Oleh: Kyan | 13/12/2013

Garuda Pancasila dan Chak De India

Garuda Pancasila dan Chak De India

##

Garuda PancasilaSoekarno menang, Mahatma Gandhi kalah. Tapi kemudian India menang, Indonesia kalah. Shah Rukh Khan atau Reza Rahadian. Setidaknya itu pokok maksud tulisan ini. Karena ini tulisan saya sendiri, ingin mulai dari bercerita pribadi. “Dari dalam keluar,” kata Stephen Covey.

Ada tiga subjek yang menjadi ‘bagian’ dari diri saya: Buku-buku, Abiem Ngesti, dan Film Hindi. Dua yang pertama, sering saya mengulasnya dan mencari-cari seluk-beluknya. Sekarang saya ingin mengeksplorasi karakteristik pribadi kenapa film India. Suka film Hindi bukan karena begitu mengenal pisyi yang setiap hari melulu film India, tapi mungkin begitulah seperti cinta pertama yang katanya tak dapat dilupa.

Meskipun ada sinisme yang mengemuka: laki-laki yang suka film India dikatakan banci atau cengeng; ceritanya mau sedih atau gembira terus saja joget dan menari-nari; sangat khayal tingkat tinggi; tidak berpijak pada realitas; sekedar eskapisme masyarakat India yang dirongrong kemiskinan, dan sejumlah cibiran lain dari mereka yang sok ‘English’.

Dengan nada sumir ia bilang, “Kau, salah lahir. Mestinya kau lahir di Korea, Amerika, atau India kalau sukanya film-film mereka. Kenapa tidak cinta pada karya bangsa sendiri..?”

Memang setiap orang punya seleranya sendiri-sendiri, tidak bisa dipropaganda atau dipaksa-paksa mereka harus menyukai ini dan itu. Tapi pasti harus ada lembaga atau individu sendiri harus punya filter dalam memilah mana yang baik dan buruk bagi dirinya. Tidak bisa mengatakan oh ini karya adiluhung sedangkan ini picisan, dangkal, atau urakan.

Dulu di pisyi melulu telenovela Meksiko, lalu drama Taiwan, lalu sekarang K-Pop. Kalau itu memang punya rating tinggi, itulah cermin masyarakat dan pemangku kepentingannya. Masyarakat hanya penikmat saja, pengkonsumsi saja, dan apa pun yang ditayangkan ya dimakan tak ada pilihan. Tapi memang itulah dinamika. Setiap jaman ada trend-nya sendiri. Setiap barang dagangan punya pangsa pasarnya sendiri. Dan sepertinya ada penurunan penggemar pada film Hindi. Kalau dulu beberapa stasiun pisyi banyak menayangkan film India, sekarang tersisa hanya satu yang dulu namanya TPI. Filmnya juga melulu itu-itu saja: film jadul India.

Saya ingin memberikan sudut pandang kenapa film India begini dan begitu. Kenapa film Hindi seolah seting cerita tidak berpijak pada realitas bangsanya, seperti Dilwale Dulhaniya, Kuch Kuch Hota Hai, Mohabbatein… Kata siapa?? Coba tonton film Slumdog Millionire, Chakravyuh, Gang Of Wasseypur, Madras Cafe yang mengemas sejarah dengan apik, atau Rockstar yang mengangkat legenda dengan dramatis, atau Talaash, film horor yang tidak dangkal…!

Karena film Hindi bermaksud ingin mengangkat tema “bagaimana seharusnya”, bukan “sebagaimana adanya” atau seperti aslinya realitas negerinya. Ingin menjadi pedoman nilai-nilai keluarga, tentang kehormatan wanita tak ternoda, untuk memberi optimisme yang tak terbatas, dan dapat menjadi eskpresi harapan semua orang.

Meskipun kita menganggapnya bagai pungguk merindukan bulan, jauh di awang-awang

#

Lalu kenapa saya katakan Gandhi kalah.

rockstar-hindi-movieKita tahu Gandhi menjadi korban, menjadi tumbal kaum fundamentalis, sayap kanan Hindu yang tidak setuju—untuk tidak mengatakan penebar kebencian—antara hindu dan muslim bersatu. Mereka bilang India itu hindu dan muslim harus dienyahkan. Tapi begitulah watak fundamentalis di setiap agama, atau di bongkahan kecil dada kita bahwa yang liyan, yang tak sefaham, yang tak seragam, yang tak ikut kegaliban orang-orang, harus dibumihanguskan.

Sampai kemudian hindu dan muslim berpisah wilayah menjadi India dan Pakistan, dan selanjutnya Bangladesh, atau mungkin ke depannya Kashmir. India tetap mencoba menjadi negara sebagaimana impian Gandhi, dan Pakistan menjadi role model negara Islam sebagaimana filosofi Sir Muhammad Iqbal. Negara Islam dengan rasa mazhab Hanafi, seumpama Islam Iran bermazhab Syiah, atau Arab Saudi bermazhab Hambali. Tapi selesaikah masalahnya Islam Pakistan menjadi rahmatal lil’alamin, dan sudah berapa korban yang dipenjara, ditembak, dan dihukum gantung karena berbeda sikap politik para penguasanya.

Tetapi Gandhi dan Badshah Khan yang menolak konsepsi dua negara, Gandhi berakhir di tragedi penembakan dan Badshah Khan berujung penjara Pakistan. Suku Pathan di Peshawar, leluhur Shah Rukh Khan, ingin tetap menjadi bagian dari India, tapi menjadi muslim India berujung tragedi Masjid Babri. Begitu pula di Pakistan mampukah Jemaat Islami Al-Maududi menyelamatkan Pakistan dari darah yang menggenang: penembakan Liaquat Ali Khan, Zulfikar Ali Bhutto, dan Benazir Bhutto. Filsafat Iqbal berdiri di atas angin, Fazlur Rahman terusir, dan Tariq Ali koyak moyak hatinya tak mengaku ia beragama Islam.

Dan bersyukurlah saya hidup di Indonesia yang mana Islam dan Indonesia tak dapat dipisahkan. Berbicara Indonesia sudah tentu harus bicara muslim Indonesia. Maha pentingnya Islam bagi Indonesia, bukan karena para ‘petualang’ di ormas dan partai Islam, bukan karena yang korupsi sekarang banyak beragama Islam, bukan karena cikal bakal Indonesia adalah Islamisasi Nusantara, bukan karena sudah terjalin hubungan diplomatis antara kerajaan Aceh dengan Turki Utsmani, antara Sriwijaya dengan Damaskus, bukan karena Muawiyah Ibn Abu Sufyan pernah berkunjung ke Karajaan Kalingga, tapi selebihnya muslim di Indonesia adalah sejarah darah dan air mata.

Dulu Abikusno dan Ki Bagus ngotot ingin dasar negara adalah Islam, tapi Wahid Hasyim d.k.k cukup legowo untuk menghapus tujuh kata dari Piagam Jakarta yang katanya berusia hanya sehari di hari proklamasi. Soekarno, Hatta, dan golongan nasionalis berusaha menengahi atas ancaman kawat dari Sam Ratulangi d.k.k dari Indonesia Timur yang katanya menolak menjadi bagian Indonesia kalau mencantumkan tujuh kata. Begitu pula Gusti Ketut Pudja mengusulkan kata Allah diganti menjadi kata Tuhan, sehingga jadilah sekarang dasar negara seperti setiap Senin dibaca saat upacara bendera.

Di sidang Konstituante yang tak juga sepakat dasar negara. Katanya Buya Hamka sampai bilang syariat Islam itu harga mati dan waspadalah kristenisasi. Tapi diceritakan Abdul Haris Nasution mengusulkan pada Soekarno, lebih baik kembali pada UUD 1945, yang lupa bahwa UUD 1945 masih penuh tafsir yang bagaikan jembatan ‘sirathal mustaqim’—akan banyak meminta korban. Buktinya adalah kediktatoran Soekarno dan represifnya Soeharto dalam menghanguskan lawan-lawan politiknya.

Sementara saya hidup hari ini, lahir semasa orde baru dan dewasa saat Reformasi, mengetahui minim sejarah Islam Indonesia. Tapi dari sebagian kecil itu memperoleh gambaran bahwa muslim Indonesia adalah sejarah ‘percekcokan’ sejak antar kerajaan Islam atau saat pergerakan nasional Syarikat Islam, lalu PSI, Masyumi, PPP, hingga hari ini partai-partai islam saling rebutan kuasa atas rakyatnya.

Tapi ideologi Soekarno-lah yang menang. Kemenangan Soekarno bukan karena ia sang proklamator, bukan karena PNI, tapi ia sebagai pribadi teladan yang bermimpi Indonesia besar, atau bahkan flamboyannya bikin ngiri anak muda sekarang. Ia bermimpi Indonesia besar yang menyatukan keragaman suku, budaya, dan agama dengan cukuplah Pancasila sebagai dasar negara. Bukan Islamis, kapitalis, komunis, fasis atau rasis.

Kaum nasionalis dengan militer berupaya menggagalkan Indonesia menjadi negara agama, yang kalau tidak, dapat dibayangkan mungkin akan seperti India. Indonesia Barat yang mayoritas muslim mungkin akan mendirikan negara sendiri, Indonesia Timur mayoritas nasrani membangun negara sendiri, begitu pula hindu Bali. Meski memang semasa orde baru atas nama Pancasila telah membantai jutaan rakyat—PKI dan golongan muslim.

Katanya yang salah bukan Pancasila, tapi penganutnya yang maha kuasa Indonesia. Yang teroris itu bukan Islam, tapi muslimnya yang melawan pembantaian. Membunuh dengan cara balik membunuh; karena bukan Ahimsa yang membuat Inggris terusir dari bumi Hindustan, tapi aksi massa-nya Tan Malaka dalam pertempuran Surabaya. Katanya pula bukan komunis sebagai faham PKI yang merusak, tapi manusia serigala yang darahnya sudah menggelegak.

Karena tak selalu linier antara sabda anutan dengan tindakan, antara stimulus dengan respon. Tapi selalu ada faktor liyan yang berdiri di luar sistem, atau karena manusia punya kehendak bebas (free will)-nya sendiri, ada ruang pengalaman masa lalu, ada sihir tayangan televisi memasuki sistem limbik dan neokorteks yang engkau ikuti, menjadi galau atau alay, memilih kiri atau kanan, menuju surga atau neraka.

Tapi katanya sekarang semua sudah sepakat. Sudah final kita bernaung di balik kepak sayap Garuda, tidak akan mencekiknya untuk menumbangkan ideologi Pancasila. Baik bagi FPI, HTI, PKS, atau neo-Masyumi, atau sebagian neo-DI/TII, dan lain-lain organisasi menyatakan semua bahwa Indonesia adalah rumah bersama, Indonesia adalah baju kebangsaan kita. Meski selalu saja ada kerikil-kerikil tajam dari dalam dan luar yang terus mengobok-obok memberi pengaruh atas nama agama dan neo-kolonialisme.

Tapi bukankah PKI juga tetap ingin menjadi Indonesia, tapi dengan ideologi komunis. HTI juga ingin tetap Indonesia, tetapi dalam naungan khilafah. Semua ingin tetap Indonesia dan katanya biarkan semua hidup di negeri ini. Tapi jangan terpropokasi asing yang punya kepentingan dan tak bersedia Indonesia menjadi besar.

Kalau benar Indonesia merdeka dan Papua dalam naungan NKRI itu berkat diplomatis Amerika, tapi kalau Indonesia sekarang tak lagi bersesuaian kepentingan mereka, waspada saja Papua akan digelitik-gelitik telapak kakinya, dan Indonesia menjadi Balkan.

#

Pancasila BatikTapi sekarang Indonesia kalah dan India menang. Lihat geliat ekonomi India bersama China dan Korsel terus melompat cepat menyaingi Jepang dan negara maju lainnya. Rakyatnya terus bangkit menjadi manusia-manusia produktif. Saking produktifnya, India adalah negara populasi terbesar kedua dunia, tapi tidak termasuk terbesar dalam pengakses konten porno. Mungkin karena masyarakatnya yang vegetarian sehingga memampatkan libido syahwatnya. Meski memang ada kisah tragis pemerkosaan sampai dilakukan beramai-ramai dan tak sedikit mereka pun memproduksi konten porno baik secara inide atau profesional.

Indonesia kalah daripada India dalam demokrasi. Kita tahu muslim India menjadi minoritas, tapi sudah berapa kali Perdana Menterinya beragama Islam. India telah membawa minoritas menjadi pemimpin tertinggi pemerintahan mereka. Tapi di Indonesia, dulu Badan Pekerja MPRS sempat memasukan usulan agar agama resmi Indonesia adalah Islam, presiden dan wakil presiden adalah beragama Islam. Sampai hari ini sudah bersediakah mayoritas, misalnya Ahok kalau dianggap berhasil sebagai orang kedua DKI Jakarta, lalu kemudian digadang-gadangkan jadi calon presiden, apakah ustadz-ustadz akan terus-menerus mengutip surat An-Nisa ayat 144, menjadikan legitimasi dalam kampanye bahwa jangan memilih orang kafir sebagai pemimpin?

Termasuk Shah Rukh Khan sebagai minoritas tapi sukses menjadi superstar seolah ia adalah dewa baru India. Seperti dikatakan Anupama Chopra, penulis The King of Bollywood, poster-poster Shah Rukh Khan dijual sejajar dengan gambar-gambar dewa-dewi, para penggemarnya menulis surat dengan darah mereka, tempat-tempat suci dibangun atas namanya. Minoritas sudah menjadi idola, tapi kita selalu melihat pada agama. Meskipun ia profesional, kalau tak seagama tak jarang kita mencelanya.

Sebuah prestasi perfilman India mampu memproduksi sampai duaratus film setiap tahunnya. Berapa persen warga negeranya yang berkecimpung di industri kreatif perfilman India. Termasuk mereka yang muslim membangun tahta “The King Khan” di LIC Zee Cine Award. Film nasional mereka menjadi raja di negerinya sendiri, karena masyarakat menyukainya. Meskipun ketika kita bilang tak suka film-film Indonesia, adalah kritik juga, adalah perhatian juga pada film nasional kita, supaya memperbaiki kualitasnya untuk tidak hanya menjajakan lendir saja.

Tapi majunya film India, bukan pula karena rakyatnya, termasuk juga pemerintah dan tokoh spiritualnya memberi dukungan sepenuhnya. Dulu ketika AK Abbas, sutradara film India meminta restu kepada Mahatma Gandhi untuk sedikit toleran pada kemajuan film India, lalu bagaimana di Indonesia ketika Muhammadiyah dan NU atau MUI memberi pijakan etis bahwa film adalah “halal” dikonsumi, adalah strategi dakwah alternatif: dakwah kultural, untuk pengembangan kebudayaan masyarakat Islam, seperti dulu Sunan Kalijaga dengan wayang dan gamelan.

Sudah sejauh mana pula peran normatif pemerintah dalam memajukan film nasional. Kemarin saat anugerah piala citra FFI 2013, yang datang hanya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan kepala Kementrian bagian Kebudayaan. Presiden kita tidak datang mungkin sedang sibuk mengurusi partainya atau mencipta lagu popnya? Siapa perwakilan dari Pusat Kebudayaan Muhammadiyah atau Lesbumi-nya NU untuk memberikan dukungan bahwa ormas besar muslim Indonesia sangat memberi perhatian. Tidakkah mereka sedang mati suri?

Tapi saya menyaksikan perfilman nasional sudah menunjukkan geliatnya. Dikatakan tahun 70-an film nasional merajai, lalu mati suri dan bioskop banyak yang mati, tapi sekarang terlahir kembali. Tapi sudahkah prestasi sebelumnya terlampaui?

Semoga saja menunggu saatnya tiba.

Tapi jangan pula sekedar beredar putar di dalam negeri, tapi bawalah keluar negeri. Dibawa ke luar negeri bukan hanya diikutsertakan dalam festival-festifal film internasional, tapi bisakah pula menjadikan film sebagai strategi memperkenalkan Indonesia yang kaya keragaman, atau bisakah menjadi media untuk membawa sudut pandang Islam Indonesia yang “khas”-nya sendiri pada dunia, bahwa Indonesia bukan sarang teroris.

Dan saya pun sedikit khawatir dengan semarak “Sang Pencerah” untuk rekam jejak langkah KH Ahmad Dahlan dan “Sang Kiyai” untuk KH Hasyim Asyari, atau Sang Murabbi untuk KH Rahmat Abdullah, lalu sekarang Soekarno dengan “Kuantar Ke Gerbang” dan siap tayang “Soekarno”… Mengenalkan nama-nama tokoh besar lewat pop-culture, bermaksud bukan untuk mengukuhkan personal di atas sistem, bukan sekedar menjadi inspirasi bagi generasi sekarang dan kemudian, tapi bisakah dan bagaimanakah gambaran sosial masyarakatnya ketika mampu menjadikan satu individu-individu seperti mereka itu.

Dengan ikon Shah Rukh Khan, film India mendunia. Beberapa filmnya terdistribusi ke Nigeria, Jerman, Korea, dan Indonesia dan launching filmnya sudah di berbagai negara. Pemerintah India sampai menganugerahi Padma Shri kepada Shah Rukh Khan sebagai status warga negara teladan, diabadikan dalam patung di museum Madame Tussauds London. Saya mengimpikan film Indonesia begitu. Bisa ekspor industri kreatif, bisa menginternasionaliasi Bahasa Indonesia sebagaimana impian Soekarno.

Tidakkah senang hati kalau dunia melihat akting Reza Rahadian membawakan karakter Habibie yang begitu elegan. Sangat bagus tak kalah profesional dengan Shah Rukh Khan yang membawakan karakter Rizvan si pengidap Sindrom Asperger. Atau Lukman Sardi membawakan tokoh Abang tak kalah seru dengan Rohit yang idiot diperankan apik oleh Hrithik Roshan. Salam.[]

Rockstar

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori