Oleh: Kyan | 05/12/2013

Nafsu, Nafsa, dan Bla Bla Bla

Nafsu, Nafsa, dan Bla Bla Bla

##

Memori Desember, bla bla bla…

AIDS Weird-Way-to-HealBukan lagi terkenang lagu sendu Tommy J. Pisa, bukan lagi kemeriahan Natal yang hendak dirayakan oleh sebagian saudara kita, tapi ramai sekarang diperbincangkan Kemenkes akan membagi-bagikan kondom.

Dari yang saya tangkap, “Penularan HIV dan AIDS terjadi bukan di lokalisasi, tapi di luar lokalisasi” kata Ibu Menteri. Karena biaya pengobatan penyakit ini lebih mahal, harga kondom kan lebih murah. Tapi saking murahnya, langsung saja gratis dibagi-bagikan. Bukankah sudah mahal biaya membeli satu ons daging, bukankah butuh modal besar untuk bisa pacaran, untuk biaya pernikahan… ini harus pula membeli kondom.

Seperti diwartakan TVRI, meningkatnya penderita HIV dan AIDS, sebelumnya disebabkan oleh penularan lewat jarum suntik, tapi sekarang lebih besar tertular karena perilaku seks beresiko, alias seks bebas alias free sebagai anutan otak kepalanya laki-laki dan perempuan. Jumlah penderita terus meningkat epidemik di setiap wilayah Indonesia.

Meskipun tulisan ini tidak fokus, dua hal yang ingin saya sampaikan: narkoba dan seks. Selentingan pikiran saat mencuci baju sendiri. karena buat saya sekarang sudah saatnya, dan sudah cukup saja saya menulis citizent journalizm. Itu sudah lebih dari cukup. Saya tidak akan ikut kampanye melarang-larang, atau memboleh-bolehkan, atau memperlawankan sikap Kemenkes dengan penentang kerasnya.

Tapi saya meminta kepada mereka yang pernah mencoba keduanya, coba bicaralah!…

Bagi mereka yang sudah pernah mencicipi, sudah menjadi penganut mazhab serba boleh, bahwa di kamus hidupnya tak ada kata ‘pembatasan’ pada hidup yang sebentar ini, tapi sekarang sudah sadar ada yang lebih ‘ngeh’ daripada semua itu, cobalah bicara pada kami yang tidak tahu ini. Supaya kami tidak gampang dibohongi oleh iklan-iklan mie instan dan sabun mandi.

Dan beri saya kesempatan untuk berdendang satu lantunan karya cilik Abiem Ngesti, “Masih banyak barang-barang, yang halal tuan, yang tidak akan merusak jiwa. Karena narkotika semua berantakan, karena narkotika semua dilupakan…” Atau pahami maksud Rhoma Irama dalam judul lagu Haram, “Mengapa eh mengapa berzina itu haram, karena eh karena itu cara binatang…” Atau baca saja “Si Parasit Lajang” dari Ayu Utami, yang berkata bahwa saatnya sekarang perlu kecerdasan dalam memandang porno, dan narkoba.

Sekarang jaman buta dan dungu dan kita sudah dibutakan dan didungukan untuk memandang setiap persoalan secara jernih. Sudah tak mempan kita melarang-larang anak muda kita dengan mengutip kitab suci, dan terus mempertanyakan kemana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi itu berlanjut. Kecuali kita akan lebih dikatakan dengan huruf kapital, “Bulshittt…”

Maksud saya, pada sahabat dan teman, mungkin anda sekarang steril belum pernah mencicipi narkoba dan rekaman video porno. Tapi mampukah menjamin anak dan cucu anda nanti jiwanya terselamatkan dari jebakan ‘khuldi’ yang membikin kita telanjang. Lihatlah dewan fatwa MUI yang mengharamkan pluralisme, tapi diam-diam kita menjadi penganutnya. MUI melaksanakan ‘makruf’ bahwa tayangan infotainment adalah haram, dan FPI melaksanakan “nahi munkar” dengan mengobrak-abrik tempat-tempat pelacuran, lalu selesaikah persoalan? Selesaikah dengan adanya ‘Lembaga Sensor Film’ ataukah lebih baik ‘Lembaga Klasifikasi Film’, kalau masyarakatnya sendiri tak punya filter.

Bagaimana khutbah para ustadz sampai berbusa-busa mulutnya, “Jangan dekati zina”. Mendekati saja sudah tak boleh, apalagi melakukannya, apalagi membiasakannya. Lalu kawan-kawan rohis bilang, “Jangan pacaran, padahal sebenarnya ia ingin pacaran, tapi mungkin karena ‘solidaritas’ untuk tidak pacaran atau hanya karena tak laku dan tak berani saja mengatakan cinta pada kecengan. Lalu orang tua menghardik anak-anaknya, “Janganlah kau keluyuran malam, mau jadi apa nanti, dan bla bla bla melarang-larang…

Kita dibuat kalang-kabut dengan cukup mengatakan pada anak-anak bahwa kamu tidak boleh melakukan ini dan harus menjauhi itu. Tapi psikologis anak semakin banyak dilarang, semakin mengejang gejolak pemberontakan. Secara prinsipil maupun fisiologis mereka sedang tumbuh kembang sebagai anak zaman “anakmu bukan anakmu”.

Bohong kiranya memberitahu anak muda seakan-akan narkoba itu mengerikan, tanpa makna, dan tak menyenangkan. Tapi justru sebaliknya narkoba sangat berbahaya dan sulit dihentikan ialah karena daya tariknya. Dan siapakah punya kendali atau daya kekang pribadi untuk ‘mau’ menghentikan semua, selain dirinya sendiri?

Dengan berkata larang-larang, sehingga ada kota bernama “Padalarang” justru semakin menggugah daya tarik mereka pada narkoba, menjadikan anak SMP ingin mencoba mencicipi seks pertama dengan melepas keperawanannya, dan sebebas-bebasnya anak SMA berperilaku menghamili anak-anak gadis yang sudah dibesarkan dan dijaga oleh orang tuanya, lantas remuk redam kenapa sudah jadi orang tua malang. Tapi anak-anaknya hanya cukup menerima, karena itu nikmat katanya.

Sekarang cukuplah sudah mengatakan itu dan ini buruk buat mereka. Karena dengan terus menjelek-jelekkannya, melarang-larangnya, justru akan melempar satu generasi ke dalam cengkramannya. Saatnya anak muda perlu diberi perluasan cara pandang, bahwa sesuatu yang menghasilkan efek-efek yang sedemikian nikmat itu, menjadikan fly sampai lepas kendali dari landasan akal sehat, pada akhirnya akan mengubah mereka menjadi manusia-manusia berantakan, menjadi orang yang tak sanggup lagi mengendalikan kehendak mereka sendiri.

Diri yang terpancar dari ruh ilahi, tapi nafsu jiwa semakin menggumpal terlumur lendir-lendir sakau ingin coba-coba, yang ingin menikmati hidangan daging segar, ingin mendapatkan efek-efek halusinasi yang fantastis, tapi setelah semua itu: terjerumus pada ketidakmungkinan akal sehat bekerja semestinya, menghancurkan sedikit demi sedikit, memupuskan semangatmu, mengubahmu jadi mesin dan budak industri dagangan daging dan trafficiking. Tak mampu mengambil keputusan secara rasional menuju mimpi dan cita-citamu sendiri.

Semua menjadi jebakan, semua menjadi perangkap syetan, iblis dan dajjal. Dan janganlah pula BNN melaksanakan dusta besar dengan tayangan iklan sebagaimana dusta pabrik rokok mencantumkan stiker di kemasan bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, dan bla bla bla… Sampai ribuan simpatisan pergerakan dan haraqi turun ke jalan-jalan berkampanye STOP dan STOP, dan bla bla bla…

Tapi justru dengan melarang-larang, lihatlah aku dan kaum muda kita terhipnotis dan giat mencari-cari. Meskipun di setiap tempat polisi menangkap bandar narkoba dan gembong mafia, tapi apalah daya kita telah menciptakan semua. Meskipun Kemenfoinfo sudah memblokir jutaan konten porno setiap menitnya, tapi berapa jumlah situs porno yang lebih baru berdiri, untuk menuju bandul keseimbangan hukum dagang permintaan dan penawaran. Semua ada karena kita sama-sama mewujudkannya.

AIDS hanyalah asap dan jilatan api adalah kehancuran peradaban bumi. Semua menjadi suluh dan pemantik api. “AIDS No! Free Sex Yess,” kata Cak Nun dulu. Tapi sekarang faktanya, “AIDS Yess, Free Sex Yess”. Mulut kita mengucapkan oh tidak oh tidak, tapi hati kita berteriak Ya ya ya…— Ya, membagi-bagikan kondom untuk tahu fungsinya. Ya, jangan dekati AIDS-nya tapi dekati dia sebagai manusia. Ya, kita kembangkan destinasi wisata panorama alam Nusantara, untuk berkumpul lelaki pelacur dan wanita tuna susila. Ya, sesudah artis porno sudah menjadi idola harus berkata apa lagi pada anak-anak kita.

Dan ya, kita pacaran asalkan cukup surat-suratan sms-smsan, tidak sambil pegang-pegangan. Ya, kita bangga sudah pacaran dengan si anu dan si itu. Ya, ngiler pada ia yang pakai motor Ninja dan membonceng cewek begitu rapatnya. Ya, yang merasa cantik dan menarik, jajakan dirimu untuk dilirik ‘sang petualang’. Ya, yang tak pacaran dan belum kawin, nasibmu apes saja diledek kawan-kawan. Ya, martabat tinggi pria hanya di samping wanita. Ya, kita jajakan gadis-gadis bagi lelaki kaya atas nama poligami. Ya, jangan kawinkan anakmu dengan lelaki miskin seperti sayah

Ya, dia sebagai bara api neraka, itu katamu.

Kalau kamu mengaku agamamu yang paling benar, kenapa tak mampu menghentikan semua. Indonesia menempati urutan kelima terbesar dari pengakses situs porno di dunia, setelah Amerika, Kanada, Jepang, Spanyol, dan selanjutnya adalah Turki dan China. Indonesia dan Turki, negara mayoritas penduduk muslim, tapi dalil agama hanya angin lalu saja, menjadi polesan bibir dan decak kagum fotogenic TV-TV.

Akh kau hanya menyebarkan kegalauan sendiri.

Ya, saya pun tidak tahu persis ingin apa sih sebenarnya. Benar, saya belum pernah merasakan nikmatnya bersetubuh, tapi dari cerita kawan-kawan sudah kawin, atau dari adegan cabul itu sendiri, bentuk susu dan vagina ya begitu-begitu saja. Tak lebih dari seonggok daging yang memfantasi saat horni. Bagaimana sensasi dan imaji dari cerita-cerita dewasa, dari berita yang memberitakan berita esek-esek, atau dari video porno yang profesional atau indie, atau dari pernah onani dan mastrubasi, lantas apa yang dirasakan setelah melewati semua itu. Memandangi dan menikmati semua, rasa-rasanya aku sendiri lebih nikmat kalau sudah menamatkan satu judul buku.

Lalu kau bilang, “Ya karena kau belum kawin, jadi kau belum tahu nikmatnya dibandingkan membaca buku. Dan bla bla bla…”

Ya, kau menang. Tapi maksud saya, kita tidak bisa berhenti otak kita pergunakan terus memikirkan daging ayam dan daging susu dan paha. Kita tidak boleh berhenti hanya di satu jenjang jenis bahagia. Seperti kau tidak bisa ‘ngendog’ terus-terusan di kelas satu SD, yang menangis lucu diejek teman-teman, “kenapa kau tak bisa-bisa?” Dan kau geram pada bapak/ibu gurumu yang mencap kau anak paling bodoh, cap yang kau tangkap dari kerutan dahinya, dari matanya yang melotot saat ia mengajarimu membaca.

Jenjang [k]ebahagiaan: (1) material/fisik, (2) mental/psikis, (3) intelektual, (4) moral, dan (5) spiritual—kita tidak bisa berhenti hanya di tangga dasar: material dan mental. Kalau kau merasa cukup mencari makan saja hidup di bumi ini, “babi saja bisa hidup kalau sekedar cari makan,” kata Buya Hamka. Kita workcholic, berangkat pagi buta saat anak-anak kita masih tidur terlelap dan pulang sesudah larut saat anak-anak sudah tidur terlelap, kalau hanya demi terjamin kebutuhan makan dan demi ingin-ingin, tak ubahnya kita seperti binatang.

Tak beda kita dengan anjing kalau sekedar menjalankan naluri ketersediaan makan dan terpenuhi kepuasan seks. Betul keperluan seks ibarat makan, yang saat ‘lapar’ harus segera kau penuhi sampai kenyang untuk segera dilupakan, untuk segera melanjutkan kembali pada kesibukan, supaya sadar kembali bahwa kita harus mendaki pada pencapaian jenjang lebih tinggi: intelektual, moral dan spiritual.

Lalu mentalitas apa yang hendak dibangun dalam memandang narkoba. Cukupkah dengan melarang-larang saja pada sendiri dan anak-anak kita? Kebutuhan seks dan jeratan narkoba adalah soal mental. Benar,

metode Alquran dalam kandungan ayat-ayatnya suka didahului dengan larangan dan ancaman, lalu memaparkan kenikmatan-kenikmatan, dan setelah itu penegasan bahwa hanya di sisi Tuhan engkau tenang. Maksudnya supaya manusia bisa belajar, membanding-bandingkan, dan begitulah adanya perjalanan hidup manusia dari segumpal daging yang menempel di rahim, lalu dilahirkan untuk mendengar dan melihat cakrawala luas pandangan, sampai bertemu kematian kembali pada Tuhan.

Saya bersyukur hidup di bumi Indonesia. Indonesia tidak seperti Turki yang melarang-larang perempuannya menggunakan jilbab, atau tidak seperti rezim Taliban yang mewajib-wajibkan perempuan menggunakan burqa. Tapi orang tua kita membebaskan pada setiap kita, bahwa setiap penganut agama bebas menjalankan agama dan keyakinannya. Meskipun belum jelas rumusan benar bagaimana bentuk kebebasan yang diusung itu. Apakah warna jilbab polwan harus seragam, apakah Ahmadiyah harus dilarang, apakah Syiah adalah bukan saudara Sunni? Apakah Indonesia bukan Daar Islam yang harus disyariahkan? Dan bla bla bla…

Tapi kebebasan sebagai maksud demokrasi, boleh apapun hidup dan berkembang di negeri ini. Al-Farabi pun bilang bahwa demokrasi adalah satu tangga terakhir, menuju Al-Madinah Al-Fadhilah, satu langkah terakhir menuju dambaan Republik-nya Plato. Tapi selanjutnya, setelah kau sengak mencicipi aneka kebebasan dan menjungkirbalikkan segala larangan, lantas apa yang didapatkan dari semua itu. Tidak perlu menengok negeri Barat yang dianggap sepenuhnya free dan free, tapi apa yang dirasakan selanjutnya setelah berulang kali melakukan onani atau masturbasi, setelah orgasme dari kebinalan bergonta-ganti pasangan, setelah mencuri-curi penghuni di balik baju ketat cewek seksi, atau mengisap selinting demi selinting, kok tidak mengerikan sebagaimana iklan larangan narkoba, atau bapakmu sudah puluhan tahun merokok, kok tak mati-mati, dan bla bla bla…

Paulo Coelho, sastrawan Brazil yang selama hidupnya sudah mencicipi semua: dari dianggap gila lantas orang tuanya memasukkannya ke rumah sakit jiwa, menjalani kaum hippies, mencoba homoseks, menghisap ganja dan kokain, disiksa sebagai tapol, memasuki perkumpulan ilmu hitam, tapi akhirnya menyadari bahwa untuk apa semua itu. Sesudah ziarah perjalanan yang panjang dan berliku, sampai akhirnya meyakini bahwa ada penyembuhan dari agama sejati. Tapi agama yang bagaimana, silakan cari sendiri…!!!

Paulo Coelho, melalui buku-bukunya ingin mengatakan pada dunia tentang jalan spiritual, tentang jenjang puncak [k]ebahagiaan Ibn Miskawaih, atau bahwa ujung pencarian manusia bagi Maslow adalah kebutuhan aktualisasi diri, menjadi diri sendiri. Bahwa membagi, kedudukannya bagai dua jari telunjuk yang bersisian menempati surga. Bahwa engkau tak sendirian, bahwa aku peduli padamu, peduli pada anak dan cucu dengan berupaya bukan memutus mata rantai dengan mengatakan ini tak boleh dan itu tak boleh. Tapi silakan saja engkau lalui jembatan titian mazhab serba boleh sebagaimana kau himpun dari obrolan teman-teman dan rumusan pikiranmu sendiri. Tapaki segala maumu selama umurmu cukup untuk mencoba dan mendaki, menuju jurang kehancuran hidup engkau sendiri. Dan akhirnya engkau bisa belajar dan menyadari. Karena zaman menghendaki semua itu, telah menjadikan kamu komoditi.

Tapi terakhir, saya hanya bisa memandang positif sikap Kemenkes. Karena ia satu kaki dari gurita pemerintah pilihan kita, semoga saja sudah paham benar sebagaimana dulu Rasulullah melaksanakan tahapan-tahapan dalam mengharamkan riba dan kamr. Rasulullah dengan bimbingan langsung dari Tuhan, sementara Ibu Menkes sekolahnya sampai jenjang tinggi sudah pasti daya akalnya tercerahkan, bahwa ia tahu bagaimana melaksanakan tahapan-tahapan dalam menuju Indonesia bebas dari HIV dan AIDS.

Ia manusia biasa yang mencoba menggunakan nalarnya, tentang bagaimana langkah terbaik mengeksekusi upaya, agar tidak bertambah lagi jumlah penderita HIV dan AIDS di negeri ini. Karena ini program jangka panjang, yang tidak cukup dua kali jabatan seorang presiden yang orangnya itu-itu saja. Dan aku, engkau, atau kita semua, tak bisa hanya diam memagut diri dan atau menghujat saja.[]

NOTE : untuk gambar copas dari google.com


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori