Oleh: Kyan | 04/02/2014

Bekerjaku Sekarang dan Bagaimana Sekarang

Selasa, 04 Februari 2014

Bekerjaku Sekarang dan Bagaimana Sekarang

##

Masih aku duduk di masjid. Di luar hujan rintik membasuh tanah dan motorku. Entah sekarang aku harus berkunjung ke sekolah mana. Mau kujalani sebagai marketing di Yudhistira, tapi realitas di lapangan memang sesuai yang disangka orang. Aku tak mampu menjustifikasi diri bahwa menjadi marketing itu menyenangkan.

Memasarkan buku itu memang sulit. Tapi aku tidak boleh menutup pintu seakan-akan gelap jalan di hadapan. Lorong panjang yang gelap harus dilalui dan dilewati. Aku harus membawa cahaya, harus kunyalakan lilin setidaknya untuk sendiri.

Berjalan saja meski harus bolak-balik. Bila Tuhan masih menghendaki aku hidup, keberadaanku pasti masih berguna. Jangan patah semangat. Berjalanlah terus meski tanpa pemandu dan panduan. Lalu apa lagi yang bisa kulakukan?

Perusahaan bagaimana pun hanya melihat hasil. Belum ada pesanan, bagaimana pekerjaanku dianggap jelas. Orang lain pakai motor kantor, sedangkan aku pakai motor sendiri. Orang lain diberi oli sedangkan aku belum. Memang sih bekerjaku baru dua minggu. Bagaimana akan memberikan dan membuktikanhasil. Bagaimana kontrak kerja dan itu sudah kutanyakan ketika dulu wawancara. Kontrak kerja katanya nanti disiapkan dari Jakarta, apa benar begitu?

Sementara dari cerita salah satu senior, ia bilang tidak ada kontrak cuma lewat lisan saja. Ini perusahaan sudah berdiri sejak 1972 tapi dari segi manajemen HRD masih begini-begini saja. Tapi jadi marketing di perusahaan manapun yang kuketahui sering tidak pasti. Pekerjaan marketing adalah pekerjaan yang banyak tersedia di koran, tapi peminatnya dari orang-orang cenderung menghindarinya. Pekerjaan yang sering masuk keluar dengan gampannya karena ketidakmampuan. Sebentar-sebentar karena dianggap tak mampu, tak mencapai target akhirnya secepat kilat dikeluarkan.

Tidak bolehkah diakui bahwa marketing itu sulit.Haruskah dianggap sebagai pekerjaan mudah. Lalu bagaimana cara membohongi pikiran. Kalau memang itu passion-ku akan terus kujalani. Aku akan tetap bertahan.

Tapi untuk mengetahui passion bagaimana caranya?

Tanyakan pada diri sebenarnya apa sih yang disukai? Aku bisa mencoba menjadi bisnisman, wirausaha, lantas usaha apa yang bisa kujalani.Pernah mencoba buka toko buku, kenapa sih yang dilihat bahwa buku pun sekarang tersisihkan karena adanya internet? Tapi Tisera, Gramedia, Lontar, dan BBC masih tetap bertahan.

Tapi lembaga pendidikan masih dipercaya masyarakat untuk mengembangkan kepribadiannya. Bisakah aku terjun ke lembaga pendidikan saja? Miasalnya jadi guru honorer, sekalian aku bisa melanjutkan ke strata satu. Aku setelah berputar-putar pekerjaan, ingin jadi guru saja. Tapi sebaliknya orang keluar dari jadi honorer, beralih mencari pekerjaan baru karena honorer gajinya kecil. Lalu aku bagaimana sekarang?

Mumpung aku di Tasik bolehkah aku mencoba melamar pekerjaan ke sekolah? Aku bisa melamar pekerjaan ke Al-Muttaqin, Ibaadurrahman, ke BPRS Al-Madinah, atau kemanapun.

Aku hidup di sebuah negeri, sekaan nyawa tak berharga. Orang sekolah sudah tinggi-tinggi tapi hasil yang diperoleh entah apa. Lalu aku sudah tahu masih ingin terus sekolah. Sedang mencari peluang bagaimana sambil kerja juga bisa melanjutkan sekolah. Seolah sudah buntu jalan.

Kalau memikirkannasib sendiri, karena kebingunganku bukan semata bingungku. Kengerian nasib dan kesulitan hidup pula dihadapi orang lain. Makanya lebih baik membuka cakrawala berpikir, tentang bagaimana memikirkan nasib bangsa. Karena orang lain pun sama. Lalu disanggah orang bagaimana bisa berpikir persoalan bangsa menghidupi diri sendiri saja tak becus. Memang kalau urusan perut aku masih blingsatan, tapi sumbangan pemikiran mungkin tentang apa yang sudah kulakukan bukanlah kesia-siaan. Keadaan menjadi morat-marit karena orang baik banyak yang diam, katanya. Coba orang yang baik-baik itu bahu-membahu, bantu-membantu untuk saling mengoreksi di perjalanan bangsa ini. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Menyapu jalan kalau dengan satu lidi tak berguna, tapi kalau satu ikatan kebersamaan akan mampu meluluh-lantakkan hambatan-hambatan.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori