Oleh: Kyan | 13/03/2014

Manzilah-Manzilah Cahaya

Manzilah-Manzilah Cahaya, Perjalanan Cahaya Pertama

##

Ini adalah kisah BB. Tapi bukan Blackberry, ataupun Blueberry. Meski kisahnya tentang hitam dan biru. Tapi ini adalah kisah pertemuan dan perpisahan antara [B]atam dan [B]andung. Antara cerita hitam dan kerudung biru. Bermula dari pendaran cahaya pertama, yaitu Rihana mengantarkan seorang pemuda, Aldika mulai menuliskan kisah perjalanannya. Dari saat perpisahan SMA lalu ia merantau ke Batam, dan akhirnya bertemu kembali di Bandung.

Cover Buku Manzilah-Manzilah Cahaya

Cover Buku Manzilah-Manzilah Cahaya

Namun dalam jeda, saat di Batam tidak serta merta Aldika setia pada Rihana. Rihana yang kuliah di Kimia ITB pun tidak memberikan jawaban pasti dalam surat-suratnya. Namanya pemuda yang penuh gejolak, ia mulai membina hubungan dengan Zenita, Bulan, Silvana, lalu Veronika. Tapi akhirnya muncul kesadaran bahwa jalan hidupnya sudah salah langkah. Sudah merasa semakin jauh dari mimpi dan harapannya, sampai membuat keputusan mau pulang dari Batam untuk mencoba mewujudkan cita-citanya, yaitu ingin kuliah.

Tapi menunggu saat tepat untuk pulang, saat ia mengalami kebosanan dalam kesendirian, sampai akhirnya bertemu dengan Orien, Tika, Olin, dan Rinda. Pertemuan persahabatan diantara mereka membawa pertanyaan sendiri bagi Aldika saat kepulangannya harus ditunda ataukah lebih memilih cita-cita. Tapi bagi Aldika yang utama adalah menempuh cita-cita.

Tiba di Bandung, daftar kuliah di IAIN Bandung. Karena tak punya saudara dan kawan di kampus barunya, selama masa pendaftaran ia menginap di masjid kampus, sampai harus kehilangan sepatu dan handphone-nya di masjid. Handphone yang berisi nomor-nomor penting teman-temannya di Batam. Tidak ada catatan nomor selain di memori handphone, menjadikan putus hubungan dengan teman-teman perempuannya di Batam.

Terakhir, Aldika bertemu kembali dengan Rihana di acara pameran buku Landmark Braga, kehilangan lagi dompet. Aldika persiapan mau mengikuti Kuliah Taaruf dan menulis surat untuk Rihana. Namun surat yang dikirimkan pada Rihana ditulis bukan oleh Aldika, tapi oleh istrinya Aldika.


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori