Oleh: Kyan | 29/01/2014

Duduk di Masjid Fastabiqul Khairat

Rabu, 29 Januari 2014

Duduk di Masjid Fastabiqul Khairat

##

Selepas Duhur aku duduk menyandar pada dinding sebuah masjid di kompleks perumahan Tasikmalaya. Angin tak henti mengempas cukup memberi dingin di tengah terik matahari. Di beranda masjid ada beberapa orang, ada yang berbincang, ada pula yang tiduran. Sedangkan aku menulis saja melepas kelelahan dan kebingungan. Bingung yang tak berujung dalam menempuh perjalanan.

Menatap lurus ke depan, ke lahan perumahan yang sudah ditumbuhi rerumputan dan belukar. Kubayangkan suatu saat tepat di depan masjid ini, di atas lahan ituberdiri kokoh rumahku. Rumahku itu sangat dekat dengan sebuah masjid. Rumahku itu di Karisma Residence Jl. H.Djuanda Bypass Tasikmalaya.

Belum ingin aku beranjak dari dudukku ini. Rencananya mau menemui K3S Tawang-Cihideung, yang katanya mau pensiun di tahun baru ini. Sebelumnya aku mau bertemu kepala sekolah SMP Cisayong, tapi karena sedang ada rapat dengan BP, kuurungkan jadi berbelok arah mau menuju Nusawangi. Kepala sekolah Nusawangi 3 adalah kepala K3S Cisayong, yang katanya sedang rapat di Kantor Dinas Singaparna. Ada yang menunjukkan rumahnya dan kuberanikan saja datang ke rumahnya. Ditelpon oleh anaknya, barulah diketahui beliau sedang rapat di Singaparna.

Sekarang ingin kutemui K3S Tawang-Cihidueng saja, Pak Aep. Meski dalam enggan menemuinya, tapi harus tetap dipaksakan. Bukan karena malas. Karena pada akhirnya hanya basa-basi perkenalan yang padahal adalah permohonan yang hasilnya hanya begitu-begitu saja.Menerima basa-basi bahwa sampai saat ini sekolah masih menunggu kebijakan selanjutnya.

Bekerja di pemasaran buku beginilah apa-adanya. Jadi marketing bank pun begitu. Di perusahaan apapun namanya marketing harus membangun jaringan yang luas. Bagaimana aku pandai membikin relasi, lagipula sekarang sudah ogah dan patah. Tapi sekarang yang dapat kulakukan hanyalah bertemu dan bertemu saja.Tapi manajemen tempatku bekerja seolah harus segera menghasilkan sesuatu. Tak ada rumus khusus atau cara kilat membina hubungan kedekatan antara manusia kecuali caranya dengan menjalin hati dengan hati.

Dari perbincangan dengan dengan Pak Asrif, ia bercerita tentang dana BOS. Ia mempertanyakan kenapa dana BOS tidak boleh dipakai buat ini dan itu, sementara kebutuhan masing-masing sekolah berbeda-beda. Memang yang lebih mengerti adalah orang-orang yang duduk di kementrian atau lebih menukik lagi orang-orang Dinas Pendidikan.Dinas Pendidikan mengeluarkan aturan teknis tentang apa yang boleh dan tidak boleh.Tanpa melihat apakah siswa di sekolah tersebut itu orang tuanya kaya atau miskin tapi langsung disama-ratakan saja setiap siswa mendapatkan jatah BOS sebesar lima ratus ribuan untuk siswa SD, tujuh ratusan untuk SMP, dan satu juta untuk SMA.

Padahal buat sekolah mau banyak siswanya atau sedikit, tapi biaya operasional sekolah tetap sama. Mau di kelas jumlah muridnya duapuluh atau tigapuluh tetap gaji gurunya sekian dan biaya listrik dan lain-lain sekian. Paling yang bisa berbeda hanya belanja ATK saja.

Penerimaan sekolah hanya dari BOS, dapat dikatakan begitu. Meskipun kadang ada sumbangan dari beberapa pihak yang ujungnya suka mengikat. Mempertanyakan BOS yang dihitung berdasarkan jumlah siswa, tidak melihat asumsi dasar kebutuhan masing-masing sekolah. Kita tahu siswa ada yang orang tuanya mampu dan tidak mampu. Sementara sekolah tidak boleh meminta pungutan lain, mengadakan tabungan siswa, bahkan berwirausaha di sekolah akan dianggap melanggar aturan.

Sementara pula perlakuan orang tua siswa kadang berbeda antara ke sekolah SD dengan SMP atau jenjang lebih tinggi berikutnya. Sementara sekolah harus membikin spanduk bahwa sekolah bebas dari pungutan. Ini jelas terlihat kepentingan politisnya bahwa rezimnya yang mengkampanyekan sekolah gratis. Padahal apakah bisa untuk meraih ilmu dengan gratis?[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori