Oleh: Kyan | 15/01/2014

Lima Kitab Masterpiece Tentang Andalusia (710-1983 M)

Lima Kitab Masterpiece Tentang Andalusia (710-1983 M)

##

Dunia Barat yang hasil kebudayaannya kita nikmati hari ini, telalu sering menyebut nama Averrous, atau Ibnu Rusyd yang seolah-olah ia milik mereka, ia sebagai tokoh klasik dalam khazanah kebudayaan mereka. Tapi bagi generasi muda saat ini, mungkin karena pada masa akhir hidupnya dimusuhi sampai dianggap sebagai hellenis muslim, nama besarnya setengah-setengah diperkenalkan pada generasi Islam kemudian.

Padahal beliau seorang ulama, seorang hakim kesohor di Seville dan hakim agung Cordova, ayah dan kakeknya juga seorang ulama, ia yang lahir tak jauh dari Mezquita (Masjid Agung Cordova), ia yang hidup di masa Dinasti Muwahidun, penganjur rasionalitas, penulis Tahafut al-Tahafut (kerancuan di atas kerancuan) sebagai sanggahan karya Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah (kerancuan faylasuf) yang semangat belajarnya menurut Ibnu Al-Abrar sebagaimana dikutip di bukunya Jamil Ahmad, “100 Muslim Terkemuka” bahwa selama hidupnya Ibnu Rusyd: “hanya ada dua malam yang tak digunakannya untuk belajar, yang pertama malam perkawinannya, dan yang kedua malam kematiannya. Maka pantaslah ia sebagai inspirator Barat dengan gairah belajar tinggi dan buah pemikirannya yang brilian, sepantasnya memang menjadi teladan bagi generasi muda baik di Timur maupun Barat.

Lalu kenapa saya mengumpulkan beberapa literatur tentang Andalusia, bukan semata karena Ibnu Rusyd lahir di Andalusia, tapi memang siapapun manusia terbaik di masanya tidaklah lahir begitu saja, atau tiba-tiba muncul dari langit. Tapi ia adalah dilahirkan dari sebuah situasi sosial dan sejarah yang melatar-belakanginya. Ibnu Rusyd adalah buah dari pohon peradaban, anak dari rahim kebudayaan Islam yang terbangun semenjak penyeberangan pasukan Thariq Ibn Ziyad sampai datangnya Ibnu Tumart yang membangun Dinasti Muwahidun di Andalusia.

Maka ketika sekarang begitu banyak perkumpulan-perkumpulan atau ormas-ormas dari suatu sistem kohensi sosial, mulai dari yang paling liberal sampai radikal, akan percuma kalau dihuni oleh individu-individu keropos, seperti yang disabdakan Nabi: Umat Islam yang banyak itu bagai buih di lautan. Dan untuk memunculkan manusia-manusia baru, “Kita tak bisa menunggu datangnya Imam Mahdi untuk melakukan sebuah revolusi,” kata Khomeini. “Kita tidak bisa menunggu dalam Hamtana, tapi Yahudi harus punya negara sendiri,” kata Pisker. Maka melahirkan seorang generasi dan pemimpin masa depan haruslah diupayakan dengan perubahan sosial yang fundamen pada akar sejarahnya sendiri.

Tapi sebenarnya pula alasan lebih dini, kenapa ingin mengetahui lebih detil sejarah Andalusia, dulu semasa kecil saya ada film serial Ramadhan di TVRI yang tak selesai saya tonton. Seperti juga menonton film “The Sword of Tifu Sultan”, atau yang belakangan film “Ashabul Kahfi”, dan dua Ramadhan tahun lalu ada film “Omar Ibn Khathab” yang tayang di MNCTV.

Dulu saya menonton film sejarah Andalusia sangat membekas di ingatan dengan nama pahlawan Abdul Rahman. Mungkin judul filmnya “Abdul Rahman” tapi entah judul sebenarnya. Karena harap maklum dulu menonton filmnya di kampung sebelah, dan itupun hanya sekali. Begitu membaca buku sejarah Andalusia, terlalu banyak nama Abdurrahman, yang entah dalam film itu apakah mengisahkan Abdurrahman Ad-Dakhil (Sang Elang Quraisy), atau Abdurrahman An-Nashir (Pelanjut Estapet Kekhalifahan), ataukah Abdurrahman Al-Ghafiqi (panglima pertempuran Balatih/Poitiers). Dan namanya ingatan anak kecil pasti membekas kekal sampai akan terus mencari-cari kemudian, siapa sih Abdul Rahman dan bagaimana sih sejarah Andalusia.

Maka terkumpul saat ini ada lima buku referensi sejarah Andalusia dari yang sudah saya baca, yang menjadi koleksi Gallery Masterpiece ASI7 dengan judul-judul sebagai berikut:

1.       The Greatness of Al-Andalus (David Levering Lewis)

Lewis - Andalus

Lewis – Andalus

Buku terbitan Serambi ini adalah karya sejarawan Amerika, yang menulis untuk memberikan kuliahnya tentang sejarah abad pertengahan di berbagai universitas di Eropa dan Amerika. Ia memberi gambaran terutama tentang Pertempuran Poitiers atau dalam buku sejarah Islam disebut Pertempuran Balatih atau yang lebih dikenal Bilat Asy-Syuhada/Moussais la Batalille, antara pasukan Islam dibawah pimpinan Abdurrahman Al-Ghafiqi yang wafat saat hari kesepuluh lamanya pertempuran, dengan pasukan Kristen yang dipimpin Charles Martel dari Austrasia dan Duke Ode dari Aquitaine, dimana pasukan Umayyah mengalami kekalahan setelah membawa banyak harta rampasan, yang padahal sebelumnya pasukan Islam sudah menang, dan antara Charles dan Duke Odo sebelumnya saling berperang.

Kenapa Lewis mengambil titik ini, karena sejak kekalahan di Balatih/Poitiers, dimana kota tersebut sudah melampaui kota Paris sekarang, di hari kemudian pasukan Umayyah tidak lagi melakukan ekspansi semakin ke utara, yang ini disayangkan oleh sejarawan Gibbon. Katanya kalau mereka terus ekspansi ke utara, diperkirakan kemajuan Barat akan tiga abad lebih cepat dari yang terjadi sekarang. Dengan demikian, sejarawan Barat sangat mengakui peran Islam bagi pembentukan dan kemajuan Eropa.

Dan menurutnya ketika sekarang pemerintah Amerika melakukan ekspansi ke Baghdad dan Afghanistan, ke jantung pertahanan peradaban Timur Tengah, seperti halnya dulu pasukan Charles Martel menahan Islam tidak sampai menguasai Eropa Utara, sesungguhnya Barat sendiri yang akan menanggung kerugian. Ketika sekarang Islam masih difahami sebagaimana prasangka saat Perang Salib di Abad Pertengahan, bila Islam masih dianggap musuh bebuyutan Barat sebagaimana analisa Francis Fukuyama tentang Benturan Peradaban, sesungguhnya ulah Barat sendiri yang memunculkan kaum fanatik muslim.

Demikian kalau melihat sejarah Islam Andalusia, di mana antara Islam, Kristen, dan Yahudi saling berinteraksi dan hidup berdampingan dalam berbagi keuntungan. Seperti contoh kecil yang saya temukan, dikisahkan dalam sejarah seorang Eleanor, putri Raja Aquitaine (Prancis Selatan) yang menikah dengan Louis (Raja Prancis), yang selanjutnya menikah dengan Henry II (Raja Inggris) yang menjadi ibunda Richard (Si Hati Singa). Richard yang bermusuhan sekaligus bersahabat dengan Saladin. Eleanor, puteri Aquitaine ini mampu menulis syair, menguasai berbagai bahasa, dan berpenampilan bersih. Ia lahir di istana Poitiers, kota yang sudah banyak berinteraksi dengan wilayah Islam dan kakeknya banyak mendatangkan para penyair dan sarjana terbaik di masanya yang kuliah di Universitas Cordoba mengabdi pada pada istana Aquitaine.

Ketika menikah dan datang Paris, melihat kehidupan Paris ia menilainya sebagai kota barbar. Sebagaimana kita tahu hari ini Paris adalah kota mode dan tempat dilahirkan seniman besar, yang bermula dari seorang Eleanor yang membawa para penyair, mode pakaian baru, dan tata perilaku baru dari Aquitaine, ia mendidik ksatrianya sendiri, yang selanjutnya memunculkan revolusi budaya bagi Paris hari ini.

2.       Bangkit dan Runtuhnya Andalusia (Dr. Raghib Sirjani)

Raghib_Andalusia

Raghib_Andalusia

Buku karya sejarawan Islam terkini yang diterbitkan Pustaka Al-Kautsar, memaparkan sejarah Andalusia secara lebih terperinci dan membawa perspektif lain yang tidak saya temukan dalam karya sarjana Barat. Kita akan menemukan detil dan penilaian atas kejadian per kejadian.

Misalnya tentang penyeberangan pasukan Thariq Ibn Ziyad yang menurut sejarawan Barat, katanya semata karena Julian (Penguasa Ceuta/Sabtah) yang kristen ingin melakukan balas dendam pada Roderic. Balas dendam karena Florinda, puterinya yang mengabdi pada Kerajaan Visigoth Witiza, telah dinodai oleh Roderic, dan Roderic telah merampas tahta dari Witiza yang mangkat, atau dari anak sulung Witiza, Akhila.

Tapi menurut Raghib Sirjani, itu sebenarnya hanya pelengkap alasan saja, bahkan itu dikatakan sebagai pertolongan Allah dalam memuluskan jalan bagi ekspedisi Umayyah ke Andalusia. Karena sejak semula sejak Muawiyyah, bahkan sejak Khalifah Utsman Ibn Affan, ingin sekali menaklukkan benteng Konstantinopel yang kokoh itu. Kalau menyerang secara langsung pakai armada laut dari depan benteng, akan sangat menyulitkan. Maka sebagian cara bagi Musa Ibn Nushair, yaitu dengan mengepung dari arah baratnya, dari penguasaan pantai Mediterania (Laut Tengah), dari penguasaan Kepulauan Balyar (Mallorca, Manuraca, dan Ibiza), lalu menguasai sisi timur Semenanjung Iberia, memasuki wilayah Eropa Timur, mulai dari Spanyol, lalu Italia, selanjutnya Yugoslavia, kemudian Rumania, dan selanjutnya lagi Bulgaria, dan sampailah berhadapan langsung dengan wilayah kekuasaan Byzantium (Romawi Timur).

Begitupun soal perahu yang digunakan untuk menyeberang dari pelabuhan Ceuta/Sabtah, sebagian mengatakan adalah perahu milik Julian, tapi bagi Sirjani memang sebagian milik Julian sebagai informan tapi itu sebagian kecil saja. Karena Daulah Umayyah sendiri sudah punya pabrik kapal yang ini menurut saya sebagian pekerjanya didatangkan dari Nusantara. Sejak kedatangan Muawiyah ke Kalingga-Nusantara. Begitu juga tentang siapakah sebenarnya Thariq Ibn Ziyad. Ia seorang Yunani dari pembacaan saya dari The Greatness-nya Lewis, atau menurut Sirjani adalah seorang Berber. Tapi yang jelas sejak nama kakeknya sudah muslim. Rincian silsilahnya: Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walughu bin Waranjum bin Nabarghasan bin…

3.       Pembawa Kabar Dari Andalusia (Ali Al-Ghareem)

Ali - Kabar Andalusia

Ali – Kabar Andalusia

Ini karya fiksi tapi layak dijadikan referensi untuk merasakan nuansa masa kehidupan Islam Andalusia, khususnya menjelang Cordova dan Seville akhirnya bersatu. Pada mulanya di antara mereka berjalan sendiri-sendiri, sampai Seville yang dipimpin oleh Al-Muktadlid dan Ibnu Zaidan merebut Cordova.

Novel ini buah imajinasi sastrawan Mesir, menceritakan seorang tokoh bernama Ibnu Zaidan, seorang sastrawan dan sejarawan yang sebelumnya memiliki hubungan dengan Aisyah binti Ghalib, gadis peranakan hasil pernikahan antara anak menteri penguasa Cordova dengan Florenda. Florenda (juga nama putri Julian dari Ceuta) adalah seorang penari dan penyanyi dari Saint Yakev, bersama ayahnya, Gracia datang dari pengungsian karena Saint Yakev diserang pasukan Al-Mansur, terpaksa untuk bertahan hidup ia urbanisasi ke kota metropolis Cordova.

Lalu diceritakan Wilada binti Al-Mustakfi, sang putri raja juga seorang seniman dan penyair, yang dicombangkan dengan Ibnu Zaidan oleh Naila Al-Dimaskya. Saat pertemuan antara keduanya saat pesta, mereka berbincang tentang syair, dan Ibnu Zaidan melihat isyarat mata dari sang puteri raja. Dalam renungannya di tengah pesta, ia merasa dirinya hanya sebagai pembual, dan akuannya bukankah penyair tak lebih dari seorang yang membangga-banggakan dirinya sendiri? Lalu menilai sang puteri apakah ia sungguh memancarkan pesona mata biasa ataukah apa. Tapi simpulnya: Kekuatan manusia itu lemah untuk berpura-pura menyembunyikan kebenaran.

Di bab lain diceritakan tentang kehidupan Florenda dari kampung halamannya di Saint Yakev hingga urbanisasi ke Cordova. Saint Yakev diserang oleh pasukan muslim, dan Gracia (ayah Florenda) awalnya tidak mau menerima kewajiban jizyah yang katanya tak lebih dari 12 dirham dalam setahun sehingga ia mengungsi dari kampungnya yang sudah dikuasai pasukan muslim—Soal jizyah dalam bukunya Sirjani, hanya satu dirham dalam setahun, tapi dalam novel ini 12 dirham. Memang ini memerlukan penelaahan tersendiri dari buku-buku fikih.

Dalam kesengsaraan melarikan diri di pegunungan ibunya meninggal. Maka tak ada kehidupan lagi selain harus pergi ke kota yang aman. Mulanya mereka menyanyi dan menari, dan selanjutnya sebagai penjual buah-buahan, tapi unjuk kebolehan Florenda dilihat dan berhasil dimanfaatkan oleh Petro, pengusaha restoran dan club sebagai mesin uang, sehingga akhirnya Florenda terkenal dan banyak dilirik para anak-anak pejabat. Termasuk pemuda Ghalib, seorang anak menteri yang sering berkunjung ke club milik Petro, mampu menikahinya dan lahirlah Aisyah binti Ghalib

Karena Ibnu Zaidan tidak tahan dengan omongan orang tentang keburukan Aisyah. Lalu ia memutuskan hubungan dengan Aisyah dengan intrik Naima, seorang ibu angkatnya sekaligus comblangnya dengan Wilada. Ini membuat Aisyah ingin melakukan dendam pada Ibnu Zaidan sampai ia masuk penjara

Novel ini dapat dikatakan sesungguhnya perseteruan antar perempuan, dan mungkin penulis ingin mengangkat bahwa sebenarnya peran perempuan dalam sejarah peralihan satu penguasa ke penguasa Islam lainnya sangat besar. Mulai dari intrik Naima, yang suami dan anaknya wafat dalam peperangan, lalu mencurahkan keibuannya pada Ibnu Zaidan, sehingga mengantarkan Ibnu Zaidan menjadi menteri. Tapi intrik Aisyah yang dendam cinta, yang dibantu lawan-lawan politiknya, membuat Ibnu Zaidan dipenjara.

Sampai ending cerita, serangan Seville yang mulanya Ibnu Zaidan sebagai duta besar Cordova di sana, lalu ia “membelot” dan ikut serta penyerangan ke Cordova demi tujuan mulia mengembalikan kegemilangan bersatunya para penguasa Andalusia, khususnya Seville dan Cordova.

 4.       Shadow of The Pomegranate Tree (Tariq Ali)

Tariq_Shadows Pomegranate

Tariq_Shadows Pomegranate

Novel ini bagian dari tetraloginya Tariq Ali, yang mana setiap novelnya mengangkat kisah masing-masing Dinasti Islam. Misalnya novel pertama, “Book Of Saladin” (Kitab Salahuddin) menceritakan Dinasti Ayubiyah, ketika Saladin membebaskan Yerusalem dari Baldwin, Raja Yerusalem. Buku kedua, “The Stone Women” (Sang Perempuan Batu) bercerita saat keruntuhan Kesultanan Turki Utsmaniyah sampai berdirinya Turki Modern dengan saksi bisu Perempuan Batu. Lalu “A Sultan in Palermo” (Seorang Sultan di Palermo” mengisahkan saat Sisilia/Siqiliya yang berpenduduk mayoritas muslim berhasil dikuasai Raja Roger II (Sultan Rujari) yang Kristen dan bersahabat dengan ilmuwan terkenal, Muhammad Al-Idrisi, seorang pembuat peta.

Lalu “Shadow of The Pomegranate Tree” (Bayang-Bayang Pohon Delima) barulah menyoroti tentang Andalusia, yaitu di masa-masa tahun 1499 M, ketika masa kritis setelah kejatuhan Benteng Granada/Gharnata tanggal 2 Januari 1942. Setelah kejatuhan Granada, ada sebuah desa yang berjarak 20 meter dari Granada yang dibangun sejak 932 M oleh Hasan Al-Hudayl yang melarikan diri dari Dimashk/Damaskus, membawa serta keluarganya untuk bermukim dan membangun sebuah desa yang nanti di dalamnya berdiri kokoh “Medina Al-Zahra”.

Tapi yang dikisahkan dalam novel ini beberapa tahun setelah penaklukan Granada, tentang bagaimana kehidupan generasi keempat keturunan Al-Hudayl di tengah ancaman pasukan Ferdinand dan Ratu Isabella dan aturan Inkuisisi gereja. Tentang pernak-pernik kehidupan mulai dari soal bidak catur—permainan catur ingin saya pelajari asal-muasalnya, karena dalam film kolosal 1453, film yang mengisahkan penaklukan Konstantinopel, juga ada adegan kesenangan raja Muhammad Al-Fatih adalah bermain catur.

Lalu soal para pendeta kristen yang takut sekali dengan air, yang menganggapnya mandi adalah pengkhianatan sebagai orang suci, sebagai anak Tuhan. Tentang keputusan salah satu kerabat Al-Hudayl yang terpaksa beralih agama menjadi kaum Morisco (mualaf kristen dari Islam), termasuk mungkin Zuhayr bin Umar yang terpaksa menggunakan topeng yang tak pernah dilepaskan sebagai identitas barunya, dan berhasil membangun karir sebagai panglima militer di Kerajaan Katolik Spanyol, dan berhasil pula mendirikan kota Tenochtitlan dengan nama raja Moctezuma.

5.       Kebangkitan Islam di Andalusia (Ahmad Mahmud Himayah)

Himayah - Islam Andalusia

Himayah – Islam Andalusia

Kalau ingin mengetahui bagaimana Andalusia hari ini, atau setidaknya di akhir abad 19 sedikit informasi kita peroleh dari buku tipis ini yang diterbitkan Gema Insani. Setelah pemberlakuan otonomi pada setiap wilayah Spanyol 28 Februari 1980, Andalusia menerima hak otonomi dimana rakyat setempat berani menggunakan simbol-simbol Andalusia Islam, seperti perisai dan bendera.

Menggunakan perisai yang dulu terdapat di pintu gerbang kota Cordova, yang dipakai pada masa Abdurrahman An-Nashir. Tapi di wilayah lain menggunakan perisai lain yang ditemukan Anfanty di tahu 1918 yang katanya simbol Spanyol sebelum kedatangan Islam. Tapi Anfanty nama lengkapnya Prof. Valas Anfanty, ia seorang muallaf muslim, adalah simbol perjuangan kebangkitan Andalusia Islam modern. Dilahirkan tahun 1885 yang ketika usia 15 tahun menemukan buku tentang raja terakhir Sevilla/Aspilia/Isbiliya, yaitu Mu’tamid bin Ibad. Lalu ia pergi berziarah ke makamnya di Agmat (Maroko) melalui proses yang sulit sampai akhirnya masuk Islam.

Sejak menjadi muallaf, ia menyerukan tentang urgensi dan martabat Universita Islam Cordoba yang mengajarkan Barat tentang kebudayaan dan peradaban. Lalu ia mengecam pemerintah pusat untuk mendeklarasikan berdirinya Republik Andalusia lewat bukunya, Asasiyat Al-Andalus (Fondasi-Fondasi Andalusia). Namun resiko perjuangannya, di tahun 1936 ia menerima hukuman mati pada masa penguasa diktator Spanyol, Franco. Franco yang naik jabatan tahun 1937 dan jatuh dari tahta tahun 1975, yang akhirnya membawa hak otonomi pada Andalusia.

Lalu identitas lainnya dari simbol Islam adalah, penggunaan bendera dengan tiga garis pita warna hijau, putih, dan hijau. Hijau yang pernah dipakai sebagai bendera Daulah Umayyah dan putih yang melambangkan negara kesatuan setelah berpecah-pecah. Bendara ini pertama kali dibuat oleh Sultan Abu Yusuf Ya’qub al-Muwahidun yang pernah berkibar di menara Masjid Seville setelah berhasil mengalahkan pasukan Kristen.

Sejarah berikutnya setelah Anfanty, muncul sejarawan bernama Antonio Medine Miller yang masuk Islam tahun 1981, yang berganti nama menjadi Abdurrahman Madine. Bersama dua rekannya memobilisasi kekuatan menjadi cikal bakal berdirinya Jemaah Islamiah. Jemaah ini agak protektif terhadap organisasi luar Andalusia, karena dikhawatirkan akan ditulari pemikiran-pemikiran yang intoleran yang jauh sebenarnya dari Islam. Mereka terusa memperjuangkan nasionalisme sebagai  kunci pembuka pada pangkuan Islam, sejarah leluhurnya.

Mereka pernah melakukan perhelatan akbar, selain menggelar Pekan Budaya Andalusia di Universitas Malaka, yaitu pertama kalinya melakukan peringatan 900 tahun meninggalnya Mu’tamid bin Ibad (Raja Seville terakhir) yang dilangsungkan hari Jum’at, 14 Oktober 1983 yang dihadiri sekitar 5.000 orang. Di antara yang banyak penyair Andalusia, seperti Khauzy Lowiss Ortez dan Beni Romero. Ketika pemerintah pusat merayakan Runtuhnya Daulah Andalusia (2 Januari), Jamaah Islamiah sering membuat acara tandingan dengan mengangkat tema “Tangisan Granada” yang banyak dihadiri para seniman, sastrawan, dan budayawan Andalusia, dimana pengunjungnya justru lebih banyak dari acara Penaklukan kembali.

Dengan demikian, ketika di Indonesia ada ustadz muda terkenal yang muallaf, mengatakan tidak ada dalil untuk nasionalisme, tapi sesungguhnya muslim Andalusia saat ini membutuhkan nasionalisme sebagai tahapan-tahapan untuk mengembalikan kejayaan Andalusia, untuk mengembalikan sejarahnya.

#

Lalu kenapa kita sebagai muslim Indonesia perlu bicara Andalusia, pertama, ketika saat ini ada ustadz muda mengatakan bahwa tidak ada dalil syar’i untuk nasionalisme, katanya “membela nasionalisme, nggak ada dalilnya, nggak ada panduannya, sedangkan membela Islam, jelas panduannya, jelas contoh tauladannya. Menanggapinya mungkin Gus Dur akan bilang, “Islam tidak perlu dibela.. gitu aza kok repot”. Tapi harap diketahui saja, saat ini Muslim Andalusia sangat membutuhkan nasionalisme sebagai tahapan-tahapan untuk untuk mengembalikan sejarahnya. Mereka saat ini protektif pada organisasi luar yang banyak membawa faham “intoleran”.

Lalu kedua, Buya Hamka khawatir Indonesia akan seperti Andalusia–saya belum menemukan data tertulis apakah benar beliau pernah mengatakan itu, tapi itu sudah sangat mengganggu pikiran saya. Apakah benar kaum muslim Indonesia akan habis secara drastis atau pelan-pelan akibat Kristenisasi (sebagai pola baru Perang Salib, Menurut Karen Armstrong), sampai muncullah propaganda Save Maryam.

Tapi bagi saya antara Indonesia dan Andalusia, sangat berbeda sejarah awal kedatangannya Islam. Masuknya Isam ke semenanjung Iberia, dimulai dengan menyeberanglah Thariq Ibn Ziyad bersama pasukan untuk membebaskan Florenda (puteri Julian), yang makanya wajar kalau Barat mengatakan Islam adalah agama pedang, karena menguasai wilayah mereka dengan pedang. Tapi memang perang pada masa itu adalah kewajaran. Seperti orang Barat sekarang tak merasa berdosa sudah melakukan kolonialisme dan imperialisme terhadap negeri-negeri Timur, karena dianggapnya pada masanya adalah wajar.

Tapi hadirnya Islam di Nusantara adalah lewat jalur perdagangan, pernikahan, dan kewajaran yang berwatak feodal—ABS, kata Mochtar Lubis—ketika rajanya masuk Islam, maka seluruh rakyatnya berbondong-bondong masuk Islam. Ketika pemimpinnya mengatakan Alif, maka pengikutnya pun sama menyebarkan hal yang sama, dimana tidak ada independensi berpikir. Mau berpikir begini-begitu karena takut dianggap liberal, sesat, dan kafir, akhirnya otaknya tak pernah digunakan sama sekali, kecuali berpandai-pandai menggunakan otot dalam mengatasi setiap persoalan.

Tapi kesamaannya, kalau di bumi Indonesia antara bermacam agama dapat hidup saling berdampingan, tidak gampang muncul prasangka pada yang liyan, tidak gampang tersulut, tapi di antara kita saling memberi aman, termasuk siapa pun yang terpana dengan faham-faham dan organisasi lokal dan internasional apapun, buatlah demi tanah air Indonesia.

Menjadi Salafi-Wahabi, jadikanlah Wahabi Indonesia, bukan demi kepentingan Arab Saudi. Menjadi orang Syiah, jadilah Syiah khas Indonesia yang tak berafiliasi dengan Iran. Terdecak kagum oleh demokrasi Amerika, carilah hal-hal yang baik dari Terdecak kagum oleh demokrasi Amerika, carilah hal-hal yang baik dari negeri-negeri manapun demi kemaslahatan bersama menjadi Muslim Indonesia.

Dengan demikian, antara Indonesia dan Andalusia yang sangat berbeda sejarah awal kedatangannya, maka tentu akan berbeda akhirnya. Islam Indonesia itu sangat mengakar dan merimbun, tinggal menunggu buahnya saat musim panen. Tapi karena selalu muncul “hama” ulah orang-orang ekstimisme, akhirnya selalu saja gagal panen. Wallahua’lam.[]

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori