Oleh: Kyan | 02/12/2013

Kepalang Rambut Gondrong

Kepalang Rambut Gondrong

##

Vyan Sovyan Solehudin

Vyan Sovyan Solehudin

Saya tidak akan mengutip jawaban Rendra ketika ditanya kenapa rambutnya gondrong. Tapi setiap orang tentu punya alasan sendiri-sendiri kenapa membiarkan rambutnya tak dipotong-potong—apakah karena angin pemberontakan, karena ikut gaya artis ibukota, atau karena selera saja—dari bulan ke bulan membiarkan rambutnya terus memanjang, sudah memboroskan minyak dan sampo, karena tidak ingin gimbal seperti anak Reagge.

Mengenang Rendra, yang pernah bilang kalau orang-orang yang duduk di gedung dewan pun berpenampilan perlente, rambutnya pendek-pendek rapi, tapi kelakuannya menggasak uang rakyat, tidak mencirikan karakter sebagai wakil rakyat. Demikian jangan cepat menyimpulkan seseorang baik dan buruk, hanya dari sepatah dua patah katanya, apalagi ini dari tampilan rambutnya.

Saya pun tidak tahu kenapa dari pengalamanku sejak kecil sering acuh atau emoh pada penampilan. Kuingat dulu saat SD, tiba-tiba pamanku membawa gunting dan sisir dan menyuruhku turun dari glodok panggung rumah nenekku. Ia menyuruhku jongkok di bawah pohon jambu depan rumah yang sekarang masih ada tapi sudah lama tak berbuah. Mungkin ia risih melihat tampang keponakannya yang sudah jarang gosok gigi, kalau berangkat ke sekolah cukup mengusah wajah, ini rambutnya acak-acakan tak karuan bentuknya. Ya, seperti tak diurus saja oleh sanak-familinya.

Ketika SMP, meskipun saya ketua OSIS, tapi oleh bapak pembina (BP) tiba-tiba pula saya dipanggil menghadap. Rupanya ia mengambil gunting lalu ditekankan pada rambutku.

“Mau dicukur gak? Mau gratis biar bapak yang cukur?”

Itu sambil dikerubungi teman-teman yang melihat rambutku, yang katanya cocok jadi bintang iklan sampo ternama—ih pede—yang sebenarnya tak panjang-panjang amat, tapi harus dibabat seperti tentara, seperti potongan rambut bapak BP, supaya sesuai tata tertib siswa. Ini sudah gondrong, pula celananya terlalu panjang. “Bikin lebih pendek sepuluh centi,” tegasnya.

Ini sudah kena cemoohan anak MTs yang katanya, “Tak kedinginan tuh” harus dibikin lebih pendek lagi? Kalau perempuan yang disuruh sih itu senangnya siswa laki-laki bisa lebih mudah ngintip.

Masuk SMA, saat otak mumet mengisi soal ujian UAN, tiba-tiba muncul ibu guru BP yang sudah kesohor sangar masuk ruang ujian sambil membawa gunting. Kupikir ia akan memotong rambutku. Tapi rupanya ia cuma bilang “rambutmu cukur, rambutmu cukur..” sambil menepuk-nepukkan sisi gunting pada rambut siswa-siswa yang dianggapnya gondrong. Ingin panjang rambutku bukan karena ada cewek yang bilang, “rambutmu lebih ganteng panjang,” tapi memang sukanya aku rambut panjang.

Dan ketika kerja selepas SMA, lagi-lagi aku kena tegur supervisorku. “Vyan, rambutnya dicukur!” Begitupun kuliah yang kusangka dulu akan bebas bergaya rambut semau gue, kukira dapat menghirup kebebasan rambut yang ingin gondrong sejak dulu kuimpikan, ingin bebas berpenampilan, bahkan lagi-lagi aku berdebat dengan dua orang dosen ketika melihat rambutku yang diikat jambul kayak film kolosal. Dengan rambut panjangku sudah banyak orang yang harus kuhadapi, yang entah karena sebuah aturan atau memang tak suka dengan rambut gondrongku.

Tapi saya lupa dialog perdebatannya, yang pasti dosen dan mahasiswa saling beradug argumen dan keduanya tidak ingin kalah. Begitupun ketika ketua jurusan kuliahku mengatakan kalau jadi mahasiswa teladan atau nanti sidang, rambutnya harus “dirapikan”. Beliau bilangnya bukan ‘dipotong’, tapi ‘dirapikan’.

Sesudah kerja lagi sudah berulang kali aku ditegur kenapa rambutnya dibiarkan tak dicukur.

Perjalanan sikapku yang demikian, sejak kecil sampai besar selalu cuek dengan rambut tak karuan, kupikir-pikir sekarang kenapa sih maunya aku rambut gondrong?

Masa-masa SMP saat tenarnya sinetron Ali Topan Anak Jalanan, pernah nonton Catatan Si Boy, rambut Abiem Ngesti yang panjang, apakah karena ingin gaya ala artis seperti di layar TV?

Memang pernah ada kenangan, ada kerelaan rambutku mau dipotong, yaitu ketika kekasih yang tak dianggap itu menyuruh rambutku dipotong. Bahkan dia mau menungguku di pangkas rambut sampai selesai aku dipotong rambut. Atau ada kawan-kawan perempuan yang menyuruhku mencukur sering aku penuhi suruhannya, apalagi sampai memuji, sampai hidungku melambung ketika mereka bilang, “tampak ganteng” kalau sudah rapi dengan gaya rambut yang baru. “Tampak” bukan berarti iya.

Atau jangan-jangan aku seperti anak disleksia, yang karena ia susah membaca dan menulis, karena ia stress tak bisa juga membaca dan menulis, maka ia menyembunyikan kesulitan dan kelemahan dirinya pada kenakalan-kenakalannya. Ya, dia ingin dimengerti bahwa aku tak mengerti. Mohon pahamilah aku, perhatikan aku. Apakah ini penyakit mental?

Sekarang jaman jejaring sosial, banyak orang menuliskan, mengeluhkan, memamerkan apa yang sedang jadi pikiran, keluhan, perasaan, hardikan, dan segala apapun perilaku komunikasi sosial. Termasuk mungkin tulisan ini. Semua ingin menjadi perhatian, bahan perbincangan laki-laki dan perempuan. Menjadi pusat perhatian bukan lagi milik perempuan, tapi semua ingin apresiasi dan penghargaan.

Eksistensialis. Muncul iklan “Kepengen ngeksis pakai kartu..#sensor#” Apakah itu ego diri bahwa engkau berbeda dari aku, ada engkau maka aku ada. Mengatakan engkau, otomatis mengukuhkan aku. Kita berbeda, kita ada. Memaksa keengkauan engkau, otomatis memaksa aku sebagai aku. Menghilangkan aku, otomatis meniadakan engkau, melenyapkan engkau. Mari kita sama berbeda, mari sama-sama mengaku. Sebab norma sudah baku. Engkau tak setuju, perangilah aku.

Berlalu kemudian, bukan karena selera, bukan karena gaya, bukan karena berontak pada lembaga, tapi sekarang aku ingin wanita. Sebab kalau sudah disayang-sayang cinta, disuruh plontos pun tak apa: bahwa sang aku sudah laku semahal-mahalnya dengan mengurangkan selera dan gaya, dan menerima cerewetnya. Itu saja.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori