Oleh: Kyan | 06/12/2013

Aku Ingin Kaya

Aku Ingin Kaya

##

Dulu saat SMA, saat dapat mentoring dari TRUTSCO, kami masing-masing disuruh menulis ingin jadi apa nanti. Lupa saya dulu menuliskan apa. Apakah seperti menulis biodata di buku kenang-kenangan teman-teman SMP saya: ingin menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Tapi ada yang menarik dari peserta mentor seorang adik kelas saya, Karso namanya. Ia menulis: Aku ingin kaya. [Maaf sobat, sudah menyebut namamu. Ini sebagai memorial saja]

Rp. 1.000.000.000.00,-

Rp. 1.000.000.000.00,-

Begitu diserahkan pada pementor, kutangkap sang pementor yang akhwat itu mengerutkan dahinya saat membacanya. Tak perlu diberitahukan kalau harta di tangah orang saleh. Bagi orang saleh mau miskin atau kaya adalah sama saja, semua bonus dari Allah. Merasa malu kalau mengakui bahwa aku ingin kaya. Tapi adik kelas saya berani mengakui sejak dulu bahwa dirinya ingin menjadi orang kaya.

Lalu sekarang aku latah mengucapkannya. Ya, benar aku ingin kaya. Mulut kami berkata ingin menjadi guru, dokter, pengacara, PNS, atau apapun profesi, tapi ujung-ujungnya demi ingin kaya. Diam-diam kami mencari-cari cara bagaimana bisa kaya, mencari celah-celah lahan basah, seolah-olah tidak menerima aku sudah sekolah setinggi-tingginya tapi benefit atau return sekarang tak seberapa. Banyak orang jadi caleg atau kandidat di pilkada, sudah keluar uang buat berkampanye, tapi kalau tak jadi, tapi kalau sudah jadi lantas tak mencapai BEP, ingin naik jabatan lagi yang kali kedua. Karena takhayul kuasa, ingin membangun dinasti di negara, partai, dan usaha dengan menghimpun sebanyak-banyaknya anggota keluarga dan sanak saudara.

Ya, sekarang aku ingin kaya. Aku terpikat pada Yusuf Mansyur, bukan karena “Wisata Hati” atau “Kun Fayakun”-nya, tapi karena beliau kaya. Begitu pun pada Aa Gym dengan Manajemen Qalbu-nya, beliau dengan beberapa divisi usahanya menjadi kaya dan beristri dua. Muh. Syafi’i Antonio dengan Tazkia-nya mencetak kader-kader syariah Andalusia. Muh. Jundullah Halilintar dengan Rufaqa-nya menjual kopiah sampai Makkah. Siapa lagi yang kaya dengan kekuatan spiritualnya…[saya harus berpikir dulu untuk menyebut salah satu diantaranya]… Meskipun mungkin mereka tidak sekaya CT, HT, dan Salim, dan lain-lain yang kaya di negeri ini dari mengelola bumi, api, dan kekayaan yang terkandung di dalamnya yang semestinya dikuasai negera, tapi atas nama korporat super kapitalizm, hukum pasar adalah mantra, hak individu maha kuasa.

Bukan aku iri pada mereka. Bukan. Maksud Iri itu bukan “aku ingin seperti mereka, aku ingin mencapai itu”. Tapi iri adalah ketika hati kecil berkata, “Aku tidak mengharapkan mereka mencapai semua itu, aku tidak suka si anu mencapai itu”. Tapi justru aku ingin lebih banyak lagi OKB, baik dengan langkah-langkah rasional dan atau supra-rasional. Ingin lebih banyak lagi muncul milyarder-milyarde muslim yang benar-benar muslim, sampai mampu membeli Mezquita Cordoba. [mencomot gagasan dari Novel “99 Cahaya di Langit Eropa”, yang filmnya mulai kemarin tayang perdana].

Meski sebenarnya banyak yang kaya di Timur Tengah. Tapi mereka lebih suka berinvestasi  di klub-klub sepakbola Eropa, atau banyak sih membantu kita membangun masjid-masjid di pelosok Nusantara. Bukan tak senang banyak berdiri masjid baru, tapi kenapa masjid lama, apalagi yang sudah ratusan tahun berdiri tidak dipertahankan keberadaannya. Seperti Mezquita Cordoba, yang dulu gagah menjadi lambang mercusuar peradaban tinggi Islam Eropa, ketika tiba masanya sebagian ruangannya jadi gereja, dan kita yang menyaksikan hari ini rasa-rasanya ada hati yang terkoyak. Saat mendengar namanya, mengeja namanya, atau melihat gambarnya, muncul imajinasi bagaimana masa lalu di balik saat mendirikan dan keruntuhan Islam Andalusia.

mezquita_de_cordobaKenapa kita tidak membelinya saja atau bernegosiasi supaya dijadikan museum saja. Tidak adil Hagia Sophia yang dulu gereja termegah dan terbesar pada zamannya, tapi Mustafa Kemal yang dicaci-maki karena sekulerisme-nya, tapi kupikir langkahnya tepat ketika mengubahnya jadi museum. Supaya tidak ada Nasrani yang terluka.

Lalu apakah milyarder dan jutawan muslim sudah menyimpan uangnya di bank syariah? Meskipun nisbahnya bagi hasil dari Mudharabah atau bonus Wadiah masih sangat-sangat kecil, meskipun saya kuliah di keuangan syariah, tapi mereka tak menampung saya bekerja di bank syariah, tapi kecintaan saya pada perbankan syariah Indonesia tak lekang. Tapi percayalah perbankan syariah benar-benar ingin menapak pada sektor real, keuangan syariah sedang mencoba seimbang antara sektor real dan moneter. Kalau masih mengatakan bank syariah dengan bank konvensional adalah sama saja, datanglah pada saya untuk saya jelaskan!!!

Kenapa ekonomi syariah, karena ingin keadilan. Dengan kemudahan akses permodalan dapat menghidupkan kita terus berproduksi. Berproduksi yang benar-benar produksi. Memproduksi barang-barang yang dipasarkan. Bukan memasarkan barang-barang yang diproduksi. Semakin giat kami berproduksi, dapat memperluas lapangan pekerjaan, dapat meningkatkan daya beli masyarakat, dan uang terus berputar cepat, mengalir bagai air disedot jet-pump sehingga mampet angka kemiskinan, sehingga tidak lagi ada lanskap sebuah kota: di depan jalan-jalan raya berdiri gedung-gedung mentereng, tapi di belakangnya mau ambruk rumah-rumah kardus dan kumuh dan orang-orangnya kelaparan di kolong jembatan.

Tapi memang sekarang disparitas terjadi pula di negara-negara maju. Salah urus siapa negeri dan bumi ini menjadi kalang kabut begini. Seolah bumi tak cukup untuk memenuhi kebutuhan penghuninya. Tapi fakta hidup manusia pasti ada orang miskin dan ada yang bernasib kaya. Entah itu miskin kemauan atau dimiskinkan, entah kaya karena warisan atau perjuangan atau penipuan dan keserakahan. Tapi cara pandang kita pada kekayaan mungkin perlu diluruskan. Tapi saya pun tak bisa mengelak ini zaman yang harus segala-gala dengan uang, mau sekolah tinggi perlu uang, mau kawin butuh uang, mau membantu orang-orang memerlukan uang.

Karena secara dangkal pikiran pun kalau kupunya uang banyak bisa melakukan banyak hal: bisa membantu orang-orang, memberi adik uang buat biaya sekolahnya, membeli pusaka yang sudah terlanjur dijual pada orang lain dan seharusnya dibeli kembali, ingin merenovasi rumah nenekku untuk tempat kepulanganku dan berkumpulnya sanak famili di saat lebaran dan hajatan, untuk punya rumah di Batam untuk ibuku supaya tak lagi ngontrak terus bertahun-tahun, bisa memberangkatkan ibu umrah dan haji, dan terutama aku bisa kawin segera.

Ya, makanya aku ingin kaya. Aku bosan dengan kesederhanaan—untuk tidak mengatakan hidup miskin—yang kualami sejak kecil, yang semestinya sudah besar begini sudah beralih nasib mencecap kenikmatan senang dan riang. Aku tidak mengatakan ingin bahagia, karena bahagia terlalu abstrak rumusannya. Cukup aku ingin melakukan keriangan dan dengan uang pun hanya demi riang dan senang. Bukan buat pamer pada sahabat dan teman bahwa aku sudah punya ini lho sekarang…

Bukankah itu pamer namanya ketika foto profilnya di situs jejaring sosial terus memajangkan fotonya yang baju pengantin, padahal sudah lama itu hari pernikahannya. Kalau sudah punya momongan, lalu ia mengganti dengan foto anaknya. Bukankah itu sedang pamer dengan isyarat berkata pada yang masih lajang, “Lihatlah aku sudah menikah, sudah punya anak, kamu kapan?”

Akh, aku terlalu sensi sih. Terlalu sentimentil dan gampang terintimidasi. Sensitif melihat kesenangan dan kegembiraan orang lain. Tapi aku harus punya kendali pikiran dan perasaan untuk ikut senang dengan kesenangan orang. Aku tidak bisa mengatakan atau melarang-larang mereka untuk tidak melakukan kesenangannya.

Dan sekarang aku sudah bertekuk lutut, tidak kunjung kutemukan cara aku menjadi kaya. Aku tidak bisa korupsi, karena tidak ada kesempatan untuk itu. Aku mencuri dan merampok, aku tidak mampu memberi pengaruh pada orang-orang untuk membikin komplotan untuk jadi garong dan geng motor. Menjadi demonstran bayaran, mulutku kelu untuk memobilisasi massa dan kaum muda. Tak pandai pula aku merayu wanita kaya atau ia anak tunggal dari orang tua yang kaya raya.

Tak ada bisnis, atau franchise yang mampu kubeli. Tak muncul ide besar di kepalaku yang bisa laku di pasaran bagai menjual garam. Tak ada bakat yang aku bisa lolos audisi menjadi artis dadakan. Tak ada kesempatan untuk jadi artis karbitan. Malah sekarang kerja pun keluar. Karena tidak membuatku kaya. Dan hanya makin menjauhkan saja dari yang ingin kulakukan sejak dulu kala.

Kau berkata, kalau tidak punya penghasilan, lantas kamu dapat makan darimana? Akh, kalau memang lapar dapat mengakibatkan kematian, aku lebih baik mati saja daripada jadi sampah tak berguna. Kalau sampah kaleng botol bisa didaur ulang, tapi sampah jiwa tak sempurna hanya jadi bara neraka.

Padahal katanya saya hidup di negeri yang sejak dahulu orang-orang sudah mencari-cari dimana itu negeri Jawadwipa dan Swarnadwipa. Sejak dahulu negeri kami adalah sumber kekayaan yang tidak akan habis berapa pun generasi. Dari emas, rempah-rempah, dan kekayaan lainnya, bagian satu orang pun kalau diwariskan buat tujuh turunan tidak akan mampu menghabiskannya.

Makanya sesudah kejatuhan Granada Andalusia, mereka mau mencari uang hendak ke negeri Hindia, tapi Columbus terdampar di sebuah benua yang kini Amerika. Tapi kemudian sampailah Alfonso de Albuquerque dan selanjutnya Jan Pieterszoon Coen mendarat di pantai negeri kami. Mereka berdatangan mulai dari Portugis, Belanda, Spanyol, Inggris, Prancis, dan selanjutnya Amerika dan Korea terus mengubrak-abrik kekayaan alam kami, mengobok-obok pikiran kami untuk bersedia jadi kuli di negeri sendiri. Saat minta kenaikan gaji, katanya silakan saja mogok kerja dan demonstrasi, toh kami akan segera hengkang dari negeri kalian. Sudah untung diberi pekerjaan meskipun bergaji pas-pasan: pas butuh, ada.

Belum lagi ribuan TKI dari Arab Saudi dideportasi. Bertambah lagi setiap tahun angkatan kerja dari lulusan-lulusan SMK dan perguruan tinggi, yang semestinya masa produktif dengan kerja, kerja, dan kerja, tapi orang tua atau ibuku misalnya yang semestinya sudah tak lagi bekerja, tapi terpaksa tetap mencari uang hanya demi anaknya yang tak kunjung mandiri dan dewasa.

Sekarang dari ruang kamar ini, satu-satunya yang dapat kulakukan adalah melawan lewat menulis ini, untuk mencerca dan menertawakan diri sendiri, dan selebihnya ilusi untuk menjadi kaya.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori