Oleh: Kyan | 31/01/2014

Mengalirkan Persembahan Alam

Mengalirkan Persembahan Alam

##

Sungai CimedangSeperti halnya di Solo ada Bengawan Solo, atau di Bandung ada Sungai Cikapundung dan Citarum, begitu pula Tasik Selatan punya tiga sungai besar, yaitu Sungai Cimedang, Sungai Ciwulan, Sungai Cilangla, dan satu sungai kecil Cipamekasan. Sungai Cimedang bermula dari mata air di Karyamandala (Salopa), mengalir menjadi batas Tasik Selatan dengan Kabupaten Ciamis, termasuk mengalir melalui hutan di kampungku di Kampung Citamiang, dan sampailah bermuara ke Laut Cimanuk dan Kalapagenep (Cikalong).

Sedangkan Sungai Ciwulan adalah sungai terpanjang di Kabupaten Tasikmalaya, dengan tiga sumber mata air yang berada di Tasik Utara, yaitu mata air di Kec. Padakembang, lanjutan dari Sungai Kunten di Kec. Sariwangi, dan mata air di Kec. Cigalontang, dengan muara ke laut Cidadap (Cikalong). Lalu Sungai Cilangla, adalah sungai lebar tapi lebih pendek dengan sumber mata air di Bantarkalong dan berakhir di Cikawunggading (Cipatujah). Selanjutnya Sungai Cipamekasan, dari Bojongkapol dan muara ke laut Cipatujah.

Berbicara sungai, dulu sekali sekitar abad 16, Bengawan Solo yang sebenarnya itu sungai—Sungai Musi di Palembang yang begitu lebarnya tetap disebut sungai, bukan bengawan—di masa hidup Jaka Tingkir, ketika ia dari padepokan Banyubiru menuju Demak, sering ia mengayuh perahu di Bengawan Solo yang saat itu banyak sekali buayanya.

Berbicara buaya, sama halnya dari cerita orang tua kami, dua puluh tahun lalu bahwa di Sungai Cimedang pun banyak sekali buayanya. Begitu pun Sungai Cikapundung dan Citarum yang dulu bersih dan sering dipakai mandi dan minum, sekarang penuh sampah dan menjadi buangan limbah pabrik, lalu oleh pemkot Bandung sedang direkayasa kembali menuju semula, aku merenungkan mungkinkah puluhan tahun atau abad ke depan, sungai (Cimedang) kebanggaanku di masa kecil itu, tempat kami berenang selepas pulang dari ladang, tempat kami mencari ikan dengan portas dan obat-obatan, yang sampai hari ini ikan-ikannya tak kunjung habis, suatu saat akankah seperti Sungai Cikapundung dan Citarum yang hari ini penuh sampah dan airnya tak lagi jernih?

Diterima atau ditolak, pembangunan sedang menuju ke Selatan. Tapi kalau Tasik Selatan menolak “rumus ajaib” bernama pembangunan, tidakkah keadaannya akan begini-begini saja? Adakah modernisasi dan industrialisasi sebandul dengan kelestarian alam? Tapi kalau Tasik Selatan menolak mobilisasi sosial, tidak memborong “pajangan-pajangan” di etalase kota untuk didayaupayakan untuk kemanfaatan desa, atau sebaliknya kekayaan desa tidak diangkut untuk dipasarkan di kota-kota, dengan meng-kota-kan desa atau men-desa-kan kota, lalu kerja manusia yang bagaimanakah yang mengharmoni alam.

Gesang mencipta Bengawan Solo, karena terpesona dengan kemolekannya. Begitu pun Sungai Cikapundung yang melintang Asia Afrika—sehingga muncul banyolan bahwa sungai terpanjang di dunia bukan Sungai Nil, tapi Sungai Cikapundung. Karena Cikapundung melintasi Asia dan Afrika. Sungai yang mengalirkan air adalah persembahan alam, sebagai tulang punggung kehidupan, sehingga rumah-rumah dulu menghadap ke sungai karena saking menghargainya. Tapi sekarang membelakanginya, mengacuhkannya, mengabaikannya, menjadi pembuangan kotoran-kotoran tak berguna, karena sungai pun punya jiwa, maka zaman kini ia mengamuk di beberapa tempat, membanjiri rumah-rumah pemukiman, menderaskan dan menghanyutkan rumah-rumah kebanggaan modernitas kesombongan manusia.

Dengan begitu, memanfaatkan alam, menggunakan transportasi air dalam mobilitas manusia, dengan kendaraan kuda yang tidak memberikan polusi udara. Tapi memang zaman berubah, orientasi berubah, dan sumber peradaban berbelok. Revolusi industri menciptakan mesin-mesin, dan manusia pun menjadi mesin. Terciptalah kendaraan sebangsa motor, mobil, pesawat dan manusia harus masuk dalam sistematika mesin ekonomi, mesin uang. Orientasi pikiran bukan lagi air, tapi daratan. Upayanya bagaimana cara mendekatkan antara satu tempat dengan tempat lain untuk mobilisasi, untuk produksi. Tidak salah cara berpikir air dan cara berpikir daratan, tapi ketidakseimbangan antara budaya air dan budaya tanah yang tidak berjalan seimbang, akhirnya menimbulkan kekisruhan alam.

Usiaku hanya beberapa tahun lagi, kalau gagasan kecil ini tidak dituliskan dan sampaikan, sebelum itu benar-benar terjadi—Sungai Cimedang akan seperti Bengawan Solo, Cikapundung, dan Citarum—aku harus mengingatkan pada semua orang untuk tetap menjaga alam, untuk mengalirkan persembahan alam. Kau boleh membangun sebuah kota di pedalaman (budaya tanah) dan di pesisir (budaya air), mengembangkan kreatifisme manusia, tapi harmonikan dengan alam. Entah Venesia di Italia yang katanya sungguh elok pemandangannya, pantaskah ia menjadi prototipe menjaga sungai? Sayang sekali aku belum pergi kesana, jadi tidak bisa menyimpulkan apakah ia pantas menjadi pendulum pembangunan sebuah kota yang berwawasan sungai.

Tapi yang pasti ingin aku sampaikan, manusia adalah “bagian” dari alam, bukan untuk menundukkan alam.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori