Oleh: Kyan | 14/12/2013

Mari Berhenti Bermimpi

Mari Berhenti Bermimpi

##

dialog-tuhan-dan-hambaTak apalah… bila tak cukup terinspirasi oleh Laskar Pelangi dan Laskar Pemimpi; Tidak apa-apa kalau tak cukup senang dari dendang kolaborasi Bondan & Fade 2 Black dan Fadj Djibran; atau tak ada kekasih, atau sahabat yang cukup menguatkanmu; Ya sudahlah… mari kita ketawa-ketawa saja, mari kita duduk-duduk saja.

Mari kita pejamkan mata di ranjang buana, untuk kita mati yang bukan mati. Karena mati sesungguhnya hidup, dan hidup sebenarnya mati. Mari kita jungkir balik dalam lenguh panjang di bilik pesanggrahan mencecap kesadaran. Kalau tak kuat dan tak tahan, biasalah karena kita bukan makhluk keajaiban.

Kita hidup bukan di jaman 1925, ketika Tan Malaka menulis “Naar de Republiek Indonesia” untuk sebuah mimpi masa depan negerinya; Kita bukan Mas Ngabehi Dwidjosewojo yang merintis asuransi pribumi pertama Indonesia Bumiputra sejak 1912; bukan pula Raden Aria Wirjaatmadja, sang patih Banyumas yang sejak 1984 mengelola kas masjid yang kini memuncak nama Bank BRI.

Tapi berkat fondasi “syariah” dalam “aqidah” mereka—Tan Malaka lahir dari kondisi sosial pergerakan Kaoem Moeda Islam Minangkabau, Mas Ngabehi yang konsep idenya tak jauh beda dengan konsep asuransi syariah sekarang, dan Raden Aria ingin melawan rentenir yang mencekik rakyat kecil—sekarang kita menyaksikan NKRI sudah berdiri meski harus terseok-seok tanpa pijakan benar, Bumiputera sudah menjadi holding punya sembilan anak perusahaan, dan kantor cabang Bank BRI ada di kota sampai ke pelosok Nusantara.

Begitulah sangat panjang perjalanan mimpi. Bermulanya gagasan pertama sampai yang kita saksikan hari ini sudah seratus tahun kemudian. Kita sekarang hanya menikmati mahakarya mereka, untuk supaya kita tetap bertahan dalam meretas jalan. Betapa hidup ialah petualangan sampai diri terbenamkan dalam kegiatan, kesenangan, dan kenikmatan.

Tapi bila kau cukup lelah, lepaskanlah sejenak dari pelukan mimpi-mimpimu. Kalau terus saja memeluk dan dipeluk mimpi-mimpimu, selamanya kau terus-terusan tidur, tidak menapak di alam kesadaran. Bila kau cukup bosan mendengar petuah-petuah motivasi, dogma-dogma yang menghalang-halangi langkahmu, toh mereka hanya berkata-kata, tak cukup menyumpal mulut dan menendang telingamu. Selebihnya di pundakmu engkau rebahkan badan dan kemana langkah kakimu ke depan atau ke belakang. Tapi kemunduran bukan selamanya ‘kemunduran’, kemajuan bukan selamanya ‘kemajuan’.

Biarkah mereka membangun ‘kerajaan kecil’-nya ketika misalnya Hadji Kalla memulai bisnis dari rumahan yang sekarang meraksasa di Makassar; atau Ahmad Bakrie yang saat bocah menerima “kata-kata baik” tukang obat India, makanya kini ada penganugerahan “Ahmad Bakrie Award”; atau Eddi Kowara sang komandan Laskar Minyak Teknik Umum, yang selanjutnya punya Hotel Preanger dan Bank HS. Begitu pula Djoenaedi Djoesoef si peracik obat Konimex, TK Suprana pengulek Djamu Djago, PK Ojong dan Djakob Utama yang punya Kompas-Gramedia, dan masih banyak pioner bisnis tanah air di mana mereka merintis bukan hanya panjang perjalanan, tapi melewati jalan berliku, melingkar spiral, bergelombang siklikal.

Tapi kalau kau merasa sendirian, merasa hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit hanya menunggu kematian, sudah merasa jadi orang tak berguna, tak mampu mengkapitalisasi kemampuan diri, hingga kau kelaparan dan tak bisa membedakan kapan saat lapar dan kenyang. Semua sudah dijalani, tapi terus bertanya-tanya.

Tak cukup penguatan dari kawan-kawan, karena memang jiwanya kerontang, dan hati terguncang sudah berhutang yang dengan itu harus tetap bertahan. Tak dapat mengakhiri misalnya dengan bunuh diri, karena kalau sudah berhutang akan terus dikejar sampai alam kematian. Ini bukan hutang yang gampang di write-off kalau meninggal, tapi hutang perjanjian di alam rahim bunda pertiwi.

Hidup adalah berhutang, dan kita beragama untuk mencicil pembayaran utang. “Din” yang artinya agama, yang kita maksud sebagai Islam seakar kata “dain” yang maknanya adalah utang.

Dengan itu kita sudah berhutang pada alam pada Tuhan, yang dalam konsep kristiani adalah penebusan. Mau menghindar dari jeratan utang, toh kita sudah hidup, sudah otomatis punya hutang dan hutang harus dibayar. Bila mangkir membayar terus-terusan karena dosa dan murka, sepantasnya datang ke mihrab Tuhan untuk memohon re-covering dan re-scheduling pembayaran.

Ibrahim mencari-cari Tuhan, di mana itu Tuhan.

Kau mengatakan, “Itu?” Bukan. Tapi “Ini.” Tuhan di sini dalam jejak langkahmu, lebih dekat dari nadi lehermu, di kumpulan kaum mustad’afin. Ibrahim seorang hanif yang maksudnya “bercenderungan” pada sesuatu, seumpama kemiringan telapak kaki kiri pada pasangannya, sehingga saat berjalan tidak mencong ke kiri tidak pula ke kanan, tapi jalan lurus menuju sirathal mustaqim tanpa menghiraukan kerikil-kerikil tajam yang berupaya terus mengubah haluan.

Kalau kecendrungan kita adalah kegelisahan, kemurungan, dan kekecewaan; kita berupaya membayar sesuai kemampuan; kita memberi tebusan dengan “itz kariman aumut syahidan”. Tapi pada akhirnya bukan karena sudah membayar, bukan karena sudah “pemberkatan”. Tapi karena “rahman” atau kasih kita hidup dalam naungan Tuhan, bersama Allah di Surga.

Dan hari ini masih belum mampu mencicil hutang? Lantas apa yang harus kulakukan, kawan? Masih cemas menghadapi hari esok padahal hari ini masih tetap bisa makan. Tak dapat membedakan antara berpikir untuk hari esok atau cemas menghadapinya. Apakah bekerja hari ini untuk esok, atau malah tenggelam hari ini demi esok.

praySaatnya mati dari mimpi hidup, untuk hidup dari pundak kematian. Mari hidup dan mati di terminal penghentian![]

 

 

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori