Oleh: Kyan | 19/02/2014

Tepat Sebulan di Tasikmalaya

Rabu, 19 Februari 2014

Tepat Sebulan di Tasikmalaya

##

Tepatlah aku sebulan tinggal di Tasik. Untuk mengobati hati yang bimbang, dalam tiga malam berturut-turut ke belakang kutonton saja tiga film dari tempat penyewaan, yaitu Aashiqui 2, Jobs, dan Ishkq in Paris. Pertama dan terakhir adalah film india yang dengan jujur sangat kusukai. Sedangkan yang ketiga karena menarik ungkapan menghubungkan titik-titik dalam pidatonya Steve Jobs di hadapan para lulusan Harvard University.

Film pertama tentu tentang kehidupan cinta antara laki-laki dan perempuan.Tentang kehilangan kepercayaan diri yang dulu tenar tapi akhirnya terkapar. Film yang hampir mirip dengan Rockstar. Film yang benar-benar mengharukan yang saat adegan tokoh laki-lakinyamemutuskan aksi bunuh diri benar-benar memberi rasa syok. Seperti adegan sama di film Kites yang dibintangi Hrithik Roshan.

Banyak orang memilih kematian saat serasa sudah buntu jalan. Apakah ketiadaan iman, itu persoalan lain yang tidak menjadi tema utama film. Film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya yang skenarionya diprakarsai Emha Ainun Nadjib itu juga tema ceritanya tentang artis tenar yang akan memutuskan bunuh diri. Tapi setelah melakukan perjalanan, bahwa hidup harus tetap dipertahankan karena masih banyak hal yang perlu diperjuangkan. Kalau kalah dan menang dalam pertarungan itu biasa. Toh ini namanya dunia. Tapi intinya janganlah memilih kematian saat bagaimanapun situasinya.

Bintangnya film Aashiqui 2, perempuannya bernama Shraddha Kapoor dan prianya Aditya Roy Kapoor. Barulah di film ini aku mengenal dua artis Hindi ini. Tapi filmnya adalah sekuel dari film judul sama yang mengorbit tahun 1990. Yang menyamakan keduanya adalah adegan yang entah itu ciuman yang dilakukan saat rintik hujan di balik tirai jaket yang ditelungkupkan bagi dua muka yang sedang melakukan adegan.

Film India kedua yang dibintangi Preity Zinta.Masih tentang cinta yang mulanya keduanya membenci pernikahan, tapi akhirnya percaya bahwa pernikahan akan mendatangkan bahagia. Karena kebencian yang didasarkan pada asumsi yang salah, pada prasangka yang tidak berdasar, akhirnya membuat salah tanggap pada menyikapi kehidupan.

Membenci pernikahan atau hubungan karena ayahnya dianggap telah meninggalkan ibunya. Padahal sebenarnya ibunya sendiri yang menghendaki perpisahan dengan suaminya. Bukan suami yang sengaja membiarkan anak perempuannya kekurangan kasih sayang ayahnya. Itulah prasangka dan asumsi yang belum tentu benar sangat mempengaruhi keputusan dan penilaian seseorang.

Dalam salah satu adegan Ishkq in Paris, ada gagasan bisniscafe dimana siapa yang datang ke sebuah cafe tersebut dibolehkan untuk mendokumentasikan kunjungannya. Sampai ruangan cafe penuh dengan tulisan nama dan tanda tangan yang mungkin ribuan.

Inti bisnis adalah hubungan dan kepercayaan. Orang datang kembali karena merasa terkesan. Coba kalau merasa mahal atau merasa sudah ditekuk harga, seperti kejadian kemarin aku jajan gado-gado sampai harganya Rp 12.000,- per porsi. Bagiku itu mahal sekali. Tapi sudahlah itu sudah masuk ke perut. Cari saja yang murah kalau mau, mungkin begitu kata si ibunya gado-gado. Lantas berapa waktu yang terbuang kalau harus datang ke Kawalu karena di sana ada yang lebih murah seharga tujuh ribu.

Satu lagi dari Ishkq in Paris, tentang hubungan singkat, yang mulanya bermaksud singkat tapi menjadi selamanya sampai ke jenjang pernikahan. Kata orang jangan terlalu serius dengan perempuan dan sudah berulang kali kurasakan bagaimana sakitnya oleh perempuan. Karena aku menganggapnya serius bahwa dia dan dia ingin kumiliki, akhirnya tak benar-benar dimiliki. Merasa dia adalah perempuan terbaik, padahal menurut garis takdir dia bukanlah jodohku sebenarnya.

Ketika sekarang tak ada satupun perempuan yang dekat, sengsaranya sangat menyakitkan. Adakah sengsara yang mengenakkan? Cobalah dekati perempuan atau bahkan sampai beberapa perempuan. Bukan maksud untuk mempermainkan. Karena kesetiaan ada setelah ada akad pernikahan. Setidaknya itu menurut orang-orang. Tapi aku mendekati beberapa perempuan, untuk bisa menimbang siapa diantara mereka yang tulus mau menjadi teman dan kekasih. Kalau sudah saling percaya untuk saling setia dalam ikatan kasih dan sayang aku pun akan setia pada satu perempuan.

Tapi untuk menemukan satu perempuan itu, mungkin jalannya harus mendekati banyak perempuan. Memang harus ada fokus siapa sebenarnya yang ‘ngeh ingin menjadi kekasihnya. Setiap lelaki dan perempuan punya jenis hati yang sama: ingin dimiliki dan memiliki. Dasarnya manusia adalah setia. Manusia adalah makhluk setia. Kalau pengingkaran atau pengkhianatan karena sudah terpedaya oleh bujukan syetan namanya.

Aku harus sabar dalam menjalani prosesnya. Jangan terlalu cepat memuntahkan. Diperlukan kekonsistenan dalam memelihara fokus perhatian. Perempuan ingin jadi pusat perhatian. Nanti siapa yang nyangkut, itulah yang dilanjutkan. Meski memang katanya cinta bisa datang dengan sendirinya tanpa perlu diperjuangkan. Tapi aku janganlah menunggu keajaiban. Aku harus bergerak dan bergerak menempuh perjalanan. Karena muara kehidupan adalah cinta dan pengabdian sejati pada manusia untuk mencintai Tuhan lewat perempuan.

Lalu “Jobs” adalah film biografi Steve Jobs, pendiri Apple yang sudah meninggal. Dari film ini kuperoleh gambaran kehidupan Amerika dimana semangat enterpreneurship sudah mentradisi. Dalam masyarakatnya sudah terbangun untuk menjadi penemu-penemu berbagai hal sesuai apa yang disukainya.

Alangkah senangnya menjalani hidup sesuai dengan apa yang disukainya. Pasti akan tahan menghadapi gelombang demi gelombang rintangan. Ia tidak akan cepat atau bahkan tidak berputus asa terlalu lama kalau serasa sudah buntu jalan. Tapi untukku apa yang harus kujalani dan tekuni. Seperti lemah untuk mengambil keputusan. Kalau sudah berani mengambil keputusan tak ada kata penyesalan. Apapun profesi yang dijalani kalau itu konsisten pasti akan berhasil. Tapi masalahnya siapa yang mampu bertahan di tengah amukan gelombang ketidakpastian. Meski harus bersyukur dengan ketidakpastian.

Ya berbahagialah dalam ketidakpastian sesudah sebulan menempuh hidup di Tasikmalaya demi menjemput satu perempuan.[]

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori