Oleh: Kyan | 01/02/2014

Lalu Bagaimanakah Perasaan

Sabtu, 01 Februari 2014

Lalu Bagaimanakah Perasaan

##

Sudah lama aku tak menulis catatan harian dengan fokus pikiran. Karena kesibukan sesuatu hal yang ingin dan harus aku kerjakan, membuat tak sempat waktu meski sebentar saja untuk menuangkan muatan hati dan perencanaan. Seperti kata orang-orang, inti yang perlu dikejar adalah sebuah tindakan. Mana tindakan, mana action-nyadalam mewujudkan harapan itu?Tidak cuma teori dan menjadi akademisi.

Tapi melakukan refleksi seolah jauh tertinggal, seperti tak jelas kemana arah langkah perjalanan. Padahal ini penting tentang sudah sejauh mana aku melangkah.Untuk bisa mengevaluasi bahwa aku sudah sejauh mana menapaki jalan hidupku ini.Tapi seperti sempit waktu saja untuk bisa menumpahkan perasaan sepenuh kejujuran.

Ingin selanjutnya di setiap akhir pekan aku bisa menulis catatan harian.Sekarang menulisnya tidak apa-apa seminggu sekali saja. Menulis bukan tentang rumusan persoalan umum situasi atau keadaan sosial, tapi ini menulis hal penting tentang perasaan sendiri.bagaimana hatiku setelah digamit-gamit dan dirobek-robek situasi, yang dengan lantang harus kuakui bahwa aku remuk redam badan yang kian kerontang.

Jujur pada diri sendiri, itulah terpenting. Aku ingin apapun adanya, suka atau tak suka orang lain padaku.Tak usah malu kalau dicemoohkan dan terima saja kalau dicemoohkan toh itu mulut mereka yang menerima dosa adalah mereka. Jangan pedulikan orang lain, toh ini demi penyembuhan diri sendiri. Mereka bisanya hanya berkomentar, tapi tak mengulurkan keteduhan dalam menyelesaikan.

Meskipun memang untuk melihat diri sendiri tidak bisa tidak, harus pula melalui kaca mata pihak lain.Meskipun akan sama saja perasaannya antara bulan lalu dan sekarang dan kemudian.Aku harus tetap melanjutkan menulis catatan perjalanan perasaan. Saat sekarang sudah memasuki bulan kedua di tahun yang baru, aku harus tetap melanjutkan perjalanan. Sudah masuk dua minggu aku bekerja percobaan di Yudhistira, terus lanjutkan saja sampai titik finish aku dikeluarkan. Bagaimana aku selanjutnya adalah perasaan yang katanya, orang lain pun mengalami hal yang sama: kebimbangan dan ketakpastian hidup.

Setiap orang ingin pergi dari realitas yang dijalaninya. Tapi pergi kemana lagi mencari cahaya penerang jalan. Lalu kenapa diri merasa gelap, kenapa menyimpulkan di sini dan di sana tak ada peluang dan sudah tertutup jalan. Merasa diri tak mampu, lalu siapa yang mampu. Siapa yang dimampukan dan kepada siapa mengandalkan selain kepada diri sendiri dengan bantuan Tuhan. Bagaimana lagi yang dapat kulakukan.

Lalu sebenarnya persoalan adalah apakah yang terpikirkan sudah kulakukan?

Soal pekerjaan, aku mengira dalam usia setua ini menjadi aib kalau pekerjaan belum jua mapan. Sudah bergonta-ganti pekerjaan tapi belum ada yang memuaskan. Kenapa sih jadinya begini? Apakah dunia tempatnya kegelisahan? Apakah ketenangan karena jauh dari Tuhan? Seberapa jauh aku dengan Tuhan? Mengharap pertolongan pada Tuhan, adakah kepantasan untuk ditolong Tuhan? Layakkah aku sehingga pantas pertolongan datang?

Aku hanya bosan kalau pekerjaan yang mengurusi kertas dan kertas terus-terusan. Aku ingin memenuhi bersitan-bersitan. Lantas kenapa tak ada senyuman. Sulitkah untuk sekedar melebarkan gerak bibir lima centi beberapa detik saja. Kenapa sih serius melulu.

Baru dua minggu bekerja, belum kerasan dalam pekerjaan ini. Menjadi beban kalau aku tak menampilkan diri yang terbaik. Aku harus memberikan performa terbaik pada pekerjaan. Kenapa sih harus begini dan bagaimana kalau tidak. Apakah muatan pikiranku antara dulu dan sekarang masih sama saja.Atau seperti manusia bawang, semakin dikupas malah semakin tidak jelas dan terlihat ketakbecusannyadiri ini.

Kenapa hidup tak kunjung berubah. Kata siapa tidak berubah. Aku sudah berubah, tapi mana buktinya. Buktinya sebelumnya tinggal di Bandung, tapi sekarang sudah tinggal di Tasikmalaya. Boleh dikata pelan tapi pasti hidupku mengalami perubahan.

Lalu soal kehidupan, seperti kata yang lain, seusiaku belum jua menikah adalah aib. Bertanya kenapa sih belum menikah? Tidakkah orang lain pun mengalami hal yang sama? Kenapa orang lain sudah menikah, sedangkan aku belum.

Karena itu mereka, bukan aku. Bukan aku saja yang merasa begini. Aku tidak sendirian. Aku tidak benar-benar sendirian. Seperti dulu kegelisahan yang diceritakan. Karena tidak punya motor dan belum bisa motor sehingga aku malu untuk menuliskan perasaannya. Tapi pada akhirnya, termuntahkan juga sampai akhirnya pula terpenuhi sudah harapan itu. Dengan cara kredit dan Allah mencurahkan takdir bahwa aku bisa punya motor Blade. Apakah aku merasa semata karena kerja kerasku bisa punya motor? Apakah tidak merasa dibalik semua itu karena karunia Tuhan?

Sekarang aku harus selalu ingat itu. Bagaimana perasaan antara sebelum dan sesudahnya, sehingga bisa menemukan titik persembahan perasaan di zona syukur. Begitu pun sekarang dengan pekerjaan. Aku harus melakukan apa yang bisa kulakukan, aku memenuhi apa yang ingin aku penuhi.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori