Oleh: Kyan | 04/12/2013

Paulo Coelho: Ziarah Bersama Sang Alkemis

Paulo Coelho: Ziarah Bersama Sang Alkemis

##

Juan Arias_Paulo Coelho

Juan Arias_Paulo Coelho

Sepuluh tahun lalu saat di Batam, saat anutan diri bahwa membaca buku cerita adalah kesia-siaan, tapi sepulang jam empat sore, tiba-tiba muncul ingin berkeliaran dulu mengitari buku-buku. Dan sampailah mataku tertuju pada buku bersampul biru yang mengusik pandanganku, dan menggerakkan tanganku untuk mengambil dan membuka-buka lembar demi lembar halamannya.

Ialah Sang Alkemis. Novel spiritual tentang realisasi impian anda.

Sudah kepincut di bab pertama, muncul denyar asmara di bab kedua, merontokkan dogma dan mempertanyakan, “Apakah benar baca buku bukan karya ulama hanyalah ‘bisikan-bisikan’?

Buatku yang entah karena ada judul kecil “realisasi impian anda” aku yang ingin meraih mimpi, tapi energi itu kian besar memusar gelombang. Meskipun sampulnya sudah kusam, tak kuasa kuhalang-halangi daya spontanitas bekerja yang mendorongku membeli saja buku yang stoknya tinggal satu itu. Membeli dengan pertimbangan emosi, yang semestinya sudah harus pulang, tapi masih ingin jalan-jalan.

Semalaman dan selepas pagi, melanjutkan membaca lagi. Begitu tamat membaca, muncul di lubuk jiwa ini bermandikan kegembiraan yang meluap-luap. Banyak kata-kata yang aku garis bawahi karena memang sarat motivasi. Padahal masa-masa itu aku hanya suka membaca buku-buku pengembangan diri. Tapi rasa-rasanya belum pernah aku merasa sesenang itu begitu selesai membaca buku ini.

Aku hanya tidak mengerti saja, suka menjadi pertimbangan memilih-milih buku yang sampul dan judul punggungnya lurus simetris, tapi cover buku ini sudah lapuk tapi mau membeli. Ini pula buku sastra terjemahan yang kubeli pertama seumur hidupku. Mungkin bagi penikmat buku sastra, ada banyak buku yang lebih bagus darinya. Tapi mungkin karena selera, karena satu frekuensi, bahwa yang diceritakan oleh Paulo Coelho adalah aku sendiri, ia sudah mewakili nafas hidupku dan mimpi-mimpiku untuk dituliskan, dikukuhkan, dan dijangkaukan pada alam buana.

Maka saat sudah Bandung, jalan-jalan ke Palasari, kudapatkan lagi satu karya Paulo Coelho, “Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu” kubeli juga. Saat jalan-jalan ke Gramedia, rupanya sudah banyak terbit judul lainnya. Bahkan Sang Alkemis yang kubeli dulu terbitan Alvabet, GPU pun menerbitkannya.

Paulo Coelho - Sang Alkemis

Paulo Coelho – Sang Alkemis

Dan sekarang sepuluh tahun berlalu, kini baru kudapatkan riwayat hidupnya secara detil dari bukunya Juan Arias, “Paulo Coelho: Obrolan Dengan Sang Penziarah. Buku hasil wawancara antara Paulo Coelho yang sudah menerbitkan dua belas buku dan Juan Arias, penulis dan reporter El Pais yang berbasis di Spanyol, peraih Italian Culture Prize dan Best Foreign Correspondent.

Barulah aku tahu perjalanan kisah hidup Paulo Coelho sedikit utuh. Mulai oleh orang tuanya pernah dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena sudah dianggap gila, menerima siksaan di penjara semasa kediktatoran Brazil, masuk perkumpulan ilmu hitam, terjerat narkoba, mencoba suka sesama jenis, menjadi anggota hippies, dan saat ziarah ke Santiago dan Kamp Konsentrasi, barulah tumbuh kesadaran untuk bisa melakukan sesuatu, untuk tidak terulang manusia kemudian melakukan kebiadaban kamp konsentrasi, untuk tidak terulang kengerian penyiksaan manusia atas manusia lainnya.

Ada kalanya penghormatan dan kepatuhan pada hukum membuat orang tidak hidup, tapi kau juga tidak bisa hidup hanya dengan anarki, begitu nasihatnya yang bagai suhu atau guru spiritual Sang Alkemis. Memang karena kepergiannya ke Santiago, karena perjalanan melewati liku-liku hidup manusia, dan ia terbuka pada segala kemungkinan yang ada, telah membawanya mengalami lompatan besar yang memberi kebebasan, hingga meyakini bahwa ada daya penyembuhan dari agama.

Maka sepulang ziarahnya ke Santiago, munculah karya pertamanya: Ziarah, sebagai anak revolusi diri dari perjalanan ziarahnya. Berikutnya terbit buku-buku lain: Sang Alkemis, Di Tepi Sungai Piedra, Kitab Suci Ksatria Cahaya, Gunung Kelima, dan Veronika Memutuskan Mati, dan lain-lain.

Tapi memang kenapa ia sekarang termasuk penulis laris internasional, diungkapkan bahwa sejak mudanya ia ingin menjadi penulis. Ia sangat mengimpikan seumur hidupnya jadi penulis. Ia selalu mengejarnya, dengan melewati sandungan-sandungan, tapi dengan kekuatan tekadnya, dan kecintaannya pada penyair Argentina idolanya, Jorge Luis Borges, disiplin menulis itu kebutuhan hakiki untuk bisa hamil menerbitkan terbit buku. Meskipun ketika duduk di depan komputer sudah siap menulis memulai sebuah buku baru, kadang rasa malas yang luar biasa mencekam datang. Tapi harus tetap bertahan. Ia bertahan yang sudah berkali-kali mengalami berbagai siksaan dari rumah sakit jiwa, ilmu hitam, dan narkoba.

Kebangkitan pertama berkat seorang psikiater, yang saat itu ia sudah mengubrak-abrik seisi kamarnya, merobek-robek koleksi buku-bukunya, dan benda-benda kesayangannya, tapi sang psikiater malah bilang, “Hebat! Sesudah merobek semuanya sampai berkeping-keping, kau bisa memulai hidup baru. Kau melakukan persis yang harus kau lakukan, tak lebih tak kurang, kau hancurkan masa lalu yang negatif untuk memulai masa depan yang positif. Sudahi mimpi buruk masa lalu, sekarang hidupmu bisa bermula baru. Kau akan mulai dari awal lagi”.

Menulis baginya untuk menjadi diri sendiri. Untuk menjadi katalisator bagi orang-orang agar menemukan dirinya sendiri, menemukan takdir personal masing-masing. Bahwa dengan berulang kali merasakan dekatnya pada kematian oleh beragam penyiksaan, ia tetap mencintai hidup, memiliki kesadaran penuh akan fakta bahwa kita bakal mati, dan barulah kita merasa seratus persen hidup. Kematian baginya, seolah-olah ia sedang duduk di depannya untuk mengingatkan setiap menit, “Perhatikan, kerjakan dengan beres apa yang kau kerjakan, jangan tunda sampai besok apa yang bisa kau lakukan hari ini, jangan pendam rasa bersalah, jangan benci dirimu sendiri”.

Paulo Coelho - Sungai Piedra

Paulo Coelho – Sungai Piedra

Perkembangan teknologi baginya, yang penting tidak menjadikannya berhala, melainkan tahu cara memakai sesuai adanya, untuk membuat hidup lebih mudah dan memberi kemampuan lebih besar untuk berkomunikasi dengan orang-orang. Dosa terbesar umat manusia adalah keterpencilan, kesendirian yang tidak diinginkan dan tidak disukai, lupa bahwa kita dicipta untuk saling menemukan, menjadi cermin satu di antara kita.

Dengan itu, berbagilah! Berjalanlah, dan menulislah![]


Responses

  1. ulasan yang cukup menarik

  2. terima kasih udh mampir Mas Arya. salam!


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori