Oleh: Kyan | 12/12/2013

Produk Kecantikan dan Makanan

Produk Kecantikan dan Makanan

##

Logo MUI

“Anda adalah apa yang anda makan,” begitu bunyi slogan terkenal. Boleh saya tambahkan, “Anda adalah apa yang anda kenakan”. Menjadi bahan permenungan ketika mendengar Ibu Menkes berkata bahwa bahan produk kesehatan mengandung babi, yang mendapat reaksi dari MUI.

Lanjut Ibu Menkes, tidak bisa disamakan antara produk kesehatan dan makanan.

Tapi bagi saya baik Kemenkes maupun MUI sama-sama mempunyai kepentingan politisnya masing-masing, sementara kita yang di akar rumput, yang punya usaha menjual barang-barang kecantikan, atau pengguna yang sudah merasa cocok dengan produk kosmetik tertentu dibuat waswas akibat ulah ‘pertengkaran’ mereka.

Tentang haramnya babi, Thahir Ibn Asyur, penulis Tafsir At-Tahrir yang pendapatnya dikutip dalam Tafsir Al-Mishbah-nya M. Quraish Shihab, menyatakan bahwa pengharaman babi dalam Al-Maidah ayat 3 dengan redaksi dua kata “lahmu” dan “al-khinzir” yang artinya “daging-babi”.

Menurutnya, penggandengan kata daging dan babi bermaksud, bahwa yang haram adalah “memakan” daging babi. Karena bila disebut kata daging, dalam konteks hukum atau yang terlintas di benak adalah memakannya. Karena itu, penyebutan kata “daging” di sini sebagai isyarat bahwa selain memakannya, seperti menggunakan anggota tubuhnya, hukumnya sama dengan hukum binatang-binatang lain.

Seperti kesucian bulunya kalau dicabut—yang banyak dipakai sebagai bahan baku produk kosmetik—atau kesucian kulitnya bila disamak. Dengan menguatkan pendapatnya berdasar sabda Nabi SAW, “Kulit apa pun yang disamak maka telah menjadi suci,” (HR Muslim dan at-Tirmidzi).

Memang, mayoritas ulama menekankan semua yang berkaitan dengan babi adalah haram hukumnya. Tapi haramnya babi secara apa pun, yang dalam surat Al-Maidah redaksinya tidak seperti menyebutkan kata bangkai, darah, dan hal-hal yang diharamkan, saya membayangkan kalau babi tak berguna sedikitpun karena najis dan haram, lantas diciptakan Allah untuk kepentingan apa? Hanya sebagai predator dalam siklus ekosistem alam saja?

Babi berbahaya memang seperti hasil penelitian, dagingnya mengandung kolesterol sangat tinggi sampai 50 persen, dibanding domba yang 17 persen dan kerbau tidak lebih dari 5 persen. Babi mengandung cacing tenasolium yang kalau dimakan dapat berkembang biak di saluran pencernaan dan panjangnya dapat mencapai delapan meter, yang tidak dapat mati jikapun dimasak dalam api lebih dari 100°C.

Maka kebolehan untuk produk kosmetik “mungkin” dapat berpegang pada pendapat di atas. Dengan catatan produk kecantikan dan kesehatan yang tidak dimakan. Tapi memang lebih aman anda dapat memilih produk kosmetik yang sudah tersertifikasi halal. Seperti sepuluh tahun lalu saya bergiat di MLM Ahad-Net yang salah satunya menjual Zahra dan Wardah, produk kosmetika halal dan thayib, yang bahwa bahan bakunya dari bulu domba.

Dan lebih bagus lagi, untuk menghindari konsumerisme yang terlahap iklan, lebih baik berdandan sederhana, dengan menampilkan inner beauty apa adanya.

Tapi mana bisa jaman sekarang yang tidak hanya perempuan berkulit putih dan mulus adalah dambaan, laki-laki juga sudah jadi metroseksual kalau mencuci muka tak pakai scrub rasanya wajah tak kinclong dan tampan. Tapi bolehlah kita berargumen tampil bersih dan wangi adalah dambaan dan anjuran Islam sebagai kebersihan bagian daripada iman.

Demikianlah “Anda adalah apa yang anda kenakan”. Jamannya sekarang orang melihat dari tampilannya dulu. Laki-laki lebih melihat dulu “cangkang” apakah perempuan yang didekati berparas rupawan, atau perempuan memilih laki-laki apakah dompetnya tebal, yang mungkin saja sebenarnya itu uang dari ngutang atau dari hasil bisnis yang curang-mencurangi orang.

Tapi packaging soal makanan, meskipun dalam kemasannya sudah tercantum label halal, meskipun MUI sudah memberikan sertifikat halal, apakah benar dijamin bebas dari kandungan tak halal? Apalagi kalau kita mendengar propaganda Pak Matiyus tentang mie instan yang katanya mengandung lemak babi. Orang sekarang mana bisa tidak suka pada mie.

Tapi sangat penting diperhatikan ialah makanan jenis apapun dapat memberi pengaruh pada kesehatan jiwa. Seperti pendapatnya Harrali (w. 1232 M) bahwa jenis makanan dan minuman dapat mempengaruhi jiwa dan sifat-sifat mental. Begitupun menurut Alexis Carrel, meskipun bahan kimiawi dalam makanan belum diketahui secara sempurna pengaruhnya terhadap aktivitas jiwa, tapi tidak dapat diragukan bahwa perasaan manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanannya.

Sudah tentu apa yang kita makan sangat mempengaruhi jasmani, seperti gendut dan kerempeng badan seseorang bergantung pada kandungan gizi makannya, atau gemuk dan kurusnya saya sangat bergantung kondisi kejiwaan saya. Tapi lebih daripada itu, makanan sangat memberi pengaruh besar pada gelap dan lapangnya jiwa kita, bahwa halal-haramnya membawa pada kebekuan pikiran dan keruhnya perasaan kita.

Makanya kebobrokan moral yang massal hari ini, boleh jadi bukan semata-mata karena kegagalan ahli-ahli agama dalam memberi rambu, atau lembaga pemerintah dalam melakukan tindak pencegahan, tapi memang makanan yang kita hidangkan untuk keluarga masih diragukan kehalalannya, baik secara dzatnya maupun perolehannya. Mungkin harta kita tidak bersih karena hasil dari mencurangi orang lain, mungkin tidak suci karena dari hasil korupsi yang tidak disadari.

Mengambil contoh kasar adalah minuman keras. Dalam surat Al-An’am ayat 145 bahwa minuman keras dapat menimbulkan “rijs” yang artinya kebobrokan moral dan kegelapan jiwa. Seperti kisah diceritakan ada seorang alim didatangi syaitan yang menjelma manusia. Karena syaitan dianggap berilmu tinggi, si alim mau memenuhi ajakannya. Lalu syaitan memberi tiga pilihan antara meminum arak, memperkosa, atau membunuh. Mana di antara pilihan yang lebih kecil dosanya dan si alim memilih yang pertama. Katanya meminum arak hanya merugikan diri sendiri, sedangkan sisanya berkaitan dengan orang lain.

Pertama hanya mencicipi, selanjutnya ketagihan. Setelah minum arak, kemudian si alim melihat perempuan lewat. Dalam pengaruh arak, lalu ia menggodanya dan akhirnya memperkosa. Karena perbuatan bejatnya diketahui seseorang, karena ditakutkan orang itu menyebarkan beritanya, lalu ia membunuhnya. Demikian tiga perbuatan tersebut semua dilakukan, yang mulanya hanya mencicipi atau menganggap ringan satu dosa kecil.

Saya pun kadang cuek dengan alasan “Allah akan memaafkan, karena kita tidak tahu atau toh hanya sedikit.” Misalnya kalau-kalau memang dalam mie instan ada kandungan babi, atau membeli daging di pasar akan membikin repot saja menanyakan apakah disembelihnya sesuai syariat.

Ya, kalau menelusuri halal dan haram apa yang kita makan, sungguh sangat membikin runyam dan panjang. Bukan semata soal dzat haram-halalnya, tapi bagaimana makanan sampai di hadapan kita bisa panjang ceritanya. Mulai dari apakah membelinya bukan dari uang hasil mencuri, atau apakah dalam distribusi barangnya tidak ada yang curang-mencurangi, atau dalam proses produksinya apakah buruh pabriknya sudah digaji secara layak, apakah tanah pabriknya bukan hasil dari ‘menjarah’, apakah membeli bahan bakunya dengan harga tidak merugikan petani, dan hal-hal lain dari hulu ke hilir dalam proses produksi-distribusi-konsumsi.

Merunut lebih panjang membuat kita ingin berhati-hati tak ingin banyak makan sembarangan. Tapi kalau cuek bebek saja resikonya membuat kita cepat marah, gampang amuk, yang mana sekarang menjadi gambaran masyarakat yang gampang tersulut emosi kalau sedikit saja ada friksi dan kesalahfahaman terjadi. Demikianlah pengaruh “Anda adalah apa yang anda makan”. Baik itu makanan jasmani ataupun rohani.

Makanan jasmani dalam kandungan dzat dan cara perolehannya, sedangkan makanan rohani dari buku-buku yang anda baca atau hasil-hasil pencerapan panca indra kita. Sekecil perbuatan berpengaruh menuju dosa yang lebih besar. Dosa kecil yang dilakukan terus-menerus akan bertumpuk-tumpuk menjadi dosa besar.

Dan saya tabik pada Ibu Menkes yang berani berterus terang, yang dengan itu masyarakat bisa menentukan pilihan, tentang mana yang sebaiknya dikonsumsi. Wallahu a’lam.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori