Oleh: Kyan | 11/01/2014

Pidato Thariq Ibn Ziyad Sebelum Pertempuran Guadalete

Pidato Thariq Ibn Ziyad Sebelum Pertempuran Guadalete

##

Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro

Masuknya Islam ke semenanjung Iberia (Andalusia, Spanyol sekarang), atau lebih detilnya ketika 12.000 pasukan Thariq Ibn Ziyad melawan 100.000 pasukan bangsa Visigoth/Gothic pimpinan Roderic, dalam pertempuran Guadalete di Lembah Barbate/Lecca, telah menjadi pintu gerbang renaisans modern dan pembentukan identitas baru Eropa, sepeninggal tumbangnya Romawi Barat yang diserang bangsa kanibal semacam Visigoth (suku Jerman), Lombardia, dan Frank (Prancis).

Maka kisah penyeberangan pasukannya dari pelabuhan Ceuta (Sabtah) yang penguasanya bernama Julian seorang Kristen, bersedia bekerjasama dengan Thariq Ibn Ziyad sang penguasa di Tangier (Maroko sekarang), untuk menghancurkan kekuatan Roderic yang sudah mengkudeta Witiza, sahabat Julian.

Sesudah penyeberangan, setelah mengalahkan pasukan Tedmore, siap-siap menanti kedatangan pasukan Roderic dari Toledo dalam jumlah besar. Meskipun sudah mendapatkan tambahan pasukan pimpinan Tharif Ibn Malik (ekspedisi pertama ke Andalusia) jumlahnya tetap saja jauh lebih besar pasukan Roderic. Timpangnya jumlah pasukan membuat yakin Roderic menang, tapi justru sebaliknya yang terjadi.

Dan sebelum berangkat perang, Thariq sang putra berber ini memberikan hativasi—bukan lagi motivasi—kepada pasukannya. Inilah kurang lebih bunyi pidatonya yang oleh para motivator hari ini sering dijadikan inspirasi bagi kita-kita yang merasa lemah, tak bersemangat, atau tersudutkan oleh keadaan:

Wahai sekalian pasukan kaum muslim! Ke mana kalian akan pergi? Lautan ada di belakang dan musuh ada di hadapan kalian. Maka demi Allah, kalian tidak punya pilihan lain, kecuali bersungguh-sungguh dan bersabar!

Ketahuilah, bahwa kalian di pulau ini jauh lebih sebatang kara dari anak-anak yatim. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan persenjataan serta bahan makanan mereka yang lengkap. Sementara kalian sama sekali tidak mempunyai tempat berlindung selain pada pedang-pedang kalian. Kalian tidak punya perbekalan kecuali dari apa yang berhasil kalian rampas dari musuh-musuh kalian. Jika perang ini berkepanjangan dan kalian tidak segera mengatasinya, maka kekuatan kalian akan binasa.

Berhati-hatilah, musuh kalian yang mulanya takut kepada kalian akan berganti dengan keberanian menghadapi kalian. Rasa takut dalam hati mereka akan berganti dengan keberanian. Karena itu, hilangkan dari hati-hati kalian rasa khawatir akan apa yang akan terjadi dengan menghadapi sang penindas. Karena kotanya yang terbentengi itu telah menyerahkannya kepada kalian.

Sesungguhnya sangat mungkin bagi kita untuk memanfaatkan kesempatan ini jika kalian merelakan kematian. Dan aku, jika aku mengingatkan kalian terhadap suatu hal, maka aku juga ikut menanggungnya. Aku juga tidak pernah membebani kalian untuk mengorbankan nyawa kalian, kecuali aku sendiri telah memulainya.

Ketahuilah, jika kalian bersabar sedikit menghadapi hal yang paling berat, niscaya kalian akan menikmati kenyamanan dan kelezatan dalam waktu yang sangat panjang. Jadi, jangan memandang bahwa diri kalian telah berjasa kepadaku ketika kalian mendapatkan bagian yang lebih banyak dari bagianku.

Mungkin kalian telah mengetahui tentang wanita-wanita cantik yang tumbuh dan lahir di pulau ini, yang berasal dari keturunan Yunani, perhiasan-perhiasan yang terbuat dari emas murni, serta wanita-wanita pingitan yang tinggal di dalam istana-istana yang bermahkota. Dan Al-Walid Ibn Abdul Malik telah memilih kalian sebagai pahlawan-pahlawan, serta meridhai kalian menjadi ipar dan kerabat para raja di pulau ini. Itu karena ia percaya bahwa kalian sangat tenang menghadapi tikaman-tikaman prajurit musuh, kelapangan dada kalian menghadapi tekanan-tekanan pasukan musuh yang berjalan kaki maupun yang berkuda; agar mendapatkan balasan Allah. Karena telah menegakkan agama-Nya, menampakkan agama-Nya di pulau ini, sehingga harta rampasan perangnya murni menjadi milik kalian. Dan hanya Allah SWT yang akan menolong hingga nama kalian akan dikenang di dunia dan akhirat.

Ketahuilah oleh kalian, bahwa aku adalah orang pertama yang memenuhi apa yang aku serukan kepada kalian. Dan sungguh aku akan berada di tempat pertemuan kedua pasukan. Aku akan membawa diriku menghadapi penindas kaumnya itu: Roderic. Dan membunuhnya, insya Allah. Maka bertahanlah kalian bersamaku.

Jika aku akhirnya gugur menghadapinya, maka setidaknya aku telah meringankan kalian dari bebannya. Kalian tidak akan kekurangan seorang pahlawan yang cerdas yang dapat kalian serahkan urusan kalian kepadanya. Jika aku akhirnya gugur sebelum sampai ke sana, maka segeralah angkat penggantiku untuk menyelesaikan misiku ini.

Dan sabarkanlah diri kalian bersamanya. Cukupkanlah tekad kalian untuk menaklukkan pulau ini dengan membunuh Roderic. Karena sepeninggalnya pastilah mereka akan segera dikalahkan.”

Pidato diketik ulang dari buku “Bangkit dan Runtuhnya Andalusia-nya Dr. Raghib Sirjani, yang mengutifnya dari Wafayat Al-Ayn-nya Ibnu Khillikan. Ekspedisi Thariq Ibn Ziyad: sang Gubernur Tangier, hirarkis ke atasnya: Musa Ibn Nushair sang penguasa Magribi dengan ibukota di Kairouan (Tunisia sekarang), ke atasnya lagi: Khalifah Al-Walid Ibn Abdul Malik Ibn Marwan: sang penguasa di masa Bani Umayyah, sebuah dinasti rintisan Muawiyah Ibn Abu Sufyan dengan dulu jabatan pertamanya sebagai Gubernur Damaskus (Suriah).

Berdasarkan data sejarah bahwa Muawiyah Ibn Abu Sufyan pernah berkunjung ke Kerajaan Kalingga (Nusantara, Indonesia) dengan penguasa terkenalnya Ratu Shima (Simo, Singa). Saya meyakini sejak saat itu bangsa Nusantara sudah ada yang mulai bekerja di pabrik galangan kapal di masa Dinasti Bani Umayyah, yang hasil produksinya adalah kapal-kapal untuk pasukan Thariq Ibn Ziyad untuk menyeberang selat Gibraltar

Karena para sahabat, tabiin, panglima militer, atau siapapun umat Islam ingin menjadi lokomotif atau perintis atau pencetak sejarah terpenuhi dustur Nabi bahwa: “Konstantinopel (ibukota Biyzantium Romawi Timur) akan ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara. (HR Ahmad).” Maka kedatangan Muawiyah Ibn Abu Sufyan ke Kalingga, ke Nusantara untuk mengajak kerjasama membuat kapal-kapal yang memang bangsa Nusantara terkenal sebagai bangsa pelaut ulung, untuk melaksanakan misi penaklukan Konstantinopel. Karena bangsa Arab adalah bangsa gurun adalah wajar untuk belajar bagaimana membuat kapal. Tapi memang perlu bukti sejarah untuk mendukung asumsi ini. Wallahua’lam.[]Penaklukan Konstantinopel

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori