Oleh: Kyan | 24/01/2014

Andaikan Yang Dilarang

Jum’at, 24 Januari 2014

 Andaikan Yang Dilarang

##

Dari buku Revolusi Belajar dikatakan bahwa dari usia balita akan menentukan masa depan. Bukan bermaksud unggul, dulu SMP saya adalah murid terbaik.Tapi andaikan saya sekolah di Tasikmalaya, bukan di SMAN 2 Cimahi,saya akan punya bargaining positioningdalam persaingan dengan kawan-kawan SMA yang lain, sehingga ada peluang lebih besar masuk perguruan tinggi negeri lewat jalur PMDK, sehingga selanjutnya bisa mempunyai peluang lebih besar lagi pada pekerjaan mapan saat ini.

Tapi takdir yang berjalan seolah-olah aku sekarang ini arsiteknya adalah kakakku. Karena kakakku yang telah membawaku dari kampung kami di kaki perbukitan Tasik Selatan, lalu memilih sekolah di SMAN 2 Cimahi yang sepertinya aku paling miskin yang masuk sekolah itu. Bukan hanya paling miskin, tapi paling sengsara. Aku harus bersaing dengan mereka yang selain mereka berada, tapi kaya juga pintar. Ini sekolah terbaik di Kabupaten Bandung dan kelima dari Propinsi Jawa Barat yang entah ukurannya berdasarkan apa sehingga aku pun hanya menjadi orang-orang biasa saja di dalamnya.

Meskipun aku pun dikenal oleh guru-guru karena aku mendapatkan beasiswa Supersemar, dan beasiswa lain yang tak saya hitung berapa sumbernya. Sampai saya disuruh datang ke rumah kediaman Pak Djamari Chaniago, Kepala Staf Angkatan Darat Cilangkap di Jl. Nias No.5 Bandung. Begitupun dulu waktu SMP, saya pun pernah ada panggilan dari kantor Kecamatan untuk ikut serta dengan Kepala Dinas dan Camat Pancatengah untuk menghadiri sebuah pertemuan di Tasik.

Tapi pada akhirnya aku hanya mampu masuk sepuluh besar dan limabelas besar saat SMA, sehingga tak ada peluang meraih PMDK. Mungkin bukan tak peluang PMDK, tapi untuk kuliah saja, berpikir untuk bisa kuliah saja sepertinya gelap jalan.Darimana biaya kuliahnya, toh selama ini hanya mengandalkan jerih payah ibuku yang sudah tua hasil dari tukang pijit. Saat itu pokoknya benar-benar tiada harapan bagaimana aku melanjutkan pendidikan. Sudah lulus SMA saja sudah Alhamdulillah, karena dari beasiswa yang menjamin bahwa saya harus lulus dari SMA.

Begitu lulus SMA, nyatalah seperti tak jelas arah masa depan. Masih mengikut dan menumpang di rumah kawan SMA, berganti-ganti pekerjaan dari sales sampai tukang back-up VCD bajakan. Lalu memutuskan hijrah ke Batam, dan syukur Alhamdulillah datang pula kesempatan kuliah. Memilih kuliah di UIN karena sudah mafhum bahwa kata orang yang kutemui di Masjid Raya Batam bahwa kuliah di UIN itu murah-meriah.

Tapi ada saja keluhannya. Kuliah di UIN kenapa juga mesti D3, tidak langsung S1 sehingga untuk persyaratan bekerja pun tidak tanggung. Kupikir sekolahku dan prestasiku sia-sia tak terpakai dalam kehidupan. Meskipun aku lulusan IPK tertinggi, tapi rasanya sulit untuk mendapatkan pekerjaan mapan.

Terbuktilah sekarang aku tak menjadi apa-apa dan pekerjaan sekarang adalah pekerjaan kasar yang memerlukan perjuangan ekstra berat menggunakan otot, bukan otak. Seolah-olah nasib baik atau nasib mujur tidak berpihak padaku. Tapi kata orang, mereka pun mengalami hal yang sama. Barang siapa yang pandai bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya padaku.

Ya, aku bersyukur atas kesehatan yang dilimpahkan padaku. Alhamdulillah aku masih sehat, masih bisa motor-motoran mencari pengalaman baru. Di ATM masih ada uang meskipun itu uang ibuku. Aku sudah berhutang pada uang ibuku dua juta lebih untuk makanku selama jadi pengangguran. Bagiku itu harus diganti dan tetap jumlahnya harus sama seperti saat ibuku mentransfer.

Masih layakkah aku memperjuangkan ingin tetap kuliah ketika usia sudah mau 31 tahun. Belum menikah lagi. Lantas aku ini mau jadi apa sih sebenarnya? Kenapa bela-belain ingin kuliah lagi? Setelah kuliah mau jadi apa sih? Ini hidup sudah susah, masih mau buang-buang uang untuk biaya kuliah. Sudah kuliah juga belum tentu kehidupan menjadi lebih baik. Kemarin saja selama tiga tahun sudah berapa puluh juta, toh menghasilkan apa? Kok tak jadi apa-apa di saat usia yang sama seperti mereka.

Apakah karena iri pada mereka? Mereka ketika sudah lulus kuliah, lalu mendapatkan pekerjaan layak, lalu menikah, Ketika sudah menikah, sudah punya anak, dan pekerjaan semakin mapan, dan penghasilan pun lumayan tak membuat kelaparan keluarga. Sementara aku kenapa situasinya tidak seperti mereka. Kenapa orang lain tidak sepertiku? Kenapa aku terus memilih pekerjaan yang ada saja demi menghentikan lapar meskipun itu pekerjaan sulit dan tidak suka. Aku tidak benar-benar bisa memilih pekerjaan yang sesuai minat dan studiku.

Meski memang saat ini aku ingin belajar jadi marketing, tapi apapun itu saya hari ini adalah takdir, sudah menjadi takdir. Inilah takdir hidupku yang menurut Allah baik buatku. Tidak menyalahkan siapapun atas nasib yang kulalui, tidak juga berontak pada Allah. Justru aku harus memohon pada Allah untuk bisa diberikan pengertian atas semua yang telah menimpaku sampai detik ini. karena itulah yang terbaik menurut Allah supaya aku mendapat hikmah.

Lantas bagaimana nanti aku mengarahkan anak-anak untuk tumbuh kembang sesuai karakter dirinya dan mampu menghadapi situasi zaman? Mungkin situasi jiwanya akan sepertiku. Aku harus bisa meyakinkan diri bahwa kita mampu dan inilah namanya hidup dan kehidupan.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori