Oleh: Kyan | 25/01/2014

Masihkah Semangat Membara

Sabtu, 25 Januari 2014

Masihkah Semangat Membara

##

Seminggu sudah kujalani jadi pemasar di Penerbit Yudhistira. Bagaimanakah perasaannya sudah seminggu ini mendatangi sekolah demi sekolah SD. Mampukah aku bertahan. Masihkah aku semangat.

Bertanya semangat, disadari biasanya pertama semangatnya tinggi, tapi ketika sudah mendapatkan kesulitan hingga mengusik mental, akhirnya semangatnya menurun atau bahkan punah dan tak ingin melanjutkan lagi. Bagaimanapun dan dalam hal apapun mendapatkan penolakan itu biasa. Menyatakan cinta pada wanita saja harus tegar hati karena akan berapa kali bahkan berpuluh beratus kali pernyataan cintaku ditolak.

Sesudah kujalani datang ke sekolah demi sekolah, jawaban mereka selalu saja sama. Karena memang bidikannya adalah anggaran dana BOS, karena sulit untuk bisa menjual buku ke siswa. Meskipun justru dulu penghasilan tambahan guru itu biasanya dari rabat buku. Pemerintah ingin supaya guru sudahlah menjadi guru, jangan bisnis. Tapi kalau gaji guru tak seberapa dan sifat manusia tak pernah cukup, peluang mengundang fulus siapa yang ingin membuang kesempatan.

Sementara yang menjadi leader, yang menguasai pasar bahkan di seluruh Indonesia adalah Erlangga.Bagaimana aku mampu menapaki selangkah demi selangkah ke depan, bisa menyalip laju cepat mereka kalau perkakas yang digunakan tak melebihi mereka. Bagaimana aku bisa maju selangkah lebih cepat dari Erlangga, kalau support perusahaan sangat kurang. Bagaimana bisa berlari cepat sementara Erlangga sudah jor-joran melakukan promosi untuk mengikat hati dengan konsumen.

Sementara ini mengandalkan diri marketing sendiri. Seolah-olah manajemen mengandalkan itu saja. Pokoknya bagaimanapun caranya kemampuan diri supaya bisa terjalin ikatan kedekatan dengan pihak sekolah pakai cara sendiri. Tapi di zaman sekarang yang kata orang-orang, kata senior, termasuk kata manajemen sendiri, bisakah kalau tanpa embel-embel memberikan sesuatu sehingga terjadi deal kerja sama.

Kalau bertamu katanya sebaiknya membawa sesuatu yang itu harus dengan uang. Ya untuk mengundang uang harus dengan uang. Tapi apakah semua orang selalu melulu tertarik dengan uang? Apakah itu namanya selain sebagai penyembah uang, sebagai hamba uang. Tapi aku masih percaya masih bisa dengan manual yang dengan kedekatan emosional, dengan pendekatan dari hati ke hati, bisa terjalin ikatan persahabatan. Antara aku dan merekabisa bersedia saling bantu-membantu, meskipun itu perlu waktu.

Bagaimanapun dan sebodoh apapun aku pasti punya sesuatu atau kecakapan yang bisa dibantukan pada mereka. Tidak melulu uang yang bisa kuberikan, karena memang belum kupunya. Ini saja sudah tekor buat makan dan bayar kosan bagaimana bisa jor-joran mengaitkan hati denan uang.

Tapi benar setiap orang punya karakter berbeda-beda, setiap kepala sekolah punya kecendrungan yang tak sama. Kalau mereka mata duitan, ya untuk mendekatinya harus dengan uang. Kalau dia sudah cukup banyak uang, tapi menginginkan perbincangan, butuh didengarkan dari kebosanan dengan pekerjaan, aku siap mendengarkan mereka yang ketika aku datang ke sekolah memang aku suka lebih banyak mendengarkan. Sering kupancing saja mereka supaya yang lebih banyak bicara. Karena kedatanganku ke sekolah dan mengaku dari Yudhistira penerbit buku sudah otomatis mereka sudah tahu bahwa kedatanganku untuk menawarkan buku.

Seperti kepala sekolah yang sudah jujur tidak bermuka dua, tidak munafik bahwa kalau diberi uang siapa yang tidak mau. Tentu dengan ditawarkan uang muka rabat (UMR) dipastikan mereka mau. Hanya saja di antara penerbit yang datang mana yang lebih besar jumlahnya, mana yang lebih menarik service excellence-nya.

Tapi itu masalah pekerjaan, lantas bagaimana aku sekarang hidupku di Tasik akankah terus berlanjut hidup di sini?Di kotanya kampung kelahiranku ingin terus mewujudkan mimpi dan harapanku. Pulang ke Tasik karena sengaja aku memilihnya, ingin mencoba hidup di sini, ingin merintis karir kehidupan, untuk bisa ikut ngamumule kampung kelahiranku.

Tapi mampukah aku bertahan dengan situasi pekerjaan yang sulit begini. Apakah bisa cukup makan dan mampu membayar kosan? Untuk mengatakan mudah terasa susah, karena memang faktanya demikian. Dengan peraturan pemerintah bahwa sekolah tidak boleh menjual buku ke siswa, tapi bukan berarti penerbit buku tidak boleh melakukan penawaran ke sekolah-sekolah. Karena memang itu bidangnya penerbit buku, apalagi penerbit yang khusus menerbitkan buku-buku sekolah seperti Yudhistira.

Tapi yang menjadi fokusku adalah ingin membesarkan bidang bisnisku: ASI7 dan bidang sosialku: Saladin Institute. Saladin Institute karena sudah terlanjut aku punya banyak koleksi buku, maka daripada buku-bukuku hanya memenuhi ruang rumahku di Batujajar, lebih baik coba ditawarkan untuk dibaca di tempat bagi orang-orang Tasikmalaya, untuk menjadi pemikat supaya orang-orang datang. Lalu ASI7 membuka lapak-lapak usaha misalnya cafe, aksesoris, menjual buku juga, dan apapun saja yang menjadi ruang-ruang pertemuan atas nama kebutuhan dalam komunikasi sosial.[]

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori