Oleh: Kyan | 07/03/2014

Bagaimana Langkah Selanjutnya

Jum’at, 07 Maret 2014

Bagaimana Langkah Selanjutnya

##

Sudah kujalani sebulan lewat dua minggu aku bekerja di Penerbit Yudhistira.Sudah semakin meningkat kebingungan apakah perlu bertahan atau stop saja pekerjaan ini. Bagaimana aku tidak bingung begini, ketika melihat situasi lapangan, tentang bagaimana kondisi pasar, ketika pemerintah melarang sekolah dan guru menjual buku ke siswa, menjadikan distribusi buku-buku pelajaran menjadi sulit mengatakan bahwa pekerjaan ini adalah gampang.

Bukan aku yang bicara begitu, tapi para senior yang bukan hanya Yudhistira saja sebagai follower.Tapi bagi pemasar dari Erlangga sebagai leader pasar pun berbicara yang sama. Bahkan pernah bekas pemasar Erlangga ketika mencoba di Yudhistira, ia tidak mampu berbuat apa-apa. Padahal Erlangga itu penerbit leader hampir di daerah, tapi pemasarnya sudah merasa kewalahan.

Kusangka sekolah di pelosok tidak terjangkau Erlangga, tapi nyatanya mereka sudah diarahkan oleh pejabat tingginya. Setiap aku masuk ke sekolah-sekolah dan berbincang selalu mendapat jawaban yang sama: sudah bekerja sama dengan Erlangga, atau untuk saat ini pemerintah mengeluarkan jangan dulu membeli buku.

Sudah aku panas-panasan, sampai tanganku belang dan muka legam, sudah aku angin-anginan, sudah bergaji tak cukup, dan ini kalau tetap diteruskan apakah ini tetap baik bagiku di masa depan? Apakah ini akan menjerumuskan atau apakah ini hukuman.

Dari gaji perbulan Rp 850.000,- untuk biaya hidup tidak cukup. Jangankan bisa membeli barang-barang kesukaan dan memang itu dibutuhkan, untuk makan saja sekarang hanya pagi saja.Makan nasi uduk seharga Rp 5.000,- dan hanya sesekali makan sore nasi TO seharga Rp 7.000,- Belum bayar kontrakan perbulan Rp 275.000,- Bagaimana aku bisa menghidupi keluargaku nanti kalau pekerjaan ini tetap diteruskan.Untuk saat sekarang saja masih sendirian tidak mudah untuk mengatakan bahwa kondisi sedang baik-baik saja.

Memang aku masih bisa makan, tapi makan hanya di pagi hari saja. Sampai kapan aku seperti ini. Kenapa rezekiku rasa-rasanya begini saja selalu dari dulu-dulu. Makanya aku bertanya-tanya apakah ini hukuman? Kalau benar ini hukuman lantas apa yang harus kulakukan? Bagaimana agar pantas aku ditolong oleh Tuhan.

Makanya sekarang ingin mencari jalan penghidupan lain lagi.Tapi takut aku salah jalan dan salah mengambil keputusan. Sudah berapa kali aku pindah kerja yang alasannya memang berbeda-beda. Sekarang memang sangat ingin aku hidup di Tasikmalaya, tapi setidaknya penghidupanku dan jatah pendapatanku minimal ingin sama seperti di Bandung. Waktu kerja di Bandung penghasilan lumayan gede, tapi aku tidak punya waktu luang. Hampir seharian sampai malam waktuku habis di pekerjaan. Sekarang sudah lebih baik aku punya waktu luang dan sekarang baiknya ada prospek semakin dekat aku pada jodoh.Tapi kondisi pekerjaan dan penghasilan masih belum aku terima.

Bagaimanakah aku melangkah selanjutnya. Haruskah tetap bertahan karena katanya tidak boleh menyerah duluan.Aku tidak ingin dikatakan sudah menyerah terlalu awal. Masalah sekarang bukan hanya soal pekerjaan yang masih juga belum mapan, tapi juga bagaimana kisah diriku ke depan. Sampai kapan aku terus sendirian. Makanya pergerakan harus dipercepat supaya segera datang itu perempuan.

Tentang perasaanku, bila tidak segera akutuliskan bagaimana aku mengalami perbaikan. Sekarang aku harus benar-benar berjuang untuk punya pacar. Maksudnya calon istri. Sudah bertahun-tahun tak punya seorang teman perempuan. Kalau semasa kuliah dianggap punya pacar berarti sudah tujuh tahun aku menjalani hidup tanpa ada seseorang sebagai tempat berbagi dan mencurahkan.

Masa sih aku tidak laku-laku. Kenapa aku selalu tidak laku. Kenapa aku masih jua belum laku. Apakah memang aku tak punya kelebihan yang bisa dilihat perempuan manapun. Atau karena persoalannya ada pada diriku yang kata sebagian orang mungkin karena terlalu pilih-pilih. Bagaimana aku memilih, kandidat pilihannya juga tak ada. Kenapa aku hidup dalam penjara mental. Kenapa aku tak berani menyapa seseorang.

Sekarang aku bertekad kuat dalam bulan ini punya pacar. Target satu hari harus bisa kenalan dengan satu perempuan. Seperti dulu waktu di Batam, satu hari satu kenalan. Tapi sekarang fokus hanya pada perempuan. Aku tidak boleh begini-begini saja. Aku harus berubah dan perubahan ada di pundakku. Kalau aku diam saja seperti kemarin-kemarin mengharapkan keajaiban yang kata orang jodoh itu tidak akan kemana, itu hanya motivasi untuk tidak berputus asa. Tapi perubahan harus terus diperjuangkan.

Tapi bagaimanapun situasi hari ini dengan pekerjaanku yang belum mapan.Ingin punya teman perempuan sebagai pacar, penghasilanku harus dicukup-cukupkan, bermimpi ingin punya rumah di Tasik, itulah kondis dan mimpiku saat ini. Tapi sekarang terimalah situasinya apapun adanya. Itulah kondisi yang terbaik untukku menurut Allah. Katanya begitu menurut orang-orang.

Ya Allah, hamba memohon maaf karena sudah menumpahkan unek-unekku di pagi ini. Malaikat Zanabah yang menyaksikanku, yang membaca keluh-kesahku, melaporkan apa yang menjadi menjadi tumpuan harapanku. Aku menerima apapun situasinya hari ini.Hidupku yang sudah sejauh ini semenjak aku dikeluarkan dari rahim ibuku, apapun diriku semoga Engkau memaafkanku. Berilah pertolongan dan petunjuk untuk lebih baik di hari-hari selanjutnya, dan berilah kefahaman bahwa memang hari ini adalah baik untukku. Berilah kefahaman dalam menimbang segalanya. Berilah kesabaran dalam menjalani proses menuju hidup dalam jenjang selanjutnya.

Berilah ketabahan menerima perlakuan komentar orang-orang yang kadang menyakitkan. Segala apapun komentar buruk orang-orang ada dalam pengendalianmu. Tanpa seizin-Mu tentu aku tidak akan sampai mendengarnya, tentu orang-orang pun tidak akan berkomentar. Pendengaranku menjadi terbuka itupun karena kehendak-Mu. Semua karena-Mu.

Hanya kalau boleh aku meminta, tunjukkanlah jalan lurus padaku. Berilah kelapangan di hati kami dalam menempuh segalanya. Kalau situasinya buruk hari ini, berilah petunjuk bagaimana aku melakukan perbaikan diri sehingga kami layak untuk dicintai.

Apa yang harus kulakukan agar supaya Engkau Mencintai Kami. Bila ibadahku yang biasa-biasa saja, Engkau Maha Segalanya, tanpa kami beribadah pun tidak akan mengurangi ke-Maha-an Engkau. Ibadahku hanya untuk kepentingan diriku, tapi kenapa rasanya hanya sebagai penggugur kewajiban saja, yang setelah melaksanakannya kami kembali pada dosa perdosa. Aku tidak tahu lagi bagaimana langkahku selanjutnya.

Bagaimana agar pekerjaanku supaya menuju mapan. Bagaimana aku bisa punya pacar untuk nanti kami menikah. Berilah jalan padaku untuk bisa mengenal seseorang. Rasa-rasanya selama ini aku berusaha untuk menjaga kesucianku, tapi kenapa situasinya menjadi begini. Ketidakhadiran seorang perempuan di sisiku, dan setiap hari aku melihat teman-teman bersama pacarnya, aku pun ingin seperti mereka. Bukan iri karena perbuatan dosa mereka, tapi bukankah begitu layaknya laki-laki dan perempuan harus hidup bersandingan.

Tapi apakah aku tak pantas dengan seseorang? Kenapa aku belum pantas? Kalau masih belum pantas, bagaimana aku cara memantaskan diri. Untuk pantas harus dengan banyak uang, berilah kami jalan untuk bisa punya uang. Untuk pantas supaya memiliki mentalitas kedewasaan, berilah kami jalan dalam menuju kedewasaan yang sesungguhnya.

Aku tidak tahu lagi bagaimana langkahku selanjutnya. Haruskah aku bertahan di pekerjaan sekarang atau lebih baik mengundurkan diri saja dan mencari pekerjaan lain. Haruskah aku pulang ke Bandung untuk memulai kembali hidup di Bandung. Tapi kalau aku boleh memilih, aku ingin tetap di kotanya kampung kelahiranku sampai aku punya pacar dan rumah sendiri. Sampai aku menikah dan bisa memberi sesuatu pada kampung halamanku.

Allah, jauhkanlah kami dari Murka-Mu. Degnan bersitan-bersitan pikiranku dan anasir-anasir perasaanku, Engkau Maha Tahu. Ampuni kami yang sudah keterlaluan dan tak pandai bersyukur atas apa yang Engkau anugerahkan sampai detik ini dalam hidupku sekarang dan ke depan. Karena aku tidak tahu apa yang harus kutuliskan selain apa yang menjadi pikiran dan perasaanku berupa kemarahan yang kian menjadi-jadi.

Yakinkan diri bahwa hari ini aku baik-baik saja. Adalah pilihan ketika aku memutuskan mau makan hanya sekali di pagi hari. Adalah pilihan aku ingin hidup di Tasikmalaya. Tapi bukan pilihanku kenapa aku masih juga belum punya pacar untuk calon istri. Apakah karena dogma bahwa pacaran itu haram, sehingga aku selalu menghindari untuk tidak pacaran.Tapi sampai kapan aku terus sendirian?

Kenapa aku terjerumus pada situasi yang tidak aku setujui ini. Memang dengan tidak punya pacar, aku bisa bebas kemana-mana tanpa ada yang melarang-larang. Perasaan dan pikiran tidak mumet karena ketidaksetujuan perlakuan pasangan. Menikah sering punya masalah. Tidak menikah pun sama bermasalah. Maka lebih baik menikah.

Harapan ingin segera menikah dan kuliah sudah beberapa tahun lalu aku ikrarkan, tapi sampai hari ini masih belum kunjung terlaksanakan. Bagaimana aku tidak marah, bagaimana aku tidak menyerah, bagaimana aku tidak mempertanyakan keadilan-Mu.Sudah kubaca-baca buku pengembangan diri untuk mendapatkan kefahaman kenapa situasinya menjadi begini. Tapi ilmu sejati hanya pancaran dari-Mu.Bagaimana aku mengetahui langkah-langkah seharusnya dan sebaiknya.

Allah, mendengarkah Engkau keluh-kesahku?

Aku yakin Engkau Maha Mengetahui segala mauku, segala inginku, segala harap dan cemasku, jauh sebelum tercurah pada catatan harian ini, jauh sebelum menjadi pusaran perasaan dan bersitan pikiran mumet ini.Allah, maafkan hamba yang dhaif ini![]

 

 

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori