Oleh: Kyan | 09/12/2013

MANDELA-NESIA

MANDELA-NESIA

##

Sudah beberapa hari orang berbicara ramai sekali, karena ada putra bumi yang baru saja pergi. Bermacam media di setiap tempat mengulas riwayat hidup: Madiba Afrika, Nelson Mandela. Ia yang dulu Amerika sempat mencapnya sebagai teroris, tapi kemudian Bill Clinton menempatkannya sejajar dengan Mahatma Gandhi.

Nelson Mandela

Nelson Mandela

Tapi sesungguhnya Madiba tidaklah pergi, tidak pula mati. Setelah tiga hari ia bangun kembali untuk jamuan ekaristi. Tapi ia selamanya hidup dan terus hidup di hati para pencintanya di seluruh dunia. Jiwanya sudah mencapai moksa, menjadi syuhada; sebagai saksi (syahadah, kesaksian) kemanusiaan, dan jejaknya melekat pada hati bangsa Indonesia.

Boleh berkata Indonesia dan Malaysia sangat dekat. Tapi sebagian kawan mengatakan jauh, bahkan dianggapnya sebagai “musuh”. Tapi persaudaraan Indonesia dengan Afrika Selatan merentang sejarah panjang. Sejak Sriwijaya atau entah lebih daripada itu.

Bukan karena Nelson Mandela menjadi duta batik Internasional—sampai membuat kikuk Soeharto, ketika Nelson Mandela pakai batik, bapak orde baru ini mengatakan sedang pegal linu. Bukan hanya karena sama-sama anak jajahan bangsa Holland; Bukan karena terutama dua putra Nusantara: Syekh Yusuf Makassar dan Cakraningrat IV adalah pahlawan dan simbol perjuangan rakyat Afrika Selatan; Tapi Indonesia-Afrika Selatan yang menurut Dick Read, bahwa sejak abad ke-5 penjelajahan bangsa Zabaj atau Zanj yang tiada lain ialah bangsa Jawa atau Sumatera atau Bugis sudah sampai di Madagaskar, menyusuri pantai Barat Afrika sampai Nigeria, sampai Tanjung Harapan Afrika Selatan.

Demikianlah, Belanda bukan “membuang” Syeikh Yusuf Makassar dan Cakraningrat IV ke wilayah yang tahun 2010 menjadi tuan rumah Piala Dunia, tapi mereka melanjutkan ‘ekspedisi’ moyangnya menyusuri Afrika, untuk hari ini supaya kita mengenang sang negarawan dan tokoh spiritual peraih Nobel Perdamaian.

Mandela muda terpukau oleh pidato Bung Karno saat konferensi Asia-Afrika, berhutang budi pada Indonesia atas perjuangannya, lalu hari ini dunia terpana dengan perjuangannya dan mengheningkan cipta atas wafatnya. Momentum sekarang semua bisa belajar pada jejak perjuangan Apartheid-nya, yang membayar perjuangannya selama 29 tahun mendekam di penjara.

Berbicara penjara sudah tentu bercerita tentang kesulitan-kesulitan. Penjara adalah pembatasan ruang gerak fisik sampai psikis. Meski boleh jadi si situ ada kebebasan berkarya, seperti Hamka menulis Tafsir Al-Azhar, Sayyid Quthb menulis Fi Zhilalil Quran, atau Soekarno banyak membaca buku-buku, atau Ariel Noah bisa mencipta syair lagu. Tapi selebihnya penjara adalah ruang sengak dan sempit sebagaimana orang miskin sulit mendapatkan makan, pengangguran sulit mendapat pekerjaan, atau mahasiswa “hiperaktif” sulit mendapat ijazah kelulusan. Dan lain-lain yang mengkerangkeng burung dalam sangkar.

Meskipun gambaran penjara semakin kesini ada pemanusiaan demi hak azasi manusia, boleh jadi hidup di penjara hari ini bisa lebih senang sebagaimana tidur koruptor bak di kamar hotel. Tapi bagi orang miskin, seperti kata Doel Soembang, “meunang kopi-kopi haneut, rokok garatis..” Daripada tak ada jaminan kepastian hidup di jalanan, daripada “menjadi layang-layang di kota, merasa kikuk pulang ke daerahnya” kata Rendra, lebih baik pulang ke penjara yang bisa terjamin makan dan ada tempat bernaung. Tapi karena penjara seleksinya ketat, ibarat PNS ruang kapasitasnya sekian sedangkan peminatnya lebih sekian, akhirnya tak mampu menampung dan kian merajalela aksi-aksi perampokan di jalanan ataupun di gedung dewan.

Tapi aku ingin bertanya pada mereka yang dipenjara. Entah itu mereka yang dari mahkota menuju penjara (tersangka dan terdakwa koruptor) atau dari penjara menuju mahkota (Dipenogoro, Tan Malaka, Soekarno, Syahrir, Nelson Mandela, Jose Rizal, atau Xanana Gusmau, Pramoedya Ananta Toer, sampai Deliar Noer) adakah muncul, meskipun itu sedikit, rasa keraguan menyelinap mencekik keyakinan???

Ya, karena mereka mampu bertahan, karena habis gelap terbitlah terang, karena kebatilan lenyap oleh kebenaran. Setelah menghirup kebebasan atau saking kukuh berpegang teguh pada pada apa yang perjuangkan, mereka berani menjadi tumbal dan rela kepalanya dipenggal. Lalu kemudian menjadi pribadi-pribadi inspirasi bagi generasi terkemudian.

Orang-orang ‘kiri’ atau semacam Ali Syariati, pidato-pidatonya menggerakkan revolusi mengganyang Reza Pahlevi, atau Tan Malaka yang mati di tangan bangsanya yang ia perjuangkan, kata Rendra bahwa kita harus menjadi saksi. Lalu orang-orang ‘kanan’ pun berkata, “Itz kariman aumut syahidan. Ia syahid, bukan mati sangit. Sang pengantin mawar sudah dalam pelukan bidadari khurul ‘aini.” Tetapi bagiku baik kanan atau pun kiri adalah sama-sama bersaksi, bersyahadat pada kemanusiaan; kepada Tuhan. Lalu kenapa harus memilih kiri atau kanan, karena Islam itu Islam, adalah jalan lurus menuju Tuhan.

Tapi jiwa ini rapuh, bagaimana menukar seonggok jagung dengan seonggok daging saat keraguan menjerat hipokondria.

Memilih keraguan sebagai falsafah hidup sama saja memilih kemandegan dan membiarkan jiwa berkarat dan membatu, menjadi debu yang dihempas angin kesana-kemari tanpa orientasi pribadi. Karena diam pun adalah berbuat, dan kalau tak berbuat, bagaimana bisa tahu itu kesalahan, dan kalau tak pernah melakukan kesalahan, ia tak akan pernah belajar.

Maka teruslah berjalan dan bertahan.

Bukankah pada intinya adalah bagaimana menjadi kualitas pribadi menjadi inspirasi bagi sebaya dan generasi sesudahnya. Seperti kata pepatah tenar, harimau mati meninggalkan belangnya, manusia mati meninggalkan jejak langkahnya, nama baiknya.

Orang boleh hidup lima tahun, tujuh belas tahun, dua puluh tujuh tahun, atau sampai 95 tahun seperti Mandela, atau anak-anak balita mati yang mengoyak-koyakkan hati ibunya. Tapi berapa pun usia hidup adalah bagaimana menjadi manusia berguna bagi lingkungannya, semampu yang dapat ia perbuat. Menjadi manusia berfaedah adalah pokok soal semua orang. Menjadi seorang yang tak merepotkan bagi orang-orang terdekatnya.

Tapi hidupku, yang sudah sekian tahun melangkahkan kaki dan sudah sekian ribu bertemu wajah-wajah orang, dengan segenggam senyumku atau dengan langkah-langkah kecilku, sudahkah mereka mengenangku sebagai orang baik-baik? Sesudah hidup hari ini akankah menjadi inspirasi bagi sahabat dan teman, bagi saudara dan handai taulan, atau bagi siapapun yang mengenalku di perjalanan?

Apakah mereka mengenangku sebagai manusia baik-baik??? Tapi bilapun tidak mengenangkan aku, janganlah aku menjadi benalu. Itu saja.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori