Oleh: Kyan | 09/03/2014

Temptation Wet Endorsements

Minggu, 09 Maret 2014

Temptation Wet Endorsements

##

Boleh dibilang ini film tentang keperawanan. Drama yang mengangkat sebuah pilihan antara menjaga atau menyerahkan virginitas pada siapapun asalkan menguntungkan. Toh itu memanfaatkan apa yang ada pada dirinya untuk bertahan hidup. Tak ada lagi hal yang bisa dijual selain menjual keperawanan, karena dijual atau tidak pada akhirnya akan terperangkap bahwa hidup memang kejam, hanya menunggu momentum saat kapan menyerahkannya atau menunda. Nanti pada waktu yang tepat, pada suami, pacar, atau siapa saja yang kira-kira tepat dan pantas menyerahkan keperawanan.

Memang sebuah film pasti memberikan sebuah nilai, hanya mengambil sebuah realitas yang pasti tidak jauh dari persoalan masyarakatnya. Republik Rakyat Cina sebagai penduduk terbanyak di dunia, tentu disamping memberi keuntungan tapi membawa persoalannya sendiri. Ketika hidup di zaman modern, orang-orang berhilir mudik pergi ke suatu tempat dengan berharap ada perubahan, berharap bisa mengumpulkan uang dengan cara etis, mampu membeli barang-barang kesukaan dan yang mahal, atau segala harapan semu atau hakiki yang ditawarkan dalam sebuah budaya kota.

Ceritanya dimulai dari dua gadis yang bersahabat sejak di kampungnya di Beijing.Begitu lulus sekolah mereka berhijrah ke Peking untuk sebuah harapan dan pengalaman hidup. Mereka ingin menjadi artis, karena memang harapan mereka ingin jadi artis, yang mungkin dimanapun dengan menjadi artis dapat menjadi jalan untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan, sekaligus bisa menghabiskan banyak uang dengan royal. Membeli segala barang merek-merek ternama yang hanya bisa dibeli dengan uang. Ya dengan uang, atau langsung saja dengan keperawanan kalau berlaku sistem barter.

Dan dalam cerita berjudul Temptation Wet Endorsements ini, mengisahkandua perempuan yang punya karakter berbeda. Satu perempuan bernama Shio Ya yang tetap setia menjaga virginitas, sampai ketika dia ada tawaran syuting, melihat gelagat bosnya yang gatel, ia ogah menerima tawaran. Tentang keteguhannya menjaga keperawanan, disindir oleh temannya yang bernama Hui Hui.“Karena belum ada waktu yang tepat saja kau menyerahkan keperawanan pada lelaki yang kau harapkan”. Sedangkan Hui Hui yang perokok, yang genit dan penari erotis, memang sudah sejak dari kampungnya sudah pernah tidur dengan beberapa pria.

Begitu mereka sampai di Peking, ketika sudah tak mampu bayar kontrakan, akhirnya Hui Hui yang memang buah dadanya besar, terpaksa atau rela bersedia melayani empunya kontrakan.Ia membayar kontrakan dengan lendir perempuan. Sedangkan Shio Ya yang alim, empunya kontrakan sudah pernah melakukan tak senonoh pada Shio Ya, tapi keburu datang Hui Hui menolongnya.

Shio Ya yang rajin, setiap hari keluar mencari pekerjaan, masuk agensi keartisan, mencari lowongan syuting, tapi karakter Hui Hui yang binal, sukanya tidur, dan memang genit pada setiap laki-laki, mereka dengan karakter berbeda bisa menjadi teman dan hidup bersama. Ya, karena mereka berteman sejak kecil.

Singkat cerita Shio Ya punya pacar, dan Hui Hui tetap dalam kebiasaannya menerima laki-laki tua sampai suatu ketika ada pengusaha asal Singapura yang ingin menjadikannya istri. Begitu Hui Hui dijemput oleh Pak Tua, Shio Ya sangat kaget ketika tiba-tiba teman baiknya yang sejak kecil itu, yang memang diantara mereka sering banyak bertengkar, tapi ketika tiba masanya perpisahan, siapapun akan sangat mengagetkan.

Sampai suatu ketika Hui Hui hamil, meskipun selalu pakai obat anti hamil, tak bisa mengelak dari garis takdir. Lahirlah anaknya yang punya kecacatan mental dari rahim Hui Hui. Hui Hui yang suka mengobral tubuhnya pada siapapun, harus menerima kenyataan buah hatinya seorang yang idiot, sampai terpaksa anaknya “dibuang” ke panti asuhan.

Lalu kehidupan Shio Ya yang tetap menjaga virginitas, sampailah akhirnya sang pacar mengajaknya ke hotel. Begitu sampai di kamar, sang pacar memulai aksi memberi rayuan, hanya dengan kata-kata, yang tiba-tiba saja muncul orang dari belakang membius Shio Ya. Rupanya sang pacar adalah pelaku kejahatan yang mencari mangsa dengan cara halus, dengan menjadikannya pacar terlebih dahulu, kalau sudah kenal dan lama, barulah akan diserahkan kepada user, pengguna pelacuran kelas eksekutif.

Sang pacar hanya pergi, setelah pekerjaannya beres. Tersisa Shio Ya yang shock. Ternyata sang pacar yang selama ini dipercayainya, yang sudah sampai akan menyerahkan keperawanan padanya, yang disangkanya memang waktunya sudah tepat, ternyata pacarnya itu seorang bajingan, seorang penjual perempuan.

Tamatlah riwayat Shio Ya yang selalu menjaga virginitas itu.Terpukul kenapa harus menerima perlakuan kejam yang padahal ia selalu menjaga diri. Kenapa harus masuk dalam lumpur seperti sahabatnya yang sudah pergi.Lalu menjadilah ia seperti sahabatnya: suka mabuk-mabukkan, jadi suka merokok, dan tentu menjadi pelacur, sampai ia menjadi artis terkenal.

Nilai moral dari film ini, menjadi seorang artis di negeri lain pun ternyata punya cerita yang sama. Yaitu tidak terlepas harus dulu memberikan keperawanan pada produser, sutradara, atau siapapun yang mampu mengorbitkan dirinya menjadi artis terkenal. Meskipun mungkin ada banyak—atau lebih banyak—yang masuk dunia keartisan dengan mulus-mulus saja, lancar-lancar saja, tanpa harus buka baju dulu, tidak harus telanjang dulu, atau apapun yang diinginkan oleh yang punya uang, yang maha kuasa uang di dunia perfilman dan hiburan.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori