Oleh: Kyan | 22/03/2014

Tata Buku Masa Lalu dan Masa Depan Masyarakat Tasik Selatan

Tata Buku Masa Lalu dan Masa Depan Masyarakat Tasik Selatan

##

Saladin Institute berpijak pada dua titik gerak, yaitu pengkajian tata buku masa lalu dan mencoba untuk merekayasa tata buku masa depan. Karena saat ini cakupan kerjanya ialah Tasik Selatan, menyangkut masa lalu di Tasik Selatan, ada dua peristiwa penting di masa lalu yang tapak tilasnya belum lekang tertelan kegentingan di alam pikiran masyarakat Tasik Selatan.

02-Saladin Institute

02-Saladin Institute

Pertama, Islamisasi oleh Syekh Abdul Muhyi (1650-1730) dengan bukti sejarah Goa Safarwadi dan makamnya di Bukit Bojong Pamijahan (Kecamatan Bantarkalong). Kedua, Tasik Selatan pernah jadi basis perlawanan atau gerombolan DI/TII pimpinan SM Kartosuwiryo.

Sedangkan untuk bisa merekayasa tata buku masa depan Tasik Selatan, kami harus melakukan pemetaan sumber daya (demografi) dan wilayah (geografi) melalui gerakan pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan secara holistik, bertahap, dan berkesinambungan.

Masa lalu pertama, adalah gerakan kebudayaan atau kultural, atau dakwah yang diupayakan oleh Syekh Abdul Muhyi, terjadi di era Kesultanan Cirebon, dan memang katanya Syekh Abdul Muhyi adalah keturunan Cirebon—harus dicari referesi lebih lengkap mengenai riwayat hidup Syekh Abdul Muhyi. Tapi secara singkat beliau lahir di Mataram, dibesarkan di Gresik, dan menempuh pendidikan di Aceh di bawah bimbingan Syeikh Abdul Rouf bin Abdul Jabar. Lalu bersama gurunya berangkat ke Baghdad untuk berziarah ke makam Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, dan ke Mekkah untuk menunaikan haji.

Sepulang dari Timur Tengah, kembali ke Aceh, kembali ke Gresik, lalu menikah dan barulah memulai menerima tugas dakwah lewat Salik (penempuh jalan Sufi) dari daerah ke daerah.

Dalam perjalanan musafirnya sampailah ia di Darma Kuningan, lalu ke Pamengpeuk (Garut Selatan). Melanjutkan perjalanan ke Batu Wangi, sampai di Lebaksiu, dan menemukanlah sebuah pegunungan yang ia namakan “Gunung Mujarod” yang di lembahnya ada goa Safarwadi yang menjadi basis dakwahnya dan peninggalannya ada sampai kini. Dan konon goa tersebut sebagai tempat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menerima ijazah dari Imam Sanusi.

Dengan demikian Tasik Selatan sempat disinggahi dua atau tiga syekh terkenal, yaitu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (Baghdad) yang selanjutnya membawa nama tarekat Qadiriyah, dan Syekh Abdul Muhyi yang dikenal pengamal tarekat Satariyah, juga Syekh Maulana Mansyur (putra Kesultanan Banten) yang sering berkunjung ke Pamijahan, ke Bukit Bojong tempat mukimnya Syekh Abdul Muhyi bersama keluarga dan murid-muridnya. Mereka berdiskusi soal agama dan hal lainnya.

Sedangkan peristiwa masa lalu yang kedua adalah gerakan politik DI/TII di era revolusi nasional Indonesia. Kenapa sampai terjadi begitu, dikatakan saat itu Republik sedang mengalami penyempitan wilayah akibat perjanjian Renville, yang membuat penduduk Jawa bagian Barat harus hijrah (long march) ke Jogya. Seperti halnya pemberontakan PKI Madiun pimpinan Muso, atau PRRI/Permesta sekalipun, karena alasan Republik dalam situasi lemah, maka pihak lain merasa berwenang mengambil kekuasaan, yang dari golongan Islam saat itu, SM Kartosuwiryo bersama pasukan Siliwangi yang membelot, mereka yang tidak ingin hijrah ke Jogya membangun kekuatan sendiri dan memproklamirkan NII, Negara Islam Indonesia.

Tapi disini bukan bahasan apakah SM Kartosuwiryo itu gerombolan atau pahlawan, sebagai pemberontak ataukah sebagai wakil representasi langkah politik umat Islam. Karena Imam DI/TII sendiri, SM Kartosuwiryo adalah kader Masyumi, yang cita-cita perjuangannya sama atau sedikit modifikasi masih nampak gejalanya sampai saat ini. Tapi yang pasti dengan adanya pasukan DI/TII di wilayah Tasik Selatan, banyak dari orang tua kami menjadi korban penjarahan dan pembunuhan mereka. Termasuk buyut saya sendiri—dan buyut saudara-saudara lainnya—dari cerita kakek saya bahwa kepala buyut saya dipenggal oleh tentara DI/TII, karena dianggap sebagai mata-mata TNI.

Maka dengan itu, Saladin Institute ingin masyarakat Tasik Selatan dapat mengambil pelajaran dari peristiwa DI/TII yang dulu pelariannya ke Tasik Selatan. Ini harus menjadi cermin bagi arus pergerakan masyarakat Tasik Selatan sekarang dan ke depan, yang jangan lagi kita menjadi korban kepentingan politik tertentu yang merugikan kita sendiri.

Meskipun itu mengambil formalitas atas nama Islam, pergerakan yang mengambil nama Islam, yang sama halnya seperti faham DI/TII, sekarang dan ke depan akan tetap ada dengan bentuk dan wajah yang berbeda. Kenapa saya menstigma negatif gerakan DI/TII sebagai gerombolan, yang padahal itu katanya untuk memperjuangkan negara dan agama Islam, tapi sejarah mengatakan banyak orang tua kami menjadi korban pembunuhan.

Dalam situasi bagaimanapun pembunuhan dan penjarahan, yang dianggapnya harta jarahan sebagai harta fa’i, bagi saya itu tidak bisa dibenarkan. Meski memang dalam situasi perang, yang menang jadi arang yang kalah jadi abu, selalu meminta korban berdarah-darah, yang entah itu dinamakan mati syahid atau mati sangit.

Sebaliknya, Saladin Institute mengajak masyarakat Tasik Selatan untuk melanjutkan dan meneladani jejak dakwah Syekh Abdul Muhyi. Lewat gerakan kebudayaan, ia membangun lembaga pendidikan untuk mensosialisasikan ajaran-ajaran Islam. Masyarakat di Tasik Selatan saat ini pasti kefahaman Islamnya tidak akan jauh dari ajaran-ajaran tarekat sufi Satariyah dan Qadiriyah yang dulu dikembangkan semasa Syekh Abdul Muhyi, yang sekarang mempolarisasi menjadi kultur NU pada umumnya.

Tapi harus pula disadari, bahwa di Indonesia Kita bukan hanya ormas NU yang ada, tapi juga ada Muhammadiyyah, Persis, Al-Irsyad, Tarbiyah, dan ormas lainnya yang punya akar sejarah sendiri dalam lingkup Indonesia. Keragaman itu alamiah dan menyadari kehidupan itu beragam. Kita bisa meneladani langkah pendiri NU sendiri, KH Hasyim Asyari, saat sudah memasyarakat mazhab Syafii, beliau menjelaskan pada masyarakat bahwa mazhab Islam itu bukan hanya Syafii, tapi ada tiga mazhab lainnya yang Sunni, seperti Maliki, Hanafi, dan Hambali. Begitupun putranya atau ayahandanya Gusdur, KH Wahid Hasyim sebagai anggota PPKI. Pada masa persiapan kemerdekaan, ketika sudah disepakati Piagam Jakarta sebagai dasar negara, yang mana berisi melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, tapi golongan Islam bisa legowo. Karena ada keberatan dari Indonesia Timur, akhirnya tujuh kata di Piagam Jakarta dengan rela hati dihapuskan.

Begitupun Gusdur sendiri, ketika penduduk Indonesia asli itu dikatakan yang bukan China, atau India, atau Arab. Tapi pada masa pemerintahan beliau yang sekejap itu, ia menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional dan kebudayaan China sejenis barongsai boleh untuk dirayakan dan ditampilkan ke khalayak umum. Kebudayaan China sudah menjadi kebudayaan bersama dan menjadi bagian dari sebuah wadah bernama Indonesia Kita.

Maksud mengatakan ini agar kita tidak punya pikiran sempit yang NU thok, bahwa disamping Islam dalam pemahaman kultur NU, ada pula pemahaman Islam yang agak beda dari segi furuiyah (cabang), tapi bukan yang Ushuliyah (pokok) dengan ormas-ormas lain yang semuanya punya dalil syar’inya. Dan seiring era globalisasi, harus menjadi kewaspadaan bagi masyarakat Tasik Selatan pada munculnya faham dan gerakan internasional, baik membawa bendera atas nama agama ataupun sekuler.

Misalnya Salafi, Salafi-Wahabi, Hizbuz Tahrir, Jemaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, atau sekalipun Ahmadiyah dengan jaringannya telah melebarkan sayap penganutnya. Begitu pula ideologi-ideologi kanan dan kiri yang sekuler semakin banyak digemari. Bukan maksud untuk menghalang-halangi, tapi justru agar kita punya sikap keterbukaan pada organisasi macam apapun dan manapun. Bukan kami melarang semua sekalian masuk menjadi kader-kader partai ideologis islamis dan sekuler, tapi harus berpandai-pandailah mengambil manfaatnya. Bukan malah membawa mudharat, membawa kekisruhan lebih besar yang merusak tatanan masyarakat Tasik Selatan.

Lalu dalam menata buku masa depan masyarakat Tasik Selatan, Saladin Institute dalam program kerja setahun kedepan, akan berupaya mengumpulkan data dan informasi mengenai lembaga yang sudah, akan, dan harus berdiri di Tasik Selatan. Kami ingin melakukan pemetaan wilayah beserta potensinya dan kategorisasi demografi penduduk untuk dioptimalkan dan dikembangkan sebaik mungkin agar memiliki kecakapan mengelola sumber daya yang ada.

Kami ingin menyusun data lembaga pendidikan, tentang berapa jumlah sekolah formal dari PAUD sampai SMA/SMK, yang ke depannya di Tasik Selatan pula harus berdiri Perguruan Tinggi sebagai pusat pengkajian, penelitian, dan pengabdian. Selanjutnya berapa sekolah non-formal yang ada, misalnya LPK atau lembaga kursus-kursus semacamnya, dan sekolah informal sejenis perkumpulan-perkumpulan yang satu hobi atau asosiasi apapun harus dijadikan data statistik sebagai bahan penelitian dan kebijakan.

Selanjutnya berapa Pesantren yang ada, dan sudah sejauh mana langkahnya, dan harus lebih optimal lagi perannya dalam mencetak sumber daya insani yang mumpuni, yang mampu merekatkan atau mengikatkan tali kerjasama dalam menghadapi situasi zaman. Pendidikan sekolah dan pesantren adalah modal terpenting dalam penyadaran sebagai langkah pertama untuk menstimulasi kemajuan di wilayah Tasik Selatan.

Lembaga pendidikan harus sudah terdata dan terumuskan pengembangan selanjutnya. Termasuk tumbuhnya ruang-ruang berupa wadah/sanggar/gelanggang pemuda untuk menggali dan mengolah kreatifitas anak. Kepada orang tua yang tidak sampai mengalami bagi dirinya sendiri penyaluran bakat, setidaknya mulai hari ini bagi pengembangan kreatifitas anak-anak masa depan, kita harus bahu-membahu mempersiapkan sarana dan prasara salurannya.

Misalnya bagi anak yang suka seni tari harus ada tempat pelatihannya. Kepada anak yang suka sastra, harus diadakan kursus menulis dan tersedia dengan lengkap referensi buku-buku sastra. Bagi anak yang pandai berbicara, beretorika, berpuisi, atau apapun kesukaannya harus diadakan wadah dan medium pengembangannya.

Setelah optimalisasi lembaga pendidikan, selanjutnya lembaga ekonomi, selanjutnya lembaga kebudayaan. Ekonomi adalah menyangkut hajat hidup pangan, sandang, dan papan. Untuk menstimulasi ekonomi Tasik Selatan, ada berapa jumlah badan-badan usaha milik negara, badan usaha swasta, dan koperasi di Tasik Selatan yang saling bersinergi dalam memutarkan uang perekonomian Tasik Selatan. Mengenai lembaga-lembaga, pendataannya harus selalu update dan akurat untuk menghindari kesalahan pengambilan keputusan. Untuk lembaga pemerintahan sementara sudah terdata nama kecamatan yang ada 10 dan desanya sebanyak 92 kantor desa. Di sepuluh kecamatan dan 92 desa tersebut, adakah badan usaha negara, ada berapa BUMN atau Persero, susunlah badan usaha-usaha dari yang besar sampai mikro kecil menengah, dan ciptakan peluang yang lebih lebar untuk berbagai sektor industri.

Maksud kepentingan mengumpulkan data ini bertujuan sebagai bahan riset penelitian dan pengembangan, tentang sudah sejauh mana tingkat pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan yang sudah terbangun di Tasik Selatan. Tentang sudah sejauh mana putra-putri Tasik Selatan yang menempuh pendidikan formal, dan bagaimana kesinambungannya sampai jenjang lebih tinggi. Tentang sudah sejauh mana anak-anak Tasik Selatan tersalurkan bakat dan minatnya, tersedia ruang-ruang kreatifitas bawaan, dan pengasahan dari pelatih-pelatih dari Tasik Selatan sendiri atau harus mampu mendatangkan pelatih dari luar, atau sekolahkan putra daerah Tasik Selatan untuk memiliki kecakapan tertentu, untuk nanti menjadi mentor dan fasilitator pengembangan ruang-ruang kreasi anak-anak Tasik Selatan. Datalah yang sudah ada dan apa yang harus ada tersedia.

Gedung Kantor ASI7-Saladin Institute

Gedung Kantor ASI7-Saladin Institute

Dengan demikian, mereka adalah nanti menjadi pioner dan pengisi manusia-manusia yang membangun wilayah Tasik Selatan. Ia menemukan passion-nya sendiri, mampu hidup mandiri dalam situasi zaman apapun, yang selalu berbakti pada daerahnya sendiri, pada tanah airnya menjadi mandiri.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori