Oleh: Kyan | 12/03/2014

Amanat Galunggung Peurah Karuhun

Rabu, 12 Maret 2014

Amanat Galunggung Peurah Karuhun

##

Kata pepatah Ki Sunda tentang pedoman masa kini dan masa depan: “Di kiwari ngancik bihari, seja ayeuna sampeureun jaga. Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke.”Begitu kata amanat Galunggung.

“Aya mah baheula aya nu ayeuna, hanteu ma baheula hanteu tu ayeuna. Hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang, liana ma tunggal aya tu catangna”—Ada dahulu ada sekarang, tidak ada dahulu, tidak ada sekarang. Ada masa lalu ada masa kini,bila tak ada masa lalu, tidak ada masa kini. Ada pokok kayu ada batang, tidak ada pokok kayu, tidak ada batang, bila ada tunggulnya tentu ada catangnya.

Jagat dataran di Sang Rama, yang artinya sumber kehidupan ada pada orang tua. Jagat kreta di Sang Resi, bahwa sumber ketentraman ada pada agama. Dan jagat palangka di Sang Prabu, sumber ketertiban ada pada pemerintah.

Maka setiap peristiwa berlangsung dalam sejarah, manusialah yang punya sejarah. Karena ia terlibat di dalamnya yang terus berkelanjutan dan keterlibatan. Manusia Sunda orang Tasikmalaya tidak ujug-ujug ada, tapi ia hadir melalui proses panjang, yang terus mengukuhkan tatanan masa demi masa, dari periode ke periode yang sejak mulanya tercatat dalam prasasti Geger Hanjuang.

Logo Kabupaten Tasikmalaya

Logo Kabupaten Tasikmalaya 

Geger Hanjuang dianggap sebagai catatan paling kuno tentang masyarakat Tasikmalaya. Meski mungkin sebenarnya orang Tasikmalaya, atau wilayah yang kini menjadi kota dan kabupaten Tasikmalaya sudah dihuni manusia-manusia sejak sebelumnya. Tapi seperti halnya catatan sejarah tentang Sunda pada umumnya, untuk bisa menggali lebih dalam dan awal, tentang apa dan bagaimana muasalnya tatanan yang disebut sekarang sebagaiorang Sunda sangat kurang catatan sejarahnya.Apakah manusia Sunda tidak suka mendokumentasikan, tidak suka mencatatkan, tidak suka menulis apa yang mengenai dirinya, memang perlu ada kajian lebih dalam.

Begitupun tentang orang Tasikmalaya, mengetahui sejarahnya hanya sampai pada periode sebagaimana tersusun di bawah:

  1. Carita Galunggung menurut prasasti Geger Hanjuang
  2. Periode pemerintahan di Sukakerta
  3. Berdirinya Sukapura dan perkembangannya
  4. Perpindahan ibukota dari Sukaraja ke Manonjaya
  5. Perpindahan ibukota dari Manonjaya ke Tasikmalaya, yang diikuti perubahan nama menjadi kabupaten Tasikmalaya
  6. Kabupaten Tasikmalaya dalam lingkup NKRI.
  7. Pemekaran Tasikmalaya menjadi Kota dan Kabupaten
  8. Menuju Pemekaran Kabupaten Tasik Selatan

Sudah itu saja garis besarnya sejarah Tasikmalaya. Kalau ingin mengetahui lebih awal, mungkin harus pergi ke Leiden yang barangkali di sana ada serat yang bercerita tentang orang gunung sebagai tempatnya Sang Hyang di sebelah Timur alias Priangan Timur.

Tapi dari cerita singkat yang beredar pun, saya sudah bangga dengan sejarah Tasikmalaya. Bahwa tertulis dalam prasasti berita tentang peristiwa Nyusuk.Dikatakan tahun 1033 Saka, Safar 505 H (21 Agustus 111) di wilayah Tasikmalaya ada pembuatan parit oleh Batari Hyang.

Batari Hyang itu seorang wanita, Ratu Galunggung sebagai pewaris tahta yang berkedudukan sebagai Batara Dangiang Guru. Pusat pusat pemerintahan Kebataraan Galunggung berada di sekitar Desa Linggawangi (Rumantak). Batari Hyang bukan sekadar wanita, tapi beliau dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ing Karesian. Dari Sang Batari inilah mengemuka sebuah ajaran yang dijadikan ajaran resmi pada zaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran.

Kebataraan Galunggung berubah menjadi Kerajaan Galunggung (Saunggalih) dengan enam kali berganti raja yang semuanya keturunan Batari Hyang. Raja-rajanya bernama: Rakyan Darmasiksa (1163-1175), Ratu Saunggalah (Prabu Raga Sua Sang Lumahing Taman) (1175-1181), Ratu Galung Sakti, Ratu Sembah Gelek, Ratu Panyosogan, Ratu Lumahing Gunung Raja.

Tapi dalam masa selanjutnya, masuklah kekuasaan Pajajaran ke wilayah Galunggung. Maka berdirilah pemerintahan Sukakerta yang merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran, dengan penguasa pertama adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sezaman dengan Prabu Surawisesa (1521-1535 M), Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.

Berdasarkan sumber kitab Waruga Jagat, Naskah Pamarican, Naskah Suryadi, Naskah Maman, dan Naskah Haji Ibrahim bahwa Sukakerta terletak di ± 5 km di sebelah timur Sukaraja, yang sekarang menjadi sebuah desa Kaputihan (Cikopo), yang disebut kabuyutan Sukakerta, yang wilayahnya dilingkari Sungai Cipanaha. Ibukota Sukakerta berada di Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa, Tasikmalaya) dan pemimpin sepeninggal Sri Gading Anteg adalah: Dalem Barajayud, Dalem Himba, Dalem Santawoan, Entol Wiraha, dan Wirawangsa (XVII) yang memberi keturunan yang mendirikan pemerintahan Sukapura.

Sukakerta berada di bawah Pajajaran dan Pajajaran berada pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa. Pada masa raja inilah kedudukan Pajajaran sudah mulai terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon dan Demak yang dipimpin Sunan Gunung Jati yang mulai member pengaruh sejak tahun 1528 dengan berkeliling ke seluruh wilayah tanah Sunda dalam rangka mengajarkan Agama Islam.

Ketika Pajajaran mulai lemah, daerah-daerah kekuasaannya terutama yang terletak di bagian timur berusaha melepaskan diri. Diperkirakan pada masa kekuasaan Dalem Sentawoan, Entol Wiraha, dan Wirawangsa, pemerintahan Sukakerta sudah merdeka kembali, lepas dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Bahkan dikatakan tidak mustahil pula penguasa Sukakerta ini sudah masuk Islam. Tapi pada akhirnya muncul lagi kekuatan baru yaitu Mataram yang telah menundukkan Pajajaran. Begitu pula akhirnya Sukakerta di bawah kekuasaan Mataram.

Wirawangsa, penguasa terakhir Sukakerta tetap menjadi pemimpin wilayah bekas Sukakerta. Karena Wirawangsa ikut membasmi pemberontakan Dipati Ukur (Bandung), maka Sultan Agung, sang penguasa Mataram member gelar padanya: Wiradadaha I. Lalu ibukota yang awalnya di Dayeuh Tengah, kemudian dipindah ke Leuwiloa, Sukaraja dan negaranya disebut “Sukapura”. Berdirilah pemerintahan baru bernama Sukapura.

Logo Kota Tasikmalaya

Logo Kota Tasikmalaya

Bupati-bupati Sukapura yang memerintah:

  1. Tahun 1641-1674 : Raden Ngabehi Wirawangsa (Raden Tumenggung Wiradadaha I)
  2. Tahun 1674 : Raden Jayamanggala (Raden Tumenggung Wiradadaha II)
  3. Tahun 1674-1723 : Raden Anggadipa I (Raden Tumenggung Wiradadaha III)
  4. Tahun 1723-1745 : Raden Subamanggala (Raden Tumenggung Wiradadaha IV)
  5. Tahun 1745-1747 : Raden Secapati (Raden Tumenggung Wiradadaha V)
  6. Tahun 1747-1765 : Raden Jaya Anggadireja (Raden Tumenggung Wiradadaha VI)
  7. Tahun 1765-1807 : Raden Djayamanggala II (Raden Tumenggung Wiradadaha VII)
  8. Tahun 1807-1837 : Raden Anggadipa II (Raden Tumenggung Wiradadaha VIII)

Selanjutnya, berdasarkan sumber tiga Piagam Mataram, dengan munculnya kekuatan baru yaitu kerajaan Sriwijaya (Palembang) dan selanjutnya kerajaan Majapahit (Jawa), serta mulai menyusup kekuatan asing yang punya kepentingan di Nusantara, telah memunculkan pergolakan baru di wilayah Tasikmalaya sampai berlangsung sepuluh tahun. Munculnya pergolakan ini sebagai akibat persaingan tiga kekuatan besar di Pulau Jawa pada awal abad XVII Masehi, yaitu Mataram (Jawa daerah tengah), Banten (Jawa bagian barat), dan VOC yang berkedudukan di Batavia yang ingin punya kekuatan dominan.

Baru saja Sukapura lepas dari “kekuasaan” Pajajaran dan “pengaruh” Mataram, masuklah kekuatan baru ke wilayah Sukakerta. Karena persaingan tiga kekuatan dimenangkan atau didominasi oleh VOC, otomatis wilayah Tasikmalaya menjadi wilayahnya VOC. Tasikmalaya dijadikan lahan pertanian oleh VOC untuk menanam nila pada zaman cuttutstelsel.

Wiradadaha VIII, penguasa Sukapura dipecat oleh VOC tahun 1811, lalu VOC mengangkat RT Surialaga (Sumedang) sebagai pemimpin wilayah Priangan Timur. Pada masa pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814) inilah ibukota Kabupaten Sukapura sempat dipindahkan ke Tasikmalaya. Tapi pada tahun 1831 Wiradadaha VIII diangkat kembali oleh VOC, sehingga terkenallah sebuah istilah: Sukapura Ngadaun Ngora, karena Wiradadaha VIII dua kali naik jabatan.

Masih pada masa Wiradadaha VIII, yaitu tahun 1832 terjadi pula perpindahan ibukota Sukapura yang asalnya di Empang (Sukaraja) dipindahkan ke Harjawinangun (Manonjaya sekarang) yang bertujuan untuk memperkuat pertahanan melawan Perang Dipenogoro. Tumenggung Danudiningrat (1837-1844) boleh dikatakan sebagai bupati pertama saat ibukota di Manonjaya yang secara penuh. Tapi pada masa Anggadipa II-lah ibukota dipindahkan dari Sukaraja ke Manonjaya.

Dengan demikian, bupati yang memerintah Sukapura di Manonjaya adalah:

  1. Rd. Anggadipa II (Wiradadaha VIII)
  2. RT. Danudiningrat/Wiradadaha IX (1837-1844)
  3. RT. Wiratanubaya/Wiradadaha X (1844-1855)
  4. RT. Wira Adegdana/Wiradadaha XI(1855-1875)
  5. RT. Wira Adiningrat/Wiradadaha XII(1875-1901)

Tapi dalam masa selanjutnya Sukapura yang membawahi 14 distrik atau kewadanaan, karena alasan ekonomi, demi kelancaran administratif, dan untuk pengangkutan hasil pertanian dari sekitar Galunggung, maka 1 Oktober 1901 ibukota Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya sekarang. Yang menyusul kemudian nama Kabupaten Sukapura pada tahun 1913 diganti namanya menjadi Kabupaten Tasikmalaya. Pada masa R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937) terjadi pergantian nama tersebut.

Latar belakang pemindahan ini cenderung berrdasarkan alasan ekonomis bagi kepentingan Belanda. Pada waktu itu daerah Galunggung yang subur menjadi penghasil kopi dan nila. Sebelum diekspor melalui Batavia terlebih dahulu dikumpulkan di suatu tempat, biasanya di ibukota daerah. Sementara letak Manonjaya kurang memenuhi untuk dijadikan tempat pengumpulan hasil-hasil perkebunan yang ada di Galunggung.

Logo Kabupaten Ciamis

Logo Kabupaten Ciamis

RAA Wiratanuningrat sebagai Bupati Sukapura ke XIV (1908-1937), yang dalam pemerintahannya terjadi perubahan nama kabupaten Sukapura menjadi Kabupaten Tasikmalaya, wilayahnya mengalami penyempitan karena 1 Januari 1938 terjadi pemekaran wilayah. Yaitu ada tiga kewedanaan yang membentuk daerah otonomi baru, yaitu bekas kewedanaan Banjar, Pangandaran, dan Cijulang menjadi Kabupaten Ciamis.

Tibalah Tasikmalaya memasuki masa revolusi dan perjuangan menuju kemerdekaan NKRI. Ada beberapa peristiwa sejarah di Tasikmalaya saat menuju bagian dari NKRI, yang tercatat ataupun masih memerlukan kajian apakah itu pantas dicatatkan atau tidak. Tapi yang sudah tercatat yang sebagian sudah masuk dalam buku pelajaran sekolah adalah:

  1. Peristiwa pemberontakan KH Zaenal Mustofa (25 Februari 1944).
  2. Penyerangan dan pelucutan senjata Kampetai oleh pemuda Tasikmalaya (18 September 1945).
  3. Penerbangan pertama di angkasa Republik Indonesia, dengan memakai tanda Merah Putih oleh penerbang Adisucipto dan Basyir Surya di Cibeureum Tasikmalaya (10 Oktober 1946).
  4. Peristiwa TRIP Jabar (April 1946)
  5. Lahirnya Divisi Siliwangi di Tasikmalaya (20 Mei 1946).
  6. Tasikmalaya pernah jadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, saat Bandung harus dikosongkan dan diserahkan kepada Belanda, seiring peristiwa Bandung Lautan Api.
  7. Tasikmalaya menjadi tempat Kongres Koperasi I (11-14 Juli)
  8. Tasikmalaya jadi Pusat Komando Pertahanan Jawa Barat.
  9. Pemberangkatan Hijrah Divisi Siliwangi.
  10. Konsep Perang Wilayah (Pagar Betis)
  11. Tasikmaalaya menjadi tempat lahirnya Majelis Ulama Indonesia (MUI).
  12. Di Tasikmalaya tempat lahirnya kota administratif.
  13. Diraihnya anugerah Kalpataru oleh Abdul Rajak, warga Pancatengah (1987) dan Mak Eroh orang Cisayong (1988).
  14. Tasikmalaya jadi peraih anugerah kehormatan “Parasamya Purna Karya Nugraha”, sebuah prestasi terbaik pelaksanaan Pelita IV.

Dan yang perlu kiranya diketahui adalah Wiradadaha VIII menjabat dua kali pemerintahan (Sukapura Ngadaun Ngora), Wira Adiputra menjabat dua kali, dan Adang Roosman juga menjabat dua kali periode. Pada masa RT Wira Adiputra saat naik tahta kedua (1947-1948), memasuki masa berakhir jaman Dalem yang langsung turunan Sukapura, selanjutnya penunjukkan dan proses demokrasi. Dan pada tahun 2010 ketika masa pemerintahan Tatang Farhanulhakim terjadi pemekaran wilayah menjadi: Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya.

Demikianlah sejarah singkat yang sejak mulanya Kebataraan Galunggung sampai menjadi Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Tentang lahirnya Tasikmalaya, penetapan hari jadi Tasikmalaya hasil sidang DPRD tanggal 31 Juli 1975, bahwa 21 Agustus 1111 Masehi sebagai hari lahir Tasikmalaya. Penetapan ini sebagai pedoman untuk menemukan harga diri orang Tasikmalaya, bahwa dari sejarah manusianya, baik fisik maupun spiritual, orang Tasikmalaya sudah ada sejak masa itu bahkan lebih awal dari itu yang sudah mengenal tata kelola pemerintahan.

Karena sejarah adalah menara pengalaman manusia, sebagai guru terbaik untuk menghadapi masa depan, untuk menjadi inspirasi bagi apa yang bisa kita lakukan sekarang, sehingga mampu mengedukasi dari sepanjang perjalanannya, maka perlu kiranya kita mengenal sejarah leluhurnya.

Hari kemarin adalah kenangan, sekarang adalah perjuangan, dan esok adalah harapan memetik tanaman. Salam.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori