan lamaran, sejak sebulan lalu mulai kembali hunting kerja lewat koran Sabtu dan karir.com. Baru ini aku dipanggil dari sekian kiriman e-mail lamaran kerja dan baru lima berkas kiriman lawat kantor pos.

Dengan begitu aku berasumsi, sepertinya lebih efektif mengirimkan lamaran lewat pos. Panggilan ini berkasnya baru kukirimkan Senin, lima hari kemudian sudah ada panggilan. Kalau lewat e-mail mungkin saja pesannya sudah bertumpuk sehingga terlewati diperiksa, yang boleh jadi itu pekerjaan yang diidamkan. Tapi memang lebih baik lewat keduanya, sebagai bukti keseriusan bahwa aku sangat menginginkan pekerjaan itu, bahwa aku harus kembali memperoleh sumber makan.

Mencoba menenangkan hati di sini. Teori-teori akuntansi sudah banyak kulupa, dan sekarang menghadapi lagi angka-angka. Terakhir berkutat dengan neraca dan laba-rugi itu tiga tahun lalu. Kalau ujiannya teori-teori semoga aku dimudahkan, meski bersaing dengan fresh graduate. Tapi aku sudah setahun lebih mengutak-atik laporan keuangan, fokus pekerjaan akuntansi, masa sih tak mampu menghadapinya lagi. Mengembalikan memori tentang dasar-dasar akuntansi yang kupelajari dulu. Semoga dengan tenang aku baik-baik saja menghadapi semua.

Tes jam 12.30 sudah berangkat dari rumah jam 06.30 untuk menghindari macet dan memang jauh tempat tinggalku menuju lokasinya yang berada di tengah-tengah kota. Motorku masih di bengkel, terpaksa kembali seperti dulu, bergelayutan dan berdesak-desakkan di bis kecil Madona, Cililin-Leuwipanjang. Ongkos pun sudah naik seribu rupiah yang dulu lima ribu ribu.

Pakai angkutan umum kuhitung-hitung bolak-balik sudah mau habis lima puluh ribu sehari pergi. Bagaimana kalau tiap hari. Dari rumah sampai pasar Batujajar ongkos Delman tiga ribu yang dulu lebih kecil seribu. Langsung naik Madonna dan sampai di Leuwipanjang, dilanjut naik Damri Leuwipanjang-Dago. Sudah harus naik turun, tapi senang kujalani. Aku jadi bertemu orang-orang dan melihat wajah-wajah orang.

Sampai di Purnawarman sekitar jam setengah sepuluh. Masih ada waktu mampir ke Gramedia buat baca-baca. Membaca saja, karena membeli tak cukup uang. Kuhitung sudah berapa bulan aku makan dari ibuku. Meskipun tabungan sendiri masih ada, tapi makan sudah dari ibu.

Mengharapkan segera kuperoleh pekerjaan lagi. Mungkin aku sangat cocok kalau bisa diterima di GO, sebuah lembaga pendidikan bimbel yang dulu aku pernah nakal: masuk ikut belajar pakai kartu anggota temanku. Karena ajakan temanku, yang katanya hanya duduk saja yang tidak akan diperiksa kok kalau masuk. Mereka tidak akan tahu siapa murid yang resmi dan siapa yang ilegal masuk. Kalau sebagian kawan-kawan kami oleh orang tuanya diikutkan kursus, tapi anaknya bandel. Tapi aku sangat ingin belajar, tapi tak cukup uang buat mendaftar. Maka kugunakan saja kesempatan.

Tadi ketika pertama kali datang, sedikit linglung karena depan BEC itu tak kulihat plang GO. Padahal sejak dulu sudah kutahu samping Gedung Kebudayaan Francis itu GO. Tapi sekarang malah jadi UNIBI. Tapi tiba-tiba mataku menangkap bentangan spanduk GO. Benarlah tempatnya masih di situ. Kecuali mungkin UNIBI dan GO adalah dua divisi bisnis Bob Foster yang kukenal dulu saat SMA dari buku Fisika. Buku Fisika yang kami pakai dari Bob Foster, maka sudah tenar di otakku seorang Bob Foster yang unit manajemen bisnisnya sekarang memanggilku panggilan kerja.

Satpam UNIBI memberi petunjuk ke gedung 36B. Rupanya di meja depan ada seorang perempuan berkacamata yang kuketahui kemudian lulusan STEMBI yang aslinya dari Tarogong Garut. Namaku ditempatkan di urutan pertama dan hanya aku sendiri yang posisinya Staff Akuntansi Internal. Dari data peserta tes jumlahnya 21 orang, tapi yang datang 13 orang.

Yang lelaki hanya berdua, aku dan Zoer. Ia anak Pulau Samosir lulusan Akuntansi Poltekpos enam bulan lalu. Sekarang ia tinggal di Kotabaru Padalarang. Sebelumnya tak kusangka dia anak Batak, karena perangainya kayak orang Sunda saja, lembut. Tidak seperti Batak yang kukenal dulu di Batam. Ia mendapatkan informasi kerja dari gereja, koran, dan teman-teman.

Begitu menjalani tes, memang jenis soal biasa, tapi sejak dulu suka susah aku mengisinya. Entah benar tapi mungkin lebih banyak salahnya aku mengisi jawaban. Tidak ada soal akuntansi, tapi hitungan-hitungan psikotes saja. Jelas saja aku blingsatan mengisinya, menyerah dan merawa was-was adakah kemungkinan diterima?

Kata teman perempuan yang tak sempat kuketahui namanya, biasanya sabtu depan kalau lolos baru ada panggilan lagi. Ia bercerita bahwa ada temannya yang sudah kerja di GO, sama pula jabatannya sebagai staff akuntansi internal. Panggilan pertama tes tertulis, tes kedua wawancara, dan panggilan ketiga adalah tanda tangan kontrak.

Itu sudah kujalani dan lewati, harus menghadapi langkah selanjutnya mencari-cari lagi kerja, sampai akhirnya aku bertemu jodoh sebenarnya. Tentang jodoh, ada peserta yang parasnya lumayan menarik. Ia mengenakan blazer hitam, rambutnya lurus, hidungnya mancung, dan matanya dishadow. Sempat terdengar ia bercerita, melamarnya jadi admin tapi disuruh jadi resepsionis. Mungkin karena tampangnya yang cantik, pantaslah ia jadi customer service.

Dengan siapapun perempuan, semoga di depan bertemu pandang. Suatu ketika terbentang jalan untuk kenalan bahwa seseorang itu adalah perempuan jodohku. Sekarang aku hanya bisa bersabar menerima situasinya yang bagaimana pun, kalau orang lain mengalami hal sepertiku, akan melakukan hal yang sama atau bagaimana.

Sekarang fokus punya pekerjaan lagi yang dapat kubanggakan. Melanjutkan kembali proyek novel. Dan sisanya aku bersabar dan fokus menjalani segala hal yang kuinginkan. Jangan sampai aku kehilangan arah dan tujuan. Banyak orang bekerja untuk mencapai tujuannya, janganlah aku terus berleha-leha menjadi orang lain. Aku menerima segala yang sudah terjadi. Setiap detik harus kupertanggungjawabkan. Janganlah lagi melakukan hal kesia-siaan sehingga menjauhkan dari tujuan semula. Sampai kapan mau berhenti di tengah jalan, tak meneruskan perjalanan.

Maka aku pun pulang. Kawan baru yang cowok dan perempuan orang Garut, calon Akuntansi Pelaporan ada tes lanjutan. Semua boleh pulang. Tapi ternyata di luar hujan meski tidak deras. Aku melengang saja jalan ingin kembali ke Gramedia yang tinggal berapa langkah kaki. Kembali menuju area buku-buku diskon.

Karena keputusan emosi, mumpung aku jalan-jalan ke Gramedia dan sedang diskon, jadilah aku membeli tiga judul buku: Djenar Maesa Ayu, buku cerpen 1 Perempuan 14 Laki-laki, buku wawancara dengan Paulo Coelho, dan buku puisi Lan Fang, Ghirah Gatha. Buku pertama kumpulan cerpen yang ditulis berdua antara Djenar dan 14 Laki-Laki yang proses kreatifnya bertemu di cafe, satu paragraf ditulis Djenar, lalu dilanjutkan oleh pasangannya, terus bergantian sampai disepakati selesai. Tanpa konsep gagasan cerita, tapi bagi berdua menulis saja. Bagi Djenar, tidak terbiasa menulis dengan konsep. Tidak pernah ia menulis dengan sketsa kasar di kepala seperti apa struktur ceritanya, siapakah tokohnya, bagaimana konfliknya, dan sebagainya.

Ia selalu percaya bahwa inspirasi bukanlah sesuatu yang bisa ia datangkan. Namun inspirasilah yang mendatanginya. Maka disiplin yang ia lakukan adalah, selalu setia di depan laptop ketika sedang ada waktu senggang sehingga akan selalu siap mentransformasikan inspirasi ke dalam teks ketika ia datang. Selanjutnya, biarkan dirinya menjadi objeks dan teks yang menjadi subjeknya. Biarkan teks itulah yang menjadi raja. Intuisi yang menggerakkan indra perasa.

Buku kedua, siapa yang tidak kenal dengan novel Sang Alkemis karyanya. Baru dua judul buku karyanya yang sudah kubaca: Sang Alkemis dan Di Tepi Sungai Piedra, dari dua belas buku yang sudah diterbitkannya. Ingin nanti kubaca karya perdananya, Ziarah dan Ksatria Cahaya. Ingin semuanya kupunya buku-bukunya. Karena ia bagiku adalah sepertiku. Ia dan tulisannya seolah-olah sedang membicarakan aku.

Buku ketiga, buku mengenang sastrawati Indonesia keturunan Tionghoa beragama Budha. Meninggal dengan permulaan penyakit kanker (5 Maret 1970—25 Desember 2011). Sebelumnya rasa-rasanya pernah kubaca namanya, tapi entah kapan dan dimana. Namanya seperti tidak asing bagiku. Tapi baru tahu sekarang, meskipun namanya lebih dekat dan kusangka ia dari China, tapi ternyata ia perempuan Indonesia yang telah mewariskan semangat, yang bahkan bersedia masuk pesantren untuk memberikan pelatihan menulis. Selamat jalan Mbak Lan Fang, damai di sisi Tuhan.

Turun dari angkot Ledeng-Kalapa depan Hotel Grand Preanger. Dalam rintik hujan aku melangkah gontai, memotret suasana jalan Asia-Afrika. Berhenti sebentar mengamati nol kilometer tempat dulu Daendels menancapkan tongkatnya, sambil ia berkata, “Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota.

Monumen yang di atasnya mobil kereta jaman baheula. Monumen yang mengingatkan pada Daendels saat bersama bupati Bandung, RAA Wiranatakusumah II, seusai dibangun jembatan di atas sungai Cikapundung tahun 1810, jalan Raya Pos, jalan Raya Daendels dari Anyer sampai Panarukan. Jalan yang menghubungkan daerah dengan daerah, kota dengan kota, memendekkan jarak, mencepatkan segala pertukaran antar manusia, hingga hari ini telah membuat manusia semua ingin serba cepat, telah menjebak manusia dalam hidup yang tersekat-sekat, dan tergesa dalam bertindak.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori